KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 96: MENGEJAR RAMPUNG


__ADS_3

    Setelah dokter Handoyo menghubungi Yudi, stelah mereka berdua mencapai kata sepakat, setelah dua laki-laki itu berniat baik, maka dokter Handoyo langsung menghubungi Alex, untuk meluangkan waktu mengadakan reuni khusus empat sahabat, yang sering mereka sebut sebagai "Empat Sekawan HARY". Hari dan tanggal sudah dipastikan, Sabtu dan Minggu mido Juli. Tentu Alex setuju. Bahkan ia akan mengajak anak dan istrinya turut serta liburan di Jogja. Menurut kalender akademik, anak-anak masih libur kenaikan kelas. Kali ini tidak keliling Kota Jogja, tetapi akan menikmati deburan ombak Pantai Selatan.


    Demikian juga saat dokter Handoyo menelepon Rini. Ia sangat senang. Tentu akan mengajak serta suami dan anak-anaknya. Apalagi sudah ada informasi jika progres pembangunan homestay yang dipesan sudah mencapai sembilan puluh persen. Bangunan bagian dalam sudah selesai, tinggal penataan meubelair, sedangkan bagian taman dan pagar masih dikerjakan. Itu artinya, pertengahan bulan Juli sudah bisa ditempati.


    Hamdan yang mendapat informasi dari Rini tentang rencana dokter Handoyo ini, langsung menelepon pengembang Homestay Nirwana. Hamdan langsung meminta kepada pengembang untuk menyelesaikan bagian dalam lebih dahulu, agar pertengahan bulan Juli, saat mereka pergi ke Jogja, rumah itu bisa ditempati. Setidaknya sudah selesai satu unit, untuk menginap keluarganya. Tentu pengembang itu setuju. Penyelesaian bangunan akan difokuskan pada satu unit dulu.


    Demikian juga Yudi, sudah memesan kepada pengelola Nirwana Homestay, akan memakai satu unit untuk penginapan sahabatnya, yaitu keluarga dokter Handoyo dan Alexander. Pesanan Yudi langsung dicatat, memakai unit milik Paguyuban Sopir Wisata. Yudi pun sudah pesan kepada dokter Handoyo maupun Alex agar tidak pesan hotel. Penginapan sudah siap di Kampung Nirwana.


    Di Taman Awang-awang, para pekerja sudah mulai membersihkan sisa-sisa bangunan. Menata tempat, menyapu dan melakukan pengecatan. Beberapa orang pekerja sudah menanam tanaman-tanaman hias di berbagai tempat. Ada yang menata tanaman, ada yang menanam, ada pula yang menyiram. Pada bagian lahan-lahan yang kosong diberi rumput hibrida. Beberapa tanaman palem yang sudah besar diletakkan pada bagian-bagian yang agak longgar. Ada pohon cemara kipas yang juga ikut menghias taman tersebut.


    Beberapa tukang masing mengecat area bangunan terbuka di bagian tengah. Itu merupakan tempat berjualan para penjaja makanan tradisional. Bangunannya bagus. Bukan sekadar atap dan lantai, tetapi ada area tempat makan berupa meja kursi yang sangat bagus. Modelnya semacam food court. Yuna menyebutnya food hall, yaitu semacam bangunan luas dengan meja kursi yang tertata rapi, sedangkan para penjualnya berjajar di dekat dinding yang sudah dilengkapi dengan peralatan masak, ada wastafel, keran air, kompor gas, serta rak tempat alat makan. Di food hall itu nanti, tersedia berbagai menu makanan. Cara pemesanan makanan melalui, melalui pelayan pesanan yang ada di situ. Lantas pelayan akan menyampaikan pesanan kepada bagian distribusi, dari distribusi langsung menyampaikan pesanan ke penyedia menu, yaitu ibu-ibu penjual. Lantas dari ibu-ibu penjual setelah di cek oleh distributor, diantar oleh juru saji ke para pembeli atau pemesan. Setelah selesai makan, pembayarannya melalui kasir. Jadi penjual dan pembeli tidak bertatap muka langsung.


    Konsep penjualan semacam ini yang disebut dengan pemberdayaan semua lini. Setiap orang punya peran dengan kompetensinya masing-masing. Ibu-ibu yang pandai memasak, dia mengembangkan masakannya. Remaja putri yang cantik-cantik serta laki-laki yang gagah, dia diberi kesempatan untuk menjadi penerima pesanan, penyaji, serta bagian administrasi. Tentu nantinya pakaian mereka dibuatkan seragam yang menarik. Hal ini terkait dengan layanan wisata yang mampu memberi kesan menawan. Tentu nantinya para pedagang dan seluruh pekerja di bagian food hall ini juga akan diberikan pelatihan-pelatihan kepribadian dan nilai-nilai karakter. Uangnya sudah disediakan oleh Yuna.

__ADS_1


    Di bagian kamar mandi atau kamar kecil, dua orang pekerja sedang membersihkan bekas ceceran cat, serta lantai yang masih kotor terkena semen. Ada sebanyak sepuluh kamar mandi untuk wanita dan sepuluh kamar mandi untuk pria, yang berderet menjadi dua lorong. Sangat bagus, dan mewah. Yuna dan Yudi punya selera tinggi, maka untuk membuat kamar mandi di obyek wisata saja sekelas dengan kamar mandi di rumahnya. Ini yang disebut dengan sentuhan cinta, walau sekadar kamar mandi, bisa memberi daya tarik kepada wisatawan. Yudi hanya membandingkan kamar mandi yang ada di bandara dengan kamar mandi yang ada di terminal bus, walau dibangun dengan biaya sama tetapi kesannya berbeda seratus delapan puluh derajat. Nantinya di kamar mandi ini ada dua pekerja pria dan dua pekerja wanita yang bertugas saling bergantian untuk membersihkan dan menjaga keindahannya.


    Di sisi timur puncak bukit, terdapat sebuah bangunan yang cukup besar tanpa pagar. Istilah orang Jogja, bangunan ini disebut pendopo. Tetapi pada sisi belakang, bagian utaranya, ada temboknya. Luasnya sekitar seratus meter persegi. Bangunan ini direncanakan sebagai bangunan serba guna. Bisa dipakai untuk pertemuan, bisa digunakan untuk bazar, bahkan bisa juga dipakai sebagai tempat reunian masal. Bahkan untuk pesta pernikahan juga bisa. Setidaknya bisa memuat sekitar dua ratus orang. Yudi dan Yuna memang merancang bangunan ini untuk ruang terbuka serba guna.


    Di sisi timur membentang ke utara dari bangunan serba guna tadi, terdapat lima unit gazebo yang terbuat dari kayu, dengan atap sirap dari kepingan papan tipis yang ditata rapi. Gazebo beserta sirapnya itu dicat dengan politur transparan. Sangat artistik. Gazebo-gazebo ini, tentu sangat menarik sebagai tempat peristirahatan muda-mudi atau sepasang sejoli yang sedang memadu kasih, dengan memandang keindahan rerimbunan hutan yang menghijau terbentang di bawah bukit. Pada pagi hari, dari gazebo ini pula para wisatawan bisa menyaksikan keindahan matahari terbit di langit timur.


    Di bagian puncak bukit sisi utara, ada bangunan yang tertutup dengan jendela-jendala kaca yang cantik. Walau tidak semegah bangunan aula hotel, tapi bangunan ini cukup unik dan menarik. Pasalnya, bangunan ini menggunakan arsitek gaya Jepang. Ya, tentu karena yang membangun Yuna. Bagian atapnya melengkung, kayu-kayu diserut halus, tanpa ditutup eternit. Nampak artistik. Inilah daya pikat bangunan ini. Bangunan ini dibagi menjadi dua ruang, tetapi bagian tengahnya hanya disekat dengan partisi pintu geser yang bisa dibuka dan ditutup. Jika ruangan akan dipakai untuk pengunjung berjumlah besar, maka sekat itu bisa dibuka. Namun jika pengunjung hanya berjumlah sedikit, maka sekat ditutup dan sudah berubah menjadi dua ruang. Di depan bangunan, terdapat taman dengan bonsai-bonsai yang indah sebagai ciri khas rumah orang Jepang, dan tentu ada kolam dengan air terjunnya. Bangunan ini bisa digunakan untuk pertemuan, maupun kegiatan pelatihan-pelatihan. Tentu jika menggunakan tempat ini nanti ada uang sewanya.


    Yuna membangun seperti ini, tadinya hanya sekadar mengobati kerinduannya pada kampung halaman. Tetpi oleh para pekerja, malah dikatakan sangat bagus dan menarik. Yuna mengikut saja oleh apa yang diinginkan para pekerja. Yang penting terlihat artistik.


    Ya, meski di puncak bukit, Taman Awang-awang ini nanti akan menarik pengunjung, bukan sekadar menikmati keindahan alam ciptaan Sang Maha Kuasa, tetapi juga akan penasaran untuk berkompetisi dengan permainan-permainan tradisional yang sudah diubah dalam era modernisasi. Pasti muda-mudi dan anak-anak akan penasaran untuk memainkannya.


    Di bagian bawah bukit, masih ada banyak pekerja. Mereka menyelesaikan pembuatan tempat parkir. Lahan parkir itu dibuat bertingkat. Bagian atas sudah dipasang lima kanopi peneduh yang berjajar, sehingga motor yang parkir tidak kena panas maupun hujan. Dari tempat parkir bagian atas, di bagian belakang sudah ada jalan yang langsung menuju obyek wisata. Jalan itu hanya bisa dilalui orang. Di samping jalan itu, ada pos dari penjaga atau petugas obyek wisata. Wisatawan bisa meminta bantuan petunjuk atau informasi dari petugas tersebut.

__ADS_1


    Sedangkan bagian bawah tempat parkir tersebut, beberapa pekerja masih memasang paving block. Di bagian belakang tempat parkir, ada tangga berundak, sebagai jalan menuju obyek wisata. Tangga berundak itu berada tepat di sisi kiri pos penjaga atau petugas informasi, yang terhubung dengan jalan keluar dari tempat parkir di lantai dua.. Ya, di tempat yang cukup luas itu diperkirakan akan mampu menampung sekitar lima ratus unit motor roda dua. Nantinya tempat parkir ini dilengkapi dengan pintu otomatis. Bagian depan sisi kanan sebagai tempat masuk, dengan cara memencet tombol, maka kartu parkir akan keluar. Sedangkan pada bagian depan sisi kiri, sebagai pintu keluar. Ada petugas yang menarik pembayaran parkir yang memakai sensor kartu parkir dari pengunjung.


    Yudi berkeliling terus, untuk memastikan bangunan Taman Awang-awang itu bisa segera rampung sebelum pertengahan bulan Juli, tentu sebelum acara reuni dengan para sahabatnya. Meski ingin segera selesai, Yudi tetap mengandalkan mutu, mempertahankan kualitas. Yudi tidak ingin proyek Taman Awang-awang ini selesai asal-asalan. Tetapi Yudi justru ingin proyeknya itu menjadi sebuah tonggak sejarah dalam kehidupannya, yang bisa membuat namanya dikenang oleh masyarakat Kampung Nirwana. Yudi ingin, proyek Taman Awang-awang ini sanggup memberikan kesejahteraan bagi warganya.


    Yudi mengecek semua bangunan yang sudah dikatakan selesai. Setidaknya ia meneliti jika nanti ada yang kurang pas atau kurang sesuai. Satu persatu bangunan ia amati secara detail. Jangan sampai ada permasalahan yang bisa membahayakan. Terutama Yudi mengecek bagian pagar besi dan tempat spot-spot foto yang ada di sisi sebelah selatan, pada puncak bukit yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia. Pagar-pagar besi itu harus dipastikan aman. Aman dari sisi bangunannya, dan aman agar pengunjung tidak terjatuh atau terperosot ke lembah jurang. Tentu itu sangat bahaya, dan akan merugikan nama Taman Awang-awang jika sampai terjadi kecelakaan. Oleh sebab itu, spot-spot foto tersebut harus benar-benar aman.


    Lantas Yudi mengecek tangga berundak dan tempat duduk yang nantinya sebagai jalan menuju tebing bukit serta tempat para wisatawan duduk-duduk santai menikmati keindahan samudera. Terutama yang diperhatikan adalah taman dan tanaman-tanaman hiasnya. Jangan sampai ada tanaman yang menghalangi pemandangan wisatawan saat menyaksikan matahari terbit, alunan ombak, matahari terbenam, serta menyaksikan keindahan bintang di malam hari. Walau hiasan taman penuh dengan bunga, tetapi jangan sampai tanaman-tanaman itu menghalangi pandangan orang.


    Untuk urusan taman dan kebersihan saja, nantinya ada sepuluh pekerja yang dikaryakan untuk menjaga kebersihan dan keindahan Taman Awang-awang. Semuanya adalah warga Kampung Nirwana. Bahkan secara diam-diam, di rumahnya, Yudi sudah mengajari beberapa remaja dengan pelajaran bahasa Jepang dan bahasa Inggris. Mereka nantinya akan diterjunkan sebagai pemandu wisata asing, terutama para wisatawan dari Jepang yang rencananya akan berziarah ke Gua Jepang.


    Semuanya tertata untuk menyambut obyek wisata baru, Taman Awang-awang.


    Sementara itu, Yuna bersama sekitar sepuluh pekerja, masih berada di Gua Jepang. Mereka menyelesaikan penataan dan memperindah penampilan gua tersebut, terutama di bagian depan. Rencananya, pada bagian depan gua akan dibangun semacam pelataran yang cukup luas, sebagai tempat untuk berdoa dan selamatan. Maka wajah Gua Jepang ini harus ditata dan dipercantik, sehingga tidak terlihat menyeramkan. Demikian pula pembangunan akses jalan. Setidaknya, nanti dari Taman Awang-awang ada jalan pintas yang mudah dilalui. Sehingga para wisatawan, tidak sekadar bertamasya di Taman Awang-awang, tetapi juga dengan mudah bisa turun berjalan kaki menuju Gua Jepang.

__ADS_1


    Begitu seharian, Yudi dan Yuna menyelesaikan tugas-tugasnya. Merampungkan proyeknya. Demi menatap keindahan obyek wisata Taman Awang-awang. Demi terciptanya kesejahteraan masyarakat Kampung Nirwana. Walau melelahkan, tetapi sangat puas. Peluh dan keringat terbayarkan dengan kepuasan.


__ADS_2