KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 126: PERSAINGAN KEKASIH


__ADS_3

    Yuna merasa tidak nyaman dengan kehadiran Rini di rumah Yudi. Tentu Rini akan mengganggu privasinya untuk melakukan berbagai aktivitas keluarga. Apalagi saat ini, kondisi Yudi masih dalam keadaan sakit. Mestinya Yudi butuh istirahat yang cukup. Setidaknya bisa tiduran secara nyaman. Tetapi saat di situ ada Rini, mau tidak mau, Yudi maupun anggota keluarga yang lain harus meladeni Rini. Karena Rini adalah tamu. Setidaknya ada yang menemani Rini berbincang. Kalau Yudi harus meladeni Rini, Yuna merasa kasihan. Karena Yudi seharusnya beristirahat.


    "Bagaimana, Neng Rini ..., akan tinggal di penginapan atau tetap di sini? Itu penginapannya Neng Rini katanya ada dua, ya ...? Waah ..., hebat ...." kata Simbok yang tentu menunggu keputusan Rini.


    "Iya, mumpung Bagas belum pergi, masih ada yang bisa mengantar." timpal Yuna.


    "Mas Bagas kalau mau pergi tidak apa-apa .... Saya di sini dulu." jawab Rini, yang tentu merasa berat jika ingin meninggalkan Yudi.


    Mendengar jawaban Rini seperti itu, tentu Yuna langsung memandangi Yudi sambil merengut. Tanda tidak senang.


    Yudi paham kalau Yuna cemburu. Tetapi itu adalah keputusan Rini, yang jauh-jauh datang dari Jakarta hanya untuk menjenguk Yudi yang sedang mengalami musibah.


    "Bagas, tolong kamu ke Pak Lurah, sampaikan ke beliau kalau kita harus rembugan masalah keorganisasian pengurus wisata di Kampung Nirwana." kata Yudi kepada Bagas.


    "Lha rapatnya kapan, Mas Yudi ...?" tanya Bagas pada Yudi yang menyuruh.


    "Sesegera mungkin." jawab Yudi.


    "Lha Mas Yudi masih sakit, begitu?!" kata Bagas yang tahu kondisi Yudi masih dalam keadaan sakit.


    "Justru karena saya sakit ini, maka harus segera ada kepengurusan agar tidak saya semua yang mengatur. Itu dalam istilah keorganisasian dinamakan pembagian job deskripsi, pembagian tugas kerja." jelas Yudi.


    "O, gitu ya, Mas .... Lhah, Mbak Yuna kan ya bisa to, Mas ...?!" bantah Bagas.


    "Mbak Yuna itu tidak boleh masuk dalam keorganisasian kita .... Dia itu tim penyandang dana, yang ngasih duit ..., bos-nya kita, Gas .... Jadi tugasnya Mbak Yuna di Taman Awang-awang itu sebagai pengamat, tukang kontrol, ngawasi apa saja yang dikerjakan oleh warga Kampung Nirwana itu benar apa tidak ..., lha itu yang nyatat Mbak Yuna." jelas Yudi pada Bagas sambil mengedipkan mata, memberi tanda kepada Bagas.


    "O, begitu ya .... Yah, saya tak menemui Pak Lurah dahulu ...." sahut Bagas yang tahu maksud Yudi.


    "Cepetan ...." kata Yudi lagi.


    "Lha nanti kalau ditanya yang diajak ke sini siapa saja, Mas?" tanya Bagas lagi.


    "Bilang saja sama Pak Lurah, ini rapat urgen, penting, mendadak .... Yang diajak rapat orang-orang yang mau dijadikan pengurus dan pantas mengelola obyek wisata ..., diajak semua." kata Yudi menegaskan pada Bagas.


    "O ya ..., siap, Mas .... Saya berangkat, ya .... Ibu Rini tidak ikut saya sekalian, kalau ngersakke tindak ke Nirwana Homestay?" kata Bagas yang langsung berdiri, berpamitan akan pergi.


    "Terima kasih, Mas Bagas .... Saya mau di sini dulu, menunggui Yudi ...." sahut Rini.


    Tentu Bagas kecewa. Apa yang ditawarkan kepada Rini, ternyata tidak diterima. Padahal maksudnya tadi, jika Bagas akan ke kantor kelurahan, dan menawarkan mengajak Rini ke Nirwana Homestay, tentu di ruang rumah Yudi akan lebih sejuk. Karena hati Yuna tidak emosi, tidak cemburu, tidak panas. Tetapi saat mendengar jawaban Rini yang justru ingin menunggui Yudi, pasti Yuna semakin jengkel.


    "Mbak Yuna ..., bisa bantu saya?" kata Bagas tiba-tiba kepada Yuna. Padahal Bagas sudah melangkah akan berangkat.


    "Tentu, Bagas .... Ada apa?" kata Yuna yang langsung mendekat ke pintu garasi.

__ADS_1


    "Sini sebentar, Mbak Yuna ...." kata Bagas yang sudah mau masuk garasi.


    Lantas setelah yakin tidak terlihat oleh Rini, Bagas berbisik kepada Yuna.


    "Mbak Yuna ikut saya dahulu ke tempat Pak Lurah. Nanti kita bicara di mobil." bisik Bagas pada Yuna.


    Yuna mengangguk, paham yang dimaksud oleh Bagas. Lantas dari dekat pintu garasi, Yuna berpamitan pada Yudi, "Yudi ...! Saya ikut Bagas dahulu, mau ke tempat Pak Lurah."


    Yudi hanya melambaikan tangan, tanda setuju kalau Yuna akan ikut Bagas ke tempat Pak Lurah.


    "Dasar, Bagas anak cerdas ...." batin Yudi yang tahu tujuan Bagas, yaitu menghindarkan kumpulnya Rini dan Yuna.


    Mobil avanza hitam milik Yudi sudah berjalan keluar. Bagas dan Yuna, meninggalkan garasi. Tentu dengan senyum yang tertahan, ingin menertawakan sikap mereka sendiri yang terlihat lucu.


    "Kenapa Bagas ajak saya ke kantor Pak Lurah?" tanya Yuna yang penasaran.


    "Ini strategi Mas Yudi ..., agar Ibu Rini merasa kesepian di rumah Mas Yudi sendirian tanpa teman. Nanti kalau Ibu Rini sudah kesepian, dia tidak betah, tentu akan segera pulang." jelas Bagas.


    "Oo .... Jadi rapat ini nanti hanya untuk menghindari Rini?" tanya Yuna yang mulai paham maksud Yudi dan Bagas.


    "Betul, Mbak Yuna .... Ini namanya mengusir secara halus .... Hehehe ...." sahut Bagas.


    "Oo ..., begitu, ya .... Kenapa kita tidak terus terang saja?" tanya Yuna.


    "Di Jogja, mengusir orang secara langsung atau blak-blakan itu tidak sopan, Mbak Yuna .... Makanya kalau kita bisa mengalihkan kegiatan yang seolah kita sedang sibuk, itu lebih bagus .... Agar tidak terlihat kalau kita mengusir. Lha, Mas Yudi nyuruh ngundang Pak Lurah segera, itu kan sebenarnya ingin menyibukkan diri, pura-pura rapat, sehingga tidak didekati Ibu Rini terus .... Begitu, Mbak Yuna ...." jelas Bagas.


    "Lha, kan Ibu Rini itu sahabat baik Mas Yudi ...." jawab Bagas pura-pura tidak tahu hubungan Yudi dengan Rini.


    "Ah, bukan sahabat .... Dahulu waktu SMA Yudi pernah jatuh cinta sama Rini, tetapi malah ditinggal pergi, dan Rini menikah dengan laki-laki yang katanya kaya raya .... Berarti Rini bukan perempuan setia." kata Yuna yang membantah Bagas kalau hubungan Rini dan Yudi sebagai sahabat.


    "Masak seperti itu, sih?" tanya Bagas masih pura-pura.


    "Betul, Bagas .... Yudi itu pernah dibuat frustrasi oleh Rini .... Makanya Yudi tidak mau menikah, takut dikecewakan wanita lagi." jelas Yuna.


    "Oo .... Berarti Mas Yudi itu tidak mau menikah gara-gara sakit hati sama Ibu Rini, to?" kata Bagas.


    "Iya .... Makanya saya jengkel sama Rini, sekarang pura-pura baik pada Yudi. Sudah tahu kalau Yudi itu sudah bertunangan dengan saya, mengapa dia masih berdekatan dengan Yudi terus ...?! Apa tidak rela kalau Yudi menikah dengan saya?" kata Yuna yang malah jadi jengkel.


    "Walah, Mbak Yuna .... Mas Yudi itu orangnya baik .... Pasti dia lebih memilih Mbak Yuna dari pada Ibu Rini yang sudah punya suami. Apalagi Mbak Yuna lebih cantik, lebih pinter, lebih baik hatinya, dan tentu Mbak Yuna lebih memahami masyarakat Kampung Nirwana .... Pasti Mbak Yuna tidak bisa dibandingkan dengan Ibu Rini. Kami semua memilih Mbak Yuna untuk Mas Yudi. Pas, Mbak ...." kata Bagas yang memuji Yuna.


    "Pas apa?" tanya Yuna.


    "Orang baik pasti dapat jodoh orang baik. Mbak Yuna itu orang baik ..., Mas Yudi juga orang baik. Jadi jodohnya Mas Yudi ya Mbak Yuna ...." kata Bagas sambil mengacungkan jempolnya.

__ADS_1


    "Terus, bagaimana dengan Rini yang ada di rumah Yudi?" tanya Yuna, yang tentu tidak senang dengan kehadiran Rini.


    "Halah ..., tidak usah difpkir. Sebentar lagi Mas Yudi rapat dengan Pak Lurah. Kita tinggal pergi ke Taman Awang-awang, Simbok dan Bapak kita ajak. Biar Ibu Rini sendirian, tidak ada teman. Pasti nanti dia akan merasa kesepian dan tidak betah." Bagas mengatur strategi.


    "O, begitu ya .... Baiklah, saya setuju." jawab Yuna yang tersenyum mendengar strategi Bagas.


*******


    Ruang pendopo depan rumah Yudi, sudah dipenuhi tamu. Ada sekitar sepuluh orang yang datang, memenuhi panggilan Pak Lurah. Mereka yang diundang mewakili berbagai kelompok paguyuban. Mulai dari ketua sopir wisata, pemilik home industri dan kerajinan kecil, ketua pedagang kuliner, serta pekerja seni. Rapat pembagian tugas penataan manajemen wisata Kampung Nirwana, dipimpin langsung oleh Yudi. Tentu nantinya bertujuan untuk mengembangkan Kampung Nirwana yang lebih maju dan sejahtera. Meski dengan kondisi tubuh masih sakit, tetapi Yudi memang ingin segera menata obyek-obyek wisata serta tata kehidupan dari jasa wisata di Kampung Nirwana yang lebih baik.


    Sementara itu, Bagas dan Yuna yang sudah menjemput orang tuanya Yudi, mereka berempat pergi ke Taman Awang-awang. Maklum, sejak peresmian obyek wisata itu, kedua orang tua Yudi belum pernah diajak ke tempat tersebut. Dalam kesempatan ini, maka sekalian menghindari menemani Rini, mereka berempat bersenang-senang di Taman Awang-awng.


    Simbok dan Bapak yang baru tahu perubahan Taman Awang-awang menjadi sebuah obyek wisata yang sangat bagus, sangat senang menyaksikan semuanya. Tidak hanya melihat keindahan samudera biru yang mengalunkan ombak setiap saat, tetapi juga menyaksikan anak-anak bermain di gedung piramid. Mereka senang, tertawa lepas menyaksikan anak-anak yang kadang gembira, senang karena menang, atau bahkan jengkel karena kalah bermain. Walau hanya sekadar melihat, mereka sudah bahagia.


    Apalagi Yuna, yang menyaksikan calon mertuanya bisa tertawa lepas, gembira dan bersenang-senang, Yuna ikut bahagia.


    "Wah ..., wah ..., wah .... Betul-betul keren .... Luar biasa ...." decak kagum bapaknya Yudi.


    "Bagus banget ya, Pak ...." sahut Simbok.


    "Siapa dulu arsiteknya .... Mbak Yuna gitu, loh ...." sahut Bagas yang menyanjung Yuna.


    "Bukan saya .... Tapi ada Yudi yang membantu mewujudkan mimpi saya, dan tentu seluruh rakyat Kampung Nirwana yang sudah bekerja membangun tempat ini." kata Yuna yang tidak mau dipuji.


    "Ya ..., ya ..., ya ..., semuanya terlibat. Berarti hebat semua. Pasti termasuk Mas Bagas yang sibuk membantu Mbak Yuna .... Bukan begitu, Mas Bagas ...?!" kata Bapak.


    "Hehehe .... Saya bagian seksi sibuk kok, Pak ...." cengenges Bagas.


    "Tidak apa-apa .... Yang penting itu kita kerja .... Kerja ikhlas untuk kesejahteraan bersama." sahut Bapak.


    "Njih, Bapak ...." jawab Bagas.


    Sementara itu, di gazebo belakang rumah Yudi, seperti yang diharapkan oleh Bagas maupun Yuna, dan tentu juga Yudi, Rini duduk sendiri tanpa teman. Sepi tanpa ada siapa-siapa yang diajak bicara. Sedetik dua menit, mungkin belum terasa. Tetapi lama-kelamaan, rasa jenuh mulai menghantui pikirannya. Mau melakukan apa, Rini bingung. Tidak ada yang bisa ia perbuat. Rina tidak tahu mesti harus bagaimana. Benar-benar gelisah seorang diri, dalam sepi menyendiri, tanpa ada yang peduli.


    “Tuliliiing tuloliliiiing …. Tuliliiing tuloliliiiing …!”


    Tiba-tiba HP Rini berdering. Lantas Rini melihat panggilan itu. Ternyata yang memanggil adalah suaminya. Bukan hanya panggilan telepon, tetapi video call.


    "Waduh ..., bagaimana ini, Papah memanggil video call ...?! Pasti akan ketahuan kalau saya tidak di rumah." gumam Rini yang bingung tidak berani mengangkat panggilan suaminya.


   “Tuliliiing tuloliliiiing …. Tuliliiing tuloliliiiing …!”


    Kembali HP Rini berdering. Suaminya memanggil lagi. Rini semakin ketakutan. Ia ingat betul pesan suaminya saat akan berangkat ke Jerman, Rini tidak boleh pergi meninggalkan rumah. Tapi saat ini, Rini justru berada di rumah Yudi. Rini juga masih ingat, saat suaminya marah kepadanya karena Rini tidak membantu suaminya, tetapi malah ngurusi Yudi. Dan kini, Rini kembali ingin mengurusi Yudi saat suaminya pergi. Siapa yang lebih dicintai? Suaminya atau Yudi? Kalau mencintai suaminya, kenapa tidak menurut perintah suaminya?

__ADS_1


    “Tuliliiing tuloliliiiing …. Tuliliiing tuloliliiiing …!”


    Kembali HP Rini berdering. Suaminya memanggil terus. Dan Rini semakin ketakutan. Pasti suaminya akan marah besar.


__ADS_2