
Yudi mengantar Hamdan dan Rini untuk menyelesaikan kerjasama pengembangan kampung penginapan wisata di Kampung Nirwana yang berupa Homestay. Sesuai dengan namanya, nirwana yang berarti tempat yang tenteram, damai, nyaman, maka konsep penginapan yang dibangun dalam area Homestay Nirwana ini akan memberikan suasana yang menyenangkan penuh dengan ketenteraman dan kenyamanan. Maka bangunan-bangunan yang didirikan terlihat indah dengan taman-taman dan seni arsitektur yang betul-betul artistik.
Setelah selesai penandatanganan kesepakatan kontrak, tentu yang dilakukan oleh Silvy dan Rini, sesuai nama yang digunakan untuk pemesanan, mereka ingin menyaksikan lokasi dan bangunan yang sudah berdiri. Rini bersama suaminya, Silvy bersama suaminya, dua orang dari pengelola pengembangan Penginapan Wisata Kampung Nirwana, beserta Yudi dan Yuna yang juga ikut. Mereka masuk dan turun ke area pembangunan.
"Wao ...." decak kagum Hamdan saat melihat dua unit bangunan yang sedang dibangun. Meskipun belum jadi, tetapi gambaran arsiteknya sudah terlihat. Hanya tinggal finishing, pengecatan, penghalusan acian, pembersihan material serta pembangunan taman. Untuk tembok dinding maupun atap sudah selesai dikerjakan. Tinggal pemasangan keramik lantai. Setelah itu semua jadi, maka meubelair pendukung yang akan dimasukkan sebagai pelengkap ruang penginapan, baik tempat tidur, kursi maupun peralatan dapur.
"Bangunannya seperti ini? Keren banget ...." kata Silvy yang senang melihat bangunan gedung dengan bata super tanpa plester. Seperti layaknya bangunan-bangunan di Eropa.
"Bangunannya seperti ini, Pak Hamdan .... Setiap unit terdapat empat bangunan untuk ruang tidur, dua di kanan dan dua di kiri. Masing-masing ruang tidur terdapat pintu keluar sendiri-sendiri. Di setiap ruang dilengkapi dengan kursi tamu, meja kerja dan tempat tidur besar. Termasuk kamar mandi di setiap ruangnya. Di belakang ada dapur terbuka yang bergandeng dengan ruang makan. Sedangkan bagian tengah antara bangunan, nanti di atasnya diberi atap dari fiberglass, sehingga sinar matahari tetap masuk, namun air hujan tidak membasahi halaman tengah." jelas dari pihak pengembang.
"Konsepnya sama dengan rumah Mas Yudi, ya ...?!" kata Hamdan.
"Benar, Memang ini desain bangunan dari Mas Yudi. Yang membedakan, di sini tidak ada garasi, tidak ada gazebo dan tidak ada pendopo. Maklum lahannya hanya seribu meter. Tetapi nanti untuk parkir ada di halaman. Area parkir diberi paving block. Sedangkan jalan keluar masuk nanti menggunakan batu alam. Taman kami berikan antara halaman parkir dan bangunan utama. Nanti di sela-sela taman dan tempat parkir akan kami beri kursi-kursi taman dengan lampu hias. Sehingga kalau malam hari bisa digunakan untuk refresing mencari udara segar di taman. Batas setiap unit kami beri pagar dari bata super, seperti bangunan di Bali." lanjut dua orang pengembang itu menjelaskan.
"Wao .... Keren banget ...." Silvy terkagum dengan indahnya bangunan penginapan itu.
"Boleh saya melihat ke dalam?" tanya Hamdan.
"Silakan, Bapak Hamdan ...." kata petugas yang mengantar.
Lantas Yudi dan Rini melangkah masuk melihat ruang dalam bangunan tersebut. Menyaksikan penataan ruangan serta kelengkapan ruang. Sangat luas untuk sebuah kamar tidur penginapan.
"Ruangan ini ukurannya enam kali delapan meter, Pak .... Seandainya akan diberi dua bed tempat tidur bisa. Tetapi dari kami jatahnya hanya satu tempat tidur, meja kerja dengan satu kursi, dan kursi tamu satu set. Untuk setiap ruang." jelas petugas yang mengantar Hamdan dan Rini melihat ruang dalam.
"Ruangannya lebih luas ini dari pada tempatnya Yudi, ya Pah." kata Rini pada suaminya.
"Iya, Ibu .... Kalau rumahnya Mas Yudi kan untuk pribadi. Kalau ini kan untuk penginapan. Kami mau memberikan kesan penginapan di kampung wisata yang artistik dan berkelas." sahut pengantar itu.
"Bagus .... Sangat bagus. Apalagi kalau nanti pemiliknya menambah perabot-perabot yang juga menggunakan desain model kuno, akan tampak lebih artistik." kata Hamdan.
"Betul, Pak Hamdan .... Tapi kalau penambahan-penambahan itu kami serahkan kepada pemilik." sahut si pengantar.
"Kalau misalnya, kami ingin mengubah desain ..., bisa nggak?" tanya Hamdan.
"Maaf, Pak Hamdan, pesan dari Mas Yudi, perkampungan penginapan wisata ini ingin dibangun dengan konsep Belanda, kita tidak boleh menambah bangunan. Dikhawatirkan nanti nilai artistiknya bisa hilang. Kami di sini ingin menawarkan nilai keindahan, bukan sekedar tempat menginap." jelas si pengantar dari pihak pengembang.
"Oo .... Seperti itu, ya?" Rini ikut menimbrung.
"Iya, Ibu .... Jadi ciri khas dari Homestay Nirwana ini adalah keindahan arsitektur bangunannya." jelas si pengembang itu lagi.
"Kalau misalnya, kami ingin menambah luas pada bagian ruang makan, apakah bisa? misalnya ditambah satu meter lagi?" tanya Hamdan lagi.
"Kalau Bapak Hamdan menghendaki seperti itu, berarti nanti kami akan menggeser bangunan utama maju ke depan. Dan untuk penambahan luas bangunan akan ada hitung-hitungannya tersendiri, Bapak." jelas si pengembang.
"Oh ya, tentu. Kami paham. Tapi setidaknya kami bisa menaruh meja makan yang agak besar, jika suatu saat keluarga kami yang banyak mau makan bersama masih bisa muat." sahut Hamdan.
"Baik, Pak Hamdan, nanti akan kami konsep ulang gambar denahnya, serta hitungan anggaran biaya pembangunannya." jawab si pengantar.
__ADS_1
Tiga orang keluar dari ruang bangunan yang masih proses itu. Hamdan dan Rini terlihat puas menyaksikan bangunan yang dilihatnya.
"Bagaimana, Pah?" tanya Silvy yang menunggu di luar bersama suaminya, dan tentunya dengan Yudi dan Yuna.
"Keren. Mirip rumahnya Mas Yudi." jawab papahnya.
"Wao, bisa betah dong kita tinggal di Jogja." sahut Silvy.
"Kamarnya lebih luas yang di sini, Pak Hamdan." Yudi menimpali.
"Ya ..., tapi lahannya luas punya Mas Yudi. Dan di sini tidak ada gazebo maupun pendoponya." sahut Hamdan.
"Satu bulan lagi, dua unit bangunan ini sudah jadi, Pak Hamdan. Bapak bisa melihat bagaimana setelah tertata sempurna. Maklum kalau melihat bangunan yang belum jadi, tentu belum maksimal menilainya. Masih berserakan. Silakan Pak Hamdan datang lagi sebulan, untuk menyaksikan seperti apa jadinya." kata si pengantar dari pengembang itu.
"Iya, Mas .... Saya percaya. Yang penting nanti kami dikirimi progresnya." kata Hamdan.
"Siap Bapak ...." jawab orang itu.
"Kapan rencana mulai pengerjaan tempat kami?" tanya Hamdan.
"Besok mulai pembersihan. Minggu depan sudah mulai pengerjaan bangunan. Kalau tidak ada aral, tiga bulan Bapak Hamdan sudah menerima kunci." jawab orang dari pengembang tersebut.
"Baik, terima kasih, Mas .... Tolong punya kami dibangun yang bagus. Hehe ...." kata Hamdan lagi.
"Siap, Bapak .... Terima kasih sudah memberikan kepercayaan kepada kami." sahut si pengembang.
"Wah, waktu yang pas, itu Pak Hamdan. Nanti rencananya bulan Juli pembangunan Taman Awang-awang selesai. Awal Agustus diresmikan. Pertengahan Agustus rencananya kami akan mengundang turis dari Jepang. Bisa jadi nanti para turis ini menginap di tempatnya Pak Hamdan. Hehe ...." kata Yudi yang mengira-kira.
"Waah .... Saya mau ke sini. Piknik bersama para turis dari Jepang. Asyik ...." kata Silvy yang mengandai-andai.
"Ke sininya pas peresmian Taman Awang-awang saja, Neng .... Nanti ada tontonan wayangnya. Pak Lurah mau menanggap wayang untuk acara peresmian." kata salah seorang pengantar dari pengembang.
"Seperti itu, ya?!" sahut Silvy, yang tentu menjadi tertarik.
"Tidak usah khawatir, Silvy .... Besok kalau mau menyaksikan wayang saat peresmian Taman Awang-awang, Silvy sudah bisa tidur di rumahmu sendiri. Tidak merepotkan Mas Yudi lagi. Hehe ...." kata Hamdan yang juga terlihat senang.
"Aku maunya sama Mis Yuna ...." sahut Silvy.
"Gampang, Mis Yuna di ajak kemari .... Hehe ...." bantah Rini.
"Eh, iya ya, Mah ...." balas Silvy.
"Lhah, besok kalau pembangunan taman sudah selesai, Mis Yuna kan kembali ke Jepang." Yudi menimpali percakapan mereka.
"Hah ...?! Betul itu, Mis Yuna?" Silvy kecewa.
"Jangan khawatir, Silvy .... Saya tetap ingin tinggal di Jogja. Di sini." Yuna ikut menyahut.
__ADS_1
"Di sini?" tanya Silvy.
"Iya. Di sini. Di samping Silvy." jawab Yuna.
"Betul. Mbak Yuna juga sudah pesan satu unit untuk homestay." sahut orang dari pengembang.
"Hah, yang benar?! Aku suka ...!" kata Silvy yang berbaur rasa gembira.
"Lhah, kalau Mis Yuna tinggal di sini, nanti yang menemani Mas Yudi di rumahnya, siapa?" tiba-tiba Yayan, suami Silvy ikut berkomentar.
"Gampang .... Nanti Mas Yudi ikut sekalian kemari. Sehingga jadi lebih ramai. Iya, kan ...?!" usul Hamdan.
"Eh, iya ..., ya .... Hooh, setuju!" sahut Silvy.
"Masalahnya, bangunan untuk Mis Yuna yang di sini belum selesai .... Hehe ...." Yudi meledek.
"Ih ..., gak papa. Nanti kita semua jadi satu rumah. Biar lebih seru. Hehe ...." usul Silvy.
Yuna hanya tersenyum. Demikian juga Rini, ia berharap bisa selalu dekat dengan Yudi.
"Yah, itu lebih bagus. Rumah kita bisa dipenuhi dengan canda tawa. Bisa ramai. Setidaknya menjadi lebih asri." timpal Hamdan.
"Yang pasti ada cinta, Pah ...." Yayan, menantunya menimpali.
"Cinta?!" tanya Rini.
"Iya .... Cinta dari Papah dan Mamah. Cinta dari saya dan Silvy. Cinta Papah Yudi dan Mis Yuna. Cinta dalam kebersamaan. Begitu, Mah .... Mas Yudi sama Mis Yuna pasti setuju." jelas Yayan.
"Kamu itu ada-ada saja, Mas ...." kata Yudi memprotes Yayan.
"Hehehe .... Mengasyikkan juga. Saya setuju." sahut Hamdan.
"Saya juga setuju!" Rini mengucapkan persetujuannya.
"Silvy setuju ...!" kata Silvy.
"Mis Yuna ...?" tanya laki-laki muda itu.
"Hahaha .... Kami nanti jadi tamu saja ....Pasti siap datang." jawab Yuna.
"Bagaimana, Mas Yudi ...?" tanya laki-laki muda itu lagi.
"Rumah saya kan dekat, kenapa mesti ribut? Saya bisa datang kemari setiap saat. Betul, kan?!" jawab Yudi.
"Iih, kok pada begitu? Rumahnya saja belum jadi kok sudah pada ribut. Hahaha ...." tiba-tiba Rini mengingatkan khayalan suami dan anak-anaknya.
"Eh, iya .... Maaf, Mah ...." Silvy sadar sudah terlalu halu.
__ADS_1
Ya, suasana di tempat rencana bangunan Homestay Nirwana sangat menyenangkan. Tentu karena menyaksikan keindahan arsitektur bangunan dan bayangan-bayangan yang menyenangkan kelak. Bukan sekadar tempat penginapan, melainkan tawaran tempat yang indah dan menawan. Tentu kelak tempat ini akan ramai memenuhi halaman medsos. Setiap orang yang menginap akan memposting foto-fotonya yang mejeng dengan latar belakang artistiknya bangunan penginapan di Kampung Nirwana.
Rini tersenyum puas. Silvy merasa bahagia. Hamdan yang mengeluarkan biaya sangat besar untuk pemesanan dua unit bangunan, merasa senang menyaksikan kegembiraan istri dan anak-anaknya yang akan tinggal di Kampung Nirwana. Semuanya senang. Semoga bangunan yang dipesan cepat selesai.