KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 88: PAKET DARI JOGJA


__ADS_3

    Sementara itu, tiga minggu yang lalu di Jakarta, di rumah Rini.


    "Paket ...!!" seorang pengirim paket berteriak di depan rumah Rini.


    Mang Udel langsung menghampiri pengantar paket tersebut, lantas membuka pintu, untuk menerima paket.


    "Untuk siapa?" tanya Mang Udel.


    "Paket untuk Ibu Rini." kata si pengantar paket.


    "Ya, benar." Mang Udel menerima paket tersebut.


    Lantas tukang pengantar paket tersebut minta Mang Udel memegang paket, untuk difoto oleh si pengantar sebagai bukti bahwa paket sudah diterima. Lantas si pengirim paket tersebut pamit, meninggalkan rumah Rini. Mang Udel pun kembali menutup pintu, kemudian membawa paket itu masuk, untuk diserahkan kepada majikannya.


    "Ibu Rini ..., ada paket untuk Ibu ...." kata Mang Udel memberitahukan kepada majikannya.


    "Iya, Mang .... Sebentar ...." sahut Rini dari ruang dalam.


    Lantas Rini bergegas keluar menuju ruang belakang, dekat dapur, tempat Mang Udel memanggil.


    "Mana paketnya, Mang Udel?" tanya Rini setelah ke dapur.


    "Ini, Ibu .... Kok berat sekali, isinya apa, Bu?" tanya Mang Udel, yang tentu Mak Mun ikut melongok, juga ingin tahu isi paket itu.


    "Lukisan, Mang Udel .... Dari Jogja." jawab Rini.


    Rini menerima kiriman paket dari Jogja. Ya, kiriman paket dari Yudi. Tentu Rini sangat senang menerima paket tersebut. Lantas Rini yang sudah tidak sabar ingin membuka paket tersebut, langsung cepat-cepat menuju kamar. Sampai di kamar, Rini menutup pintu kamarnya, kemudian membuka paket yang di kirim oleh Yudi. Tentu dengan rasa berdebar saking gembiranya.

__ADS_1


    "Terima kasih, Yudi .... Kamu memang laki-laki pujaan hatiku yang sangat baik." begitu gumam Rini saat akan membuka paket yang terbungkus rapi itu.


    Perlahan Rini membuka sampul cokelat pembungkus paket. Ia membuka dengan penuh kehati-hatian. Tentu karena rasa cinta yang menggelora dalam hatinya. Apalagi yang ia buka adalah ungkapan cinta dari kekasihnya. Wajar jika hanya sekadar kertas sampul saja, ia usahakan agar tidak robek. Bila perlu nanti akan disimpan. Yah, secara perlahan, akhirnya sampul cokelat itu pun terbuka. Rini melipat sampul cokelat dengan rapi, selanjutnya di letakkan di atas mejanya.


    Terlihatlah kardus tebal dan besar. Kardus itu diberi isolasi rapat pada setiap tepinya. Tentu agar kardus tersebut tidak mudah terbuka, dan isinya tetap utuh. Rini mengambil gunting, lantas merobek isolasi pada salah satu bagian ujungnya. Perlahan dan hati-hati. Dan, terbuka.


    Rini membuka ujung kardus. Terlihat isinya. Ada gabus penyumpal untuk menjaga barang agar tidak bergerak. Ia menarik keluar gabus-gabus tersebut. Maka terlihatlah bagian isi dari kardus yang ia buka. Namun ternyata ada kardus agak kecil lagi di dalam kardus besar tersebut. Berukuran sekitar dua puluh kali tiga puluh senti. Tidak setebal kardus luar, tetapi jelas ada isi barang lain.


    Rini menarik keluar kardus kecil tersebut. Lantas membukanya. Dan ternyata, kardus itu berisi pakaian Rini yang ditinggal di lemari Yudi. Ada celana, rok blazer, dan pakaian dalam. Semuanya dikirimkan ke pemiliknya, yaitu Rini.


    "Iih ..., Yudi .... Aku malu, Yud ....! Pasti ini kemarin sebelum dikemas, diciumi dahulu oleh Yudi." gumam Rini sambil tersenyum sendiri. Merasa geli, barang rahasianya diciumi oleh Yudi. Ya, Rini jadi teringat saat mencari Yudi ke rumahnya, saat ia masuk kamar Yudi menemukan pakaiannya itu berada di atas bantal di tempat tidurnya. Dan Rini pun yakin, jika setiap malam, saat Yudi mau tidur, pasti menciumi barang rahasia itu. Dan kini, barang rahasia tersebut dikembalikan kepada pemiliknya. Tentu yang punya barang itu menjadi geli sendiri, terutama pada bagian tubuh yang sering ditutupi barang tersebut. Pakaian itu ia peluk di dada, tentu sambil membayangkan wajah Yudi saat mencium pakaian-pakaian tersebut.


    Rini segera memasukkan pakaian itu ke dalam lemari pakaiannya. Jangan sampai ada yang tahu. Bisa bahaya. Ini hanya rahasia antara Rini dan Yudi.


    Sebenarnya Rini tidak berharap pakaian itu dikirim ke Jakarta. Tetapi Rini maklum. Masalahnya Yudi pasti ketakutan seandainya Yuna tahu ada barang-barang rahasia milik Rini, pasti Yuna akan lebih cemburu. Masalahnya barang ini bukan sekadar lukisan yang tergantung di dinding.Tetapi barang yang menempel pada bagian rawan yang harus dijaga kerahasiaannya. Jika sampai Yuna melihat kain tipis berbentuk segi tiga itu, pasti akan geger. Pasti Yudi akan dituduh pernah menyentuh bagian isi yang ditutupi kain segitiga itu. Dan kalau Yudi sudah menyentuh isi yang ada di balik kain tipis itu, pasti ia tidak berhenti sekadar menyentuh. Yudi pasti sudah melakukan aktivitas lain yang lebih mengasyikkan.


    Selanjutnya, Rini menarik lukisan yang ada di dalam kardus. Satu, dua, tiga lukisan. Ya, lukisan saat Rini berada di pantai, lukisan wajah Rini yang tersenyum manis, serta lukisan abstrak tentang pernikahannya. Lukisan itu sudah diperbaiki oleh Yudi. Terutama pada bagian figuranya, sudah bersih dan dicat ulang, sehingga tampak seperti baru. Dan tentu bagian lukisan juga dibersihkan, sehingga kelihatan lebih bagus. Rini senang melihat lukisan itu.


    Tiba-tiba Rini teringat, ada tulisan puisi di balik lukisan abstrak pengantin. Rini langsung memegang lukisan paling besar itu, lantas membaliknya. Melihat bagian belakang kanvas.


    "Ooh .... Ternyata .... Terima kasih, Yudi." gumam Rini kembali.


    Rini tersenyum setelah melihat bagian belakang kanvas. Ternyata puisi kepedihan Yudi sudah dihapus. Sudah tidak ada lagi. Rini bersyukur, jika nanti suaminya menyaksikan lukisan-lukisan itu, tidak akan menaruh syak wasangka.


    "Ah, Yudi memang pintar dan baik. Aku bersyukur pernah mencintaimu, Yudi ...." kembali Rini bergumam.


    Lantas Rini menaruh kembali lukisan-lukisan itu ke dalam kardus pembungkusnya. Naman saat memasukkan lukisan, ternyata ada barang yang mengganjal. Rini merogoh barang yang mengganjal tersebut, mengeluarkannya dari kardus. Ternyata barang tersebut adalah foto yang dulu pernah dipajang di meja Yudi. Ya, foto Rini yang dipeluk Yudi saat berada di Pantai Indrayanti.

__ADS_1


    Rini mengamati foto itu. Ingin memajang agar bisa dilihat, jelas tidak mungkin. Ingin disimpan, takut ketahuan. Ingin dibuang, sayang ....


    "Terus bagaimana? Aku bingung ...?!" Rini tidak tahu, foto itu harus diapakan.


    Ya, jika foto itu dibuang, tentu Rini merasa sayang karena ada kenangannya. Tetapi jika disimpan, kalau sampai ketahuan suaminya, hancurlah dirinya. Bisa terjadi perang dunia ketiga. Bahkan Mak Mun maupun Mang Udel, jika melihat foto itu, pasti juga akan berakibat buruk.


    "Ih, Yudi ..., kenapa juga foto ini kamu kirim kemari? Jadi masalah, Sayang ...." gumam Rini sendiri.


    Yah, memang membingungkan. Mau diapakan foto itu? Mau disimpan di mana? Serba salah. Tetapi Rini harus menetapkan pilihan saat itu juga.


    Akhirnya .... Rini memutuskan merobek foto itu menjadi bagian kecil-kecil, sehingga sudah tidak bisa dilihat lagi. Menghancurkan foto mesranya bersama Yudi. Tentu dengan rasa sedih dan penuh penyesalan. Tapi itulah jalan terbaik untuk menjaga rahasia cintanya kepada pelukis kesayangannya itu. Lantas Rini meremas sobekan fotonya yang sudah hancur menjadi kecil-kecil bersama kertas pembungkus yang sudah tidak terpakai serta gabus-gabus pengganjal paketnya. Untuk dibuang ke tempat sampah.


    "Mak Mun ...! Saya minta tolong, Mak Mun ...." kata Rini memanggil Mak Mun.


    "Iya, Ibu .... Ada apa, Ibu?" tanya Mak Mun yang sudah datang ke kamarnya.


    "Tolong buangkan kotoran kertas dan gabus ini ke tempat sampah." kata Rini pada Mak Mun.


    "Iya, Ibu .... Ini bungkus paket tadi ya, Bu ...?" kata Mak Mun.


    "Ya, paket lukisan dari Jogja. Kayak punyanya Silvy yang dulu itu ...." jawab Rini.


    "Iya, Ibu ...." kata Mak Mun yang langsung membawa kertas sampah itu untuk dibuang.


    Lega rasa hati Rini. Sudah tidak ada masalah. Yang penting lukisan-lukisan tentang dirinya aman di rumahnya. Tidak menjadi masalah bagi Yudi maupun Yuna.


    "Eh ..., Yudi .... Ada yang terlupakan. Lukisannya kurang satu, yang sempat dilihat Silvy, yang sempat difoto Silvy. Kok tidak dikirim sekalian? Saya khawatir, Yudi ..." gumam Rini lagi. Ia teringat cerita anaknya yang menunjukkan foto tentang lukisan dirinya bersama Yudi. Lukisan itu tidak dikirim. Apakah Yudi lupa jika masih ada lukisan yang lebih berbahaya? Yaitu lukisan Rini bersama Yudi.

__ADS_1


    "Blais ...!!"


__ADS_2