KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 9: MALAM REUNION


__ADS_3

    RUANG Aula sudah ramai. Kursi-kursi yang mengelilingi meja bundar sudah diduduki oleh para alumnus beserta keluarganya. Seorang penyanyi wanita diiringi musik semi beat mengalunkan lagu Reuni milik Rizky Febian.


    "Setelah kita berpisah tuk sekian lama ..., akhirnya bisa bertemu kembali ..., walau kulihat engkau tersipu malu ..., untuk mendekatkannya padaku ..., ingin kuulangi kenangan itu ..., indah saat kubersamamu ..., apalah dayaku kau sudah bersamanya ..., mungkin hanya sebuah reuni bagimu ..., namun bagiku hanya awalan saja ..., untuk memulai cerita kita yang baru ..., wooo ..., hoho ...." begitu suara penyanyi yang menggelitik para peserta reuni.


    Walau usia sudah hampir setengah abad, namun suara penyanyi yang melantunkan lagu baru itu tetap terasa enak didengar. Irama musiknya pun juga bisa diterima di telinga, masuk dalam rasa di hati. Hentakan irama musik bisa menghipnotis orang-orang untuk menggoyangkan kaki maupun tubuhnya. Itulah kehebatan penyanyi yang bisa membawa angan para penontonnya. Yang jelas penyanyinya masih muda, cantik, dandanannya menarik walau tidak seronok, tetap sopan karena yang dihadapi para tamu yang sudah dewasa dan orang-orang perlente. Ya, mungkin juga karena momennya yang pas dengan lagunya. Momen reuni, dinyanyikan lagu Reuni.


    Itulah musik pembuka, yang menyambut para peserta reuni memasuki ruangan.


    "Assalamualaikum, selamat malam, salam sejahtera untuk kita semua ...." kata pembuka dari penyanyi tadi setelah selesai melantunkan lagu Reuni.


    "Waalaikumsalam ...! Selamat malam ...!" suara keras para peserta membalas salam dari Sang Penyanyi, yang sekaligus menjadi host pada malam itu.


    "Bapak-bapak ..., Ibu-ibu .... Sudah ada kakek neneknya belum, ya? Hehehe ...." kata pembawa acara sambil berseloroh, untuk mengundang tawa para peserta reuni.


    "Belum ...! Semua masih gadis dan perjaka ...! Hahaha ...." jawab para peserta, membalas gurauan pembawa acara.


    "Hah ...?! Masih muda-muda semua, ya?" kembali pembawa acara meledek.


    "Masih usia tujuh belas ...!" sahut para peserta lagi, yang membuat suasana semakin bergemuruh. Lucu-lucu.


    "Waduh ...! Berarti masih pada SMA, dong ...!" kata pembawa acara lagi.


    "Betul ...! Ini anak-anak SMA semua ...!" sahut para peserta lagi.


    "Mestinya kemarin kita rancang reuni pakai seragam SMA, ya ...." kata salah seorang peserta reuni.


    "Wah, pasti lebih seru itu!" sahut yang lain.


    "Baik, Bapak Ibu, semua ..., malam ini saya merasa terhormat, bisa berada di tengah-tengah anak-anak SMA yang hebat. Betul-betul pertemuan yang membahagiakan, menyenangkan dan tentu akan membawa kenangan tersendiri nanti. Sudah berapa lama berpisah?!" kembali pembawa acara melontarkan pertanyaan.


    "Baru saja ...!" jawab salah satu peserta.


    "Tidak pernah berpisah ...!" jawab yang lain.


    "Hehehe .... Rasanya tidak pernah berpisah, ya?! Padahal kalau saya hitung tahun kelulusannya, Bapak Ibu ini sudah berpisah tiga puluh tahun lamanya .... Waktu yang sangat lama. Tentu perpisahan yang lama ini akan membuat rasa kangen yang sangat dalam, betul?!" kata pembawa acara lagi.


    "Betuuul ...!!" teriak para peserta.


    "Untuk mengobati rasa kangen Ibu dan Bapak, mohon ijin saya akan menyanyikan tembang lawas, Sepanjang Jalan Kenangan. Bapak Ibu boleh ikut bernyanyi, boleh juga ikut melenggang." begitu kata si penyanyi yang langsung bernyanyi.

__ADS_1


    Ya, lagu Sepanjang Jalan Kenangan, yang pernah nge-hit lagi diera tahun 85 - 90 an, tentu para peserta ingat betul akan lagu ini. Dan kini, ketika setelah tiga puluh tahun mereka berpisah, lagu itu benar-benar menjadi pengingat kenangannya di masa SMA. Semua ikut bernyanyi, sambil menggoyangkan pinggang. Semua ikut berdiri, sambil bergandengan tangan.


    "Mari Bapak Ibu, yang ingin melantai silahkan maju ke depan ...." kata si penyanyi.


    Beberapa orang laki-laki maju. Kemudian, bebarapa perempuan mengikuti maju. Mereka bergoyang di depan, berbaur bersama sang penyanyi. Suasana menjadi riang gembira.


    "Ayo, ayo .... Semua alumnus maju!" Jojon berteriak menyuruh semua temannya maju.


    Ya, Jojon memang pantas dan luwes untuk menyuruh teman-temannya maju berjoget. Pantas jadi provokator. Teman-temannya pun menurut. Semua alumnus maju. Bahkan ada beberapa suami atau istri yang juga ikut maju untuk berjoget. Lantas Jojon memasang-masangkan temannya, berjoget dan bergandengan tangan membentuk lingkaran. Sang penyanyi berada di tengah lingkaran, yang beberapa kali mengangkat tangannya, memberi aba-aba kepada orang-orang yang berjoget, berputar membentuk lingkaran.


    Jojon memang agak nakal. Ia menggeser Yudi, ditarik dari kelompok laki-laki dan dipasangkan dengan Rini. Tangan Yudi dan tangan Rini digandengkan. Jojon memang usil. Yudi tidak bisa melawan. Tentu dia akan malu pada peserta yang lain jika menolak perintah Jojon. Yudi tidak ingin ribut hanya gara-gara berjoget. Walau sebenarnya Yudi ingin menolak. Demikian juga Rini, walau tersipu malu dan agak canggung untuk memegang tangan Yudi, akhirnya kedua orang tersebut juga bergandengan tangan. Jika ada yang memperhatikan, pipi Rini saat itu langsung terlihat memerah. Walau begitu, Yudi masih terasa kaku untuk diajak berdendang.


    "Tanganmu biasa saja, Yud .... Jangan kaku." kata Rini pada Yudi.


    Yudi diam saja, tidak membalas kata-kata Rini. Tetapi ia juga berusaha untuk bersikap biasa, agar lambaian tangannya tidak kaku, seperti yang dikatakan Rini. Debar jantungnya sudah tidak seperti tadi sore saat makan di restoran. Yudi mulai bisa menerima kehadiran Rini, temannya paling cantik saat sekolah. Yudi sudah tidak begitu grogi lagi.


    "Kakimu jangan diem saja, Yud .... Ikuti langkahku. Kanan ..., kiri ..., kanan ..., kiri." kata Rini lagi, yang meminta Yudi untuk menggerakkan kakinya, mengikuti langkahnya.


    Yudi juga tidak menjawab, diam saja. Tetapi langkah kakinya berusaha untuk mengikuti langkah kaki Rini. Rini merasa lega, Yudi mengikuti langkah-langkahnya. Hati Rini menjadi tertata dan mulai senang.


    "Asyik .... Asyik .... Asyik ...! Tarik siis ..., semongko ...!" Jojon memberi aba-aba.


    ".... Sepanjang jalan kenangan, kita slalu bergandeng tangan .... Sepanjang jalan kenangan, kau peluk diriku mesra ...." begitu irama lagu yang dinyanyikan oleh sang biduan.


    "Ayo dipeluk mesra ...!" kata Jojon memprovokasi suasana.


    Bagi yang pasangan suami istri langsung memeluk. Tetapi bagi yang berpasangan dengan temannya hanya tertawa-tawa kegelian. Beda dengan Rini, yang mencoba memeluk Yudi. Tetapi Yudi berusaha mengelak. Rini pun tertawa geli melihat tingkah Yudi yang lucu saat mengelak.


    "Hah ..., hah ..., hah .... Meriah sekali. Silakan Bapak, Ibu duduk kembali ...." kata si penyanyi setelah selesai melantunkan lagunya.


    Para peserta, baik alumnus maupun keluarganya kembali duduk ke kursinya.


    "Nah, Ibu Bapak ..., tiba saatnya, kita dengarkan laporan panitia. Kepada yang terhormat Bapak dokter Handoyo, waktu sepenuhnya kami persilakan." kata si penyanyi yang merangkap MC.


    Handoyo maju, menyampaikan laporan kepanitiaan, mulai ucapan terimakasih kepada teman-temannya yang sudah bersedia hadir ikut reuni, teman-temannya yang memberikan donasi, teman-teman yang membantu mencarikan tempat penginapan, mencarikan obyek wisata serta semuanya. Bahasanya enak didengar, runtut dan tidak menjatuhkan orang lain. Pantas kalau ia jadi kepala rumah sakit. Ya, memang sejak SMA, saat menjadi pengurus OSIS, Handoyo memang cakap dan pandai berkomunikasi. Itulah manfaat berorganisasi.


    Berikutnya, acara penayangan virtual meeting dengan teman-teman yang ada di luar negeri. Operator IT mulai menayangkan LCD Proyektor yang memunculkan video meeting online, melalui google meet. Di layar proyektor muncul wajah Brun yang tinggal di Belanda, muncul Eva yang tinggal di Australia, dan Albert yang tinggal di Perancis. Sontak teman-teman yang ada di ruang pertemuan berteriak.


    "Hai ..., Brun, Eva, Albert!" teriak teman-temannya sambil melambaikan tangan.

__ADS_1


    "Hallo, hai ...." kata Brun dari sebrang.


    "Bonjour .... Hallo-hallo, my friends!" kata Albert dari Paris.


    "Hai, my friends! How are you?" sapa Eva dari jauh.


    "Hai ..., hai .... Halo Brun, halo Albert, halo Eva .... Kami well semua .... Hahaha ...." sahut semua yang ada dalam ruang, saling sapa dengan teman-temannya yang ada di luar negeri. Mereka saling menampakkan diri. Bagian IT hotel cukup lihai, bisa meng-close up wajah-wajah setiap peserta, teman-teman sekelas. Lucu-lucu. Semua senang bisa saling lihat dengan temannya yang ada di luar negeri. Meski hanya secara virtual, mereka sudah terlihat puas.


    Suasana semakin meriah, semakin menyenangkan. Acara pun mulai lebih hangat, dengan lagu-lagu yang menggoda pinggul untuk bergoyang-goyang. Semua yang ada di ruangan, hanyut dalam keceriaan, berjoget dan berdendang. Semua larut dalam kegembiraan. Yang ada hanya tawa dan canda. Hingga larut malam.


    Tanpa terasa, waktu pun sudah menunjukkan pukul dua belas. Sang penyanyi, biduan minta istirahat. Kontrak waktunya menyanyi sudah habis.


    "Mohon maaf, Bapak, Ibu, semuanya saja ..., waktu saya sudah habis. Kami mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya. Bapak Ibu hebat semua, sampai saya ngos-ngosan. Hehehe .... Sekali lagi terimakasih, semoga besok lain waktu kita bisa bersua kembali. Gusti mberkahi. Amin." kata sang penyanyi mengakiri lagunya.


    "Lah ...! Lho ...! Waduh ...!" orang-orang terlihat kecewa, karena masih ingin berjoget.


    "Ya ..., ya ..., ya ...!"


    "Maaf, teman-teman ..., kita istirahat dulu. Energi kita simpan untuk besok. Sehabis makan pagi, kita akan menelusuri kota Jogja." kata Alex yang menyampaikan kegiatan besok.


    "Siaaap ...!" sahut teman-temannya.


    "Tapi yang mau ngobrol untuk melepas rindu juga dipersilakan." kata Jojon sambil tertawa.


    Ya, tentu mereka masih rindu. Masih ingin bercerita dengan teman-temannya. Terutama yang laki-laki, nongkrong sambil ngobrol adalah kebiasaan, mumpung ketemu teman lama, mereka bisa melepas rindu dengan berbagai cerita.


    "Ikut aku." kata Rini pada Yudi yang masih duduk di ruang aula.


    "Nggak, ah, mau ngobrol dulu sama teman-temab." sahut Yudi.


    "Ayo, ikut aku!" kata Rini lagi, kali ini sambil menyeret tangan Yudi.


    "Ke mana?" tanya Yudi yang berusaha menolak ajakan Rini, dan berusaha melepaskan pegangan tangannya.


    "Pokoknya ikut aku. Ayo, ikut ke kamarku!" sahut Rini yang sudah menyeret Yudi.


    Yudi tidak bisa mengelak. Ia menurut saja ketika tangan kirinya digandeng Rini. Mereka masuk lift. Rini mengajak Yudi menuju kamarnya.


    "Mau apa lagi, Rin?!" tanya Yudi.

__ADS_1


    "Kita habiskan malam ini, berdua di kamar ini. Hanya kita berdua!" kata Rini yang sudah memasukkan Yudi di dalam kamarnya.


__ADS_2