
Yudi masih enggan untuk pulang dari Kampung Karang. Ia bersama Yuna dan Pak Kadus, berjalan berkeliling kampung. Tentu ingin menyaksikan suasana Kampung Karang yang meski kecil tetapi cukup ramai. Kehidupan nelayan yang hanya mengandalkan hasil tangkapan ikan dari Laut Selatan, namun terlihat tenteram dan sejahtera. Masyarakat Kampung Karang, hidupnya bisa dikatakan sejahtera.
Yudi dan Yuna mengikuti langkah kaki Pak Kadus yang mengajak keliling kampung. Tentu Pak Kadus sambil menunjukkan fasilitas-fasilitas umum yang ada di kampung itu, seperti jalan-jalan kampung, langgar, maupun WC umum. Tentu masih sangat sederhana. Bahkan seakan belum pernah mendapat sentuhan dari Pemerintah Daerah. Demikian juga rumah-rumah penduduk, belum banyak yang bisa dikatakan sehat. Rata-rata rumahnya masih menggunakan pagar dari anyaman bambu, yang sebutan di Kampung Karang dinamakan 'rumah gedeg'. Di depan rumahnya bergelantungan jala ikan, alat untuk menangkap ikan di laut. Masyarakat Kampung Karang masih tergolong miskin.
Yudi, Yuna dan Pak Kadus, berjalan perlahan, menelusuri pinggiran teras-teras rumah warga, yang terkadang harus menyibak jala yang menghalangi jalanan. Banyak warga yang pada duduk-duduk atau nongkrong di teras. Tentu mereka memandangi tiga orang yang berjalan melintas di dekat rumahnya. Dan yang menjadi pusat perhatian tentu Yuna. Ya, gadis Jepang itu pasti sangat berbeda dengan wanita-wanita di Kampung Karang. Selain matanya yang sipit, kulitnya yang putih bersih, Yuna memang terlihat sangat cantik. Itulah yang menjadi daya tarik orang-orang yang memerhatikan dirinya di sepanjang perjalanan.
"Mbak Yuna ...." celetuk salah seorang anak yang memanggil Yuna.
"Hai ...." Yuna yang dipanggil langsung melempar senyum lebar sambil melambaikan tangan ke anak yang memanggil tadi.
Sungguh senang anak itu mendapat sahutan dari Yuna, yang tentu mereka suka karena kecantikannya.
"Mbak Yuna ...." panggil anak yang lain lagi.
"Hai ...." Yuna kembali manyaut. Pasti dengan senyum dan melambaikan tangan lagi.
Tentu anak yang mendapat jawaban dan lambaian tangan tersenyum malu, walau hatinya senang. Teman-teman yang lain pun ikut-ikutan memanggil "Mbak Yuna", di sepanjang perjalanan.
Akhirnya, di sepanjang perjalanannya, Yuna sibuk membalas panggilan dan melambaikan tangannya untuk menyenangkan hati anak-anak yang mulai ngefan dengannya. Bahkan ada beberapa anak yang mengikuti Yuna dari belakang. Tentu mereka ingin dekat dengan gadis yang dipandangnya sangat cantik itu.
Yudi kaget saat menoleh ke belakang, jalannya diikuti oleh anak-anak. Cukup banyak anak, yang tentu saling bercanda dan tertawa.
"No problem, Yudi .... they are children. Let them play and have fun ...." kata Yuna pada Yudi.
Mendengar Yuna berbicara dengan bahasa asing, anak-anak justru lebih tertarik. Pasti ini orang asing. Begitu kata anak-anak. Tentu mereka akan mengikuti orang asing yang datang ke kampungnya. Itu sesuatu yang menarik.
Bahkan Pak Kadus, saat mendengar Yuna bercakap menggunakan bahasa asing, ia juga terkejut.
"Maaf ..., kalau boleh tahu, Mbak Yuna ini bukan asli Indonesia, ya?" tanya Pak Kadus.
"Betul Pak Kadus, istri saya ini berasal dari Jepang .... Kebetulan dijodohkan untuk saya." jawab Yudi yang mendahului sebelum Yuna bilang.
"Oo .... Jadi Den Ayu ini dari Jepang, to ...." kata Pak Kadus yang tentu heran.
"Betul, Bapak .... Saya dari Jepang." jawab Yuna sambil membungkukkan badannya, tanda menghormat.
"Kok bisa dan mau, Den Ayu Yuna ini jadi istri orang Bantul ...?" kata Pak Kadus yang masih heran.
"Dia itu bos saya, Pak Kadus .... Bos yang jatuh cinta pada anak buahnya. Hehe ...." sahut Yudi sambil tersenyum meledek Yuna.
__ADS_1
"Bukan, Bapak .... Yudi itu yang jadi bos .... Saya kemarin bekerja di proyeknya Yudi. Begitu melihat ada karyawan cantik, si bos langsung naksir. Hehehe ...." sahut Yuna yang berganti meledak dan langsung tertawa.
"Hehehe .... Tidak masalah Den Ayu Mbak Yuna dan Den Mas Yudi .... Jodoh itu pemberian Allah, baik bos atau karyawan yang penting saling cinta, saling sayang, jadi ..., ya diterima saja. Itu anegerah Allah. Yang penting dalam berumah tangga bisa hidup rukun, tenteram, damai dan senantiasa diberkati oleh Allah ...." kata Pak Kadus memberi masukan.
"Kehidupan masyarakat di sini nelayan, ya Pak Kadus?" tanya Yudi.
"Iya, betul. Semua jadi nelayan. Jadi, kehidupan masyarakat di sini tergantung dari musim melaut. Kalau pas musim baik, kami semua bisa melaut mencari ikan. Tetapi kalau musim barat, angin kencang dan gelombang besar, kami semua tidak berani mencari ikan. Itulah keprihatinan kami." jelas Pak Kadus kepada Yudi.
"Terus, hasil ikannya dijual ke mana?" tanya Yudi lagi.
"Ada tengkulak yang datang kemari, mengambil ikan kami. Ini juga jadi masalah, karena warga sini biasanya sudah pinjam uang duluan kepada tengkulak. Sehingga hasil tangkapan ikannya, biasanya hanya dapat uang sedikit, Den Mas ...." keluh Pak Kadus.
"Kalau tempat lelang ikan sudah ada?" tanya Yudi lagi.
"Yah ..., seadanya Den Mas ..., semacam gubuk. Yang penting bisa untuk jual beli ikan. Tempatnya ada di sana." jawab Pak Kadus sambil menunjukkan tempat yang dimaksud, lantas berjalan menuju tempat itu.
Ya, tempatnya dekat dengan pantai. Dekat dengan perahu-perahu yang bersandar di muara sungai. Dan saat Pak Kadus menunjuk ke arahpantai, terlihatlah hamparan pasir putih yang indah, yang sangat luas dan terlihat alunan gelombang yang menjilati pantai.
Yuna terbelalak menyaksikan keindahan pantai pasir putih yang sangat elok. Ia teringat saat bersama Yudi terdampar di pantai itu, tetapi di sisi barat. Sedangkan tempat berlabuhnya perahu-perahu nelayan, ada di sisi timur. Yana langsung berlari menuju pantai. Mengejar ombak yang mencumbu pantai. Yuna meloncat-loncat kegirangan.
Tidak hanya Yuna. Ternyata anak-anak yang tadi mengikuti jalan mereka, ikut berlari dengan Yuna. Mereka juga langsung bermain ombak. Dasar anak-anak pantai, begitu diajari bermain ombak oleh Yuna, mereka lebih pandai dan lebih gesit untuk bermain ombak. Bahkan Yuna jatuh berkali-kali saat diterjang ombak, anak-anak justru berloncatan mempermainkan ombak-ombak yang mengejarnya.
Yuna dan anak-anak berlari berkejaran. Mereka terlihat akrab, seakan bermain bersama teman. Mereka sudah basah kuyup bergulung dengan ombak, bergelimpangan di hamparan pasir putih. Benar-benar permainan yang mengasyikkan.Yuna bersama anak-anak Kampung Karang, benar-benar bahagia bisa bermain bersama.
"Pak Kadus ..., apakah di kampung ini belum ada sekolahan?" tanya Yudi.
"Belum ada, Den Mas Yudi .... Anak-anak sekolahnya di SD Inpres, dekat kelurahan. Anak-anak jalan kaki kalau berangkat sekolah. Kami masih miskin, Den Mas Yudi ...." jawab Pak Kadus.
Yudi terdiam. Sedih memikirkan apa yang sudah disampaikan oleh Pak Kadus. Tentu banyak persoalan yang sulit untuk diurai, sulit untuk dipecahkan, sulit untuk dibuat maju. Yudi bingung mau berbuat apa.
Ya, memang tidak semudah seperti membalik telapak tangan untuk mengubah nasib sebuah kampung. Namun jika tidak ada yang mau bergerak untuk berubah, maka selamanya kampung itu tidak akan berubah nasibnya. Yudi sendiri bukan penduduk Kampung Karang. Apa yang bisa diperbuat oleh orang dari luar kampung? Kalau hanya sekadar membantu, itu paling-paling hanya untuk sesaat saja. Setelah itu, mereka ya sama seperti semula. Satu-satunya cara untuk memberdayakan penduduk Kampung Karang, ya terlibat secara langsung dalam waktu tak terbatas hingga kampungnya menjadi maju. Tapi, apakah itu mungkin?
"Putranya Pak Kadus apa masih sekolah?" tiba-tiba Yudi bertanya tentang putranya Pak Kadus.
"Walah, Den Mas ..., tidak punya biaya untuk menyekolahkan Den .... Sekolah itu biayanya mahal ...." jawab Pak Kadus.
"Lhah terus ..., sekarang sudah kerja, Pak?" tanya Yudi.
"Itulah, Den Mas Yudi ..., mau kerja apa kalau hanya lulusan SMP? Ya, ikut warga di sini, melaut cari ikan, Den ...." kata Pak Kadus.
__ADS_1
"Kalau misalnya, putranya saya ajak ke Kampung Nirwana, apa boleh? Nanti akan saya ajari untuk berwirausaha, sehingga nanti kalau sudah jadi, biar mengembangkan kampungnya sendiri. Bagaimana?" kata Yudi yang berkeinginan mengajak anak Pak Kadus.
"Walah, Den Mas ..., apa tidak merepotkan?" kata Pak Kadus yang tentu malu untuk berterus terang.
"Tidak, Pak .... Di sana banyak temannya. Dia mau kerja apa saja terserah, sesuai kemauannya, sesuai yang dia bisa. Tidak usah khawatir, nanti akan kami ajari, kami latih dan saya bayar." kata Yudi yang menjanjikan.
"Wah, inggih, Den Mas Yudi .... Maturnuwun sanget, Den Mas ...." jawab Pak Kadus yang tentu senang anaknya akan diberi pekerjaan.
"Tapi tidur di tempat saya, lho ya .... Jangan sering pulang, nanti ilmunya tidak dapat. Apalagi dari Kampung Karang ke Kampung Nirwana kan sangat jauh. Capai di jalan." kata Yudi lagi.
"Wah, nggih, Den .... Sekarang saya tak pulang, mau ngasih tahu ke anaknya, biar siap-siap .... Maturnuwun, Den Mas Yudi ...." kata Pak Kadus yang tentu senang anaknya akan diajak Yudi. Ia langsung balik ke rumah. Gambaran Pak Kadus, pasti Yudi itu orang baik dan kaya. Seperti yang diceritakan oleh Yuna, yang mengatakan Yudi itu bos, punya proyek. Apalagi melihat tadi saat membagi-bagi sarung, jajanan dan uang, pasti Yudi itu orangnya murah hati, tidak pelit.
"Nggih, Pak Kadus ..., saya mau menunggui anak-anak yang masih pada bermain di pantai itu." sahut Yudi.
Yudi senang menyaksikan Yuna bermain dengan anak-anak di pantai, senang melihat kegembiraan Yuna.
"Yudi ...! Ayo kemari ...!" Yuna berteriak memanggil Yudi yang bersandar pada batang pohon kelapa. Tentu Yuna ingin berbagi kebahagian bersama kekasihnya.
"Ya ...!!" teriak Yudi menjawab panggilan Yuna. Lantas Yudi meletakkan sepatunya di bawah pohon kelapa, melangkah ke tepi laut, mendekati Yuna bersama anak-anak yang saling berkejaran dengan ombak. Beberapa kali ombak datang menjilat pasir putih yang diinjak kaki Yudi. Beberapa kali pula kaki Yudi basah diterpa ombak.
"Ayo, Yudi ..., kita bermain lompat ombak. Lihat ini, setiap ada ombak yang datang, kita melompat menghindar. Setinggi apa lompatan kita, dan segesit apa kemampuan kita menghindari gelombang. Kalau kita bisa melompat setinggi-tingginya menghindari ombak, maka pakaian kita tidak basah. Kita berlomba dengan anak-anak .... Hahaha ...." kata Yuna yang senang dengan permainan anak-anak Kampung Karang tersebut.
Tentu Yudi penasaran. Maka ia ikut mendekat ke tempat Yuna dan anak-anak bermain, ingin mencoba permainan anak-anak pantai tersebut.
Gelombang pertama datang, masih kecil. Mereka melompat dengan gampang. Semua bisa menghindari gelombang. Gelombang kedua datang lagi. Masih belum besar. Mereka masih sanggup melompat di atas gelombang. Belum ada yang terkena air gelombang.
"Yudi ..., kemari .... Ayo dekat dengan saya .... Pegang saya." kata Yuna yang bajunya sudah basah. Tentu sudah berkali-kali diterjang gelombang.
Yudi pun mendekati Yuna. Yuna mengulurkan tangannya. Ingin memegang Yudi. Lantas Yudi juga mengulurkan tangan. Mereka berdua berpegangan tangan.
"Awas .... Gelombang datang ...!" teriak anak-anak.
Lantas mereka berlompatan, menghindari datangnya gelombang. Yudi yang belum paham betul cara bermainnya, tentu saat gelombang datang, melompatnya ketinggalan. Maka tubuhnya diterjang gelombang. Yudi terjatuh ke pantai. Yuna yang tangannya berpegangan dengan Yudi, juga ikut terjatuh. Yuna dan Yudi berguling-guling di atas pasir putih, basah kuyup diterpa gelombang.
"Hahaha .... Mbak Yuna terjatuh ...." tawa riang anak-anak yang mengejek Yudi dan Yuna yang terjatuh diterjang gelombang.
"Aahhh .... Yudi ...." Yuna yang telentang di atas hamparan pasir putih itu, pasrah pada Yudi.
Yudi tahu maksud yang diinginkan Yuna. Ia ingin dirinya mendekat, lantas mencium bibirnya. Yudi pun berguling di atas pasir, mendekatkan tubuhnya ke tubuh Yuna. Dan beberapa kali berguling, tubuh Yudi sudah berada di atas tubuh Yuna. Yudi ingin melakukan yang dikehendaki Yuna, ingin mencumbu kekasihnya.
__ADS_1
Namun, pada saat bersamaan, datang lagi ombak yang bergulung. Anak-anak berteriak, "Ombak datang ...! Ombak datang ...! Ombak datang ...!"
Yudi dan Yuna yang masih terguling di atas pasir, kaget. Mereka langsung berusaha bangun. Tetapi ombak sudah datang duluan. Akhirnya, Yudi dan Yuna kembali terjatuh diterjang ombak. Tubuhnya kembali terkapar, dilumuri buih gelombang laut yang menerpanya, serta butiran-butiran pasir yang menyelimuti tubuhnya. Yudi dan Yuna bercumbu diantara pasir dan buih.