
Mas Wawan sudah membangun laboratorium pembibitan anggrek. Sebuah laboratorium yang nantinya akan menjadi tempat kerja bagi Yayan dan Silvy. Tentuk untuk mempraktekkan ilmu-ilmunya yang sudah diperoleh dari hasil belajarnya di Malang. Pasti setiap hari Yayan dan Silvy ikut menyaksikan pembangunannya. Yang jelas mereka ingin memastikan bangunannya cepat selesai. Tentu rasa tidak sabar itu muncul dalam hati Yayan dan Silvy. Namun Mas Wawan sudah berjanji, dalam waktu satu setengah bulan bangunan itu akan selesai.
Rini pasrah saja pada Wawan yang membangunnya. Ya, karena Rini memang tidak paham tentang bangunan. Yang ia tahu hanyalah bisa membayar Mas Wawan sesuai dengan perjanjian, yaitu setengah harga di bayar di depan, dan setengah harga lagi diberikan setelah bangunan selesai. Sama persis seperti waktu memborong bangunan kebun dan gedungnya.
Mas Wawan yang sudah pernah mengerjakan bangunan di tempat Rini, pasti sudah paham dengan watak dan tabiat orang yang menyuruhnya. Wawan serius dan tidak mau gegabah. Meski Ibu Rini itu seorang wanita, tetapi ia selalu detail dalam mengamati setiap bangunannya. Bukti kalau Ibu Rini itu orang yang selalu memerhatikan rumahnya, terutama pada setiap ada bangunan yang kurang baik serta tidak pas. Yang diingat oleh Wawan adalah saat pemasangan lantai. Wawan sempat diprotes oleh Ibu Rini saat ada tukangnya yang memasang lantai agak miring. Tentu akhirnya ia harus membongkar lantai yang sudah terpasang tersebut. Makanya, kali ini Wawan harus berhati-hati dan benar-benar menjaga kualitas pengerjaan bangunannya.
Sementara itu, Yudi berkali-kali menemui Wawan di rumah Rini. Setidaknya Yudi ingin menyaksikan pembangunan gedung laboratorium tersebut. Tetapi Yudi juga ingin bincang-bincang dengan Wawan terkait rencananya membangun Pasar Rakyat.
Rini senang setiap kali Yudi datang ke rumahnya. Walau Yudi berbincang dengan Mas Wawan di pendopo luar kebun anggrek, tetapi setidaknya mereka ada di rumahnya. Rini selalu membuatkan minum untuk mereka berdua. Tentu berkali-kali Rini keluar dari ruang dalam menuju pendopo, sekadar untuk menengok atau melirik Yudi. Yah, meski hanya sekejap bisa melihat wajah Yudi, Rini sudah merasa senang.
Sebaliknya, Yudi yang dibuatkan minuman, tentu merasa senang. Itulah sebabnya Yudi sering datang ke rumah Rini, walau alasannya ingin menemui Wawan untuk membicarakan masalah pembangunan Pasar Rakyat. Setidaknya, Yudi dapat bertemu dengan Rini meski hanya sekilas.
"Mas Wawan mau saya buatkan kopi?" tanya Rini pada Wawan saat menawarkan minuman di pendopo.
"Terima aksih, Ibu Rini .... Tadi saya sudah minum, kok ...." jawab Wawan yang tentu malu untuk langsung menerima.
"Tidak apa-apa, cuma air saja kok .... Kamu mau minum apa, Yud?" kata Rini yang selanjutnya menawari Yudi.
"Ada lemon, Rin ...?" tanya Yudi.
"Ada .... Mau saya buatkan lemon madu?" tanya Rini pada Yudi menawarkan lemon madu.
"Ya ..., mau lah .... Terima kasih ya, Rin ...." sahut Yudi yang tentu senang.
"Tunggu, ya .... Saya buatkan dahulu ...." kata Rini yang langsung balik ke dapur.
"Wah ..., Mas Yudi ini keren .... Minumnya lemon madu ...." kata Wawan yang mendengar aneh minuman lemon madu.
"Mas Wawan itu kurang piknik .... Itu ramuan tradisional nenek moyang kita, Mas Wawan. Kalau ada anak sakit panas atau batuk pilek, zaman simbah kita dahulu, obatnya cukup dikasih minum perasa jeruk pecel ditambah madu hutan, anak yang sakit tadi langsung sembuh. Jadi kalau kita minum seperti itu sekarang, itu bukan keren, tetapi mempertahankan tradisi leluhur. Gitu Mas Wawn ...." kata Yudi menjelaskan minuman yang dipesannya.
"Iya ..., ya .... Ternyata kalau kita telisik jauh ke masa lalu, itu banyak tradisi nenek moyang yang masih kita pakai sampai sekarang ya, Mas Yudi ...." kata Wawan yang mulai sadar dengan tradisi kuno.
"Monggo .... Ini kopi untuk Mas Wawan .... Ini lemon madu untuk kamu, Yud .... Gantinya jamu buatan Simbok. Hehe ...." Rini yang datang kembali ke pendopo, memberikan minuman untuk Wawan dan Yudi.
"Memang Mas Yudi kurang sehat, ya?" tanya Wawan.
"Paling-paling cuman masuk angin ...." sahut Yudi.
"Hah ...?! Kamu masuk angin, Yud ...? Jangan dibiarkan saja ..., nanti malah semakin parah. Ayo ..., saya keroki sebentar ...." kata Rini yang sudah menyeret tangan Yudi.
"Nggak papa kok, Rin .... Nanti diminumi lemon madu juga sembuh ...." Yudi berusaha menolak tawaran Rini.
__ADS_1
"Eee .... Jangan remehkan masuk angin .... Banyak kasus orang meninggal dunia karena masuk angin .... Itu yang sering disebut angin duduk itu ..., itu sebenarnya karena angin kasep. Sudah, ayo saya keroki sebentar ...." kata Rini yang kembali menyeret tangan Yudi.
"Iya, Mas Yudi .... Nanti kadung kasep, lo ...." timpal Wawan yang juga menyuruh Yudi untuk kerokan.
Rini memaksa Yudi, diseret tangannya untuk dikeroki. Akhirnya Yudi pun menyerah pasrah. Rini mengajak Yudi masuk ke kamarnya, tentu tidak nyaman jika melakukan kerokan dengan Yudi di luar. Tidak baik jika ada tamu yang melihat.
"Kok malah di kamar, Rin?" tanya Yudi yang dimasukkan ke kamar Rini.
"Biar nyaman, tidak dilihat orang ...." jawab Rini yang sudah siap membawa minyak gosok dan alat kerokan.
"Gak enak, Rin .... Masak saya harus masuk kamar kamu ...." kata Yudi lagi.
"Gak papa .... Yang penting kamu sehat .... Cepat buka bajunya ...." kata Rini yang langsung mendudukkan Yudi di kasur tempat tidurnya.
Yudi kini hanya bisa pasrah, walau meski sebenarnya merasa agak kurang nyaman. Tetapi ketika kerokan adalah obat yang dibutuhkan untuk menyembuhkan masuk angin, maka Yudi harus bisa menerima. Walau ada rasa malu, tetapi Yudi sebenarnya juga senang dirawat oleh Rini, wanita yang dahulu pernah singgah dalam hatinya. Dan kini, ketika Rini berbaik pada dirinya untuk membantu melakukan kerokan, pasti ada getar yang muncul dalam hatinya.
Rini mulai mengerok punggung Yudi. Tentu dengan penuh kemesraan. Mengerok orang yang disayangi, setidaknya ada rasa yang berbeda, yaitu deg-degan. Baru satu kali dikerok, langsung berubah merah. Berarti masuk anginnya sudah sangat keterlaluan.
Rini merasa kasihan menyaksikan kehidupan Yudi yang boleh dikatakan seperti pepatah ibarat sudah jatuh masih tertimpa tangga. Rini juga menyesal, kenapa dahulu meninggalkan Yudi dan menikah dengan Hamdan? Setidaknya Rini sudah ikut andil dalam menyakiti hati Yudi. Tentunya kala itu sudah membuat hati Yudi menjadi frustrasi. Namun saat pertemuan pada acara reuni alumni SMA itu, justru hati Rini yang terusik saat mengetahui jika Yudi adalah laki-laki terbaik yang pernah ia temui. Tetapi apa daya, Rini sudah menikah. Rini sudah berkeluarga. Rini sudah punya suami. Maka ia merasa tidak sanggup untuk menolong penderitaan Yudi yang masih menyendiri tidak mau menikah gara-gara dirinya. Maka ketika melihat sosok Yuna, Rini ikhlas menjodohkan Yudi dengan Yuna, meski rasa hatinya sangat remuk menyaksikan kebahagiaan Yudi dan Yuna. Beruntung waktu pesta pernikahan Rini ditelepon untuk segera pulang, sehingga tidak menyaksikan saat-saat Yudi dan Yuna berbagi bahagia.
Namun sekarang, setelah Rini menjadi janda, dan Yudi hidup menyendiri dengan penderitaan yang ditinggal menghilang istrinya, tanpa ada kabar berita yang bisa dipastikan, maka rasa kasihan Rini tidak sebatas antara dirinya dan Yudi sebagai sahabat seperti waktu SMA, melainkan ada hasrat lain yang tumbuh dalam hati Rini.
"Aaah ...!! Yang itu sakit, Rin ...." teriak Yudi kesakitan saat dikerok oleh Rini.
"Ssst .... Diam! Kayak anak kecil saja." kata Rini yang menyuruh Yudi diam.
Tapi saat itu ada peristiwa lain yang terjadi. Tiba-tiba, hidung Rini sudah mencium pipi Yudi.
Yudi mengusap pipinya dengan tangan. Yudi teringat peristiwa kala SMA, saat mengerjakan PR di rumah Rini, tiba-tiba Rini mencuri mencium pipinya. Yudi pun saat itu mengusap pipinya dengan tangannya. Persis seperti peristiwa saat ini.
Lantas Yudi menoleh pada Rini yang tiba-tiba berhenti mengerok punggungnya. Rini justru menatap Yudi yang menoleh dirinya itu, menatap dengan senyuman gembira.
"Kenapa ...?" tanya Rini yang selanjutnya sudah mengulang mencium pipi Yudi kembali.
"Hehh .... Kamu keterlaluan, Rini ...." kata Yudi.
"Keterlaluan kenapa ...?" tanya Rini yang semakin memanja.
"Ah, sudahlah .... Selesaikan dahulu mengerok punggungku ...." kata Yudi yang sudah siap untuk dikerok lagi.
"Habisnya ..., ditanya kok tidak njawab." sahut Rini yang tangannya sudah memulai lagi mengerok punggung Yudi.
__ADS_1
"Tanya apa ...?" tanya Yudi balik.
"Tuh ..., kan .... Orang ditanya tentang Yuna .... kira-kira, Yuna masih bisa ditemukan apa tidak?" Rini kembali mengulang pertanyaannya.
"Saya tidak sanggup menjawab. Yang pasti saya tidak mungkin kembali ke Jepang. Dan saya Yakin, Yuna juga tidak mungkin bisa pergi keluar dari negerinya. Tapi tolong omongan saya ini jangan kamu ceritakan, Rin .... Ini rahasia saya. Termasuk jangan ceritakan kepada sahabat-sahabat kita. Tapi saya ingin kamu tahu tentang diri saya yang sebenarnya. Terus terang saya hanya bisa curhat ke kamu ...." kata Yudi pada Rini.
"Iya, Yud .... Aku paham, kok ...." kata Rini.
"Ini jangan kamu anggap kalau diriku minta dibelas kasihani, Rin .... Terus terang saya bukan pengemis cinta. Hilang istri, terus mengemis pada dirimu .... Hehehe ...." kata Yudi yang tentu menggoda Rini.
"Iih ..., sombong ...." sahut Rini yang jengkel mendengar gojekan Yudi. Ia pun langsung menghentikan kerokannya.
"Lhoh ..., kok berhenti?!" tanya Yudi yang tahu kalau Rini berhenti.
"Habis ..., kamu nakal ...." jawab Rini terlihat memelas.
"Ih, gitu saja marah ...." kata Yudi pada Rini.
Yudi langsung turun dari kasur Rini. Ia berdiri dan langsung mendekap tubuh wanita yang baru saja mengerok punggungnya. Tidak sekadar mendekap, tetapi Yudi sudah membalas ciuman Rini tadi.
Kali ini, dua orang tua itu melampiaskan kerinduannya yang selama ini terpendam. Apalagi Rini yang janda, lama tidak pernah menerima cinta dari seorang laki-laki. Demikian juga Yudi yang kehilangan Yuna saat hasrat asmaranya sedang memuncak. Kini, dua orang yang saling butuh cinta itu, bertemu di dalam kamar Rini, hanya berdua. Sanggupkah mereka saling mengisi kebutuhannya?
"Rini ..., boleh saya bertanya?" kata Yudi tiba-tiba, yang tentu masih memeluk kuat tubuh Rini.
"Tanya apa, Yudi ...?" sahut Rini yang pasrah dalam dekapan Yudi, tentu dengan mata yang terpejam.
"Apakah diriku masih bisa memiliki cintamu?" tanya Yudi, yang tentu ingin tahu isi hati Rini.
"Jika Yudi mau menerima cintaku, akan aku berikan seluruh cinta yang ada dalam hidupku ...." jawab Rini yang semakin pasrah dalam pelukan Yudi.
Yudi diam. Tetapi hatinya yakin, jika Rini tetap mencintai dirinya. Dan itu sudah dibuktikan oleh Rini yang berani mengulang peristiwa saat SMA, yaitu mencuri mencium pipi Yudi. Yudi yakin dan percaya, jika Rini masih mencintai dirinya. Tetapi bagi Yudi saat ini, ada sesuatu yang sangat membebani cintanya. Yaitu Yuna. Mau dikatakan seperti apapun keadaan Yuna, masih hidup atau sudah tiada, Yuna adalah istri Yudi yang sah. Dan yang pasti, Yudi belum bercerai dengan Yuna.
"Apakah Yudi juga mau menerima cintaku?" tanya Rini tanpa basa-basi. Maklum cinta orang tua, tidak perlu malu-malu kucing.
"Sudah saya ceritakan dari dahulu .... Sebenarnya goresan cinta dalam hatiku hanya tertulis namamu. Namun Rini harus paham, bahwa masih ada ganjalan dalam hatiku untuk mengeruk seluruh cintamu, yaitu Yuna. Kenapa semua ini terjadi pada diriku, Rin?" kata Yudi yang melepas tangannya dari memeluk Rini. Lantas ia kembali duduk di kasur Rini, dengan wajah lesu. Tentu ada rasa kecewa dengan nasibnya.
Rini ikut duduk di kasur, bersanding di sebelah Yudi. Dan tentu memeluk pinggang Yudi. Rini ikut merasakan kesedihan yang dialami Yudi.
"Rini .... Masih ada beban cinta yang berat dalam hidupku. Sanggupkah Rini membantu mengurai beban cintaku itu?" kata Yudi pada Rini, yang tentu berharap Rini punya pengertian tentang kondisinya.
Rini memandangi wajah Yudi. Lalu jemari tangannya yang masih halus itu mengusap pipi Yudi. Lantas katanya, "Aku akan ikut menanggung beban cintamu, Yudi ...." Rini tersenyum manis. Lantas kembali mencium pipi Yudi. Tentu dengan penuh rasa kasih sayang.
__ADS_1