
Pagi itu cuaca Kota Bantul sangat cerah. Yudi bersama Yuna dan Silvy, melakukan survei lapangan, tempat yang akan dijadikan lokasi homestay untuk keluarga Hamdan. Setelah sampai di lokasi, Yudi menunjukkan rencana tempat yang akan dibangun homestay. Cukup luas. Sudah ada patok-patoknya. Nantinya ada sekitar sepuluh bangunan rumah homestay yang digunakan untuk penginapan para turis, ibarat seperti menginap di rumah bersama keluarga. Modelnya semacam Vila. Tidak terlalu dekat dengan jalan raya, tetapi juga tidak jauh dengan berbagai sarana fasilitas umum. Termasuk jika akan bepergian ke berbagai tempat wisata, terutama tujuan wisata Kampung Nirwana, Taman Awang-awang, Pantai Depok dan Pantai Parang Tritis. Tempatnya masih asri. Rancangan arsitekturnya model Jawa Kuno, dengan dinding dari bata super, jalan-jalan penghubung antar homestay menggunakan batu alam. Sengaja tempat ini dibangun dengan sentuhan nuansa alami. Satu bangunan rencananya memakan tanah seluas seribu meter persegi. Di lahan tersebut nantinya akan berdiri lima unit bangunan yang terdiri dari empat unit ruang tidur yang saling berhadapan dan satu unit dapur. Antara ruang tidur terdapat ruang kosong dengan diberi atap dari fiber bening, sehingga langit masih kelihatan. Jika hujan tidak kemasukan air, tetapi saat langit malam terang, bisa menyaksikan bulan dan bintang. Semacam pelataran keluarga untuk nongkrong bersama. Antar homestay yang satu dengan yang lain dipisahkan pagar bata merah setinggi bahu. Jadi, antar homestay bisa terlihat. Hanya pada bagian belakang yang nantinya akan diberi pagar tinggi dengan atasnya diberi kawat berduri, untuk keamanan komplek homestay.
Gambar itu sudah disiapkan oleh Yudi. Gambar denah maupun desain bangunan. Ya, semacam perumahan, tapi dengan ukuran sangat besar. Tentu harganya juga besar. Untuk setiap unit bangunan homestay, dibandrol dengan harga lima milyar. Pasti nanti kalau sudah ramai, harganya akan naik lagi.
Kini di lahan, Yudi tinggal menjelaskan kepada Silvy, letak, posisi, arah menghadap bangunan, serta lokasi yang akan di pilih, dari sepuluh lokasi yang ditawarkan.
"Silvy, ini rencana tempatnya. Di tempat kita berhenti ini nanti dibangun jalan dengan batu alam. Di depan besok ada pos Satpam. Akses keluar masuknya hanya satu pintu. Jumlah kapling ada sepuluh, masing-masing kapling luasnya seribu meter persegi. Nanti ada lima bangunan yang menghadap ke selatan dan lima bangunan lagi menghadap ke utara. Mirip seperti perumahan cluster, tetapi ini sebagai homestay. Mungkin nanti akan kami beri nama Kampung Turis. Itu baru ide. Setiap bangunan nantinya ada empat kamar dan satu dapur, halaman parkir dan ruang terbuka untuk kegiatan. Selain itu, nanti ada taman dan beberapa tanaman peneduh. Silakan Silvy memilih tiga lokasi untuk pesanan Pak Hamdan. Bisa menjadi satu, boleh juga terpisah-pisah. Coba Silvy lihat, ini gambar denah lokasinya." jelas Yudi kepada Silvy.
"Jadi, ini masih tanah kosong ya, Mas Yudi?" tanya Silvy.
"Kalau sudah ada bangunannya, namanya kami jualan rumah. Tapi jangan khawatir, sebulan lagi sudah akan berdiri satu unit, yaitu pesanan dari paguyuban sopir wisata. Selanjutnya satu unit lagi pesanan dari paguyuban pedagang batik. Ini yang depan dua unit sudah dipesan. Rencananya, dari desa juga akan memesan satu unit." jelas Yudi sambil menunjukkan patok bambu yang tertancap sebagai batas kapling.
"Nanti saya juga ikut pesan satu unit, Yudi. I'll order one later." Yuna menyahut, ikut pesan.
"Lhah, Mis Yuna ikut pesan, memang nanti mau tinggal di Indonesia?" tanya Silvy.
"No ..., no ..., no .... Untuk investasi. Not for home." sahut Yuna.
"Nah, rencananya nanti ke arah selatan sana, sudah di plot untuk hotel dan motel. Terus di bagian timurnya, akan disiapkan lahan untuk supermarket seni, menjual barang-barang hasil kerajinan rakyat. Silakan, pilih saja lokasinya mana yang terlihat nyaman. Nanti akan saya sampaikan ke bagian administrasi." kata Yudi.
"Kok tidak ditulisi dijual gitu, Mas?" tanya Silvy.
"Ini bukan untuk perumahan, Silvy .... Kalau dijual secara umum, nanti jadinya perumahan umum. Ini khusus dirancang untuk homestay berbau penginapan modern. Semacam Vilmot, Vila Motel." jelas Yudi.
"Berarti nanti ada yang mengelola? Bukan pemiliknya sendiri?" tanya Silvy yang masih bingung dengan konsepnya.
"Ya harus ada yang mengelola, untuk kebersihan, perawatan taman dan keamanan. Kalau hanya mengandalkan pemilik, tidak menjamin keindahannya. Karena di Kampung Nirwana ini, kami menjual keindahan." jelas Yudi.
"Jika kami tinggal di sini, bagaimana?" tanya Silvy lagi.
"Kalau misalnya akan dipakai sebagai tempat tinggal, tidak masalah. Cukup membayar iuran untuk kebersihan luar, perawatan taman dan keamanan. Ibarat kata sudah punya pembantu bagian luar rumah. Jadi lebih hemat, tidak harus membayar gaji asisten rumah tangga. Tapi kalau untuk dipakai penginapan, nanti setiap bulan pemilik dapat laporan penggunaan dan pemasukan. Atau bisa juga dipakai dua-duanya. Ada pemilik di rumah, sisa kamarnya disewakan." jelas Yudi.
"Keren, Mas Yudi. Silvy juga pengin punya satu. Tapi gak punya duit. Hehe ...." kata Silvy yang mulai tertarik.
__ADS_1
"Jangan berpikir sempit. Hari ini punya uang sepeser, langsung masukkan ke deposit pesanan. Nanti dalam waktu satu bulan, jika dana deposit yang masuk sudah mencapai seratus juta, bangunan langsung dibuat. Dalam waktu dua bulan, bangunan sudah selesai dan bisa digunakan untuk penginapan. Pemilik punya tanggung jawab untuk melunasi. Jika belum bisa melunasi, uang hasil penyewaan dimasukkan ke deposit hingga lunas. Setelah lunas baru menjadi hak dari pemiliknya. Gampang kan." jelas Yudi.
"Ih enak banget, Mas Yudi. Berarti saya cuma butuh modal seratus juta?" tanya Silvy.
"Iya ...." sahut Yudi.
"Aku lihat-lihat dulu ya, Mas ...." kata Silvy.
"Boleh .... Silakan pilih dulu lokasinya. Saya akan betulkan patok-patok yang roboh." kata Yudi yang kemudian berjalan membetulkan batas kapling.
Dua wanita cantik yang sudah mulai akrab itu langsung berdiskusi, menentukan tempat yang akan dipilih. Tentu dengan berbagai pertimbangan. Terutama Silvy, yang diperintah ayahnya untuk memesan tiga unit. Namun tentu, bagi Sivy tidak hanya memilih lokasi saja, ia lebih ingin dekat dengan gadis Jepang itu, untuk menambah wawasannya.
"Mis Yuna sudah menikah?" tanya Silvy.
"Married? Belum." jawab Yuna singkat, tanpa ada ekspresi malu ataupun marah. Gadis Jepang sudah biasa, jarang yang mau menikah takut mengganggu kariernya.
"Mengapa? Padahal Mis Yuna cantik lho." kata Silvy lagi.
"No problem. Kami lebih suka single. Tidak terganggu." jawab Yuna.
"Oh ..., di Jepang orang tua tidak ikut campur urusan menikah. Kami sendiri yang membiayai, the cost of getting married is big." jelas Yuna.
"Pantas orang Jepang rajin-rajin dan mandiri." kata Silvy.
"Oh, no .... Kami dari kecil diajar disiplin dan kerja keras. Discipline and hard work. Itu etos orang Jepang. Kalau orang sini beda, mangan ora mangan asal kumpul, alon-alon waton kelakon .... Hahaha ...." kata Yuna dengan bahasa Jawa yang lucu.
"Mis Yuna bisa bahasa Jawa? Saya tidak tahu artinya. Hehe ...." kata Silvy yang tentu malu mendegar orang Jepang bisa bahasa Jawa, tetapi orang Jakarta justru tidak tahu artinya.
"Ah, itu yang mengajari saya, si Bagas." sahut Yuna.
Selanjutnya, dua wanita itu duduk berteduh di bawah pohon mahoni yang rimbun. Kebetulan ada kursi panjang yang terbuat dari bambu, sengaja untuk tempat duduk orang-orang yang ke situ. Mereka masih mengobrol, tentu karena Silvy yang kepengin dekat dengan orang asing yang cantik itu. Tidak lupa, berkali-kali ia mengambil foto, ingin pamer kalau dirinya tengah bersama gadis Jepang yang cantik.Ya, walau sudah usia empat puluh tahun, kecantikan Yuna tidak kalah dengan Silvy yang baru berusia dua puluh lima tahun.
Yudi dari kejauhan menyaksikan dua wanita yang duduk di angkruk bambu itu. Ia takjub dengan dua perempuan itu. Sama-sama cantik. Saat memandang Silvy, ia teringat pada Rini, yang katanya akan mencintainya selamanya. Tetapi saat melihat wajah Yuna, ia juga teringat pertanyaan Yuna saat berada di stupa paling atas Candi Borobudur, adakah relief cinta untuk Yuna dalam hatinya. Dulu saat hatinya jatuh cinta pada Rini, ia ditinggalkan Rini yang menikah dengan Hamdan. Kini saat hadir Yuna, Rini kembali datang mengusik hatinya. Tentu beban berat dalam hati Yudi untuk mengambil suatu keputusan.
__ADS_1
"Hai, Mas Yudi .... Sini, kita minum dulu ...!" teriak Silvy memanggil Yudi.
Yudi lepas dari lamunannya, lantas bergegas menghampiri dua wanita yang sama-sama cantik itu.
"Hi, Yudi .... This is your drink." kata Yuna yang memberikan sebotol air mineral pada Yudi.
"Okey, thanks." sahut Yudi sambil menerima botol minuman.
"Please sit down." kata Yuna menyuruh Yudi duduk.
"Thanks." jawab Yudi yang langsung duduk di samping Yuna.
"Ih, Mas Yudi duduknya di tengah." atur Silvy, yang selanjutnya ia pindah ke samping Yudi.
Akhirnya Yudi berada di tengah, diapit dua wanita yang cantik-cantik. Seperti biasa, Silvy mengambil HP lantas cepret, cepret, cepret. Selfie.
"Silvy, ambil gambarnya yang bagus .... aku action dulu. Haha ...." kata Yudi yang merasa belum siap difoto.
"Diulang .... Repeat the photos." sahut Yuna.
"Ayo ..., ayo ..., ayo .... Siap, satu ..., dua ..., tiga." kata Silvy yang mengambil foto.
"Mana, aku lihat hasilnya." kata Yudi yang menonton ke HP Silvy.
"Nih .... Ih, Mas Yudi paling jelek .... Hahaha ...." ejek Silvy.
"Ah enggak, lah .... Paling ganteng ini ...." sergah Yudi yang merasa laki-laki sendiri.
"Wao .... Beauty and the beast .... Hahaha ...." gurau Yuna yang ikut-ikutan mengerjai Yudi.
"Ah, kalian payah ...!" kata Yudi yang langsung mengejar dua wanita cantik itu.
Tiga orang itu pun berlari berkejar-kejaran. Suasana menjadi gembira. Terutama Silvy, yang bisa tertawa lepas, seakan sedang bercengkrama dengan papahnya sendiri. Yudi sengaja mengejar Silvy, untuk membahagiakan anak itu, agar ibunya nanti mendengar cerita yang mengasyikkan dari anaknya. Sesekali tangan Yudi meraih Yuna, yang tentu kena karena Yuna tidak berlari kencang. Dan akhirnya, saat dua perempuan itu berdekatan, Yudi langsung menubruknya bersamaan. Dua wanita cantik itu tertangkap dalam pelukan Yudi.
__ADS_1
Silvy terus tertawa bahagia. Yuna juga tertawa. Yudi tertawa riang. Hari yang benar-benar membahagiakan.