
Dua hari lamanya, tamu-tamu dari Jepang yang bersama Yudi itu akan pulang, kembali ke Jepang. Tentu kakek nenek serta anak dan menantunya itu merasa sangat senang dan berterima kasih kepada Yudi. Tentu karena sudah dibantu untuk menemukan tempat yang selama ini ia cari, yaitu makan ayah dan kakak-kakaknya. Sang kakek merasa sangat berutang budi baik kepada Yudi. Mereka ingin memberikan hadiah kepada Yudi. Awalnya Yudi ditawari sejumlah uang, namun Yudi menolak. Begitu juga saat Yudi ditawari barang-barang berharga, ia pun menolak. Yudi tidak mau diberi apa-apa. Pikir Yudi, ia juga sangat berutang budi kepada mereka. Tanpa ada mereka, pasti Yudi tidak bisa kembali ke Indonesia.
Lantas laki-laki yang layak disebut tuan muda itu bertanya kepada Yudi, "Anata no tsuma wa don'na hitodesu ka?" Laki-laki itu ingin tahu istri Yudi seperti apa.
Yudi mengajak laki-laki Jepang yang umurannya lebih tua sedikit bila dibandingkan dengan dirinya, masuk ke kamarnya.
"Kochira ga tsumadesu." Yudi mengatakan ini istriku, sambil menunjuk lukisan raksasa yang ada di dinding kamarnya.
Laki-laki si tuan muda itu memandangi lekat wajah Yuna yang ada dalam lukisan itu.
"Hontō no mondai wa nanidesu ka?" laki-laki itu menanyakan kepada Yudi, sebenarnya permasalahan apa yang menyebabkan istrinya hilang.
Yudi ragu-ragu untuk menjawab. Karena ia belum kenal betul dengan tamu yang sudah menolong dan ditolongnya itu. Siapa mereka itu sesungguhnya, apa pekerjaannya, jika pejabat apa jabatannya. Yudi tidak tahu. Memang dari awal Yudi tidak mau tahu, seperti yang pernah dipelajari dari Kuil Kifune, kita tidak perlu tahu dengan urusan orang lain jika memang tidak ada sangkut pautnya dengan diri kita. Kalau orang-orang zaman sekarang mengatakan 'tidak usah kepo'. Makanya Yudi tidak mau mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.
Mengetahui Yudi diam karena ragu-ragu, maka laki-laki itu mengambil dompet dari kantong celananya, lantas mengeluarkan satu kartu nama dari dompet tersebut. Ia memberikan kartu nama itu kepada Yudi.
Yudi membaca nama dan kantor laki-laki itu.
"Zaibatsu." gumam Yudi.
"Dame ..., dame ..., dame .... Watashi wa dare demonai." rupanya gumaman Yudi terdengar oleh laki-laki itu. Lantas si tuan muda itu menolak sebutan Yudi sebagai orang kaya Jepang, tetapi ia lebih senang disebut orang biasa saja.
Walau laki-laki yang disebutnya tuan muda itu menolak kata-kata Yudi, namun bagi Yudi, ia tetap yakin bahwa laki-laki yang kini bersamanya dalam kamar itu adalah orang kaya raya yang sangat berpengaruh di Jepang. Yudi tetap tidak bisa mengatakan alasan istrinya hilang. Ia hanya berkata, istrinya diambil kekasihnya di Jepang.
"Tsuma wa koibito kara Nihon ni shōtai sa remashita." kata Yudi.
"Anata wa sore o torimodoshitakunaidesu ka?" laki-laki itu menanyakan kepada Yudi, mengapa tidak direbut kembali.
Lantas Yudi menjelaskan pelajaran-pelajaran yang diterima saat ia berada di Kuil Kifune. Salah satu diantaranya, Yudi ingin meninggalkan kepentingan duniawi. Yudi mengatakan kalau dirinya sudah pasrah kepada Sang Yang Maha Kuasa. Yudi juga mengatakan kalau dirinya hanya ingin mengabdikan hidup untuk kepentingan hidup di dunia lain.
Tentu laki-laki itu diam. Tidak sanggup memaksa Yudi, bahkan untuk menawarkan bantuan untuk mencari istrinya. Karena secara halus, Yudi sudah menolaknya.
__ADS_1
Namun di akhir percakapannya, Yudi mengatakan kepada laki-laki itu, "Jika tuan bertemu atau melihat istri saya pantas untuk ditolong, tolonglah dia."
"Yakusoku shimasu." laki-laki itu berjanji.
Lantas laki-laki itu memeluk Yudi. Pelukan yang sangat erat dan lama, bahkan seakan tidak mau dilepas.
Yudi melepas pelukan laki-laki itu, lantas katanya, "Furaito wa hayaku narimasunode, ominogashinaku." Yudi mengingatkan untuk segera berangkat, jangan sampai ketinggalan pesawat.
Laki-laki tuan muda itu segera bergegas balik ke kamarnya, untuk segera berangkat ke bandara. Ia langsung mengajak istrinya untuk bersegera siap. Demikian juga kepada ayah dan ibunya.
Bagas sudah menyiapkan mobil di garasi. Dua koper pakaian para tamu itu sudah dimasukkan ke bagasi belakang. Bagas sudah siap untuk mengantar tamu-tamu dari Jepang itu ke bandara.
"Terime kasih .... Terime kasih ...." begitu ucap kakek tua itu dengan menggunakan bahasa Indonesia yang agak aneh saat bersalaman dan berpamitan kepada Yudi. Tentu sambil memeluk Yudi.
"Okāsan to otōsan, arigatō" balas Yudi yang juga mengucapkan terima kasih dalam bahasa Jepang.
Semua menyalami dan memeluk Yudi. Lantas masuk ke mobil. Selanjutnya, Bagas melajukan mobilnya menuju bandara. Lambaian tangan Yudi melepas perginya tamu-tamu dari Jepang tersebut.
Setelah kepergian para tamu, Yudi langsung masuk kamar. Ia membuka tas pakaiannya. Mengeluarkan pakaian-pakaian, tentu untuk dicuci. Lantas pakaian itu, semuanya termasuk yang bersih, ia masukkan ke dalam mesin cuci.
Kemudian, Yudi memeriksa kantong kecil yang ada di dalam tasnya. Perlahan Yudi mengambil benda kecil yang ia simpan selama enam bulan. Flash drive yang ia bawa dari laci rahasia lemari Yuna.
Yudi mengamati flash drive tersebut. Tentu penuh harap dengan isi flash drive itu. Kemungkinan ada rahasia yang tersimpan tentang istrinya. Atau setidaknya, Yudi bisa melihat isi dari flash drive milik istrinya itu.
Yudi menuju meja kerja yang ada di sudut kamarnya. Lantas ia menyalakan lampu belajar, selanjutnya menghidupkan laptop. Setelah enam bulan laptop itu tidak terbuka, kini kembali menyala. Perlahan Yudi menyolokkan flash drive itu pada laptop. Kemudian menggeser mouse. Yudi membuka isi flash drive tersebut. Ada tiga folder, masing-masing diberi nama "Jibun, Anata, Watashitachi no, Karera", yang artinya saya, kamu, kita, mereka.
Yudi membuka folder Jibun. Ternyata isinya adalah foto-foto Yuna. Sangat banyak sekali. Tentu Yudi tersenyum melihat foto-foto narsis istrinya. Ternyata istrinya cukup piawai dalam hal bergaya di depan kamera. Ada yang terlihat memanja dengan senyum manis. Ada yang seakan mau marah, dengan mata membelalak, namun justru terlihat lucu. Banyak sekali foto-foto istrinya dengan berbagai gaya.
"Hahaha ...." Yudi tertawa sendiri.
Tidak masalah tertawa sendirian, mumpung di rumah tidak ada orang. Sepi sendirian.
__ADS_1
Selanjutnya, Yudi membuka folder Anata. Ternyata isinya adalah foto-foto Yudi. Juga sangat banyak. Rupa-rupanya Yuna sering mencuri foto dirinya. "Ah keterlaluan, ternyata Yuna suka mencuri foto diriku." gumam Yudi yang merasa telah kalah oleh istrinya.
Tentu Yudi penasaran dengan folder Watashitachi no. Yudi sudah menduga, pasti isinya tentang Yudi dan Yuna. Foto-foto mereka berdua. Yudi langsung membukanya. Ternyata benar. Banyak foto mesra mereka berdua.
"Dari mana Yuna dapat foto-foto ini?" Yudi bertanya pada dirinya sendiri, yang tentu bingung dengan foto-foto tersebut. Siapa yang mengambil foto itu. Padahal perasaan Yudi, mereka tidak pernah foto bersama yanbg diambil orang lain. Paling kalau foto selfie, itu saja tidak terlalu sering, karena mereka dua-duanya sibuk kerja. Yang Yudi ingat hanya saat diajak berswafoto di pinggir pagar pengaman di Taman Awang-awang dengan latar belakang samudera biru. Foto itu diambil lama sebelum Taman Awang-awang jadi.
Tetapi, Yudi merasa heran, kenapa dalam folder itu ada foto saat Yudi membopong Yuna masuk dalam kamarnya? Bukankah saat itu Yuna tertidur? Pasti Yuna sudah memata-matai dirinya. Atau mungkin Yuna memasang kamera pengintai?
Yudi penasaran. Maka ia langsung berlari menuju kamar yang dahulu dipakai oleh Yuna. Yudi memeriksa kamar itu. Ia mencari kamera pengintai. Namun tidak juga menemukannya. Mungkin saja kamera itu hanya dipasang sewaktu-waktu jika dibutuhkan.
Yudi kembali mengamati foto-foto di laptopnya. Ia bersyukur kala itu tidak ngapa-ngapain kepada Yuna saat mengangkat tubuh cantik itu dan merebahkan ke tempat tidurnya. Jika seandainya saja Yudi kala itu melakukan hal yang tidak terpuji ..., ah ..., bisa ketahuan belangnya. Namun Yudi bukanlah orang jelek seperti itu. Ia tidak seburuk yang dikhawatirkan oleh Yuna, laki-laki yang mau sembarangan melakukan hal tidak baik. Walau tidak diawasi kamera, ia tetap melakukan hal yang baik.
Yudi terus membuka foto-foto itu. Tentunya masih banyak foto-foto mesra antara Yudi dan Yuna yang tersimpan dalam folder tersebut. Yudi tersenyum senang menyaksikan foto-foto itu. Setidaknya bisa mengingatkan kemesraan bersama istrinya, walau kala itu belum menikah. Sebut saja sebagai foto pacaran. Yang tentunya foto-foto itu akan menambah rasa rindunya pada istrinya.
Lantas Yudi membuka folder yang terakhir, Karera, yang artinya mereka. Kemungkinan besar berisi foto orang-orang lain. Ternyata setelah dibuka, dalam folder itu berisi beberapa folder. Folder yang pertama ada tulisan "Kamu boleh mencintai dia". Yudi penasaran, ia langsung membuka folder itu. Ternyata .... Yudi agak kaget, karena folder itu berisi foto-foto Rini, yang tentunya saat bersama Yudi. Kebanyakan foto diambil dari belakang. Ada foto saat Yudi bersama Rini di Taman Awang-awang, ada juga foto-foto Rini yang berada di rumah Yudi. Bahkan Yudi sampai heran karena di situ ada foto dirinya bersama Rini, saat pertama kali bertemu Yuna. Termasuk saat Rini akan diantar ke bandara karena waktu itu Rini cemburu dengan Yuna dan marah-marah pada Yudi. Dan yang paling tidak terduga, di situ ada foto saat tangan Rini menggandeng Yudi. Meski foto itu diambil dari belakang, tapi terlihat jelas bahwa orang yang bergandengan tangan itu adalah Yudi dan Rini.
"Ah, sungguh keterlaluan Yuna .... Berarti sebenarnya ia sudah mengamati diriku bersama Rini sejak pertama kali bertemu. Lantas apa arti kata-kata dalam folder ini? Kamu boleh mencintai dia .... Kamu siapa dan dia siapa? Ah ...." Yudi menghela napas panjang.
Yudi jadi teringat masa-masa lalu, saat Rini sering cemburu karena kehadiran Yuna. Demikian pula Yuna yang cemburu hanya gara-gara melihat lukisan-lukisan Rini yang terpajang di kamar Yudi. Dua wanita itu rupanya saling cemburu. Tapi wajar, karena mereka sebenarnya tidak ingin kehilangan Yudi.
Yudi membuka folder yang lain. Berisi file-file. Cukup banyak. Dan rata-rata menggunakan huruf kanji. Tulisan Jepang. Yudi tidak bisa membaca. Jangankan huruf kanji, tulisan hanacaraka saja Yudi sudah tidak hafal. Maka ia melewati file-file itu. Namun Yudi yakin, diantara file-file tersebut, pasti ada rahasia yang bisa membongkar keberadaan istrinya saat ini.
Yudi membuka file yang terakhir. Nama file itu "Pesan". Tentu Yudi penasaran. Ia langsung membuka untuk melihat isi file tersebut.
Yudi membaca isi pesan itu, "Jika nanti saya tidak bisa ketemu dan bersama lagi dalam waktu yang sangat lama, percayalah saya dalam keadaan baik-baik saja."
Mungkinkah pesan ini untuk Yudi? Atau untuk orang tuanya? Atau mungkin untuk orang lain?
Untuk siapapun pesan itu, sifatnya universal. Yudi juga bisa menerima pesan yang mengisyaratkan, jika istrinya tidak bisa bersama dalam waktu yang lama, ia yakin istrinya dalam keadaan baik-baik saja. Kalaupun pesan itu untuk kedua orang tuanya, pasti Yuna ingin meyakinkan bahwa ia tidak ada masalah. Toh selama ini Yuna tinggal sendirian di apartemen. Walau pasti ada sesuatu yang mengakibatkan dirinya tidak bisa bertemu dengan siapapun, yang penting ia sudah mengabarkan kalau dirinya baik-baik saja.
Yudi lega. Pastinya tidak khawatir dengan keselamatan istrinya, tidak seperti yang ia bayangkan semula. Semoga saja Yuna dalam keadaan baik-baik saja. Walau demikian, Yudi ingin tahu apa isi tulisan kanji itu.
__ADS_1