KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 144: ANAKKU SUDAH BEKERJA


__ADS_3

    Setelah puas menyaksikan keindahan taman, kemegahan bangunan, serta pesona alam raya dari puncak bukit Taman Awang-awang, Yudi dan Yuna mengajak Pak Kadus Kampung Karang bersama istri dan anaknya yang masih kecil, masuk ke gedung piramid, yaitu wahana permainan Taman Awang-awang.


    "Ini wahana yang paling disenangi anak-anak. Tidak pernah sepi dari pengunjung. Anak-anak selalu berebut bermain." kata Yudi.


    "Walah ..., lha kok ramainya tidak karuan ...." decak Pak Kadus.


    "Putranya Bapak, Ibu ..., dia bekerja di sini. Masih latihan. Kemarin kami mencoba menawarkan beberapa pekerjaan, dia senang di sini. Itu anaknya ..., silakan temui putra bapak ibu." kata Yudi sambil menunjukkan anak Pak Kadus yang masih membantu anak yang bermain sodamanda.


    Begitu melihat anak laki-lakinya, istri Pak Kadus langsung berlari menemui anaknya.


    "Kenang .... Iki Simbok, Nang ...." teriak ibunya yang langsung memeluk anaknya. Tentu ibunya kangen, walau baru seminggu berpisah. Maklum orang desa yang punya prinsip 'mangan ora mangan asal kumpul', maka begitu ditinggal kerja anaknya, kangennya bukan kepalang.


    Si kenang yang dipeluk ibunya, kaget.


    "Lhoh, kok Simbok ada di sini? Sama siapa, Mbok?" tanya Kenang yang kaget.


    "Itu, Bapak dan adikmu ...." jawab ibunya sambil menunjukkan bapak dan adiknya.


    "Lha kok kemari ...? Pada piknik, ya?" tanya anaknya.


    "Diajak Den Mas Yudi sama Den Ayu Yuna ...." jawab ibunya.


    "Kapan?" tanya anaknya.


    "Tadi malam .... Saya dan Bapak sama adikmu tidur di rumah Den Mas Yudi .... Rumahnya bagus banget, seperti istana." kata ibunya.


    "Iya, saya sudah tahu. Obyek wisata ini juga punyanya Den Mas Yudi. Saya dikasih tahu teman-teman yang bekerja di sini. Dia orang kaya, Mbok ...." kata si kenang yang memberi tahu ibunya.


    "Tapi Den Mas Yudi itu orangnya baik, tidak sombong, murah hati, suka memberi .... Pokoknya dia orang baik, kamu harus menurut kalau kerja di sini." kata ibunya.


    "Iya, Mbok ...." jawab si kenang.


    "We ..., we ..., we .... Kenang sudah kerja .... Bagaimana, betah kerja di sini?" tanya bapaknya yang sudah menemui si kenang.


    "Alhamdulillah, betah, Pak ...." jawab anaknya.


    "Mas, aku diajari main ini ...." kata adiknya yang masih kecil yang sudah memeluk lengan kakaknya.


    "Halah, ini mainan sodamanda seperti di kampung kita, yang kamu biasa main sama teman-teman kamu itu, kok ...." jawab kakaknya.


    "Caranya main bagaimana, Mas?" tanya adiknya lagi.


    "Masukkan koin di sini, nanti musik dan lampunya akan menyala. Kotakan yang lampunya nyala kamu lompati, sesuai gambar telapak kaki yang keluar. Kalau gambar telapak kakinya yang keluar hanya satu, berarti kaki satu yang menginjak lampu menyala itu. Tapi kalau gambar telapak kaki yang keluar dua, maka kamu menginjak dengan dua kaki secara bersamaan. Sama kan dengan mainan kamu dengan teman-temanmu." kakaknya yang sudah bekerja di tempat itu, bisa menjelaskan kepada adiknya. Memang seperti itulah kerja si kenang di situ, menjelaskan dan membantu kepada para pengunjung.


    "Aku coba bermain ya, Mas ...." kata adiknya yang tentu ingin mencoba.


    "Kamu beli koin dulu, di sana itu ...." sahut kakaknya yang menunjukkan tempat pembelian koin mainan.


    "Tidak usah beli ..., pakai ini saja ...." kata Yuna yang langsung memberikan lima buah koin kepada si kecil anak Pak Kadus itu.


    "Terima kasih, Den Ayu ...." kata istri Pak Kadus, tentu sambil mengajari anaknya yang masih duduk di kelas dua SD inpres itu.


    "Kembali kasih, Ibu ...." kata Yuna.

__ADS_1


    Akhirnya anak perempuan yang masih kecil itu diajari bermain sodamanda digital, tentu yang mengajari kakaknya sendiri. Dia senang, walau di kampungnya ia sering bermain sodamanda dengan teman-temannya, tetapi itu hanya dari tanah pasir yang diberi garis-garis, lalu melompat-lompat. Tetapi di gedung piramid ini, permainannya adalah digital. Bisa keluar cahaya dan musiknya. Tentu ini pengalaman baru yang sangat menyenangkan bagi anak kampung yang jauh dari modernisasi.


    Kakaknya memberi aba-aba pada adiknya yang melompat. Sambil berteriak menunjukkan gambar telapak kaki yang harus segera diinjak.


    "Ayo lompat .... Injak gambar kaki ini .... Lompat lagi .... Injak yang ini ...." begitu kata kakaknya mengajari.


    Adiknya mengikuti instruksi kakaknya. Meloncat bergantian, menginjak gambar telapak kaki yang menyala. Dan akhirnya .... "Horeee .....Plok ..., plok ..., plok .... Kamu menang ...." terdengar sorak dan tepuk tangan dari mesin permainan itu, dan mengatakan jika yang bermain menang.


    Betapa girangnya anak kecil itu, yang langsung memeluk kakaknya yang sudah mengajari. Selanjutnya, ia minta diajak kakaknya untuk bermain yang lain.


    Hari itu, kakak dan adik, bermain bersama. Senang dan gembira. Tentu, ibu dan bapaknya juga senang. Senang melihat gadis kecilnya gembira. Senang melihat anak remajanya sudah bekerja.


    Yudi dan Yuna, mengajak Pak Kadus dan istrinya itu keluar dari gedung piramid. Lantas berpindah menuju food hall. Tentu untuk mengajak minum dan makan di ruang semi terbuka yang menjajakan aneka kuliner itu.


    "Walah ..., ini restoran ya, Den ...?" tanya Pak Kadus.


    "Iya, Pak .... kita minum-minum dahulu .... Untuk menghilangkan haus. Pak Kadus, Ibu ..., mau minum apa?" kata Yudi yang sudah duduk berempat saling berhadapan.


    Baru saja mereka duduk, ada gadis remaja yang datang menghampiri, sambil menyerahkan daftar menu makanan.


    "Mau pesan apa, Bapak ..., Ibu ...." tanya pramusaji itu.


    "Saya jeruk hangat, Mbak .... Makannya lontong pecel, tapi lontongnya sedikit saja." kata Yudi yang langsung dicatat oleh pramu saji itu.


    "Saya pesan minum jeruk hangat, sama bakmi jawa digoreng." pesan Yuna.


    "Bapak mau pesan apa?" tanya Yudi pada Pak Kadus.


    "Teh hangat sama nasi pecel ...." jawab Pak Kadus.


    "Tidak mencoba nasi gudeg?" Yudi menawarkan.


    "Tidak, Den .... Lha di rumah setiap hari masak jangan gori, kok ...." sahut sang ibu itu.


    "Saya ulangi pesanannya, jeruk hangat dua, teh hangat dua, lontong pecel satu, bakmi jawa goreng satu, nasi pecel dua ...." kata mbak pramu saji mengulangi pesanan.


    "Mbak, tolong ditambahi mendoan sama gimbal urang, masing-masing lima. Ini uangnya, tolong bayarkan." kata Yudi yang menambahi pesanan.


    "Baik, Pak .... Terima kasih. Mohon tunggu sebentar." kata pramusaji itu.


    Lantas pramusaji itu bergegas memberikan daftar pesanan, dan membayarkan di bagian kasir.


    "Lha, genduk sama kenang, gimana ini ....?" tanya Pak Kadus yang mencari anaknya.


    "Tidak usah risau, nanti dia ada makan sendiri .... Jangan khawatir, Pak .... Biar anak-anak bersenang-senang dahulu." jawab Yudi menenangkan Pak Kadus.


    "Oh ..., nggih, Den Mas ...." kata Pak Kadus.


    Sebentar saja, hidangan yang dipesan sudah datang. Seorang pramusaji laki-laki datang membawa makanan. Yang datang pertama adalah pesanan minuman. Kemudian datang lagi pramusaji yang lainnya, membawa baki  berisi dua piring nasi pecel dan sepiring lontong pecel. Selanjutnya datang lagi, pramusaji yang membawa baki berisi sepiring mendoan dan sepiring gimbal urang yang masih panas, serta bakmi jowo goreng yang masih mengepul asapnya.


    "Silakan menikmati hidangan kami ...." kata sang pramusaji yang mempersilakan para pelanggannya menikmati makanannya.


    "Terima kasih, Mas .... Monggo, Pak Kadus ..., Ibu .... Silakan didahar." kata Yudi.

__ADS_1


    Empat orang itu menikmati hidangan yang yang sudah tersaji di atas meja. Tentu sambil menikmati keindahan Laut Selatan.


    "Maaf, Den Mas, kalau boleh tanya ..., tempat ini kan milik Den Mas Yudi .... Kok, tadi memesan makanan Den Mas Yudi masih membayar?" tanya Pak Kadus yang tentu bingung.


    "Ini manajemen modern, Pak Kadus .... Walau obyek wisata ini milik saya, tetapi yang mengelola orang lain. Bukan saya sendirian. Saya malah tidak tahu apa-apa, Pak Kadus. Makanya, walau saya makan di sini, ya harus tetap membayar. Karena nanti ada hitung-hitungannya, makanan yang terjual berapa, dapat uangnya berapa. Kalau ada yang tidak bayar satu porsi saja, akan ketahuan, Pak .... Lhah, kalau tidak ada hitung-hitungan, tahu-tahu nanti kita bangkrut, tidak bisa membayar karyawan. Yang jualan di sini, semua warga kami. Mereka tidak sewa, tidak beli. Pokoknya saya meminta diatur yang rapi, bersih dan menyenangkan. Karyawannya, semua juga warga kampung sini. Yang dari luar kampung hanya putranya Bapak, itu karena saya sudah menganggap Bapak sebagai saudara saya. Jadi, ini semuanya untuk warga kampung, nanti hasilnya juga untuk kampung. Saya tidak mau cawe-cawe, Pak .... Tapi pengelolaannya harus jelas. Begitulah aturannya, Pak." jelas Yudi.


    "Ooo ..., begitu ya, Den .... Terima kasih sudah memberi kesempatan kepada anak saya untuk bekerja di sini. Satu hal lagi, Den Mas Yudi ..., saya itu heran, waktu di rumah Den Mas Yudi, saya melihat kok Den Ayu Yuna tidurnya di kamar sendiri, tidak sekamar dengan Den Mas Yudi? Maaf lho, Den ...." kata Pak Kadus lagi.


    "Hehehe .... Kami baru bertunangan, Pak ..., ya sudah lama, sih .... Tapi pekerjaan Yuna belum selesai, masih sedikit lagi. Untuk menikah, kami tidak mau terbebani pekerjaan. Bulan depan, awal Oktober kami baru mau menikah. Masih kurang sebulan lagi. Mohon doa restunya ya, Pak ...." jawab Yudi.


    "Tapi kan sudah lama bertunangan, dan sudah direstui .... Malah tinggalnya juga sudah satu rumah ...?! Kasihan tidur sendiri-sendiri, Den ...." sahut Pak Kadus.


    "Sejak awal tahun, Yuna sudah tinggal di sini, Pak .... Mulai bulan Januari. Dia kan bekerja di Kampung Nirwana. Daripada kontrak rumah, mendingan menumpang di rumah saya. Lhah, kalau kamarnya, ya memang dari pertama datang ke sini, kamar yang dipakai Yuna ya, itu .... Belum pindah. Tapi kalau disuruh tidur di kamar saya, ya besok, Pak .... Nunggu setelah menikah. Kami belum menikah, tidak boleh tidur satu kamar. Bisa berbahaya, Pak ...." jelas Yudi pada Pak Kadus.


    Tentu Pak Kadus dan istrinya keheranan. Sungguh baik orang ini. Tinggal satu rumah, tidak berani macam-macam. Padahal sudah lebih dari delapan bulan bersama. Berarti dua orang ini memang benar-benar orang baik. Sungguh luar biasa. Kok bisa, ya ...?


    "Pak Kadus ..., apakah Bapak punya niat untuk memajukan Kampung Karang? Setidaknya ekonomi masyarakat bisa bertambah." tanya Yudi pada Pak Kadus.


    "Ya, iya lah, Den .... Saya iri dengan Kampung Nirwana ini." jawab Pak Kadus.


    "Kalau begitu, biarlah putranya magang di sini. Nanti kalau sudah pandai mengelola, biar putranya yang menghidupkan perekonomian di Kampung Karang. Orang belajar, harus melihat luar, Pak .... Jangan seperti katak dalam tempurung, tidak bisa melihat keindahan dunia luar. Akhirnya, ya kampungnya tidak maju .... Butuh waktu lama untuk melakukan perubahan, Pak .... Terutama memengaruhi pola pikir penduduknya. Itu yang sulit. Tetapi kalau putra Pak Kadus, nanti didukung oleh bapak dan ibunya, saya yakin pasti cepat." jelas Yudi.


    "Terima kasih, Den .... Minta tolong nanti kami dibantu untuk memajukan kampung kami." kata Pak Kades.


    "Tentu, Pak Kades .... Saya sudah punya utang nyawa pada masyarakat Kampung Karang, tidak mungkin kami melupakannya." kata Yudi yang tentu harus membalas budi baik warga Kampung Karang.


    "Nggih, Den .... Itu takdir dari Allah ...." sahut Pak Kadus.


    "Eh, Pak Kadus ..., kalau boleh tahu, bukit yang berbatasan dengan pantai di sisi barat Kampung Karang itu punya siapa, ya ...? Maksud saya bolehkah saya beli?" tanya Yudi yang akhirnya menanyakan bukit yang diinginkan Ana, teman pelukis.


    "Walah, Den ..., untuk apa? Itu tanah gege, tidak bertuan. Itu batu-batu padas dan karang, tidak bisa ditanami." jawab Pak Kadus.


    "Begini, Pak Kadus ..., kemarin teman-teman kepingin melukis dari puncak bukit itu, tapi takut kalau dimarahi yang punya. Makanya kalau diizinkan, kami akan membersihkan, untuk tempat melukis. Tapi saya lebih senang kalau bukit itu boleh saya beli, biar kami bisa menata secara legal, biar sah. Ini awal saya ingin memajukan Kampung Karang. Setidaknya, nanti ada teman-teman yang pesan makan. Kan ada pemasukan keuangan ...." kata Yudi menjelaskan pada Pak Kadus.


    "Nggih, Den Mas Yudi .... Kalau mau dipakai melukis dulu, monggo .... Tapi kalau mau dibeli, besok saya tak matur Pak Lurah dahulu ..., biar jelas posisinya dan kalau misalnya boleh, Pak Lurah minta harga berapa. Begitu, Den ...." jawab Pak Kadus.


    "Ya, Pak .... Terima kasih banyak sudah dibantu." sahut Yudi.


    "Bapak ...! Simbok ...!" anak perempuan Pak Kadus sudah datang menyusul orang tuanya di food hall. Tentu diantar oleh kakaknya.


    "Wee ..., anak wedok .... Makan ya, Nduk ...." kata ibunya yang langsung memeluk dan mencium anak kecilnya.


    "Iya .... Aku haus ...." sahut anak itu polos.


    Kakaknya langsung mengambilkan kursi, untuk duduk adiknya, yang diletakkan diantara ibu dan bapaknya. Yudi langsung memanggil pramusaji, untuk mencantat pesanan anak Pak Kadus yang baru datang.


    "Nang ..., kamu makan sekalian, ya ...." kata bapaknya pada anak laki-laki itu.


    "Tidak, Pak .... Nanti kami dapat jatah makan." sahut anaknya.


    "Kalau mau makan di sini tidak apa-apa ...." sahut Yudi.


    "Terima kasih, Pak .... Saya harus segera kembali kerja." jawab anak itu yang langsung meninggalkan tempat itu dan kembali ke gedung piramid. Tentu untuk bekerja.

__ADS_1


    "Anak itu punya semangat kerja yang tinggi, Pak Kadus .... Dia rajin. Saya sudah meminta Bagas, agar anak ini diajari cara wirausaha, terutama dalam mengelola wisata. Nanti biar dikembangkan di kampungnya." kata Yudi menjelaskan kerja anaknya kepada Pak Kadus.


    "Terima kasih, Den Mas .... Saya senang anak saya bisa kerja .... Yang penting dia dapat pekerjaan, Den Mas .... Tidak nganggur ...." kata Pak Kadus, yang tentu senang melihat anaknya semangat dalam bekerja.


__ADS_2