KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 146: HARAPAN YANG SIRNA


__ADS_3

    Kampung Karang mulai berubah sejak kedatangan Yudi pertama kali setelah ditolong oleh masyarakat di situ. Mulai Yudi diajak berkeliling bersama Pak Kadus, dan akhirnya satu kampung diajak makan bersama dari masakan hasil laut yang ditangkap para nelayan, serta diolah oleh ibu-ibu warga Kampung Karang. Sejak itu, rasa kebersamaan masyarakat Kampung Karang seakan tumbuh berkembang, menjadi sebuah kebersamaan untuk maju. Ya, memajukan Kampung Karang. Apalagi setelah Yudi mengajak para seniman Jogja, yang waktu itu pernah ditentang oleh orang yang mengaku maestro lukis, yaitu Nasrun. Namun Yudi tetap mengajak teman-temannya yang mau, karena melukis adalah bagian dari ibadah, yaitu mengagumi ciptaan Tuhan Yang Maha Agung. Beberapa teman pelukis setuju, dan mengikuti ajakan Yudi. Tetapi beberapa pelukis juga menolak karena bersepaham dengan Nasrun sang maestro. Tidak masalah, bagi Yudi semuanya benar, asal tidak saling menjegal.


    Kini, setelah Pak Lurah memberi izin pemanfaatan Bukit Karang yang ada di sisi barat Pantai Kampung Karang, warga menjadi senang, karena bakal ada keramaian di kampungnya.


    Yudi sudah pasrah kepada Pak Kadus untuk mencari tukang dan berbelanja material. Sebagai pimpinan proyek, Pak Kadus tentu sudah didoktrin oleh Yudi, bahwa pembangunan ini adalah untuk memajukan Kampung Karang, meningkatkan taraf hidup rakyatnya, memberi kesempatan ibu-ibu berwirausaha dagang atau jualan makanan, memberi kegiatan kepada para remaja agar tidak menganggur, bisa menjadi tukang parkir atau mengatur lalu lintas, bahkan juga memberi nilai tambah harga hasil tangkapan para nelayan yang diolah sendiri oleh warganya, tidak bergantung pada tengkulak yang membeli ikan dengan harga murah. Dan yang paling penting, Kampung Karang bisa membangun desanya.


    Yudi meminta tolong kepada Bagas, untuk membantu Pak Kadus dalam membuat bangunan lapak atau warung para pedagang, serta membuat pendopo yang ada di atas bukit karang, termasuk membuat jalan berundak untuk menuju pendopo tersebut. Pendopo inilah yang akan dijadikan sebagai tempat sanggar lukis Kampung Karang.


    "Mas Yudi ..., lha mbok kalau ngasih uang ke Pak Kadus itu ditransfer saja, kan lebih aman, nyaman dan tidak ribet." kata Bagas kepada Yudi yang menyuruh Bagas untuk memberikan uang kepada Pak Kadus.


    "Bagas ..., mbok kamu itu ngilo .... Sepuluh tahun yang lalu, saya mau ngasih uang ke kamu, niatnya mau saya transfer ..., apa katamu?" sahut Yudi santai.


    "Saya tidak punya rekening di bank, Mas ...." jawab Bagas.


    "Nah .... Sama kan .... Pak Kadus Kampung Karang ini juga tidak punya rekening di bank. Bagaimana saya bisa transfer?" kata Yudi yang memberi tahu Bagas dengan cara mengingatkan dirinya.


    "Oo, begitu to, Mas .... Hehe ...." Bagas sadar diri.


    "Makanya, uangnya saya titipkan kamu, nanti setiap Sabtu kamu ke Kampung Karang, membayar para tukang. Bawa mobil saya, biar aman dan kuat nanjak." kata Yudi mengatur Bagas.


    "Lha datanya, Mas ...?" tanya Bagas.


    "Besok tanya Pak Kadus .... Jangan lupa, Pak Kadus juga dibayar, dia yang mengawasi para tukang." kata Yudi.


    "Ya, Mas .... Lha, Mas Yudi tidak ikut ke Kampung Karang?" tanya Bagas lagi.


    "Kalau pas saya senggang, pas tidak ada pekerjaan, besok saya ikut nengok." jawab Yudi.


*******


    Di Kampung Karang, Pak Kadus sibuk mengatur lima orang tukang, tiga orang tukang yang membangun lapak-lapak calon warung bagi warganya, dan yang dua orang membuat tangga berundak menuju bukit karang. Untuk sementara yang dibangun ada lima warung, dengan ukuran tiap warungnya tiga kali tiga meter persegi. Warung ini dibangun berjajar bergandeng menghadap pantai. Cukup jauh dari pantai, agar saat gelombang pasang, warung-warung ini tidak terkena air pasang. Letaknya ada di sisi barat belakang kampung, berbatasan dengan bukit karang. Sengaja di bangun di situ, agar nantinya memberi akses para pengunjung ke pendopo Sanggar Lukis. Bangunannya sederhana, dindingnya dari bata separo bagian bawah, sedangkan bagian atasnya terbuat dari papan kayu, sebagai sekat antar warung, yang bisa di lepas. Sehingga kalau warung buka, antara satu warung dengan warung yang lain tidak tertutup. Hanya bagian ujung kanan dan ujung kiri yang tertutup pagar secara rapat. Bagian atapnya dibuat dari baja ringan dengan genting galvalum. Bagian lantainya diberi keramik warna putih polos, agar mudah membersihkan. Sedangkan pada bagian depannya diberi pintu lipat yang terbuat dari papan. Meski sederhana, tapi terlihat bagus. Yudi menghendaki, nanti diberi cat warna-warni, biar seperti pelangi.


    "Pak Kadus ..., ini mbangun warungnya kok hanya lima, to ...?" tanya salah seorang tukang.


    "Sementara lima dahulu .... Nanti kalau sudah jalan, dan laris, kita buat lagi." jawab Pak Kadus.


    "Lah kalau mbangun hanya lima warung, nanti yang lain apa tidak meri ...?" tanya si tukang itu lagi.


    "Nanti jualannya rombongan .... Bareng-bareng .... Dikelola bersama .... Kan yang jualan nanti ibu-ibu ...." jawab Pak Kadus lagi.


    "Lhah, yang bapak-bapaknya bagaimana?" tanya yang lain.


    "Bapak-bapak kan melaut, mencari ikan .... Nanti ikannya, sebagian dibeli dan dimasak oleh ibu-ibu, untuk dijual di warung ini. Begitu, pak lik ...." jawab Pak Kadus yang masih menjelaskan kepada para tukang.

__ADS_1


    "Berarti nanti Kampung Karang ini akan dijadikan tempat wisata ya, Pak Kadus?" tanya yang lain lagi.


    "Betul .... Malah rencananya juga untuk kegiatan lomba-lomba ...." jawab Pak Kadus.


    "Waah ..., bakalan ramai nanti .... Tapi jalan untuk masuk ke pantai belum dibangun, Pak ...." kata si tukang.


    "Pelan-pelan .... Nanti kalau rezekinya sudah kumpul, baru kita perbaiki ...." sahut Pak Kadus.


    Setelah mengawasi tukang-tukang yang membuat warung, Pak Kadus berjalan ke sisi barat, di mana ada dua orang tukang batu yang membuat tangga berundak. Tidak terlalu tinggi, tetapi harus dibuatkan tangga, agar orang yang akan menuju puncak bukit bisa mudah dan tidak terpeleset. Bentukan tangga berundak itu sudah jadi. Awalnya dari sisi selatan, naik ke arah utara sekitar sepuluh tangga. Kemudian datar dan berbelok naik ke arah selatan. Hanya sekitar sepuluh anak tangga juga.  Pembuatan tangga itu sengaja mengikuti bekas jalan setapak yang dibuat oleh warga yang sering mencari rumput di puncak bukit. Sehingga memudahkan para tukang untuk membuatnya. Hanya tinggal melebarkan sedikit. Para tukang membuat tangga berundak itu dengan menggunakan batu-batu yang dilepo dengan pasir semen, bagian atasnya tetap terlihat belahan batunya, sehingga terlihat lebih klasik.


    "Undak-undakannya cepat diselesaikan, ya ...!" kata Pak Kadus pada dua tukang yang memasang tangga tersebut.


    "Sudah beres, Pak .... Ini tinggal memberi acian pada samping-sampingnya, biar kuat dan terlihat halus." jawab si tukang.


    "Masalahnya, besok Senin kita mulai membuat pendopo di puncak, untuk mengusung material kita lebat tangga ini." jelas Pak Kadus.


    "Walah, Pak ..., sekarang saja dilewati sudah bisa, kok ...." jawab si tukang.


    "Ini kami tinggal ngaci pinggiran, biar terlihat halus dan rapi." sahut tukang yang satunya.


    "Ya sudah kalau memang sudah rampung .... Berarti besok untuk membawa bahan bangunan bisa dilewati ...." kata Pak Kadus.


    Dari arah kampung, terlihat mobil Avanza hitam yang bablas melaju, menuju tempat pembangunan warung. Berhenti di dekat bangunan warung tersebut. Pak Kadus yang sudah hafal dengan mobil itu, langsung bergegas menemui orang yang turun dari mobil. Bagas dan Yudi yang akhirnya ikut.


    "Nggih, Pak ...." sahut Bagas yang kemudian melangkah mengikuti Yudi melihat bangunan.


    Begitu sampai pada warung yang sedang dibangun itu, tangan Yudi langsung menempel di tembok, mengecek bangunannya. Lantas meraba papan dinding, serta mengamati atap baja ringan yang sudah terpasang.


    "Lantainya dipasang kapan, Pak?" tanya Yudi.


    "Besok Senin, Den .... Rencananya, besok Senin dua tukang memasang lantai di sini, tiga mulai tukang mengerjakan bangunan pendopo." jawab Pak Kadus.


    "Tolong nanti bawahnya ditinggikan lagi, jangan terlalu rata dengan tanah, tidak baik. Diuruk lagi, naik sekitar lima belas senti. Agar pasir tidak mudah masuk." kata Yudi.


    "Nggih, Den ..., biar besok diuruk dahulu." jawab Pak Kadus.


    "Mas ..., sampeyan itu mbangun untuk warga Kampung Karang, lo ya .... Bukan untuk saya. Jadi kalau mbangunnya bagus, berkualitas, itu untuk warga sini. Yang pakai warung ini nanti juga warga sini. Kalau warungnya bagus, menarik, terus dagangannya laris, itu yang untung juga warga sini, bukan saya .... Paham sampeyan ...!" kata Yudi kepada para tukang.


    "Nggih, Den .... Tapi ini kan cuman warung ...." jawab para tukang yang terlihat takut.


    "Sampeyan itu bagaimana? Kalau sampeyan paham, tolong kerjanya yang sungguh-sungguh, yang bagus .... Jangan asal seperti ini. Masak acian tembok kok kasar seperti ini ..., masak nyerut papan masih kasar seperti ini .... Walau sampeyan hanya membangun warung, itu tetap harus berkualitas. Kalau warungnya bagus, yang jajan juga senang dan nyaman .... Pak Kadus sudah lihat kan bangunan di Taman Awang-awang, semuanya bagus, berkualitas .... Tidak seperti ini. Kalau di sini tidak ada tukang yang mumpuni, saya kirim dari tempat saya .... Kalau begini ini kan eman-eman uang saya, sia-sia saya menyumbang." Yudi agak marah karena kurang puas dengan hasil bangunannya.


    Lima orang tukang itu tertunduk, takut dan khawatir. Prinsipnya memang berbeda, orang-orang kampung biasa membangun warung seadanya, hanya emplek-emplek. Tetapi Yudi, membangun itu harus bagus, jangan asal, nanti jadinya pasti jelek, tidak punya daya tarik.

__ADS_1


    "Waduh ..., terus bagaimana ini, Den ...?" tanya Pak Kadus yang tentu juga kebingungan.


    "Pak Tukang .... Enaknya bagaimana ini?! Mau dilanjutkan atau dirobohkan? Saya rugi mbayari sampeyan ...." kata Yudi lagi, yang tentu membuat para tukang lebih bingung.


    "Maaf, Pak ..., Mas .... Ini kan kampung saya, masak yang mengatur sampeyan ...?!" kata salah seorang tukang yang bertubuh besar kekar. Saat itu pula, tukang-tukang yang lain, yang semula tertunduk langsung mendongak lagi. Ada rasa jemawa yang tumbuh dalam dirinya. Ya ini kampungnya.


    Plaass .... Pikiran Yudi langsung melayang. Ada hal yang salah dalam ucapannya. Tapi ini keterlaluan.


    "Maaf, Bapak-bapak .... Niatan saya adalah membantu warga Kampung Karang agar bisa maju. Ini sebagai ungkapan rasa utang budi saya kepada warga sini. Tetapi kalau niatan saya ini dianggap tidak berkenan bagi sampeyan, ya sudah .... Saya hanya memberi masukan yang baik, kalau sampeyan tidak mau, saya juga tidak akan memaksa. Yang penting saya menyampaikan terima kasih sudah pernah ditolong warga sini. Gitu saja." Yudi mulai terusik emosinya.


    "Kalau begitu, menurut saya bangunan ini sudah cukup. Yang penting warung sudah berdiri, sudah bisa dipakai. Sudah selesai. Kami lebih tahu kampung saya daripada kalian." kata laki-laki itu tadi.


    Tentu mendengar kata-kata ini, harapan Yudi untuk membangun, untuk memajukan Kampung Karang sudah sirna.


    "Kalau memang sampeyan suka yang begini, baiklah kalau memang seperti yang dikehendaki Bapak-bapak. Saya tidak bisa memaksa. Kampung Bapak, itu urusan Bapak. Monggo yang ngurusi sampeyan sendiri, saya tidak akan ikut campur lagi .... Saya memang tidak punya hak. Untuk itu, sekali lagi saya mohon maaf ...." kata Yudi yang langsung pasrah, tidak ingin melanjutkan berdebat.


    "Lha terus, ini bagaimana Den Mas?" tanya Pak Kadus pada Yudi, yang tentu kecewa dengan kata-kata warganya.


    "Bagas, tolong uang bayaran tukang diserahkan ke Pak Kadus, biar nanti dibayarkan." kata Yudi pada Bagas.


    "Iya, Mas ...." sahut Bagas yang langsung membuka tasnya, mengambil amplop berisi uang, hitungannya sekitar enam hari kali enam orang tukang, lantas menyerahkan uang itu ke Pak Kadus.


    "Itu bayaran para tukang, Pak Kadus .... Monggo yang tahu hitungannya Pak Kadus. Ditambah untuk beli rokok Pak Kadus. Untuk selanjutnya, saya pasrah pada Pak Kadus dan warga sini, silakan untuk melanjutkan bangunan ini dikelola sendiri. Karena saya yakin yang lebih paham tentang kampung ini tentunya warga sini. Saya, mohon maaf, mohon pamit, dan terima kasih." kata Yudi pada Pak Kadus dan para tukang dari Kampung Karang itu, selanjutnya mengajak Bagas untuk pulang, "Ayo, Gas ..., kita pulang ...."


    "Siap, Mas .... Monggo, Pak ..., saya pamit pulang ...." kata Bagas yang langsung nyetater mobilnya, dan melaju meninggalkan Kampung Karang.


    Tentu, Pak Kadus dan para tukang itu kecewa. Tetapi semuanya sudah terjadi. Yudi sudah pergi meninggalkan Kampung Karang.


    Di dalam mobil, Yudi terdiam. Masih bingung dengan pola pikir orang-orang Kampung Karang .... Pantas kampungnya tidak maju. Pantas masyarakatnya miskin. Tentu karena mereka tidak bisa menerima perubahan, tidak bisa menerima masukan, tidak bisa menerima pendapat orang lain, dan yang jelas, mereka tertutup.


    "Kok diam, Mas Yudi ...?!" tanya Bagas sambil menyetir, yang berada di samping Yudi.


    "Iya, Gas .... Tidak ada gunanya berbicara." jawab Yudi yang tidak bersemangat.


    "Kita hentikan, Mas ...?" tanya Bagas lagi.


    "Apanya?" Yudi balik bertanya.


    "Proyeknya .... Masak mobilnya ...." sahut Bagas.


    "Harapanku sudah sirna .... Tidak ada yang bisa saya lakukan untuk membantu orang, membantu lho, Gas ..., bukan ngemis. Coba kamu bayangkan, Gas .... Uang dari saya, mereka cuman menerima, bahkan kerja ya kita bayar, nanti kalau sudah jadi bangunan warung yang menempati juga mereka, saya tidak meminta untuk, tidak nyuruh ngangsur .... Semuanya free ..., benar-benar free .... Eee ..., disuruh mbangun yang baik, yang bener, malah marah-marah .... Dasar ...." gerutu Yudi yang tentunya jengkel dengan sikap warga Kampung Karang tersebut.


    "Jadi, kita hentikan proyek itu ya, Mas ...." tanya Bagas yang ingin menegaskan.

__ADS_1


    "Ya .... Harapan yang sirna .... Hilang bersama kesombongan orang-orang yang tidak ingin maju." kata Yudi.


__ADS_2