KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 165: FIRST NIGHT


__ADS_3

    Yuna pasti terlalu capai. Meski asyik menyaksikan pertunjukan wayang kulit, namun mata sipitnya tidak kuat menahan kantuk. Akhirnya, Yuna tertidur, menyandar di pundak Yudi. Lelap dan pulas.


    Yudi yang tahu kalau istrinya sudah amat sangat mengantuk, maka ia membiarkan istrinya tertidur di bahunya. Lantas ia membuka jaket yang dikenakan, untuk menyelimuti tubuh Yuna. Tangan kirinya pun lantas memeluk erat tubuh sang istri. Yuna semakin pulas dalam dekapan suaminya.


    Meski malam sudah teramat larut, namun kiprah sang dalang yang sangat menarik, tidak menyurutkan para penonton. Terutama turis-turis asing yang seperti sangat kagum dan terheran menyaksikan pertunjukan wayang kulit. Para turis ini terpaku menyaksikan setiap adegan. Dan tentunya, yang mereka herankan adalah seorang dalang sendirian bisa berbicara dan memerankan berbagai karakter dari banyak tokoh. Suaranya bisa berbeda-beda antara satu tokoh dengan tokoh yang lain. Mereka benar-benar terpesona. Detik demi detik mereka rekam. Mereka dokumentasikan. Tentu untuk oleh-oleh yang akan dibawa pulang ke negerinya.


    Tidak hanya para turis, para seniman teman-teman Yudi, juga terpana dengan penampilan Warseno Sleng.


    "Inilah yang dinamakan totalitas karya." kata Pak Profesor mengomentari pementasan Warseno Sleng.


    "Luar biasa, Pak Prof ...." sahut seniman berambut gondrong yang ada di dekatnya.


    "Itu contoh buat kalian. Apapun alirannya ..., bagaimanapun bentuk dan wujudnya ..., jika kalian ingin menghasilkan karya yang luar biasa, maka jangan setengah-setengah ..., jangan separo-separo .... lakukan dengan sepenuh hati, kerjakan secara maksimal, garap dengan sungguh-sungguh, hasilkan karya-karya yang monumental. Pasti karyamu akan dikagumi oleh penikmat seni. Karyamu akan menjadi karya yang luar biasa." kata Pak Profesor pada para seniman yang ada di sekeliling tempat duduknya.


    "Betul, Pak Prof." sahut yang lain.


    Demikian juga teman-teman alumni SMA Yudi, yang masih asyik mengikuti pertunjukan wayang kulit. Tentu meski sudah lama tidak menyaksikan wayang kulit, tetapi mereka masih paham dengan tokoh-tokoh dalam cerita wayang. Namun malam itu, ketika lakon Dewa Ruci ditampilkan, pertunjukan penuh filosofi, meski indah dan menarik pementasannya, namun cerita yang sarat dengan nasihat dan petuah itu, sangat sulit untuk diimplemantasikan dalam kehidupan. Ya, cerita tentang makna hidup yang hakiki. Siapa yang berlaku benar dan baik, akan mendapatkan kehidupan yang kekal, meski hanya nama yang dikenang. Namun siapa saja yang hidup dalam kekeliruan, kesalahan, dan keburukan, maka ia akan menderita dan sengsara di akhir hidupnya, serta namanya akan tercemar.


    Sebenarnya Yudi sudah sangat capai dan mengantuk. Apalagi sekarang di tubuhnya sudah tergeletak tubuh Yuna yang tidur pulas. Tidak tega rasanya kalau akan melepas tubuh istrinya yang sedang nyenyak-nyenyaknya tidur. Maka, mau tidak mau, Yudi harus bertambah capai untuk memberikan kenyamanan pada istrinya. Ya, itulah tanggung jawab seorang suami yang harus melindungi istrinya. Tidak hanya menjadi tempat sandaran tidur, tetapi juga rela melepas jaket untuk menyelimuti istrinya, meski tubuhnya sendiri terasa kedinginan.


    Beruntung, Yudi duduk di kursi pengantin yang ukurannya sangat besar. Sehingga ia bisa bersandar dengan nyaman pada kursi itu, bahkan bisa menyelonjorkan kakinya. Tubuhnya yang miring, dengan kaki yang berselonjor, kepalanya disandarkan pada tanganan kursi. Sehingga seakan ia tiduran di kursi besar.


    Demikian juga Yuna yang sudah terlelap tanpa daya, Yudi mengatur posisi tidur istrinya. Ia tata sedemikian rupa, sehingga Yuna bisa tertidur dengan nyaman, meski hanya berada di kursi pengantin. Tetapi setidaknya, Yudi masih bisa menemani teman-temannya dalam menyaksikan pertunjukan wayang kulit. Tidak peduli dengan teman-teman yang iri kepadanya, karena bisa memeluk istrinya. Kan pengantin baru. Pengantin baru bermesraan jangan diiri.


    Ya, tentu teman-teman Yudi pada iri. Karena mereka duduk di kursi lipat milik persewaan alat pesta, tentu kursinya kurang nyaman untuk duduk semalaman. Selain itu, mereka duduk mengelilingi Yudi, menemani Yudi yang bersama istrinya. Apalagi Yuna yang tidur merebah di tubuh Yudi. Ih, bikin ngiler.


    Namun bukanlah teman Yudi, kalau tidak bisa memahami Yudi. Yudi itu orang baik. Sudah selayaknya mendapat yang baik. Teman-temannya sudah mengenal betul watak dan sikap Yudi. Bahkan Alex pernah mengatakan kalau Yudi itu manusia setengah dewa. Pintar dan sangat baik. Maka tidak heran kalau malam ini, di malam pertama yang mestinya dinikmati berdua oleh Yudi dan Yuna, ia justru ikut berbarengan di lapangan, di tempat pertunjukan wayang, ikut menyaksikan wayang kulit bersama-sama dengan teman-temannya. Sungguh sikap yang sangat baik.


    Mungkin, sang dalang yang melakonkan Dewa Ruci, ini untuk mengurai, menjelaskan hidup yang sepatutnya dilakukan oleh manusia, hidup hakiki untuk menciptakan masyarakat yang tenteram sentosa. Seperti halnya Yudi yang sudah berusaha membangun masyarakat Kampung Nirwana menuju kampung madaniah, yang kata ki dalang sering disebut dengan istilah "gemah ripah loh jinawi, subur tanpo tinandur, murah tanpo tinuku, urip guyup rukun, tanpo rusiku rubida, kalis nir hing sambikolo, tinebihno saking goda lan culiko." Itulah makna dari hudup bermasyarakat yang tenteram damai.


    Ya, Kampung Nirwana, adalah sebuah kampung yang dibangun oleh Yudi, dirintis sejak dua puluh lima tahun yang lalu. Tentu dengan mengubah cara berfikir dalam menata pola kehidupan. Yudi tidak hanya membangun fisik, tetapi yang lebih berat adalah membangun mental, merubah filosofi, mengubah mindset. Yudi ingin mengubah kampung itu menjadi sebuah perkampungan yang adil sejahtera tanpa ada kekurangan. Seperti dalam sebuah cerita pewayangan, tempat yang paling indah, tempat yang paling nyaman, tempat yang paling enak, adalah di taman nirwana. Sebuah taman bagi para dewa untuk menikmati segala keindahan dan kemakmuran. Oleh sebab itulah, Yudi memberi nama kampung yang ia tempati dengan sebutan Kampung Nirwana. Harapannya, kampung itu akan menjadi perkampungan yang sejahtera.


    "Yudi ..., kamu ini benar-benar hebat .... Pesta seperti ini, kamu tidak mau disumbang sama sekali oleh para tamu. Uangmu pasti banyak sekali, Yud ...." kata Jojon yang sambil ngemil makanan kudapan. Memang di meja konsumsi masih banyak makanan. Tidak cuman camilan, makan besar juga masih tersedia.

__ADS_1


    "Ini mengurangi tumpukan uang yang jamuran .... Hahaha ...." sahut teman yang lain.


    "Ah, kalian ini ada-ada saja .... Siapa yang punya uang sampai jamuran ...?" sahut Yudi yang tidak nyaman saat diledeki temannya.


    "Nyatanya begitu, Yudi .... Tontonan sebegitu meriah, makanan berlimpah ..., tapi kamu tidak mau disumbang, tidak menyediakan kotak sumbangan." sergah Jojon, yang tentu penasaran dengan banyaknya uang Yudi seberapa.


    "Walah, kalian ini tidak tahu .... Yang menyiapkan makanan ini semua, itu orang-orang kampung. Mereka masak-masak, lantas dibawa kemari, untuk dibuat makan bersama di sini. Yang mengadakan tontonan-tontonan itu juga warga kampung yang menghendaki. La yang menyiapkan makanan warga kampung kok saya yang disuruh narik sumbangan lagi, berarti saya dapat uang sumbangan tanpa modal .... Kalau kalian mau nyumbang, berikan saja uang sumbanganmu ke warga kampung. Hahaha ...." kata Yudi yang memang tidak mau menerima sumbangan.


    "Sekarang pertanyaannya .... Kok bisa, masyarakat sini menyediakan makanan sebanyak ini secara gratis untuk memeriahkan pernikahan kamu, Yudi ...?" tanya Jojon yang tentu penasaran.


    "Kamu dengar yang diceritakan Pak Dalang?" tanya Yudi.


    "Iya ..., tapi apa hubungannya antara cerita Ki Dalang dengan makanan sebanyak ini?" tanya yang lain.


    "Itu dalam cerita kan disampaikan, Bima mencari air suci penghidupan .... Makna air suci penghidupan ini ya termasuk mendapatkan makanan seperti yang kita nikmati ini, kan untuk penghidupan .... Nah, kalau kita bisa melakukan lakon seperti Bima, maka jangankan hanya makan dan minum ...., istri saja datang menghampiri .... Hahaha ...." sahut Yudi sambil tertawa.


    "Ah, iya ..., ya .... Benar juga kata Yudi ...." kata yang lain.


    "Dasar, kamu ..., Yud .... Itu namanya beruntung ...." sahut yang lain lagi.


    "Eh, Yudi .... Ini pertanyaan lagi .... Mengapa malam pertama kamu, malam ini, tidak kamu nikmati di dalam kamar ...?! Hahaha ...." tanya Jojon yang memang lucu.


    "Nah, ini yang salah pemikiran .... Justru di sini ini, saya bisa memamerkan malam pertama saya pada kalian .... Ini lho, malam pertama saya .... Saya tiduran berpelukan dengan istri saya, kalian bisa menyaksikan semua .... Artinya, kalian tahu semua kalau saya peluk-pelukan di malam pertama .... Hahaha ...." jawab Yudi sambil melucu. Tentu teman-temannya jadi ngiri, saat Yudi memeluk istrinya yang cantik itu.


    "Asem ik ..., berarti kita ini semua disuruh nemani orang yang sedang menikmati malam pertama, to ...?!" sahut temannya.


    "Malam pertama kok cuman begitu ...? Mana enaknya ...?!" sahut teman Yudi yang lain.


    "Malam pertama itu ya ..., ihik ..., ihik .... Hahaha ...." kata Jojon sambil melucu.


    "Ihik-ihik, bagaimana ...?! Ngomong itu yang jelas ...! Memangnya anak kecil minta balon, ndak dibelikan terus ihik-ihik menangis ...." sahut teman yang lain.


    "Jon ..., Jon .... Kan tadi sudah disebutkan oleh Pak Dalang, yang namanya mencari air suci penghidupan itu, harus bisa mengendalikan hawa nafsu. Lhah, kalau cuman mau gituan, nggak perlu nunggu malam .... Siang juga bisa, Jon ...." balas Yudi pada Jojon, temannya yang suka cari gara-gara itu.

__ADS_1


    Jam empat pagi sudah terlewati. Kembali si dalang bersuluk.


    "Huung .... Hoong wilaheng .... Hong ilaheng sekaring bawono langgeng .... Kocap kacarito ..., paripurnaning lampah ..., akhir dari pertemuan antara Bima dan Dewa Ruci, didapatkan air suci penghidupan, yaitu makna hidup kekal, yang bisa dilakukan oleh orang-orang baik, orang-orang yang bisa menyingkirkan empat wujud nafsu, orang-orang yang bisa mengendalikan jiwanya, orang-orang yang bisa menenteramkan kehidupannya ..., yaitu orang-orang yang tidak hanya sanggup menjalankan syariat, bukan sekadar memahami hakekat, namun juga harus sanggup menggapai makrifat. Bima membawa pulang air suci penghidupan." kata si dalang mengakhiri cerita.


    "Jleng ..., jleng ..., jleng .... Jeg ..., jeg ..., gung ...." suara gamelan mengalun.


    Lampu pertunjukan menyala berganti-ganti. Warna-warni menyala. Selanjutnya, lampu terang menyala, menerangi seluruh panggung. Tanda bahwa pertunjukan sudah selesai.


    "Wis bar .... Rampung .... Tancep kayon ...." suara para penonton wayang, yang tahu kalau pertunjukan wayang kulit sudah paripurna, sudah berakhir.


    "Sudah selasai .... Tamat ...." sahut yang lain.


    "Balik ..., balik ...." sahut orang-orang lainnya.


    Pentas wayang kulit semalam suntuk sudah selesai. Para penonton pada pulang, tentu akan tidur di rumah masing-masing, dan nanti akan bermimpi menonton wayang lagi semalam suntuk. Jadi begitu bangun, mereka akan mengantuk lagi ....


    Namun di meja konsumsi, masih ada banyak makanan. Para niyogo, penabuh gamelan dan sinden, serta orang-orang yang membantu perlengkapan lampu maupun pengeras suara, baru bisa makan. Mereka pun menikmati makan bersama.


    Tidak ketinggalan, para turis yang semalaman asyik menyaksikan pementasan wayang kulit, ikut nimbrung makan bersama. Tentu di pagi buta sesepi itu, mereka tidak bakal pulang ke penginapan yang ada di Jogja. Mereka akan menunggu hingga matahari muncul.


    Demikian juga teman-teman Yudi. Mereka tidak kembali ke penginapan, tetapi justru pada menata kursi yang dijejer, lantas tidur di atas kursi tersebut.


    "Lhoh, sudah selesai pertunjukan wayangnya?" tanya Yuna saat terbangun dari tidurnya.


    "Sudah, Sayang .... Tuh, para tetangga sudah pada pulang. Ayo kita pulang ...." kata Yudi memberitahu istrinya.


    "Gendong ...." Yuna yang masih duduk di kursi pelaminan memanja pada suaminya.


    "Hmmm ...." Yudi mengulurkan kedua tangannya.


    Yuna yang memang masih mengantuk, tentu saja kembali manja. Dan selanjutnya, tubuh Yuna sudah menyandar pada badan Yudi, kepalanya langsung menempel di pundak, tangannya memeluk erat leher Yudi, dan kakinya sudah membelit di pinggang suaminya.


    Yudi dengan senang hati membopong istrinya. Tentu sambil berkali-kali mencium Yuna. Yuna kembali terpejam. Tentu menikmati enaknya digendong sambil diciumi suaminya.

__ADS_1


    "Yudi ..., malam pertama kita kapan?" tanya Yuna dalam pelukan Yudi.


    "Ini sudah pagi, Sayang .... Malamnya sudah kelewat ...." jawab Yudi, lagi-lagi sambil mencium mesra istrinya.


__ADS_2