
Silvy sudah menyampaikan pesan papahnya, tentang rencana investasi di Kampung Nirwana, yaitu pembangunan tiga unit homestay. Kini tinggal menunggu sketsa awal dan melihat lokasi. Tentu Yudi akan melibatkan Silvy sebagai utusan dari pihak calon investor.
"Silvy, nanti tidur di sini kan?" tanya Yudi.
"Jika diijinkan Mas Yudi, dan jika ada tempat. Kalau tidak bisa, saya akan menginap di hotel." jawab Silvy.
"Mamah Silvy pesannya bagaimana?" tanya Yudi yang mencoba menyelidiki.
"Kata Mamah sih, disuruh menginap di rumah Mas Yudi .... Katanya sekalian ngawasi Mas Yudi. Hehe ...." jawab Silvy. Padahal Silvy hanya mengarang saja.
"Ih, mamah kamu itu keterlaluan. Masak anaknya disuruh mengawasi orang lain, memangnya saya ini anak kecil apa?" sahut Yudi.
"Iiih .... Mas Yudi kok jadi sewot. Hayo, pasti ada apa-apa dengan mamah. Hehe ...." ledek Silvy.
"Tidak baik begitu, Silvy .... Jangan berprasangka pada orang yang sudah membesarkan kita." sahut Yudi yang lembut, seakan menasehati anaknya sendiri.
"Iya, Mas Yudi. Silvy pengin punya papah yang baik seperti Mas Yudi. Pinter, penuh pengertian, sayang. Pokoknya baik, deh." sanjung Silvy, yang mulai akrab dengan Yudi.
"Ya, nanti tidur di sini saja. Sekalian menemani Mas Yudi bikin sketsa. Atau menemani Mis Yuna yang membuat desain eksterior. Atau kalau mau jalan-jalan ya boleh. Besok pagi kita ke lapangan bersama." kata Yudi.
"Memang di sini ada Mis Yuna? Siapa dia? Pacar Mas Yudi, ya?" tanya Silvy.
"Memang Mamah Rini belum pernah cerita ke Silvy?" Yudi balik tanya.
"Belum. Memang siapa, Mas? Memang teman Mamah juga?" kata Silvy yang mulai memanja kepada Yudi.
"Dia gadis dari Jepang, yang akan membantu membuatkan obyek wisata Taman Awang-awang. Nanti akan jadi satu kesatuan dengan motel, homestay, guesthouse yang ditawarkan ke calon investor, termasuk papahnya Silvy." jelas Yudi.
"Wao, orang Jepang? Aku mau ..., aku mau .... Mas Yudi, aku mau kenalan sama Mis Yuna .... Mana, Mas? Orangnya mana?" Silvy merajuk pada Yudi, tertarik untuk berkenalan dengan orang Jepang.
"Iya, sabar .... Itu ada di dalam, sedang memperbaiki desain. Makanya, tidur sini saja biar nanti kita bisa ngobrol bareng. Besok kita ke lapangan, sekalian bersama Mis Yuna. Nanti Silvy yang menemani Mis Yuna. Silvy bisa bahasa Jepang, kan?" kata Yudi.
"Waduh, Silvy gak bisa bahasa Jepang, Mas Yudi .... Hehe ...." kata Silvy yang lagi-lagi memanja.
"Ya, gak papa. Nanti kalau ngobrol pakai bahasa isyarat saja. Hehe ...." ledek Yudi.
"Iiih .... Mas Yudi ...." Silvy langsung memukul manja lengan Yudi.
Ya, Silvy anak Rini itu setelah mengenal dan akrab dengan Yudi, teman atau kekasih mamahnya, kemanjaannya pada Yudi melebihi ibunya. Padahal belum ada sehari bertemu Yudi. Tetapi sudah seperti kenal lama, bahkan melebihi manjanya terhadap papahnya. Entahlah, ada magnet apa dengan Yudi. Begitu akrabnya perempuan ini. Jika saja Silvy belum punya suami, mungkin akan tergila-gila dengan Yudi.
Tapi jangan berfikir buruk tentang Yudi. Ia laki-laki baik. Bahkan baiknya sudah setingkat sedikit di bawah dewa. Tidak hanya baik kepada Rini, tidak hanya baik kepada Silvy. Kepada kedua orang tuanya, Yudi sangat patuh, menurut dan menghormati sekali. Apalagi kepada orang-orang Kampung Nirwana maupun anak-anak di kampungnya. Kepada siapa saja, Yudi senantiasa berusaha untuk berbuat baik. Semboyan dalam hidupnya, berbuatlah baik kepada siapa saja dengan tanpa pamrih.
"Silvy, bawaan kamu ditaruh di ruang kamar sini. Nanti Silvy tidur di sini." kata Yudi yang menunjukkan ruang untuk tidur Silvy, yang berada di dekat pintu masuk dari pendopo. Kamar pertama.
"Wao, Mas Yudi .... Keren banget, Mas. Boleh saya menginap di sini terus, Mas Yudi?" kata Silvy yang keheranan saat melihat indahnya rumah Yudi.
"Kamu itu presis Rini. Tidak geseh sedikit pun." kata Yudi yang membukakan pintu ruang penginapan Silvy. Ia ingat pada Rini saat berada di rumahnya, Rini tidak mau pulang, inginnya tinggal di rumah Yudi selamanya.
"Kan, anaknya .... Hehe ...." lendot Silvy yang sudah memegang lengan Yudi dengan manjanya.
"Ih, anak nakal." Yudi mencolek hidung Silvy.
Silvy yang dicolek hidungnya, tidak marah, tidak menghindar, tapi justru memeluk pinggang dan membenamkan kepalanya di dada Yudi, seperti memeluk ayahnya sendiri. Dasar anak manja. Pasti di rumah tidak pernah seperti ini dengan papahnya. Maklum Hamdan adalah papah yang sibuk. Padahal Yudi bukan siapa-siapanya, hanya bermodal teman mamahnya. Peristiwa demikian ini, jika Rini tahu, pasti menjadi masalah besar.
"Sudah, ayo saya kenalkan dengan Mis Yuna. Itu orangnya, sedang bekerja di gasebo belakang." kata Yudi.
"Aku malu, Mas Yudi ...." kata Silvy.
__ADS_1
"Lhah, kenapa malu? Ayo, kita sekalian makan bersama." ajak Yudi yang sudah menarik tangan Silvy.
Akhirnya Silvy menurut. Walau takut dan malu, tapi sebenarnya ia juga ingin tahu dan kenal sama gadis dari Jepang itu. Setidaknya pernah bertemu dengan gadis dari negeri sakura, yang tentu ada pengalaman tersendiri bagi Silvy yang masih hijau. Ya, setidaknya nanti bisa selfie bareng gadis Jepang.
"Hi, Yuna .... Kenalin, she is Silvy, Rini's daughter." kata Yudi memperkenalkan Silvy pada Yuna yang masih asyik di depan laptop.
"Hi, Silvy .... Looks like Rini. How are you?" sahut Yuna.
"Fine." Silvy yang diperkenalkan masih malu-malu. Maklum bahasa Inggrisnya belum lancar. Lantas menyalami Yuna dengan senyum malu.
"Yuna, let's have lunch together. Kita makan siang dulu." kata Yudi mengajak makan siang.
Yuna langsung beranjak dari depan laptopnya. Lantas mereka bertiga menuju meja makan. Tentu Silvy sangat senang bisa makan bersama dengan orang Jepang. Terlebih lagi, ruang makan itu seolah berada di pinggir taman air terjun. Sangat nyaman dan mengasyikkan.
"Mas Yudi ..., bagus sekali desain rumahnya .... Ruang makan yang luar biasa nyaman." kata Silvy yang terkagum konsep ruang makannya.
"Iya, agar saat makan kita bisa rileks. Biar stresnya hilang. Ayo makan yang kenyang." kata Yudi.
Di meja makan itu tersedia berbagai menu, selain nasi putih ada ca kangkung, tumis udang, ikan asap dan ayam goreng tepung.
Yudi mengambilkan nasi untuk Silvy, agar tidak malu, "Ini, nasi untuk Silvy. Kalau kurang nambah sendiri. Lauknya pilih sendiri." kata Yudi.
Yuna sudah biasa. Dia mengambil mangkuk, lantas mengisi nasi. Lantas tangan kanannya memegang sumpit, mengambil ca kangkung, ditambah tumis udang ditaruh di atas nasinya.Selanjutnya memegang mangkuk dengan tangan kirinya, dan makan menggunakan sumpit. Beberapa kali Yuna mengambil daging ikan asap. Tentu setiap makan, Yuna selalu minta ada menu ikan. Kesukaan orang Jepang adalah makan ikan.
Silvy menikmati makan siang bersama Mas Yudi dan Mis Yuna. Asyik. Meski menunya sederhana, tetapi terasa nikmat. Berkali-kali Silvy mengamati Yuna. Tentu karena ingin tahu cara makan orang Jepang.
"Silvy, let's eat smoked fish. Very delicious. Let's eat." kata Yuna menawari ikan asap pada Silvy.
"Yes ...." jawab Silvy, sambil menganggukkan kepalanya.
"Iya, Mas Yudi. Terima kasih." jawab Silvy.
Mereka bertiga menikmati makan siang yang enak, nikmat dan segar, hingga tanpa terasa perut mereka sudah kekenyangan.
"Waduh, Mas Yudi .... Perutku kenyang sekali, Mas ...." kata Silvy sambil mengelus-elus perutnya.
"Makan itu kalau dinikmati dengan hati yang damai, jiwa yang tenteram, pasti terasa enak, dan kita bisa merasa kenyang." kata Yudi pada Silvy.
"Iya, Mas Yudi. Dulu waktu di rumah, saya sangat jarang sekali bisa makan bersama seperti ini. Papah sibuk kerja." Silvy membandingkan.
"Jangan begitu, tidak baik. Papah Silvy kerja kan cari uang untuk keluarga, untuk Silvy juga, harus dihormati." tutur Yudi.
"Iya, Mas Yudi. Maaf." jawab Silvy yang langsung melendot ke bahu Yudi, karena merasa bersalah.
Tangan Yudi mengelus kepala Silvy dengan penuh kasih sayang. Tentu Silvy merasa nyaman dalam bermanja, seolah mendapat kasih sayang dari papah baru.
Silvy yang masih bermanja pada Yudi, tangannya meraih HP, lantas melakukan video call dengan mamahnya.
"Hai, Mah .... Mamah sehat?" sapa Silvy pada mamahnya, sambil melambaikan tangan. Mamahnya terlihat di layar HP masih berbaring di tempat tidur.
"Hai, Silvy ...." sahut mamahnya yang ada di Jakarta, juga melambaikan tangannya.
"Mah, ini saya sedang makan siang bersama Mas Yudi. Ini orangnya ...." cerita Silvy, yang kemudian menunjukkan Yudi pada mamahnya.
"Hai Rini .... Rini sehat, kan?" sapa Yudi melalui VC di HP Silvy, sambil melambaikan tangan.
"Silvy ..., kamu kok nempel-nempel sama Mas Yudi. Gak baik, Sayang ...." kata Rini yang melihat Silvy merangkul Yudi.
__ADS_1
"Hehehe .... Mamah cemburu, ya ...." sahut Silvy yang meledek mamahnya.
"Iih .... Apaan sih, Silvy." sahut mamahnya, yang tentu Rini benar-benar cemburu dengan anaknya.
"Ini Silvy juga sama Mis Yuna yang dari Jepang. Orangnya cantik, Mah .... Ini, lihat ...." kata Silvy yang langsung mengarahkan kamera HP ke Yuna.
"Hi, Rini .... Hoe are you? Are you healthy?" sapa Yuna.
"I'm fine. Thanks." jawab Rini yang terlihat di layar HP.
Lantas Silvy ngobrol sejenak dengan mamahnya. Kemudian Silvy memberikan HP kepada Yudi. Mamahnya ingin bicara sama Yudi.
"Ini, Mas Yudi, Mamah pengin bicara." kata Silvy yang memberikan HP pada Yudi.
Yudi menerima HP Silvy, lantas berdiri dan melangkah agak menjauh dari dua wanita cantik yang ada di meja makan itu.
"Hai, Rin .... Aku terlalu mengkhawatirkanmu. Kenapa WA dan teleponku tidak kamu balas?" tanya Yudi pada Rini, sambil memandangi wajah cantik yang menempel di layar HP.
"Maaf, Yudi .... Kondisiku masih sakit. Tolong Yudi maklum, ya ...." kata Rini.
"Iya .... Tapi Rini tidak apa-apa, kan?" tanya Yudi yang khawatir, dan tentu meneteskan air mata.
"Jangan menangis, sayang .... Doakan aku cepat sembuh, ya ...." kata Rini.
"Iya .... Rini jangan banyak kepikiran yang nggak-nggak. Itu bikin stres. Jangan ada prasangka buruk, biar cepat sehat." Yudi menasehati.
"Iya, Yudi. Tolong jaga anakku, ya .... Jagakan Silvy." pinta Rini pada Yudi.
"Jangan khawatir. Dia anak yang baik. Presis mamahnya. Cantiknya juga ...." kata Yudi menghibur dan tersenyum saat mengatakan cantik.
"Yudi, aku minta tolong, Yudi rahasiakan hubungan kita. Jangan sampai Silvy tahu, aku khawatir. Terutama Silvy jangan diijinkan masuk kamar Yudi ..., bahaya. Ada rahasia kita di sana." pesan Rini.
"Tidak usah khawatir, Rini. Aku bisa menjaganya." kata Yudi meyakinkan.
"Jangan sakiti Silvy, perasaannya sangat peka. Mirip aku. Yudi jangan bermesraan dengan gadis Jepang itu di depan Silvy, nanti dia akan frustrasi. Anggaplah dia itu anakmu sendiri, kamu harus menjaga kebaikan di depannya." pesan Rini pada Yudi.
"Iya, Rin .... Aku tidak hanya menjaga Silvy, tapi juga menjaga dirimu. Cepat sehat, ya ...." kata Yudi mengakhiri video call dengan Rini. Tidak lupa ia melambaikan tangan.
"Terimakasih, Silvy .... Ini HP kamu." kata Yudi yang memberikan HP pada Silvy.
"Asyik, asyik .... Ehm ...." Silvy mencoba menggoda.
"Iih .... Kamu ini lho .... Apaan sih?!" sahut Yudi yang digoda, langsung mencolek hidung Silvy.
Silvy yang dicolek hidungnya, langsung menubruk tubuh Yudi dan memeluknya.
"Iih, ini anak sudah besar, sudah bersuami, kok manja sekali ...." kata Yudi yang kesulitan berjalan karena didekap Silvy.
"Ah, spoiled girl. Amayakasa rete sodatta shojo. Hahaha ...." ledek Yuna yang masih berada di meja makan.
"Apa itu artinya, Mas Yudi?" tanya Silvy yang tentu tidak tahu artinya, karena Yuna meledek dengan bahasa Jepang.
"Anak manja .... Uh, dasar anak manja ...." jawab Yudi.
"Biarin .... Hehe ...." sahut Silvy yang justru mendekap erat tubuh Yudi, minta untuk digendong.
Silvy yang baru ketemu Yudi, benar-benar sangat manja. Apa ia merasa kalau Yudi itu calon papahnya? Sangat keterlaluan manjanya.
__ADS_1