
Meski Hamdan sudah melarang Rini untuk bepergian selama suaminya berada di luar negeri, namun karena emosi jiwa Rini yang tidak bisa terkendalikan, Rini tetap akan berangkat ke Jogja, menemui Yudi. Maka pagi itu, Rini naik taksi ke Bandara Internasional Sukarno Hata, melakukan penerbangan ke Jogja. Berangkat seorang diri, harus bisa bisa bertemu Yudi secara langsung, untuk mengetahui keadaan Yudi yang sebenarnya.
Penerbangan sekitar satu jam, Rini sudah sampai di Bandara Internasional Yogyakarta. Dengan menyeret tas koper kecil, Rini langsung memesan taksi, menuju ke rumah Yudi. Bukan ke Nirwana Homestay, tetapi langsung ke rumah Yudi. Dan turun di pintu belakang rumah Yudi. Rini lewat garasi belakang.
Pagi itu, sekitar jam sembilan, Yudi bersama Yuna, serta kedua orang tua Yudi, serta Bagas yang tetap setia menunggui Yudi, masih berkumpul di gazebo belakang. Yudi telentang tiduran, ditunggui oleh Simbok yang memijit-pijit kakinya, serta Yuna yang setia menemani kekasihnya. Sedangkan Bagas duduk di kursi yang berada dekat dengan Simbok, sedangkan bapaknya Yudi juga duduk di kursi yang dekat dengan kepala Yudi. Tentu sambil mengobrol macam-macam. Terutama menceritakan masalah nasib yang baru saja dialami Yudi dan Yuna.
Tiba-tiba saja, obrolan mereka terhenti, saat ada suara wanita masuk mengucap salam, "Selamat pagi, semuanya ...." Seorang wanita cantik sudah berada di pintu masuk ruang belakang, yang memang tidak ditutup.
Lima orang itu pada menoleh, "Rini ...?!" mereka mengucap hampir bersamaan.
"Ini Neng Rini, ya ...?" tanya Simbok yang sudah turun dari dipan gazebo.
"Iya, Simbok ...." sahut wanita yang baru datang itu, tentu dengan senyum manisnya. Lantas Rini menyalami Simbok, mencium tangannya dan memeluk Simbok.
"Walah, Ibu Rini, to .... Lha kok tidak ngabari kalau mau kemari?" kata Bagas yang juga ikut menyalami.
"Iya, Mas Bagas, tidak apa-apa ...." kata Rini.
"Sama siapa dari Jakarta ke Jogja ...?" tanya Simbok.
"Sendiri ..., Simbok ...." jawab Rini.
"Lhah, kok sendirian?" tanya Simbok lagi.
"Iya, Simbok .... Anak-anak kerja, Mas Hamdan sedang bertugas ke Jerman." jawab Rini.
Lantas Rini maju, menyalami bapaknya Yudi, dan tentu sambil mencium tangan.
Yuna turun dari tempat duduknya di gazebo, lantas menyalami Rini. Rini memeluk Yuna.
"Maafkan saya, Yuna ...." begitu kata Rini saat berpelukan dengan Yuna.
"Terima kasih, Rini ..., sudah datang menjenguk kami." sahut Yuna.
Lantas Rini berjongkok ke lantai, kepalanya tepat berada di hadapan Yudi yang berbaring miring di dipan. Ia menatap lekat laki-laki yang sengaja akan ia temui tersebut.
__ADS_1
"Yudi .... Kamu tidak kenapa-kenapa ...?!" kata Rini yang langsung meneteskan air mata. Tangan lembut itu mengusap wajah Yudi. Lantas Rini menangis sejadi-jadinya.
Simbok mendekati Rini. Lantas mengelus kepala Rini yang sedang menangis itu.
"Yudi tidak apa-apa, Neng Rini .... Yudi baik-baik saja .... Sudah ..., jangan menangis ...." kata Simbok yang menenangkan Rini. Lantas Rini dibangunkan, didudukkan dekat Yudi yang masih berbaring itu.
"Kamu tidak kenapa-kenapa, Yudi ...?" tanya Rini lagi pada Yudi. Tentu masih mengelus wajah Yudi.
"Saya tidak apa-apa, Rini. Syukur Yang Maha Kuasa masih menolong kami .... Sudah jangan menangis." kata Yudi.
Yuna yang jadi iba saat melihat Rini menangis, ia mendekati Rini, mencoba menenangkannya.
"Kami selamat, Rini .... Tidak apa-apa. Hanya luka biasa, sebentar nanti akan sembuh." kata Yuna sambil menepuk pundak Rini.
"Mis Yuna juga tidak apa-apa?!" tanya Rini setelah sadar, bahwa Yuna bersama Yudi saat jatuh.
"Saya sehat, Rini .... Tidak apa-apa. Lihat tubuh saya, hanya luka sedikit-sedikit, tetapi sekarang sudah sehat." kata Yuna sambil menunjukkan bekas luka pada tangannya.
"Syukurlah .... Terus terang saya sangat khawatir .... Waktu itu saya berkali-kali menelepon Yudi, tetapi tidak aktif. Demikian juga anak-anak saya, berkali-kali menelepon, tetap tidak aktif. Akhirnya saya minta tolong pada pengembang homestay, dia menelepon Bagas. Bagas juga tidak tahu. Kami menyusul ke Taman Awang-awang, Yayan melihat ada tulisan yang mengapung di lautan, lantas pada turun mencari, dan hanya menemukan sobekan bajumu, Yudi .... Mendengar berita yang menakutkan, hati saya hancur .... Saya menangis terus. Sebenarnya saya tidak mau pulang, ingin menunggu di sini sampai kamu ketemu, tetapi Mas Hamdan, suami saya harus pergi, saya harus pulang ke Jakarta. Makanya begitu tahu kalau Yudi sama Yuna sudah ketemu, saya ingin segera kemari, ingin tahu kondisinya." kata Rini.
"Tuhan sudah menyelamatkan kami, dan kami yakin itu." kata Yudi.
"Iya ..., Simbok sudah memberi kami jamu. Kami minum jamu buatan Simbok. Tubuh kami sehat. Jamu Simbok memang benar-benar hebat." kata Yuna lagi yang tentu sambil tersenyum merangkul ibunya Yudi, calon mertuanya.
Lagi-lagi, hati Rini terusik. Iri menyaksikan kemesraan gadis cantik asal Jepang itu dengan Simbok dari desa yang sudah tua itu. Mengapa Yuna bisa mesra seperti itu?
"Kamu malah tambah cantik, Yuna ...." kata Rini berbasa-basi memuji Yuna.
"Terima kasih, Rini .... Mungkin matahari di sini yang memberi infrared lebih kepada tubuh saya." jawab Yuna bersahaja.
"Yudi ..., tubuh kamu bagaimana?" tanya Rini kepada Yudi, yang tentu ingin tahu keadaan Yudi secara detail.
"Tidak apa-apa, Rini .... Hanya terluka sedikit di bagian punggung .... Ini tinggal pemulihan lukanya. Tapi sudah baik, kok." jawab Yudi.
"Hhhuhhf ...." Rini menghela napas panjang. Mungkin merasa lega, mungkin juga kecewa tidak bisa melihat lukanya.
__ADS_1
"Simbok sudah buatkan jamu bobok, yang dioles ke luka Yudi. Pasti cepat sembuh. Betul begitu, Simbok ...?!" kata Yuna memberitahu Rini.
"Iya .... Itu bobokan beras uyah kencur, obat tradisional warisan leluhur, bisa memulihkan luka dan mengendorkan otot-otot yang memar." jawab Simbok.
Tentu, Yuna orang Jepang yang sudah lebih dari enam bulan tinggal Jogja, sangat senang menyaksikan nilai-nilai tradisional masyarakat Jogja yang penuh mistik. Yuna mengenal hal-hal seperti itu di Kobe, tetapi tidak seperti di Jogja yang lebih mempertahankan nilai tradisi. Bahkan kalau ada apa-apa, pasti ada sesaji. Termasuk keyakinan pada arwah para leluhur, orang Jogja lebih percaya dengan hal-hal mistis semacam itu. Kalau di Kobe atau Jepang secara umum, hal itu sudah tidak begitu diyakini. Hanya beberapa orang tua yang masih percaya dengan dunia gaib.
Kini, setelah Yuna menyatu dengan masyarakat Jogja, kerinduan akan nilai-nilai tradisional yang pernah ia saksikan di masa kecilnya, ia menemukannya kembali. Tentu Yuna sangat menghormati tradisi-tradisi yang dianut oleh masyarakat Jogja.
Tetapi Rini, yang hidup di Jakarta, yang segala sesuatunya diukur dengan uang, dinilai dengan materi, tradisi-tradisi yang berbau sakral itu sudah tidak ada yang mengenal. Yang mereka paham hanyalah bekerja untuk mencari uang. Semuanya sibuk bekerja, semuanya sibuk mencari uang.
Maka, ketika Yuna sangat cocok dengan orang tuanya Yudi, itu adalah kesamaan saja. Apalagi ayah Yudi yang mantan seniman, tentu sangat senang dengan kehadiran Yuna yang juga memiliki jiwa seni. Bahkan ayahnya Yudi menganggap kalau Yuna bukan sekedar memiliki jiwa seni, tetapi Yuna dianggap sebagai seniman kontemporer, seniman modern.
Tetapi bagi Rini, apa yang bisa cocok dengan kedua orang tua Yudi? Seniman bukan, senang dengan nilai-nilai tradisional juga tidak. Bahkan minum jamu pahit saja Rini muntah-muntah. Lantas, apa yang bisa Rini banggakan untuk menyenangkan hati kedua orang tua Yudi?
Menyaksikan kemesraan Yuna dengan orang tua Yudi, tentu menambah Rini cemburu. Tetapi biarlah, toh dulu Yudi pernah mencintai Rini, hingga terbawa sampai menjadi perjaka tua.
"Neng Rini nanti tidur sini, to ...?" tanya Simbok.
"Ibu Rini sudah punya homestay, Mbok ...." sahut Bagas yang tiba-tiba nimbrung.
"Walau sudah punya homestay, tidur sini kan juga tidak apa-apa ...." sahut ayahnya Yudi.
"Iya ..., tidur sini saja ...." sahut Simbok lagi.
"Sebaiknya, saya tidur di mana, Yudi?" kata Rini yang justru menanyakan pada Yudi.
Mendengar kata-kata Rini, spontan Yuna langsung menatap Yudi. Tentu tatapan tidak senang.
"Lhah, kok malah tanya ke saya ....Lha yang mau tidur siapa?" kata Yudi yang tidak mau mengatakan di sana apa di sini.
"Apa Ibu Rini tidak ingin menengok homestay-nya? Mungkin sekalian menata atau menambahi apa, gitu?" kata Bagas yang tanggap kalau Mbak Yuna tidak senang jika Rini tidur di rumah Yudi. Apalagi mendengar jawaban Yudi seperti itu, pasti Yudi dalam kebingungan.
Kalau disuruh milih tidur di mana, tentu Rini akan memilih tidur di rumah Yudi. Setidaknya bisa dekat dengan Yudi, dan tentu bisa mengawasi Yudi lebih leluasa.
"Milih saja, pulang ke homestay bisa, tidur sini juga lebih baik .... Banyak tempat tidur, tinggal pilih yang disukai." kata ayah Yudi yang polos.
__ADS_1
"Iya, milih tidur sini saja, nanti Simbok masakkan oseng-oseng kembang kates." sahut Simbok yang menambahi pilihan.
"Tidur mana ya, enaknya ...?" kata Rini yang masih bingung memilih.