KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 62: MENJEMPUT CINTA


__ADS_3

    Yuna sudah berkirim kabar kepada Yudi, jika dirinya akan berangkat ke Indonesia hari Senin dari Bandara Internasional Haneda, Tokyo. Bahkan Yuna sudah mengirim info jadwal penerbangannya,  dengan naik pesawat Japan Airlines, dari Tokyo siang hari, sampai di Bandara Sukarno Hata Jakarta tengah malam. Sesampai si Jakarta Yuna transit dan menginap semalam di bandara. Selanutnya pada pagi hari, dari Jakarta menuju Yogyakarta, Yuna berganti pesawat Garuda Indonesia, berangkat pukul 07.55, menuju Bandara Internasional Yogyakarta, tiba sekitar pukul 09.15. Lumayan capai untuk sebuah perjalanan.


    Di Bandara YIA Kulon Progo, Yudi sudah siap menjemput kedatangan Yuna. Ia sudah menunggu sejak jam sembilan pagi. Walau hanya menunggu sekitar lima belas menit, tetapi untuk kerinduan yang sangat dalam, waktu itu terasa sangat lama sekali. Berkali-kali Yudi mengamati arloji yang melingkar di lengan kirinya. Seakan jarum jam itu tidak bergerak. Yudi mondar-mandir tidak bisa tenang. Yang jelas, karena ingin segera ketemu. Bukan sekedar rindu untuk ketemu, tetapi ada hal lain yang membuat jantung Yudi berdetak semakin cepat. Yaitu cinta.


    Setelah Rini memberi sinyal, tidak akan merasa sedih atau cemburu jika Yudi menikah dengan Yuna, Rini menjelaskan berbagai alasan agar Yudi mau menikah, bahkan Rini juga berjanji akan membiayai pesta pernikahannya jika Yudi mau menikah dengan Yuna, kini hati Yudi merasa lega. Yudi merasa bisa menerima kenyataan, jika dirinya tidak mungkin lagi untuk bersanding dengan Rini. Begitu juga saat Yuna menanyakan cinta yang ada di dalam relung hati Yudi. Itu berarti Yuna berharap kesediaan Yudi untuk memberikan cintanya kepada dirinya.


    Yudi semakin percaya diri, kedatangan Yuna bukan sekedar membangun Taman Awang-awang, tetapi juga ingin membangun mahligai cinta di Kampung Nirwana. Harapan itu yang saat ini terbersit dalam benak Yudi.


    Maka pagi itu Yudi benar-benar terlihat gelisah. Tidak tenang. Bahkan seakan grogi. Setiap mengamati jadwal kedatangan penerbangan di layar monitor bandara, lagi-lagi Yudi menelan ludah. Pesawatnya belum juga mendarat.


    "Sabar, Yudi .... Sabar, Yudi .... Sabar, Yudi ...." itu yang mendengung dalam hatinya.


    "Yah, menunggu adalah pekerjaan yang membosankan .... Tetapi bertemu adalah sesuatu yang menyenangkan. Aku harus sabar menunggu, untuk bisa bertemu." gumam Yudi menenangkan dirinya.


    Akhirnya, terdengar pengumuman dari pengeras suara di bandara yang mengatakan bahwa pesawat Garuda dari Jakarta Cengkareng telah mendarat. Plong rasa hati Yudi. Ia langsung bergegas berdiri di depan pintu kedatangan. Tentu dengan senyuman bahagia, tentu dengan hati yang gembira, tentu dengan harapan yang menggelora.


    Beberapa saat kemudian ..., setelah beberapa penumpang keluar.


    "Yuna .... I'm here .... Yuna, aku di sini!" teriak Yudi sambil melambaikan tangannya, memanggil Yuna yang masih berada di dalam bandara.


    Yuna yang mendorong koper besar dan mencangklong tas punggung, masih agak jauh dari Yudi, langsung


membalas dengan lambaian tangannya. Bergegas menuju tempat Yudi berdiri di depan pintu kedatangan.


    Sebentar saja, Yuna sudah sampai di tempat Yudi berdiri. Koper yang diseret langsung dilepas. Dua tangan


wanita cantik itu langsung menggapai tubuh Yudi. Lantas memeluk erat laki-laki yang menjemputnya.


    Demikian pula Yudi yang dari tadi sudah menunggu. Begitu dipeluk Yuna, ia pun balas memeluk tubuh langsing  yang menggemaskan itu. Yudi memeluk erat Yuna sambil menepuk punggungnya.


    "I miss you, Yudi ...." kata Yuna dalam pelukan Yudi, dengan kepala yang dibenamkan di dada Yudi. Yuna


meneteskan air mata, pertanda rindu yang sangat berat.


    "Anata ga koishi .... Aku juga sangat merindukanmu, Yuna ...." kata Yudi, yang kemudian membelai rambut Yuna.     Yuna yang dipeluk oleh Yudi, merasakan kehangatan kasih sayang laki-laki itu. Apalagi saat rambutnya yang terurai sebahu itu dibelai oleh tangan Yudi, Yuna benar-benar merasakan cinta yang tulus dari Yudi. Selanjutnya, saat Yuna mengangkat kepalanya dari dada Yudi, dan kemudian menatap wajah laki-laki yang memeluknya itu, tiba-tiba Yudi menundukkan kepalanya, mengecup bibir Yuna yang kecil mungil itu.


    Seketika itu, mata Yuna terpejam pasrah.


    "Ayo, kita pulang. Ada istana yang sudah menunggu kedatangan permaisuri ...." kata Yudi yang kemudian menyeret koper milik Yuna.

__ADS_1


    Yuna yang ternyata centil, langsung menggandeng lengan Yudi dengan kedua tangannya. Berjalan bersama menuju tempat parkir.


    Perlahan Yudi mengeluarkan mobil dari halaman parkir Bandara YIA. Untuk membawa cintanya menelusuri Jalan Daendels Selatan, menuju Kampung Nirwana, tentu dengan berbagai cerita masing-masing.


*******


    Sementara itu, di rumah Yudi. Simbok, ibunya Yudi, dibantu beberapa ibu-ibu tetangga, sudah menyiapkan acara selamatan. Yaitu nasi tumpeng dengan ingkung ayam serta dilengkapi sayur gudangan dan berbagai lauk pauk lainnya. Tidak tanggung-tanggung, para ibu tetangga Yudi, membuat dua tumpeng. Lucunya, tumpeng yang satu pada pucuknya diberi bendera kecil warna merah putih, sedangkan tumpeng yang satunya lagi diberi bendera Jepang. Seolah tumpeng itu menyatukan dua orang dari Indonesia dan dari Jepang. Ah, ada-ada saja ibu-ibu tetangga Yudi ini.


    Tidak hanya membuat tumpeng, tetapi para tetangga Yudi juga menyiapkan berbagai makanan kecil untuk suguhan para tamu. Aneka macam jajanan sudah disiapkan di piring. Ada karang rebus, pisang rebus, serta berbagai jajanan pasar lainnya. Semua itu yang membawa tetangganya. Yudi tidak mengeluarkan biaya. Semua itu inisiatif para tetangga. Kata para tetangga, ini semua dilakukan untuk balas budi kebaikan Yudi di Kampung Nirwana. Tanpa ada Yudi, Kampung Nirwana tidak berkembang seperti sekarang ini. Apalagi sudah tersiar berita, Taman Awang-awang akan segera dibangun yang dibantu oleh orang Jepang. Orang Jepang yang sudah banyak membantu adalah Yuna. Tentu rasa bersyukurnya tidak terukur.


    Berbeda dengan Simbok, yang berharap kembalinya Yuna di Kampung Nirwana, itu untuk selamanya. Harapan Simbok, Yuna mau menikah dengan Yudi. Maka selamatan yang diselenggarakan itu, juga diharapkan sebagai permohonan doa agar anaknya yang sudah tua belum mau menikah itu, bisa bertemu jodoh dengan Yuna.


    Bagas bersama beberapa orang laki-laki, sedang menata ruang pendopo. Bangku dan meja gerobog besar dipinggirkan. Pendopo itu digelari tikar. Nantinya untuk duduk lesehan orang-orang yang diundang selamatan. Rencananya paguyuban sopir VW wisata akan datang semua. Kelompok ibu-ibu penjual makanan di Taman Awang-awang juga akan datang. Termasuk paguyuban pengrajin. Dan yang tidak ketinggalan, tentu para tetangga Yudi, termasuk anak-anak.


    Jam sebelas, di Kampung Nirwana, mobil Yudi dicegat empat orang laki-laki, tidak boleh membelok ke jalan menuju belakang rumahnya. Melainkan disuruh jalan lurus, menuju jalan depan rumah. Yudi kaget.


    "Ada apa?!" tanya Yudi dari dalam mobil.


    "Lurus saja, Mas Yudi. Lewat depan." jawab salah seorang yang mencegat.


    "What hapen?" tanya Yuna pada Yudi.


    Dan setelah dekat dengan rumahnya, lagi-lagi Yudi dan Yuna dibuat heran dengan adanya mobil-mobil VW kuno yang berjajar di sepanjang jalan depan rumahnya. Parkir di depan rumah Yudi. Ada sekitar lima puluh VW kuno yang beraneka warna. Indah dan menarik.


    "What's wrong? Yudi, apa-apan ini? Apa akan ada demonstrasi?" tanya Yuna yang was-was.


    "Saya tidak tahu, Yuna .... kita jalan pelan-pelan." sahut Yudi yang juga bingung.


    Tepat di depan pintu gerbang gapura bentar, Yudi menepikan mobilnya. Masih ada tempat untuk parkir. Padahal di depan dan belakangnya, puluhan mobil VW kuno itu parkir berhimpitan. Tidak ada satu orang pun di jalanan itu. Pintu gerbangnya juga tertutup.


    Dengan perasaan kurang nyaman, Yudi turun dari mobil, lantas membuka pintu kiri untuk mengajak turun Yuna. Tas dan kopernya dibiarkan di dalam mobil.


    Lantas Yudi yang berdampingan dengan Yuna, membuka pintu gerbangnya. Dan, saat pintu gerbang itu terbuka ....


    "Horeeee ...!!"


    "Selamat datang Yuna .... Selamat datang Yudi ...."


    Orang-orang se kampung, bersorak sorai menyambut kedatangan Yudi dan Yuna.

__ADS_1


    Tentu Yudi kaget. Apalagi Yuna. Mereka sudah membuat kejutan yang benar-benar menggembirakan. Sorak sorai warga Kampung Nirwana di rumah Yudi itu, benar-benar penyambutan kedatangan Yudi dan Yuna yang luar biasa.


    "Ada apa ini ...?" tanya Yudi yang masih menengok kanan kiri karena kebingungan.


    "What hapen ...?" tanya Yuna yang mengangkat dua tangannya tanda bingung.


    Tetapi Yuna dan Yudi yang bingung itu, tersenyum dan tertawa. Apalagi Yuna, dia sangat bahagia disambut meriah seperti itu.


    "Selamat Mbak Yuna .... Selamat Mas Yudi ...." orang-orang mengucapkan selamat, yang tentunya dengan rasa bahagia menyambut kedatangan Yudi dan Yuna. Penyambutan yang mengharukan.


    Yudi dan Yuna setelah tahu kalau orang-orang yang ada di rumah Yudi itu menyambut kedatangannya, maka ia


pun menyalami semua orang yang berjajar di jalanan masuk ke pendopo itu. Semua disalami. Demikian juga Yuna, dengan senyum lebar, bahkan kadang tertawa, ikut menyalami. Tentu orang-orang menjadi senang saat bersalaman dengan gadis Jepang yang sangat cantik itu. Bahkan tidak sedikit yang langsung mengambil HP-nya


untuk mengajak Yuna berfoto selfie.


    Saat melangkah masuk pendopo, ibu dan bapaknya Yudi sudah berdiri, menyambut kedatangan anaknya.


Yudi anak yang sangat patuh dan menurut orang tua itu, langsung menyalami bapaknya, mencium tangan, bahkan Yudi bersujud, mencium kaki bapaknya. Demikian juga saat menyalami ibunya, berkali-kali Yudi mencium kaki ibunya.


    Yuna meniru cara Yudi. Ia menyalami bapaknya Yudi, mencium tangan dan sujud di kaki laki-laki tua itu. Namun saat menyalami ibunya Yudi, wanita tua itu langsung memeluk dan menciumi Yuna. Tentu Yuna tidak sempat mencium kaki ibunya Yudi, karena sudah dipeluk erat oleh perempuan yang hampir berusia tujuh puluh tahun itu.


    Tentu ibunya Yudi sangat bahagia saat memeluk Yuna. Inilah harapan ibunya Yudi, mencium calon menantunya.


    "Non Yuna .... Simbok sangat kangen sama Non Yuna ...." kata ibunya Yudi saat memeluk gadis yang diharapkan jadi menantunya itu.


    "Iya, Simbok .... I miss you, Simbok ..., I love you, Simbok ...." kata Yuna yang tentu sambil meneteskan air mata.


    Setelah itu, Yuna yang di gandeng Simbok, melangkah bersama. Duduk bersila di lantai yang sudah digelari tikar. Demikian juga Yudi, yang duduk di samping bapaknya. Kemudian semua orang yang hadir di pendopo, duduk  melingkar di pendopo itu, bersila santai.


    Mbah Modin langsung mengacarakan syukuran yang diselenggarakan oleh warga Kampung Nirwana, yang


pertama mendoakan keselamatan Yudi dan Yuna, keselamatan bapak dan ibunya Yudi, keselamatan seluruh warga Kampung Nirwana. Yang kedua menyambut kedatangan Mbak Yuna dari Jepang, yang akan membantu pembangunan Kampung Nirwana. Dan yang ketiga, selamatan dimulainya pembangunan Taman Awang-awang, agar diberikan kelancaran, kemudahan, keselamatan, dan keberkahan bagi seluruh masyarakat di Kampung Nirwana. Amin.


    Menyaksikan penyambutan yang meriah, hati Yuna jadi terbombong, termotivasi, dan tentu terharu dengan


kebaikan masyarakat Kampung Nirwana. Kebersamaan yang kuat, rasa saling tolong menolong, serta saling sayang, semuanya ia saksikan di sini. Apalagi melihat tradisi masyarakat yang membuat tumpeng, memanjatkan doa-doa, menghargai nilai-nilai tradisi, Yuna benar-benar terkagum. Kyoto, kota tempat ia tinggal di Jepang, yang katanya terkenal dengan lekatnya nilai tradisi kuno bangsa Jepang, masih kalah jauh dengan tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Kampung Nirwana.


    Dalam hati kecil Yuna mengatakan, "Aku ingin tinggal di kampung ini selamanya, dengan cinta yang penuh kasih sayang."

__ADS_1


__ADS_2