
Rini betul-betul suntuk. Merasa sangat kesepian. Entah apa penyebabnya. Padahal dulu-dulu tidak pernah merasakan seperti ini. Walau ditinggal pergi bekerja oleh suaminya, atau ditinggal ke luar kota beberapa hari, Rini tidak pernah mengeluh, Rini tidak pernah protes, dan Rini tidak pernah merasa kesepian. Biasa-biasa saja. Tetapi saat ini, baru saja suaminya berangkat pergi ke Jerman, dirinya sudah merasa sunyi. Sepi.
Rini mengangkat HP, ingin menelepon Bagas. Tentu untuk menanyakan kondisi Yudi.
"Halo, Mas Bagas .... Keadaan Yudi bagaimana?" tanya Rini saat menelepon Bagas.
"Sebentar, Ibu Rini .... Ini saya sedang menyetir .... Jalannya naik turun belak-belok." kata Bagas yang menerima telepon dari Rini.
"Dari Rini, ya .... Sini teleponnya, biar saya yang terima panggilan." kata Yuna yang duduk di samping Bagas, lantas meminta HP Bagas.
"Iya, Mbak Yuna .... " kata Bagas pasrah menyerahkan HP-nya.
"Halo Rini .... Ini saya, Yuna .... Yu ..., na ...." kata Yuna di telepon.
"Halo, Yuna .... Bagaimana keadaan Yudi ...? Apakah baik-baik saja?" tanya Rini dalam telepon.
"Kenapa yang ditanyakan Yudi dahulu ..., tidak Yuna dahulu? Kan yang menerima telepon Yuna ...." sahut Yuna yang menjawab pertanyaan Rini di telepon.
Sontak, Yudi yang merebah di jok tengah langsung merah telinganya saat mendengar suara Yuna yang ketus itu. Pasti Yuna cemburu. Tetapi Yudi diam saja, kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu. Apalagi ia masih merasakan sakit dapa pinggang dan seluruh tubuhnya.
Sebenarnya Yuna tidak cemburu. Tetapi adab di Jepang, orang bertelepon akan menanyakan kabar dari orang yang menerima telepon lebih dahulu. Baru setelah itu menyampaikan maksud yang diinginkan. Ibarat ketemu, menyapa lebih dulu kepada orang yang pertama kali ditemui.
__ADS_1
Ya, itu karena kebiasaan. Mungkin bangsa kita belum terbiasa menanyakan kabar dari orang yang kita temui atau menerima panggilan telepon kita. Bahkan ucapan terima kasih saja, bangsa kita masih belum terbiasa. Yang sangat terbiasa pertama kali disampaikan oleh orang-orang kita adalah menanyakan haknya, misalnya saja; mana bagian saya, kapan saya diberi, syukurannya mana, saya kok tidak dikasih, uang dengarnya mana dan lain sebagainya. Jadi, menampakkan kalau masih terlalu butuh, alias serakah.
Tentu, Yuna yang sudah terbiasa dengan adat istiadat di Jepang, rasa menghargai, rasa menghormati serta mengucapkan terima kasih, adalah karakter dasar sejak anak masih kecil menerima nilai-nilai sosial. Bukan seperti orang-orang tua di Indonesia yang menanamkan nilai sosial dengan kata-kata penuh harapan; besok kamu harus jadi orang hebat yang kaya raya. Akhirnya, anak-anaknya berusaha menjadi kaya raya dengan menghalalkan berbagai cara, dan yang paling gampang adalah korupsi. Sungguh disayangkan, bangsa Indonesia yang berfalsafah Pancasila, tetapi karakternya sangat menyimpang jauh dari nilai-nilai Pancasila. Meminta dan menerima yang bukan haknya, adalah kebiasaan yang hampir dilakukan oleh setiap orang.
Rini kaget dengan kata-kata yang diucapkan Yuna saat menerima telepon. Baru kali ini ia ditegur orang. Rini tidak meminta maaf terlebih dahulu pada Yuna, tetapi justru mematikan panggilan telepon. Ini juga kebiasaan yang tidak baik. Tidak mau meminta maaf, tetapi justru menghindar dari orang yang disalahi.
"Ah, ada apa telepon Rini malah dimatikan?" kata Yuna yang langsung memberikan HP Bagas kepada pemiliknya.
Yudi tetap diam. Tidak mau mengomentari kata-kata Yuna. Khawatir nanti akan terjadi salah tafsir, yang bisa berakibat buruk. Padahal Yudi tahu, jika Rini tidak berkenan menerima telepon dari Yuna. Tentu merasa Yuna adalah pesaingnya.
"Mungkin tidak ada sinyal, Mbak Yuna .... Maklum ini kita sedang berada di daerah yang tidak ada pemancar internet." kata Bagas memberi alasan.
"Begitu, ya ...?!" sahut Yuna.
"Oo ..., begitu ya ...." kata Yuna yang percaya dengan penjelasan Bagas.
Yudi yang tergeletak di jok tengah, tersenyum mendengar penjelasan Bagas. Dalam hatinya mengatakan, "Hebat sekali bocah ini."
Ya, saat itu memang Bagas sedang membawa pulang Yudi dan Yuna dari rumah sakit. Dari Gunung Kidul menuju Bantul, medannya naik turun, berkelok-kelok, serta melintasi alas jati yang cukup luas. Bahkan di beberapa tempat, sama sekali tidak ditemui adanya perkampungan. Yang mereka lihat hanyalah hutan jati. Kalau malam melintas daerah ini, tentu sangat menakutkan. Sehingga layak kalau pengusaha komunikasi tidak medirikan pemancar di daerah itu.
Berbeda dengan Jepang, negara kecil dengan teknologi yang sangat canggih, internet ada di mana-mana. Setiap warganya bisa mengakses internet secara bebas dari mana saja. Bahkan di tempat-tempat tertentu, seperti perpustakaan, taman kota, atau tempat-tempat strategis lainnya, pemerintah memberi layanan internet tanpa bayar alias gratis. Jadi .... Sangat jauh dengan teknologi yang ada di Indonesia.
__ADS_1
Sementara itu, di Jakarta, Rini yang duduk di ruang tamu, setelah di tegur oleh Yuna seperti itu, langsung mematikan teleponnya. Ia merasa sudah salah, sudah keliru, sudah tidak menganggap Yuna. Maka begitu mendapat teguran dari Yuna, ia merasa malu dan tidak pantas menanyakan tentang Yudi kepada Yuna. Saat ini, Yudi adalah milik Yuna. Maka apapun kondisinya Yudi, yang boleh tahu dan wajib tahu adalah Yuna. Bukan Rini. Saat ini, Rini hanyalah sahabat Yudi, bukan siapa-siapanya Yudi, tidak pantas untuk tahu lebih banyak tentang Yudi.
Namun saat ditegur seperti itu oleh Yuna, Rini justru protes. Hati Rini berontak, mengapa Yuna melarang dirinya saat menanyakan Yudi? Apa Rini tidak boleh tahu tentang Yudi? Apa haknya Yuna melarang Rini menanyakan keadaan Yudi?
Rini menjadi jengkel menerima kata-kata Yuna yang seakan tidak mengijinkan dirinya mengetahui keadaan Yudi. Padahal Rini benar-benar ingin tahu kondisi Yudi yang sebenarnya seperti apa.
"Yuna itu perempuan payah. Masak cuman ingin mengetahui kondisi Yudi saja harus melalui bertanya dengan dirinya. Apa yang boleh mencintai Yudi itu hanya Yuna ...? Apa Rini tidak boleh mencintai Yudi? Dasar perawan tuwa tidak tahu diuntung ...." begitu gerutu Rini yang sangat jengkel kepada Yuna.
"Hai, Yuna .... Kalau kamu mau tahu, Yudi itu sudah tergila-gila dengan Rini sejak SMA .... Yudi itu tidak mau menikah gara-gara Rini .... Bahkan Yudi itu sudah mengatakan, kalau ia hanya ingin menikah dengan Rini .... Bahkan juga, Yudi pernah menyampaikan kepada ibunya, orang tuanya, kalau yang akan menjadi permaisuri di istananya itu wanita yang bernama Rini .... Ya saya ini, Yuna .... Saya inilah Rini yang akan menjadi permaisuri di istana Yudi." Rini masih saja menggerutu.
"Kamu jangan mencemburui saya ya, Yuna .... Yang seharusnya cemburu itu saya. Rini yang boleh cemburu kalau Yudi dekat dengan wanita lain. Dan kalau Yudi membela kamu, saya akan bongkar semua rahasia Yudi. Saya akan katakan semua tentang Yudi, bahwa Yudi jatuh cinta pada Rini, Yudi hanya mau menikah dengan Rini, bahkan Yudi sudah berjanji pada Rini untuk mencintai selamanya. Jadi, kamu jangan ge er, Yuna .... Kamu itu hanya tempat pelampiasan, dirimu itu hanya untuk menutupi cintanya Yudi kepada Rini, biar Yudi tidak ketahuan kalau tergila-gila pada Rini. Camkan kata-kata saya itu, Yuna ...." Rini terus menggerutu.
"Lihat saja nanti kalau saya sudah datang ke Jogja, lantas Rini memeluk Yudi, Rini mengelus-elus Yudi, pasti Yudi akan bilang 'Hanya Rini, wanita yang aku cintai'. Kamu baru tahu rasa, Yuna .... Dirimu akan menangis kehilangan Yudi." lagi-lagi, Rini menggerutu, memarahi Yuna.
Ya, semenjak Rini dimarahi oleh Hamdan, suaminya, Rini tidak instropeksi, tetapi justru merasa suaminya telah berubah. Rini justru menganggap Hamdan sudah tidak sayang lagi pada Rini. Apalagi sesaat Hamdan mau berangkat ke luar negeri, suaminya banyak menasehati, dan juga melarang Rini untuk bepergian, seakan Rini mearasa mulai dikekang. Rini diatur oleh suaminya. Sementara, suaminya bebas ke mana saja tanpa ada yang melarang.
Rini semakin jengkel, ketika suaminya mengatakan, "Tidak usah mikirin Yudi. Yudi sudah ada yang ngurusi." Itu betul-betul menyalitkan hati Rini. Tetapi kata-kata suaminya itu, justru membuat Rini semakin rindu dengan Yudi.
Terbersit di pikiran Rini, apakah suaminya sudah mengetahui rahasia antara dirinya dengan Yudi? Apakah Hamdan mencurigai hubungan Rini dengan Yudi? Padahal Rini sudah berusaha mendekatkan Yudi dengan Yuna agar suaminya tidak mengetahui hubungannya dengan Yudi. Agar rahasia percintaannya dengan Yudi tertutup oleh Yuna. Tetapi kini, seakan suaminya sudah mencium percintaan Rini dan Yudi. Benarkah demikian?
Rini yang apa-apa diingatkan oleh suaminya, apa-apa dinasehati oleh suaminya, tidak sadar akan kasih sayang yang sudah diberikan oleh suaminya, tetapi justru mencurigai jika suaminya akan mengekang dirinya, agar Rini takut dan selalu menurut. Sementara itu, Rini justru curiga dengan suaminya. Seperti yang pernah ia dengar di televisi, laki-laki yang istrinya sudah mulai menua, dia akan mencari pengganti istrinya dengan wanita idaman lain yang lebih muda dan lebih menggairahkan. Apalagi kalau laki-laki itu berduit banyak, mudah untuk mencari wanita yang bisa mendampingi hidupnya. Dan kini, Hamdan, suaminya, pergi ke luar negeri mengajak dua karyawannya, keduanya adalah wanita muda.
__ADS_1
Pantas saja, malam-malam sebelum berangkat ke Jerman, suaminya tidak menyentuh tubuh Rini sama sekali. Padahal biasanya kalau mau bepergian ke luar kota saja, semalam sebelumnya suaminya pasti minta jatah. Tapi kali ini, hampa. Tentu ada pikiran negatif yang bergelanyut di hati Rini, apakah suaminya ada main? Benarkah karyawati-karyawati yang diajak itu wanita muda yang diharapkan bisa meladeni suaminya?
Benarkah Hamdan seperti itu?