KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 134: PAPAH PULANG


__ADS_3

    Rini sudah tidak menganggap masalah suaminya sebagai hal yang penting lagi. Bahkan Rini santai saja menanggapi desas-desus suaminya. Rini pun tidak mau memikirkan hal-hal yang terkait dengan suaminya. Bahkan apapun nanti yang akan terjadi terhadap suaminya, atau suaminya akan mengatakan apa saja tentang dirinya, Rini sudah tidak peduli lagi. Rini hanya akan pura-pura tidak tahu saja.


    Dan saat hari suaminya pulang, seperti yang sudah direncanakan bersama anaknya, mereka akan cuek. Menganggap kepulangan suaminya dari luar negeri sebagai hal yang biasa saja. Seolah hanya pulang dari tempat kerja seperti biasanya. Tidak berharap oleh-oleh apapun.


    Sore itu, Rini masih di kebun anggrek bersama Mang Udel, saat mobil kantor yang disetir oleh Mas Jo datang.  Mang Udel tidak sempat membukakan pintu gerbang. Mas Jo sendiri yang membuka pintu gerbang dan langsung memasukkan mobil ke pelataran. Yang turun dari mobil itu adalah Hamdan. Suami Rini yang baru pulang dari Jerman.


    Meski Rini melihat mobil yang masuk ke pelataran, ia cuek saja. Tidak mau melihat. Bahkan melirik saja tidak. Rini tetap mengasyikkan diri menyaksikan anggrek-anggrek yang sedang bermekaran. Lebih menyenangkan melihat anggrek daripada melihat suaminya.


    "Hai ..., Mamah .... Papah pulang ...!" teriak Hamdan di depan garasi.


    Rini diam saja. Pura-pura tidak mendengar. Malah melangkah menjauh, pura-pura memegang-pegang anggrek yang ada di tempat paling ujung.


    "Mamah ...!" kembali Hamdan berteriak memanggil istrinya.


    Rini tetap pura-pura tidak mendengar. Ia tetap masih asyik mengelus-elus tanaman anggrek.


    "Ibu ..., itu Bapak sudah pulang .... Bapak sudah di depan garasi, memanggil Ibu ...." kata Mang Udel yang memberitahu Rini.


    "Sebentar, Mang Udel .... Saya masih pengin menyaksikan anggrek-anggrek ini. Tolong Mang Udel saja yang bantu bawakan kopernya masuk, langsung diberikan ke Mak Mun, biar dicuci." kata Rini memberitahu Mang Udel.


    "Iya, Ibu .... Punten ...." kata Mang Udel yang langsung mendatangi mobil yang disetir Mas Jo, dan membantu majikannya.


    "Mang Udel ..., Ibu mana ...?" tanya Hamdan saat Mang Udel sampai di dekatnya.


    "Ibu masih membenarkan anggrek yang lepas, Bapak .... Ini saya disuruh membantu Bapak untuk membawa pakaian kotor agar dicuci Mak Mun." jawab Mang Udel.


    "Oya .... Itu yang koper besar .... Mak Mun suruh nyuci semua ...." sahut Hamdan sambil menunjuk koper yang berisi pakaian kotor.


    "Baik, Pak ...." kata Mang Udel yang langsung menurunkan koper majikannya dari bagasi yang sudah dibuka oleh Mas Jo.


    Lantas Mang Udel menyeret koper besar tersebut dan diserahkan kepada Mak Mun untuk dicuci.


    Hamdan masuk rumah. Suasananya sangat sepi. Lantas duduk di ruang makan. Meja makan juga kosong, tidak ada apa-apa. Padahal biasanya, setidaknya ada stoples berisi kerupuk atau makanan kecil lainnya. Tetapi kali ini, meja makan itu benar-benar bersih tidak ada apa-apanya.


    "Mak Mun ...!" Hamdan memanggil Mak Mun, juru dapurnya.


    "Iya, Bapak .... Ada yang bisa saya bantu?" kata Mak Mun yang langsung mendekat ke ruang makan.

__ADS_1


    "Tolong ambilkan saya air dingin .... Rasanya kok panas sekali ...." Kata Hamdan pada Mak Mun.


    "Iya, Bapak .... Sebentar ...." kata Mak Mun yang langsung mengambil gelas dan air dingin dari kulkas, lantas memberikan kepada majikannya.


    "Ini meja makan kok bersih sekali, Mak Mun ...?" tanya Hamdan.


    "Iya, Bapak ..., kemarin saya bersihkan bersama Ibu ...." jawab Mak Mun.


    "Maksud saya, kok tidak ada jajanannya sama sekali?" tanya Hamdan lagi.


    "Hehe .... Kemarin ada kerupuk, tetapi sudah melempem, terus dibuang sama Ibu. Habis ..., tidak ada yang makan, Pak ...." jawab Mak Mun.


    "Memang Mas Yayan dan Silvy tidak pernah mampir sini?" tanya Hamdan.


    "Eee .... kemari terus, Pak .... Malah Neng Silvy sering tidur di sini, nemani Ibu ...." jawab Mak Mun.


    "Lhah, kok tidak ada makanan di sini ...?" tanya Hamdan lagi.


    "Kalau sore banyak, Pak .... Ibu sama saya yang masak, buat makan malam bersama .... Tapi, ya ..., langsung habis, Pak .... Hehe ...." kata Mak Mun polos.


    "Siap, Pak ...." jawab Mak Mun yang langsung menuju dapur.


    Sementara itu, Rini sudah puas di kebun anggrek. Dan hari pun sebentar akan berganti senja. Setelah mencuci tangan dan kaki di teras belakang, ia segera masuk ke kamar. Ia bergegas akan mandi, membersihkan diri dari keringat dan mungkin kuman-kuman dari kebun.Tentu saat akan masuk ke kamar, Rini melintas di ruang makan, di mana suaminya masih makan mi rebus.


    "Mamah ...." kata Hamdan saat melihat istrinya melintas di dekatnya.


    Rini tidak menoleh. Ia bablas saja tanpa mempedulikan suaminya yang memanggil. Bahkan seolah-olah ia tidak mendengar suara panggilan suaminya.


    Hamdan melongo. Sadar jika istrinya tidak mempedulikan suaminya yang pulang dari luar negeri. Hamdan mulai merasakan jika istrinya sudah tidak menganggap kehadiran suaminya. Tetapi ia tidak ingin ribut. Malu dengan pembantu-pembantu rumah tangganya. Maka ia tidak berusaha mengejar istrinya yang masuk ke kamar, melainkan melanjutkan makan mi rebus.


    Setelah selesai mandi, Rini langsung duduk di depan TV yang ada di ruang keluarga. Menyaksikan siaran televisi. Santai saja tanpa memepedulikan suaminya. Tidak menyapa, tidak melihat, bahkan juga tidak melirik. Sejak suaminya tiba di rumah, Rini belum komunikasi sama sekali.


    Di luar rumah, pintu gerbang terbuka. Silvy turun dari ojol dan langsung masuk ke rumah.


    "Mamah ...!!" Silvy berteriak memanggil ibunya. Ia langsung berlari menuju ruang keluarga menemui ibunya, bersalaman, terus mencium tangan ibunya.


    "Mmuahh .... Sana mandi dulu." kata ibunya yang langsung menyuruh anaknya agar mandi.

__ADS_1


    "Iya, Mah ...." sahut anaknya yang langsung berlari ke kamarnya.


    Hamdan bingung. Saat Silvy masuk rumah, ia juga memanggil anak perempuannya itu, tetapi Silvy bablas saja. Apakah saat ini dirinya bisa menghilang? Apakah saat ini suaranya juga tidak terdengar? Sehingga orang-orang tidak melihat dirinya dan tidak mendengar panggilannya? Hamdan heran, ada apa sebenarnya? Ini pasti ada sesuatu. Hamdan mengamati istrinya, demikian juga anaknya. Nanti saat istri dan anaknya mengamati dirinya, barulah Hamdan akan menyapa kembali.


    Silvy sudah selesai mandi, dan tentu sudah berganti mengenakan kaos dan celana pendek. Pakaian santai di dalam kamar. Ia langsung ke ruang keluarga, menemani ibunya yang sedang menyaksikan siaran TV. Rini langsung menyuruh anaknya, agar kirim pesan WA ke suaminya, tidak usah menjemput ke rumah orang tuanya. Anaknya pun langsung menurut perintah ibunya. Suaminya tidak mampir ke rumah mertua. Tentu suaminya menuruti kata istrinya.


    "Halo ..., halooo .... Di rumahku yang besar ini kok tidak ada orang, ya ...?! Orang-orangnya pada ke mana, ya ...?!" Hamdan berteriak, tentu mencari perhatian dari istri dan anaknya.


    Rini berpandangan dengan anaknya. Lantas tersenyum, ditutupi mulut. Ingin tertawa, tapi ditahan. Tentu mereka berdua merasa geli melihat tingkah bapak atau suaminya yang lucu mencari perhatian. Rini justru mengangkat remot TV dan mengeraskan suaranya. Tentu tujuannya untuk mengalahkan suara suaminya, kalau bicara agar tidak terdengar.


    "Mak Mun .... Ibu sama Silvy tadi ke mana, ya?!" Hamdan pura-pura tanya pada Mak Mun. Padahal dirinya sudah tahu dan melihat jika anak dan istrinya ada di ruang tamu menonton siaran televisi.


    "Waduh ..., saya kok tidak melihat ya, Pak .... Apa mungkin di kamar, sedang menunggu bapak?!" jawab Mak Mun yang juga membikin Hamdan jadi jengkel.


    "Ya sudah, Mak Mun .... Saya mau mandi, terus tidur. Tubuh capek semua ..., kalau dibuat tidur pasti nyenyak." kata Hamdan yang langsung berdiri dari kursi makan, dan melangkah masuk ke kamar.


    Rini langsung berdiri dan tersenyum, mengacungkan jempol kepada Mak Mun yang membersihkan meja makan. Tanda senang dengan jawaban yang diberikan oleh Mak Mun.


    Selanjutnya, setelah Hamdan pergi meninggalkan ruang makan, Rini dan Silvy langsung menuju dapur. Tentu mengambil makanan yang sengaja disimpan di meja dapur, tidak dikeluarkan ke ruang makan. Mereka menikmati makan malam di ruang dapur, tempat yang biasa digunakan untuk masak oleh Mak Mun. Dan tentu mereka sudah siap dengan rencana itu sebelumnya, menyengaja agar tidak ada makanan untuk suami atau ayahnya, yaitu Hamdan, di ruang makan. Maka kalau Hamdan lapar, di meja itu tidak ada makanan lagi.


    "Biarin ..., biar kelaparan .... Sok pamer makanan Jerman .... Memang di Jakarta makanan tidak enak ...." begitu yang diucapkan Rini yang tentu jengkel dengan suaminya, yang sebenarnya tidak hanya jengkel dipameri makanan, tetapi lebih jengkel karena dipameri bojo anyar.


    Rini sengaja tidak masuk kamarnya, saat suaminya sudah ada di kamar, dan tentu akan tidur. Rini jengkel dengan suaminya yang sok mengatur, tetapi dirinya sendiri melanggar etika. Rini jengkel dipameri suap-suapan dengan pelakor.


    Demikian juga Silvy, anaknya. Ia lebih jengkel kepada papahnya, manakala ditelepon yang mengangkat adalah wanita lain dan memaki-maki dirinya. Ini sangat keterlaluan. Kalau pelakor itu nanti jadi ibu tiri, pasti akan geger setiap hari. Silvy tidak sudi punya ibu tiri seperti itu. Lebih baik tidak punya papah daripada harus melihat ibu tiri biadab seperti itu.


    Maka malam itu, gantian Rini yang tidur di kamar anaknya. Silvy sengaja mengajak mamahnya untuk tidur di kamarnya. Oleh sebab itulah, ia langsung menyuruh suaminya pulang sendiri. Tentu Silvy ingin memberi pelajaran kepada papahnya yang sudah terkintil-****** sama pelakor. Biar papahnya tahu rasa, sakitnya orang dimaki-maki selingkuhannya.


    Hamdan yang sudah selesai mandi, berada dalam kamar sendirian. Lantas membujurkan tubuhnya di kasur. Tetapi sepi. Ia sendirian, tanpa ada istri yang biasanya memijit-mijit kaki dan punggungnya. Hamdan menoleh ke kiri, hanya mendapati bantal dan guling, tanpa ada yang meniduri. Rini betul-betul tidak mau masuk ke kamar menemui suaminya.


    Hamdan langsung bangun dari rebahannya. Lantas duduk di atas kasur. Tangannya memegangi lutut. Termenung. Memikirkan polah tingkah aneh yang dilakukan oleh orang-orang serumah. Terutama istri dan anaknya.


    "Ada apakah ini?" Hamdan bertanya pada dirinya sendiri. Lantas ia turun dari tempat tidur. Melangkah menuju pintu. Memegang selot pintu. Tetapi ia ragu-ragu, tidak jadi membuka. Lantas meletakkan pantatnya lagi di tempat tidur. Menoleh ke kanan dan ke kiri. Ada yang dibingungkan dengan keanehan di rumahnya sejak ditinggal tiga minggu yang lalu.


    "Mengapa orang-orang ini pada cuek dengan saya? Mereka tidak menganggap aku ada? Bahkan seakan mereka tidak mau mendengar suara saya? Ada apa semuanya ini?" gejolak pikiran Hamdan yang bingung menghadapi kejadian di rumahnya.


    Rini sudah melihat fakta. Silvy sudah menemukan bukti. Bahkan kantornya sudah menyiapkan rencana sangsi. Apakah Hamdan tidak menyadari semua peristiwa-peristiwa yang ia lakukan? Akankah ia akan mengakui semua itu?

__ADS_1


__ADS_2