KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 222: MALAM PERTAMA YANG DITUNGGU


__ADS_3

    Malam pertama Rini tinggal di rumah Yudi. Tentu karena acara menikahnya di rumah Yudi. Tidak boleh bagi adat masyarakat Kampung Nirwana untuk pergi meninggalkan rumah sebelum sepasar hari Jawa, atau lima hari lamanya. Pengantin baru harus berada di rumah selama sepasar.  Tidak boleh keluar rumah ataupun bepergian.


    Malam yang ditunggu-tunggu oleh Rini, selama hampir dua tahun, ingin tidur mesra bersama Yudi. Tentu Rini ingin melampiaskan cintanya. Cinta yang sudah pernah terpendam di saat menjadi teman SMA, bahkan pernah juga ingin diulang oleh Rini saat bertemu pada acara reuni alumni SMA. Namun itu semua tidak pernah kesampaian, karena Yudi adalah laki-laki yang menjaga kehormatan nilai-nilai rumah tangga. Tentu Yudi tidak mau merusak keluarga Rini, hanya gara-gara masalah sepele.


    "Yudi ..., malam ini adalah malam yang aku tunggu lebih dari tiga puluh tahun yang lalu." kata Rini yang sudah memanja di atas dada Yudi. Tentu sambil tiduran di kamar Yudi.


    "Aku juga ..., Rini ...." sahut Yudi sambil membelai rambut Rini, yang masih lebat dan hitam itu. Rambut sepanjang bahu itu masih seperti rambut milik anak muda.


    "Akankah kita akan bahagia seperti ini selamanya, Yudi ...?" tanya Rini yang tentu sangat ingin dimanja oleh Yudi.


    "Semoga Yang Maha Murah memberikan kebahagiaan kepada kita sampai akhir hayat, Rini ...." sahut Yudi penuh kelembutan.


    "Maafkan aku, Yudi ..., jika dahulu pernah menyakiti hatimu." kata Rini lagi, yang tentu teringat saat meninggalkan Yudi dan memilih menikah dengan Hamdan.


    "Tidak ada yang perlu dimaafkan .... Semua sudah ada takdirnya sendiri-sendiri." sahut Yudi yang terdengar sangat bijaksana.


    Lantas dua manusia dewasa pengantin baru itu diam. Walau begitu, Yudi masih membelai rambut Rini yang baunya harum itu. Kebetulan kepala Rini yang merebah di dada Yudi sangat dekat dengan wajah Yudi. Tentu bau harum rambut Rini tercium oleh hidung Yudi.


    "Rini ..., rambut kamu baunya harum sekali ...." kata Yudi yang memuji bau rambut Rini.


    "Ya, kan habis keramas tadi saat mandi ...." jawab Rini.


    "Pakai sampo apa?" tanya Yudi lagi.

__ADS_1


    "Ya, pakai sampo milik Yudi. Yang ada di kamar mandi Yudi .... Masak pakai sampo orang lain. Kan saya tidak boleh keluar dahulu, Yud .... Katanya ora ilok ...." sahut Rini.


    "Kok, rambut saya tidak bau wangi seperti rambut kamu?" tanya Yudi lagi.


    "Coba saya cium ...." kata Rini yang langsung mencium rambut Yudi. Lantas katanya, "Ah, wangi gini, kok ...."


    "Masak, sih ...??!" tanya Yudi yang tidak percaya.


    "Iya .... Uh ..., uh ..., uh .... Muach ...." Rini kembali mencium rambut Yudi berkali-kali, bahkan ciumannya sudah menjalar ke kenig, pipi, hidung dan ditempat-tempat lain.


    Dengan sikap Rini yang menciumi dirinya seperti itu, tentu Yudi merasa geli. Lantas Yudi pun membalas menciumi Rini. Dua orang yang baru saja dinikahkan oleh Pak Naib itu, langsung saling serang dan saling membalas. Dan yang selama tiga puluh tahun diharapkan oleh Rini pun, malam itu terlampiaskan sudah. Puas menikmati malam yang ditunggu-tunggu.


    "Rini ..., maafkan saya ...." kata Yudi yang sudah telentang di tempat tidur.


    "Maafkan sikap saya di masa lalu. Waktu itu saya memang penakut, tidak berani berkata apa-apa pada dirimu. Padahal dalam hatiku memendam rasa yang sangat luar biasa ingin melontar dari mulut. Tetapi apa daya, saya adalah laki-laki penakut yang tidak pernah berani berterus terang." kata Yudi sambil mengelus pipi Rini.


    "Cerita buruk masa lalu biarlah kita kubur bersama. Saya ingin menikmati masa-masa indah bersamamu, Yudi. Izinkan saya untuk menebus kesalahan masa lalu, dengan membahagiakan dirimu, Yudi ...." kata Rini yang bermanja di dada Yudi.


    "Tapi, Rini ...." kata Yudi terputus.


    "Tidak usah pakai tapi-tapian ..., Yudi .... Kita sudah sama-sama dewasa, bahkan sudah tua. Cinta kita bukan lagi tentang angan-angan keindahan, tetapi sudah menjadi tanggung jawab yang harus dijalani bersama. Dahulu, masa SMA, saya mencintaimu sebatas perasaan anak perempuan yang mengalami masa pubertas. Tetapi sekarang, aku mencintaimu karena ingin beribadah bersamamu. Mengabdi untuk kebaikan, seperti yang diperintahkan Tuhan Yang Maha Kuasa." kata Rini yang menatap wajah Yudi dengan penuh kelembutan.


    "Terima kasih, Rini ...." sahut Yudi yang langsung mencium kening Rini.

__ADS_1


    Lagi-lagi, Rini merasakan kasih sayang Yudi yang sangat sempurna. Namun tiba-tiba, Rini kaget saat tangannya meremas jemari tangan Yudi. Jari-jari Rini menyentuh cincin yang dikenakan oleh Yudi. Rini pun langsung menarik tangan Yudi, dan melihat cincin yang dikenakan oleh Yudi itu.


    "Yudi ..., apakah ini cincin Yuna?" tanya Rini perlahan dan lembut, khawatir menyinggung perasaan Yudi.


    "Rini ..., ada cerita panjang tentang cincin ini." kata Yudi.


    "Bagaimana ceritanya? apa saya boleh mengetahuinya ...?" sahut Rini yang tentu penasaran.


    Yudi diam sejenak, lantas mengangkat tubuh Rini, membalikkan perempuan yang sudah menjadi istrinya itu, menengkurapkan di dadanya. Tentu agar wajah cantik wanita yang digakumi saat SMA itu bisa terlihat jelas mimik dan rautnya. Lalu katanya, "Waktu pertama kali membangun Taman Awang-awang, tentu banyak pekerja yang bercerita kepada Yuna tentang misteri Ratu Pantai Selatan alias Nyai Roro Kidul .... Yuna mengajak saya untuk membuktikannya. Saya pun menemani Yuna. Waktu itu senja sudah menjelang. Sebentar lagi matahari tenggelam. Yuna berteriak keras minta izin kepada Kanjeng Ratu Nyai Roro Kidul untuk membangun Taman Awang-awang. Jawabannya adalah gelombang besar yang menghantam dinding Taman Awang-awang, dan air samudera yang memercik hingga ke puncak bukit. Tidak berhenti di situ, Yuna kembali meminta bukti, apakah diizinkan menikah denganku. Saya pun kaget, seketika itu gelombang yang lebih dahsyat datang. Bukan sekadar menghantam tebing bukit, tetapi menghantam Yuna. Seketika Yuna terlempar dan pingsan. Tubuhnya basah kuyup. Tubuh saya juga basah oleh hempasan gelombang yang sangat dahsyat tersebut. Yuna saya bawa pulang, dan meminta Bagas sama Simbok untuk membantu ngeroki Yuna. Lantas dibuatkan jamu oleh Simbok, Yuna bisa sadar. Anehnya, pagi hari para tukang sudah geger, ribut, tentu membicarakan masalah amukan gelombang besar dari Kanjeng Ratu Nyai Roro Kidul tersebut. Dan di tengah taman, ada ledokan yang masih tergenang air, tidak surut hingga sore. Kala itu para pekerja sudah pulang. Yuna melihat sesuatu dalam genangan air yang berada di tengah taman tersebut. Yuna meminta saya untuk mengambil benda aneh tersebut. Saya masuk ke dalam genangan air, ternyata benda yang dilihat Yuna tersebut adalah cincin. Lantas cincin itu saya berikan kepada Yuna. Namun Yuna melihat lagi benda yang lain, dan saya kembali mengambil. Ternyata juga sebuah cincin. Jadi ada dua cincin dalam genangan air tersebut. Tapi ada yang sangat aneh terjadi. Saat dua cincin itu saya ambil, air yang menggenang itu langsung surut dan habis. Yuna membersihkan cincin itu, yang satu ia pakai dan yang satu lagi yang saya pakai ini." cerita Yudi pada Rini.


    Rini terkesima mendengar cerita Yudi. Tentu sangat heran dengan kisah Yudi bersama Yuna saat mendapatkan cincin itu.


    Tiba-tiba Yudi melepas cincin yang ada pada jemarinya, lalu katanya, "Rini, kenakanlah cincin ini di jemari tanganmu."


    Rini menerima cincin itu. Tetapi ia kembali menarik tangan Yudi, lantas mengenakan cincin itu lagi di jemari Yudi.


    "Yudi, ini kenanganmu dengan Yuna. Saya tidak mau mengusiknya. Biarlah cincin itu tetap berada di jari tanganmu. Aku tidak butuh cincin, tetapi aku butuh cintamu." kata Rini sambil tersenyum.


    Yudi langsung memeluk tubuh Rini. Yudi menciumi wanita itu berkali-kali. Pasti dengan rasa haru dan sayang, karena Rini bisa memahami dirinya.


    "Terima kasih, Rini .... Dirimu terlalu baik untukku." kata Yudi yang masih memeluk erat tubuh istrinya.


    "Hehemmm ...." lagi-lagi, Rini sudah mencium suaminya.

__ADS_1


    Malam itu, Yudi dan Rini tidak tertidur sama sekali. Mereka bercengkerama sepanjang malam. Menikmati indahnya kebersamaan dalam cinta yang sudah dipadukan. Meski harus mengantuk, meski harus capek, meski harus lelah .... Tetapi, rasa cinta yang lama terpendam, kini bangkit dan kembali bergelora. Yudi dan Rini hanyut dalam kenikmatan malam pertama. Malam yang yang sudah lama ditunggu-tunggu, kini sudah mereka temukan bersama.


__ADS_2