
Yudi sudah menyelesaikan gambar untuk rancangan homestay yang dipesan oleh Pak Hamdan. Termasuk dalam lampirannya, terdapat rincian harga serta cara pembayarannya. Jika Hamdan jadi mengambil tiga unit, maka biaya keseluruhannya adalah lima belas milyar. Untuk biaya awal pembangunan, bulan pertama membayar seratus juta per unit, maka untuk pemesanan tiga unit jumlahnya menjadi tiga ratus juta. Biaya itu sudah termasuk pembuatan sertifikat kepemilikan. Berkas-berkas itu semua sudah dimasukkan ke dalam stofmap, yang nantinya akan dibawa oleh Silvy.
Dua hari sudah, Silvy berada di Jogja. Bermain, bercanda, berkumpul bersama Mas Yudi dan Mis Yuna, tentunya sangat menyenangkan bagi Silvy. Apalagi saat ia bermain bersama anak-anak kampung yang polos dan lucu-lucu. Silvy tidak punya adik atau saudara kecil di rumahnya, maka ini adalah pengalaman bercanda dengan adiuk-adiknya. Silvy ikut mengajar, walau hanya sekedar bercerita, saat anak-anak kampung belajar bersama di rumah Yudi. Ini adalah pengalaman pertamanya membimbing anak-anak belajar. Ternyata asyik juga. Terlebih lagi, anak-anak merasa senang diajak belajar oleh Silvy. Tentu karena Silvy dari Jakarta, cantik dan ramah. Ya, pasti pengalaman belajar dengan anak-anak kampung ini akan berkesan di ingatan Silvy. Nanti akan menjadi cerita tersendiri bagi suaminya, mamahnya atau papahnya.
Dua hari Silvy bersama Yuna, juga memberikan kesan tersendiri bagi dirinya. Terlebih saat Silvy menyaksikan cara kerja Yuna, gadis Jepang itu bekerja siang malam tanpa mengenal lelah. Rajin, tekun dan bersemangat. Karakter ini yang harus dijadikan contoh. Apalagi saat beberapa kali Silvy mencoba melihat pekerjaan Yuna, ia betul-betul kagum, terkesima dengan hasil pembuatan desain sebuah obyek wisata yang tidak sekedar asal jadi, bukan hanya memanfaatkan alam, tetapi sudah memadukan berbagai sumber daya, berbagai potensi sosial dan budaya, menghitung nilai ekonomi, serta menganalisis dampak. Kemudian memadukan nilai-nilai tradisional dengan kemajuan teknologi, sehingga akan menghasilkan modernisasi tradisi. Itu yang tidak pernah dikaji oleh kita. Ini benar-benar luar biasa.
Yuna yang lebih banyak pendiam, merasa senang dengan kehadiran Silvy. Karena ada yang bikin keramaian. Setidaknya bisa untuk menghilangkan stres atau pikiran yang penat karena tumpukan pekerjaan. Walau terkadang komunikasinya tidak nyambung, karena beda bahasa, tetapi saat Silvy maupun Yuna menggunakan bahasa isyarat seperti yang pernah dikatakan Yudi, itulah yang menarik. Itulah yang membuat lucu. Itulah yang nanti akan menjadi pengalaman tak terlupakan.
Demikian pula Yudi. Hari-hari diamnya berubah menjadi banyak bicara dan canda tawa bersama Silvy. Wanita yang pantas menjadi anaknya itu, justru sering meledeki, justru sering mengerjainya. Dan tentu, gara-gara Silvy datang ke rumah Yudi, jalinan komunikasi dengan Rini bisa terhubung kembali, setelah terputus dua minggu lebih. Meskipun untuk telepon melalui atau menggunakan HP Silvy.
Kini, saat Silvy harus kembali ke Jakarta, rasa sedih kehilangan itu muncul Tidak akan lagi ada yang bercanda, tidak akan lagi ada yang ribut, tidak akan lagi ada yang bikin geger. Yuna ikut kecawa. Tidak punya teman lagi yang akan diajak mengobrol. Demikian pula Yudi, bagaimana nanti untuk menghubungi Rini. Alat komunikasi penyambung lidahnya akan pergi.
"Silvy ..., sudah siap pa belum?" tanya Yudi yang akan mengantar ke bandara.
"Bentar, Mas .... Mas Yudi sini sebentar, bantuin Silvy." jawab Silvy yang masih ada di kamar.
Yudi yang sudah mengenakan seragam kantoran masuk ke ruang Silvy. Mungkin ada yang harus dibawakan. Tetapi baru masuk di kamarnya, Silvy langsung menyergap, memeluk laki-laki dewasa itu dan merajuk. Ternyata panggilan minta tolong itu hanyalah modus.
"Mas Yudi, Silvy gak mau pulang. Mau tinggal di sini saja." ucap perempuan dua puluh lima tahun itu.
"Eit, tidak boleh. Hari ini Silvy harus balik ke Jakarta. Sampaikan berkas-berkas itu pada Pak Hamdan. Lantas minta ke Pak Hamdan agar segera teken kontrak, setelah itu Silvy balik ke Jogja lagi. Tungguin pembangunannya." kata Yudi menjelaskan.
"Berarti besok kalau pas membangun homstay, Silvy boleh menunggui?" tanya Silvy yang masih memeluk Yudi.
"Iya, harus. Setidaknya ditengok untuk melihat progresnya. Nah, sekarang cepat saya antar. Mas Yudi ke kantor dulu untuk absen." kata Yudi sambil mengangkat koper kecil milik Silvy.
"Iya, Mas. Terima kasih." sahut Silvy yang langsung melepas pelukannya. Selanjutnya keluar kamar.
"Hi, Silvy .... Goodbye. See you again. Be careful." Yuna yang sudah ada di gasebo belakang memberi salam perpisahan.
"Terima kasih Mis Yuna. Selamat tinggal, sampai ketemu lagi. I will miss you." kata Silvy yang mendekat ke Yuna, lantas memeluk dan mencium pipi kanan kiri wanita Jepang itu.
"I will miss you too. Rumah ini pasti akan sepi kembali tanpa ada kamu, Silvy. Deserted, lonely." kata Yuna pada Silvy.
"Ayo Silvy, kita sudah terlambat." Yudi mengingatkan.
Silvy melepas pelukan Yuna, yang tentu dengan rasa berat. Tetapi waktu sudah mengejar. Ia harus segera ke bandara. Pulang ke Jakarta.
Mobil Yudi melaju di jalur lintas selatan jalan menuju Bandara YIA. Tidak kencang, karena ramainya jalan. Biasa, jalan pagi di hari Senin, penuh dengan berbagai kendaraan. Semua orang berangkat beraktivitas. Mulai dari ibu-ibu pengantar anak PAUD, anakanak SMA berangkat sekolah, maupun para karyawan yang memburu waktu absen. Semua sibuk dan kepengin cepat. Maka tidak jarang jika hari Senin sering terjadi kecelakaan.
"Mas Yudi ...." kata Silvy.
"Hmm ...." sahut Yudi yang konsentrasi menyetir.
"Silvy gak mau panggil Mas, boleh gak aku panggil Papah?!" Silvy melendot di jok, memandangi Yudi.
__ADS_1
"Hah ...?!" Yudi terkaget.
"Boleh nggak Silvy panggil Papa? Papah Yudi ...." kata Silvy lagi dengan wajah memelas.
"Silvy ..., Silvy .... Kamu itu aneh-aneh saja. Sejak kapan punya ide kayak gitu?" sahut Yudi.
"Habis, Silvy pengin punya papah yang seperti Papah Yudi. Orangnya baik, penuh kasih sayang, bisa diajak ngobrol. Pokoknya mengasyikkan, deh." kata Silvy.
"Papah Hamdan itu orangnya juga baik, sabar, kaya raya lagi." tukas Yudi.
"Maksud Silvy, kalau pas di Jogja saya punya Papah Yudi .... Lha kalau pas di Jakarta ya Papah Hamdan. Jadi papah Silvy ada dua, begitu ..., Pah Yudi .... Silvy gak mau panggil Mas, nanti dikirain pacarnya, hehe ...." sanggah Silvy.
"Kalau papahnya dua, terus mamahnya berapa?" tanya Yudi menggoda.
"Mamahnya ya satu .... Cuman Mamah Rini." sahut Silvy.
"Lhah, kalau Mis Yuna diajadikan apa?" Yudi berusaha mengorek pandangan Silvy.
"Aku lebih senang Mis Yuna jadi kakak saja. Dia masih muda dan cantik. Aku kagum padanya. Biar bisa jadi inspirasi hidupku." papar Silvy sambil mengkhayal.
"Terserah Silvy saja lah .... Mau panggil apa saja boleh." sahut Yudi sekenanya.
"Ih, Papah kok gitu? Senyum dong, Pah ...." kata Silvy yang masih menggoda Yudi.
"Iya ..., iya ..., iya .... Nih, kita sudah sampai bandara." kata Yudi yang memasukkan mobil ke tempat penurunan penumpang. Berhenti di *passenger drop*zone.
Yudi keluar, membuka bagasi, mengambil koper Silvy.
"Silvy, ini kopernya. Pintu masuknya lewat situ." kata Yudi yang meletakkan koper dan menarik gagang pendorong.
"Terima kasih ya, Pah. Silvy pulang." kata Silvy sambil memeluk papah barunya, lantas mencium pipi kanan kiri.
"Iya, hati-hati." sahut Yudi, lantas melambaikan tangan.
Yudi segera bergegas keluar dari tempat pemberhentian penumpang. Hari Senin banyak penumpang, maka bandara sangat ramai. Untuk menurunkan penumpang harus cepat. Yudi maklum itu. Lantas mobilnya melaju keluar bandara, untuk kembali ke kantor.
Baru saja keluar, HP-nya berdering, ada panggilan. Yudi menepi sebentar, mengangkat HP. Panggilan dari Rini. Bergegas ia menjawab. Tentu dengan hati berdebar.
"Halo, Rini ...." kata Yudi menyapa orang yang menelepon.
"Pagi sayang .... Bagaimana kabar Yudi?" jawab Rini.
Yudi membuka loud speaker, agar bisa bicara dan mendengar tanpa menempelkan di telinga. Lantas HP dimasukkan ke pundak di bawah baju, dekat telinga dekat mulut, agar pembicaraannya bisa leluasa sambil menyetir.
"Baik, Rini .... Rini sudah sehat, kan? Sudah sembuh, ya?" Yudi balik tanya.
__ADS_1
"Alhamdulillah, sehat. Ini barusan Silvy telepon sudah sampai bandara. Diantar Yudi, ya?" kata Rini.
"Eh, iya. Kebetulan saya bisa mengantar." sahut Yudi.
"Yudi ..., Silvy cerita ke saya, katanya di Jogja punya papah baru ya? Siapa?" tanya Rini.
"Ah, itulah Silvy. Persis sama seperti mamahnya. Unik dan antik." kata Yudi.
"Masak sih ...?! Trus papahnya yang baru itu siapa?" tanya Rini memaksa.
"Lhah, Rin ..., ya tanya sama Silvy dong, kan yang cerita Silvy." jawab Yudi.
"Silvy bilang suruh nanya ke Yudi, kamu bilang suruh nanya ke Silvy .... Yang bener mana, nih? Bikin penasaran saja." sahut Rini.
"Sekarang saya tanya sama Rini, kira-kira siapa laki-laki di Jogja yang kenal Silvy, yang dekat dengan Silvy." kata Yudi.
"Perasaan gak ada. Orang Silvy tidak pernah ke Jogja, ya baru kemarin ke rumah Yudi. Apa ..., jangan-jangan .... Yudi, kamu sudah bius pakai apa anakku?" kata Rini yang tiba-tiba mulai menebak.
"Jangan tuduh aku berbuat jahat, Rini. Aku ini orang baik-baik, ya." sahut Yudi.
"Jadi benar, papahnya Silvy yang baru itu Yudi?! Ya ampun, Yudi .... Teganya kamu, Yud .... Kok bisa itu, lho." Rini yang tahu, mulai jengkel dengan Yudi, tetapi sebenarnya juga senang.
"Maafkan saya, Rin. Silvy sendiri yang minta begitu. Karena menganggap diriku sudah tua, gak pantas dipanggil mas .... Begitu." kilah Yudi.
"Kok bisa-bisanya anak itu kurang ajar. Aku jadi kegik, Yud." kata Rini.
"Kalau diriku sih, senang banget .... Hehe ...." Yudi mulai meledek, agar Rini tidak stres.
"Ih, maunya." sergah Rini.
"Maunya mamah dan ananknya sama saja .... Hehe ...." sahut Yudi menggoda.
"Maunya jadi papah baru, begitu .... Enak aja." sahut Rini.
"Papah baru yang menggemaskan?!" kata Yudi'
"Ih .... Yudi .... Aku jadi kangen, nih ...." kata Rini yang langsung memanja.
"Besok, kalau sudah sehat ke Jogja lagi. Sekalian memulai proyek." sahut Yudi.
"Kalau ke Jogja penginnya gak mau ngurusin proyek." sahut Rini.
"Lantas ...?" tanya Yudi.
"Ngurusin papah baru .... Hehe ...." sahut Rini yang sudah terdengar gembira.
__ADS_1
"Maaf, Rini .... Ini saya sudah sampai kantor. Cukup dulu ngobrol kita ya, nanti dilanjut lagi." kata Yudi yang akan mengakhiri telepon.
"Iya, Yudi. Jaga diri Yudi baik-baik ya, Papah ku sayang. Aku merindukanmu selalu." kata Rini yang mengakhiri telepon.