KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 50: CINTA DAN PENYESALAN


__ADS_3

    Sepulang dari Jakarta, Yudi justru menjadi resah. Pasalnya, berkali-kali Silvy menelepon dirinya, yang katanya mamahnya, Rini, meminta dirinya untuk menanyakan keadaan Yudi. Telepon panggilan dari Silvy itu sudah dilakukan sejak Yudi masuk stasiun. Alasannya macam-macam. Katanya mamahnya pesan agar HP-nya tidak hilang lagi. Ceritanya macam-macam. Mulai dari hanya sekedar mengingatkan untuk berhati-hati, mohon untuk didoakan agar mamahnya cepat sembuh biar bisa ikut ke Jogja, hingga menyampaikan pesan agar Yudi tidak bosan dengan keluarganya, terutama mamahnya, yaitu Rini.


    Sebenarnya Yudi merasa terganggu. Pasalnya tidak bisa tidur nyenyak di dalam kereta. Padahal niatan Yudi, begitu masuk gerbong, duduk, langsung tidur. Begitu bangun, sudah sampai di Jogja. Tetapi dengan berkali-kali ditelepon, jadinya tidak bisa tidur. Malah kepalanya jadi pusing.


    Di kantor, Yudi menguap berkali-kali. Pertanda sangat mengantuk. Bingung untuk mengusir kantuk, Yudi langsung teras belakang kantor, mengambil dua kursi, lantas digunakan untuk merebahkan diri. Yudi pun tertidur pulas.


*******


    Sementara itu, di ruang VVIP rumah sakit, Rini sudah mulai segar. Setelah seharian ditunggui Yudi dan dipijit-pijit kaki serta tubuhnya, seakan penyakit yang menempel di badannya langsung sirna. Berganti sehat. Rini pun sudah bisa duduk dengan nyaman, makan sendiri tanpa disuapi, ke kamar mandi sendiri tanpa ada yang mengantar. Padahal kemarin, saat ada Yudi, Rini rebahan terus. Makan minta disuapi Yudi. Kakinya minta dipijit terus. Bahkan ke kamar mandi saja minta dituntun sama Yudi.


    Yudi memang penuh kasih sayang. Ia penyayang kepada siapa saja. Apalagi kepada Rini, orang yang pernah membuatnya jatuh cinta. Kepada para tetangga, ibu-ibu penjual makanan di obyek wisata, bahkan anak-anak di kampung, semua dilayani dengan baik. Seakan Yudi tidak pernah mengatakan tidak kepada orang-orang yang meminta bantuan kepadanya. Jadi, wajar jika saat Rini sakit, Yudi memberikan perhatian penuh demi kesembuhan Rini. Itulah kenapa Yudi ijin tidak masuk kerja, pergi ke Jakarta demi menjenguk Rini.


    Kini Rini yang sudah terlihat segar, duduk bednya, mulai mengambil HP. Rini membuka galeri, ingin melihat foto-foto kenangannya. Satu persatu foto dalam galeri itu ia amati. Rini mulai melihat foto-foto saat reuni. Banyak sekali. Gambar teman-temannya yang lucu-lucu. Satu persatu ia lihat. Rini tersenyum, bahkan terkadang tertawa sendiri. Kenudian menggeser lagi. Setiap melihat foto yang ada gambar Yudi, Rini berhenti sejenak. Mengamati secara seksama foto Yudi saat bersama teman-temannya di acara reuni.


    "Ih, nggak ada ganteng-gantengnya sama sekali. Jelek ...." begitu gumam Rini.


    Kemudian Rini menggeser lagi foto-fotonya. Ada foto bersama teman-temannya di depan gapura rumah Yudi. Keren, seperti berada di gapura kerajaan Majapahit. Rini sendiri yang mengambil foto itu saat berswafoto dengan Handoyo, Alex dan Yudi. Ada beberapa foto. Bagus-bagus. Rini senang melihatnya. Terutama saat melihat wajah Yudi. Ia membesarkan foto itu, dizoom pada bagian wajah Yudi. Yudi sudah berbeda dengan yang ada di ruang reuni. Lebih ceria dan terlihat gagah. Rini kembali tersenyum.


    "Iih ..., kamu memang laki-laki tampan." begitu gumam Rini sambil menyentuh-sentuh wajah Yudi yang ada di layar HP.


    Rini masih melanjutkan menggeser galeri fotonya. Ada foto saat ia bersama ibunya Yudi. Simbok. Begitu panggilannya. Wanita yang berusia hampir tujuh puluh tahun itu terlihat bahagia. Bibirnya terbuka, terlihat gigi-giginya yang masih utuh. Raut kecantikannya masih terlihat dibalik guratan kulit yang mulai keriput. Rini mengamati dengan seksama. Ada kemiripan antara dirinya dengan Simbok. Sama-sama wanita yang pernah cantik saat mudanya. Rini senang menyaksikan fotonya bersama Simbok.


    "Pantas saja anaknya juga ganteng." gumam Rini memuji kegantengan Yudi.


    Lantas Rini kembali menggeser. Ada fotonya sendirian. Mengenakan baju kotak-kotak dan celana jean yang kebesaran. Rini tertawa, ingat memakai pakaiannya Yudi. Ingat pula saat ditanya Anik, temannya, yang bilang, "Jangan-jangan pakaian yang di dalam, kamu juga pakai punyanya Yudi ...." Betul-betul kenangan yang sangat menyenangkan. Saat itu Rini benar-benar ingin memiliki Yudi sepenuhnya. Bahkan pernah terbersit ingin menikah lagi dengan Yudi. Ah, gila ....

__ADS_1


    Spontan Rini teringat, blezer dan rok serta pakaian bagian dalamnya yang masih disimpan di lemari Yudi. Bahkan ia sempat jengkel saat pakaiannya itu ditaruh di atas tempat tidur Yudi. Paling tidak kalau Yudi mau tidur, pasti pakaian itu dielus-elus dulu. Ih, jorok ...!


    "Yudi ..., Yudi .... Kamu itu ngapain cuman berani mengelus-elus pakaianku? Coba kamu elus-elus orang yang punya pakaian itu .... Hehe ...." Rini tertawa sendiri, membayangkan yang bermacam-macam.


    Rini masih melanjutkan melihat foto-fotonya. Ada foto-foto cantiknya yang sedang bergaya di puncak bukit dengan latar belakang Kota Jogja yang jauh berada di kaki gunung. Ya, itu foto-foto yang diambil oleh Yudi saat berada di Sky View.


    Lantas Rini berhenti lama saat mengamati foto, tatkala ia duduk bersama Yudi di kursi bambu, di pinggir Pantai Indrayanti. Rini menyandarkan kepalanya di bahu Yudi. Tangan Yudi melingkar di pinggang, memeluk tubuhnya. Sangat mesra. Rini teringat dengan janji-janji yang pernah mereka ucapkan saat di Pantai Indrayanti. Yah, mereka akan saling mencintai, walau tidak memiliki. Akan menjaga cintanya, hingga akhir menutup masa.


    Kini Rini terdiam. Pandangannya sudah tidak lagi menuju layar HP. Pikirannya sudah jauh pergi meninggalkan dirinya. Kembali ia teringat tentang Yudi. Sosok lelaki yang setia dengan cintanya.


    "Yudi, aku merasa kasihan padamu. Ingin rasanya aku memaki diriku sendiri yang tidak setia padamu. Yudi, jika kamu meminta ijin padaku untuk menikah, hari ini aku langsung setujui. Kamu sudah terlalu lama menderita karena aku. Mestinya kamu juga bahagia. Yudi, bisakah hatimu melupakan aku? Sanggupkah diriku yang kamu dambakan ini diganti dengan wanita lain? Aku rela, Yudi ..., meski terlalu berat menipu perasaanku. Tapi setidaknya, itu sudah mengurangi kesalahanku. Ah ..., Yudi ...." gumam Rini yang kembali bersedih.


    Rini menatap foto mereka berdua lagi. Yah, memang benar-benar terlihat mesra. Jika saja itu terjadi sebelum tiga puluh tahun yang lalu, mungkin ceritanya akan berbeda. Rini dan Yudi, sejoli yang saling mengasihi.


    Rini mencoba melupakan foto itu. Selanjutnya ia melihat foto kiriman dari Silvy. Gambar Yuna yang terpampang. Gadis Jepang empat puluh tahun yang cantik jelita itu, kembali membayang di pelapuk mata Rini. Betapa sakit hatinya Rini saat menyaksikan gadis itu dengan pakaian tidak senonoh mendekati Yudi. Saat itu hati Rini menjadi panas. Rini cemburu. Khawatir Yudi akan tergiur dengan kecantikan gadis Jepang itu. Ia pun ingat betul, saat dirinya ngambek, lantas marah pada Yudi, dan langsung pagi harinya minta diantar pulang. Bahkan saat pulang pun masih dengan rasa jengkel dan marah pada Yudi. Sehingga tidak mau bicara, bahkan berpamitan pun tidak. Dan akhirnya, ia jatuh pingsan saat sampai di bandara, dan harus digotong oleh banyak orang, lantas dibawa ke rumah sakit oleh Mas Jo .... Dan masih sakit sampai sekarang. Ya, itu karena kecemburuannya yang berlebihan.


    Namun saat mendengar cerita dari anaknya, menerima kiriman foto-foto dari Silvy, bagaimana Yuna di rumah Yudi, bagaimana sikap Yudi pada Yuna .... Rini menjadi merasa bersalah.


    "Mengapa juga aku cemburu dengan gadis yang belum pernah menjadi pacar Yudi. Rini ..., Rini kamu ini memang sering berprasangka. Kurang apa baiknya Yudi itu. Laki-laki itu tidak pernah menyakiti dirimu, tetapi justru kamu yang menyakiti dia .... Eh, dirimu malah masih menuduh yang bukan-bukan. Dasar, kamu Rini ...." olok Rini pada dirinya sendiri.


    Kemudian Rini menggeser foto kiriman Silvy berikutnya. Ada Yudi yang dipeluk mesra oleh Silvy. Sangat mesra. Yudi tersenyum manis. Silvy terlihat sangat manja.


    "Coba kamu lihat anakmu, Rini .... Ia berpelukan mesra dengan Yudi. Apakah kamu juga cemburu? Masak aku harus cemburu dengan anakku sendiri ...!" Rini mematahkan kecemburuannya.


    Ya, Yudi memang baik kepada semua orang. Tidak pernah punya pamrih, tidak pernah mengharap imbalan apapun. Tentu saat Silvy minta berswafoto bareng, tentu Yudi yang sudah menganggap anaknya sendiri, dia akan rela memeluk anaknya dengan mesra.

__ADS_1


    Kembali Rini melihat foto kiriman Silvy. Yang ini adalah foto lukisan dirinya bersama Yudi. Rini membesarkan foto itu, menggeser naik turun, kanan kiri, untuk melihat secara detail. Wajah Rini terlihat cantik dalam lukisan itu. Senyumnya sangat menawan. Bahkan tatapan matanya seakan memandangi setiap orang yang melihatnya. Tapi saat menyaksikan Yudi, lukisan itu tampak jelek. Yudi terlihat sedih. Tidak ada raut bahagia sama sekali.


    "Yudi ..., kenapa kamu terlihat sedih? Yudi ..., kenapa kamu tidak bahagia? Apa ini semua gara-gara diriku? Yudi ..., please ..., jangan bersedih, sayang .... Ayo, buat dirimu happy .... Terus terang, aku menyesal sudah melukai hatimu, Yudi. Ayo, bangkitlah, jangan menyerah, masih banyak hal yang bisa kamu raih." gumam Rini.


    Rini merasa kasihan dengan kesedihan Yudi. Rini tidak tega melihat lukisan wajah Yudi yang tampak murung. Tentu Rini merasa, dirinya lah yang telah membuat Yudi tidak bisa bahagia. Jemari tangan Rini masih mengelus-elus wajah Yudi di layar HP. Semakin kasihan dengan laki-laki yang setia mencintainya.


    "Yudi, seandainya ada wanita yang bisa membuat dirimu bahagia, aku rela kamu menikah dengan wanita itu. Bahkan aku akan membiayai pesta pernikahanmu, asal hidup kamu bisa bahagia." begitu ucap Rini yang ingin membahagiakan orang yang mencintainya.


    Entah itu kata-kata Rini sesaat ketika melihat foto kesedihan Yudi dalam lukisannya, ataukah Rini memang bersungguh-sungguh menghendaki Yudi menikah agar bahagia. Namun yang jelas, Rini sudah mulai bisa menerima kehadiran Yudi di tengah-tengah keluarganya. Yudi baik kepada suaminya, baik kepada menantunya, terlebih kepada anak perempuannya. Itu sungguh membahagiakan Rini. Itu sudah menjadi obat yang mujarab.


    Ada suara pintu diketuk. Seorang perawat bersama dokter masuk. Akan memeriksa perkembangan kesehatan Rini.


    "Selamat Sore Ibu Rini ...." kata dokter yang langsung memeriksa Rini.


    "Bagaimana, Dok?" tanya Rini.


    "Bagus semua .... Perkembangannya luar biasa. Ibu Rini sudah sehat. DEtak jantungnya bagus, tensinya juga bagus. Ibu Rini besak sudah bisa pulang. Tapi tolong dijaga pikirannya ya, Bu .... Tidak usah memikir yang macam-macam. Nanti malah kambuh lagi." kata dokter yang memeriksa itu.


    "Iya, Dokter .... Terima kasih." ucap Rini yang senang sudah bisa pulang.


*******


    "Ya ampun Yudi ...!! Dicari orang ke sana kemari, ternyata kamu malah tidur mlungker di sini .... We alah, dasar bocah gemblung!" bentak sorang perempuan tua dengan tubuh gemuk tidak karuan ukurannya. Teman sekantor Yudi.


    Yudi kaget. Terjatuh dari kursi tempat ia tidur.

__ADS_1


    "Ya ampun, Mak .... Ngagetin orang sedang mimpi pacaran." sahut Yudi meledek.


    "Hah ..., apa?! Kamu pacaran?! Pacaran sama gudel .... Hehehe ....!" ledek wanita gendut itu sambil pergi meninggalkan Yudi.


__ADS_2