KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 231: YUDI'S GALLERY


__ADS_3

    Begitu mendapat dukungan dari istri dan anak-anaknya, Yudi langsung membangun galeri seni. Lokasinya antara Pasar Rakyat dengan Taman Anggrek Nirwana. Namanya saja galeri seni, maka Yudi membangun gedung galeri tersebut dengan bentuk bangunan yang unik. Bangunan itu tidak seperti rumah pada umumnya, seperti halnya bangunan joglo atau limasan, atau bentuk arsitek dari daerah-daerah di Indonesia. Tidak seperti Pasar Rakyat yang didesain mirip bangunan zaman Majapahit yang dibangun dari bata-bata super, seperti halnya bangunan penginapan di Nirwana Homestay, atau rumah milik Yudi. Namun Yudi membangun galeri untuk lukisan-lukisannya itu dengan konsep aliran kubisme yang diprakarsai oleh Pablo Picasso.


    Ya, aliran Kubisme memang sangat terkenal dalam dunia seni lukis. Aliran kubisme ini merupakan salah satu seni rupa yang mempunyai sudut pandang dari suatu objek yang ada di dalam satu gambar. Sehingga akan menghasilkan gambar yang seolah-olah terpisah atau terfragmentasi. Fragmentasi yang ada di dalam aliran kubisme akan membentuk suatu pola geometris seperti halnya kubus, segitiga, silinder, lingkaran, serta berbagai bentuk lainnya. Sebuah lukisan dari aliran Kubisme mempunyai sudut pandang depan dan samping yang bisa dilihat secara bersamaan dalam satu objek lukisan. Sehingga hal itu akan menghasilkan nilai yang artistik.


    Yudi membangun gedung galeri dengan mengambil konsep kubisme. Ya, model gedung galeri yang dibangun oleh Yudi mengandung berbagai unsur bentuk-bentuk geometris. Ada ruang yang berbentuk kotak, ada yang berbentuk segi tiga, ada yang berbentuk lingkaran, ada yang berbentuk trapesium, ada juga yang berbentuk bola. Berbagai bentuk geometri dari dua demensi dan tiga demensi ada semua dalam bangunan Yudi yang akan dijadikan galeri lukis tersebut. Tentu Yudi menata bangun-bangun geometri itu dengan indahnya. Bahkan setiap bangun dicat dengan warna yang menarik.


    Dari jalan, bangunan milik Yudi itu terlihat sangat unik. Jika difoto tampak depan, maka terlihatlah tumpukan bangunan dua demensi yang terdiri dari bangun lingkaran, belah ketupat, layang-layang, trapesium, jajar genjang, segitiga, persegi panjang serta persegi, dengan kaca riben yang cukup gelap jika dilihat dari luar. Cat yang digunakan pun warna-warni dari setiap bangun tersebut, untuk menunjukkan bentuk-bentuk geometri yang saling bergandeng dan bertumpuk. Tentu ini menambah indahnya bangunan galeri tersebut. Kemudian pada bagian atas, menempel di dinding bangunan itu, sebuah tulisan besar "YUDI'S GALLERY". Ya, itulah gedung Yudi's Gallery. Galeri milik Yudi yang akan memajang berbagai lukisan. Yudi membangun galeri ini selama enam bulan lamanya.Tentu dengan bantuan Wawan bersama para tukangnya yang membangun gedung galeri tersebut. Namun setiap hari selalu ditunggui oleh Yudi untuk memastikan kebenaran permintaan bangunannya.


    Pada bagian dalam, setelah memasuki ruangan galeri, pada pintu utama berbentuk bangunan kubus dengan ukuran tinggi, panjang dan lebar empat meter. Pintunya dari kaca yang bisa bergeser sendiri saat ada orang yang akan masuk atau keluar. Pintu itu menggunakan sensor tubuh manusia. Di ruangan ini tidak ada lukisan sama sekali. Namun dindingnya semua terpasang teracota, sebuah keramik dari tanah liat. Teracota itu berbentuk persegi yang pada bagian depannya terdapat pahatan yang saling sambung menyambung dengan kotak-kotak yang lain, dan pahatan itu membentuk sebuah relief dinding. Relief dinding itu wujudnya berupa gambaran kehidupan seni dan budaya bangsa Indonesia, mulai dari Sabang sampai Merauke. Ada relief yang menggambarkan rumah adat Minangkabau dengan aktivitas masyarakatnya yang sedang mementaskan tari piring, ada relief yang menggambarkan rumah joglo yang diramaikan dengan tarian gambyong, ada yang berupa rumah adat musaliki yang terlihat ada orang sedang memainkan sasando, hingga ada rumah honai yang dihuni oleh Suku Dani dengan latar masyarakat yang melakukan tari perang. Teracota itu menggambarkan kebhinnekaan bangsa Indonesia yang sangat beraneka ragam. Di ruang masuk galeri ini, Yudi ingin mengenalkan Indonesia kepada dunia.


    Dari ruang kubus, terdapat ruang berbentuk tabung besar. Di ruang ini sudah ada lukisan. Beberapa lukisan tergantung pada dinding tabung, bahkan juga menempel di langit-langit tabung. Yudi sengaja menaruh lukisan teman-temannya. Tentu untuk menghormati teman Yudi yang sudah berdedikasi menyumbangkan lukisannya untuk mengisi galeri. Lukisan yang terpajang itu antara lain lukisan dari pelukis wanita Ana dan Imah, serta lukisan Pak Prof. Tentu Yudi sangat menghargai dan menghormati mereka. Lukisan ini tidak dijual. Makanya tidak ada tulisan harganya. Tetapi masuk dalam katalog lukisan di Yudi's Gallery.


    Dari dalam ruang tabung ini, ada dua lubang segi tiga, di sisi kanan dan kiri. Kedua lubang dengan pintu segitiga ini merupakan pintu masuk ke ruang galeri yang berisi dengan berbagai lukisan yang dijual. Di sisi kiri, ruang yang sangat besar, dengan bentuk lengkak-lengkok, berisi lukisan-lukisan teman-teman Yudi. Jumlahnya ada ratusan buah. Tentu dengan berbagai aliran dan bentuk lukisan. Sedangkan yang berada di sebelah kanan berisi lukisan khusus karya-karya Yudi. Semuanya dijual. Pada lukisan-lukisan itu sudah ditempeli judul lukisan, nama pelukis dan harga.


    Dari ruang lukisan di lantai pertama, terdapat tangga naik. Tangga itu menghantarkan para pengunjung sampai di ruang pameran yang sangat luas. Dinding-dinding sketsel menjadi penyekat utama dan sebagai tempat memajang lukisan. Jumlahnya sangat banyak. Ada ratusan lukisan. Ibaratnya seperti museum, ruang pameran ini menampilkan karya-karya seni rupa dari berbagai daerah. Tentu semua yang terpajang di situ adalah milik teman Yudi. Ya, Yudi memang ingin membantu teman-temannya untuk berekspresi.

__ADS_1


    Dari ruang pameran ini, pada bagian belakang ada pintu berbentuk lingkaran. Pintu ini menuju pada sebuah ruang. Ruang khusus lukisan kenangan Yudi. Pada salah satu dinding dipasang lukisan yang menggambarkan kisahnya dengan Yuna. Lukisan sangat besar yang pernah dipersembahkan Yudi kepada Yuna. Lukisan ini sempat di pasang di kamar Yudi. Namun kini ia pasang pada galerinya. Demikian juga pada dinding yang lain, Yudi memasang kembali lukisan-lukisan Rini yang sempat dibawa ke Jakarta, dan saat Rini harus pindah ke Jogja, lukisan ini dibawa kembali ke Jogja. Lukisan itu kini terpasang di galeri khusus. Selain lukisan-lukisan itu, Yudi juga memajang lukisan dirinya bersama Rini dan Yuni, lukisan keluarga.


    Sedangkan di lantai tiga, rencananya akan dipakai untuk pameran umum. Sehingga hanya ada sketsel-sketsel yang berada di sana. Nanti jika ada pameran dari para pelukis, tentu yang bukan teman-teman Yudi, tempat pamerannya berada di lantai tiga.


    Sebenarnya di lantai pertama masih ada ruang-ruang lain. Pada bagian belakang sisi kanan, ada ruangan yang kosong, berisi meja dan kursi. Ruangan ini oleh Yudi disediakan untuk ngobrol atau berdiskusi masalah kesenian, terutama seni rupa. Tentu Pak Prof akan senang untuk ngobrol di ruang itu bersama para seniman lainnya. Sedangkan di belakang bagian sisi kiri, ada ruang yang terbuka yang cukup luas. Belakangnya menghadap kebun kosong dan alam terbuka. Dari ruang itu terdapat jalan setapak yang terbuat dari baru koral bulat-bulat dengan berbagai hiasan. Jalan setapak itu menghubungkan ruang terbuka belakang galeri menuju rumah Rini, bagian sisi selatan halaman parkir Taman Anggrek. Bisa dikatakan gandeng. Tentu untuk mobilitas Yudi pulang pergi. Model ruangnya sangat unik, ada bentukan bergelombang pada atap dan dindingnya, seperti ombak laut. Di ruang itu terdapat peralatan lukis. Tempat itu digunakan oleh Yudi untuk melukis.


    Yayan sangat bangga dengan kreativitas Yudi. Tentu orang yang demikian ini memiliki kecerdasan sangat luar biasa. Tentu dengan kedekatan antara Yayan dan Yudi yang kini tinggal bersama dalam satu atap, Yayan selalu berkonsultasi dan minta pendapat untuk memajukan usahanya. Demikian pula sebaliknya, Yudi sering meminta pendapat kepada Yayan, terkait bagaimana cara untuk mempromosikan galerinya ke luar negeri.


    Dari saling diskusi itu, akhirnya Silvy dan Yayan membuat sebuah website tentang Yudi's Gallery dan Taman Anggrek Nirwana. Situs ini memuat berbagai informasi terkait Yudi's Gallery maupun Taman Anggrek Nirwana, seperti lukisan-lukisan yang ada dalam galeri itu serta daftar harganya. Termasuk jadwal pameran yang diadakan oleh Yudi's Gallery.


    Rini yang asyik memomong Yuni, senantiasa tersenyum menyaksikan anak maupun suaminya yang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Bahkan saat melihat para remaja dan ibu-ibu yang ikut pelatihan menanam anggrek, yang dilatih oleh Yayan dan Silvy, ia senang menyaksikan jiwa sosial anak-anaknya. Tentu para remaja dan ibu-ibu itu senang, karena punya harapan nanti kalau anggreknya sudah besar hingga berbunga, mereka akan dapat uang dari hasil penjualannya di Taman Anggrek Nirwana. Ini namanya simbiosis mutualisma.


    Apalagi saat Rini yang menggendong Yuni, menengok suaminya yang asyik melukis. Sungguh suatu kebahagiaan yang tidak pernah ia rasakan saat bersama Hamdan yang selalu kesepian setiap hari. Kini, kapan pun Rini mau menemui suaminya, atau sebaliknya, ketika Yudi ingin mencium Yuni serta ibunya yang menggendong, setiap saat, kapanpun bisa dilakukannya.


    Setiap kali Rini menengok suaminya di galeri, pasti ia menyuguhkan senyumnya yang menawan. Lantas seperti biasa, Rini duduk di ayunan petarangan yang terbuat dari anyaman rotan yang tergantung di sudut ruang itu. Dan tanpa disadari, Yudi sudah melukis istrinya bersama bayinya yang sedang berayun di tempat ayunan petarangan itu.

__ADS_1


    "Sayang .... Coba lihat lukisan Papah ...." kata Yudi pada Rini yang masih berayun.


    Rini bergegas turun dari ayunan itu. Lantas sambil membopong Yuni, ia menghampiri suaminya yang masih menghadapi kanvas. Begitu kagetnya Rini saat sampai di tempat suaminya dan menyaksikan lukisannya.


    "Hah ...?! Ya ampun ..., Papah .... Ternyata Papah melukis kami, ya ...?!" kata Rini yang sangat terkesan dengan lukisan suaminya. Lukisan yang benar-banar sensasional. Lukisan yang nyata. Benar-benar realis.


    "Bagaimana ...?" tanya Yudi pada istrinya, tentu sambil mencium pipi Yuni yang ada dalam gendongan ibunya.


    "Yang ini jangan di jual ya, Pah ...." tentu Rini merajuk agar lukisannya menjadi koleksi pribadi.


    "Untuk mengisi galeri. Biar koleksiku komplit ...." kata Yudi yang tentu sambil tersenyum.


    Ya, lukisan ibu membopong bayinya dalam sebuah ayunan. Sungguh sangat terkesan indah dan alami. Yudi melukisnya sangat detail. Hingga pernik-pernik sampai lubang-lubang dan bentuk anyaman rotan itu benar-benar jelas terlukis. Jika lukisan ini dijual, pasti harganya sangat mahal.


    Yudi's Gallery akan memamerkan lukisan-lukisan istimewa. Yang tentu koleksi itu semua akan di-upload oleh Silvy dan Yayan pada laman Yudi's Gallery. Pasti dunia akan mencatat Yudi's Gallery sebagai ArtStation yang pasti menjadi tujuan para seniman lukis dunia.

__ADS_1


__ADS_2