KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 230: RENCANA YANG DIHARAPKAN


__ADS_3

    "Tang gintung ..., gintang gintung .... Tang gintung ..., gintang gintung ...."


    Setiap pagi Yudi bercanda dengan Yuni, bayi mungilnya yang semakin terlihat cantik. Kadang dibopong, kadang pula diajak bercanda di atas tempat tidur. Bahkan setiap pagi, Yudi selalu membopong Yuni diajak menghirup udara  segar di luar rumahnya. Pasti si Yuni kecil yang diajak bercanda ayahnya senang dan tertawa riang.


    "Ciluk ..., baaa .... Ciluk ..., baaa ...."


    Begitu juga Rini, mengajak bercanda anaknya merupakan kegembiraan tersendiri. Apalagi bagi Rini, Yuni adalah anak yang didamba-dambakan. Yuni adalah anak yang membuktikan jika dirinya bukanlah wanita mandul. Yuni adalah buah hati yang sangat ia sayangi.


    Silvy yang sudah dewasa, terkadang merasa cemburu saat mengajak berembuk dengan ibunya, tetapi ibunya justru mencumbu Yuni. Silvy kini sering merasa jarang atau kurang mendapat perhatian dari ibunya seperti dahulu sebelum lahir Yuni. Maka tidak heran, jika Silvy sering protes pada ibunya.


    "Mamah .... Silvy mau bilang ...." kata Silvy waktu berada di rumah Rini yang sekarang tinggal bersama Yudi.


    "Iya .... Bilang saja .... Ciluk ..., baaa ...." kata Rini yang tentu sambil sibuk menggoda Yuni.


    "Iih ..., Mamah .... Orang Silvy mau bilang kok malah asyik nggodain Yuni terus ...." protes Silvy yang tentu agak kecewa karena ibunya lebih perhatian pada Yuni.


    "Nggak papa, Sayang .... Ayo, bilang saja .... Mamah dengar, kok ...." sahut ibunya.


    "Begini, Mah ..., Mas Yayan itu kan sudah berhasil mengembangkan banyak sekali bibit anggrek ...." kata Silvy terhenti dipotong ibunya.


    "Wao .... Benarkah itu? Keren ..., Sayang .... Kalian pasti akan jadi pengusaha anggrek yang sukses." kata yang memotong pembicaraan Silvy.


    "Iya ..., Mah .... Tapi Mas Yayan justru bingung, karena yang mengelola, Mas Trimo sudah tidak mampu untuk mengurusi tanaman yang semakin banyak itu .... Mas Trimo butuh teman." kata Silvy meminta pertimbangan pada ibunya.


    "Waduh .... Sampai sebegitukah ...?!" tanya Rini yang tentu kaget dengan cerita Silvy.


    "Iya, Mah .... Makanya, kali-kali tengok ke Taman Anggrek Nirwana." Silvy meminta ibunya menengok.


    "Ya, Mamah nanti akan ajak Papah ke Taman Anggrek .... Mamah juga rindu menengok anggrek-anggrek yang berbunga." kata Rini, yang selanjutnya memanggil Yudi, "Pah ...! Papah Yudi ....!!" teriak Rini.


    "Iya, Mah ...! Sebentar .... Tanggung ...!" sahut Yudi dari rumah depan, di pendopo.


    Sebentar saja Yudi sudah ke belakang, memenuhi panggilan istrinya.


    "Lho ..., ada Silvy ternyata ...." kata Yudi setelah menemui mereka di ruang belakang, yang sekarang sudah menjadi ruang keluarga dan diberi sofa keluarga.


    "Papah ...." Silvy langsung menyalami Yudi dan mencium tangannya.


    Yudi memeluk Silvy sebagai tanda kasih sayangnya.


    "Ada apa ...?" tanya Yudi yang langsung ikut nimbrung perbincanagan antara Silvy dengan Rini.


    "Itu, Pah ..., masalah kebun anggrek yang semakin besar .... Mas Trimo butuh teman untuk merawat. Anggreknya terlalu banyak, Pah .... Makanya, Papah sama Mamah, ajah Dik Yuni nengok kebun anggrek." kata Silvy yang juga merajuk pada Yudi.


    "Oke .... Ayo, sekarang kita ke Taman Anggrek .... Mamah mau, kan ...?" kata Yudi yang tentu menawarkan ajakan kepada istrinya.


    "Iya, Pah .... Sambil refresing, ngajak jalan-jalan Yuni menonton kebun anggrek kakanya. Tapi sebentar, saya siapkan susu sama bubur untuk Yuni, sama bawa pakaian gantinya." sahut Rini.

__ADS_1


    Selanjutnya, mereka bertiga naik mobil yang disetir oleh Yudi, menuju Taman Anggrek Nirwana.


    "Mas Yudi ...! Mau ke mana, Mas Yudi ...?!"


    "Halo, Mas Yudi ...!!"


    "Gimana kabarnya, Mas Yudi ...?!"


    "Mampir dahulu, Mas Yudi ...."


    Setiap orang yang ditemui di jalan, pada menanyai dan meminta untuk mampir. Terutama saat sampai di depan Pasar Rakyat, orang-orang yang berjualan pada menghentikan Yudi.


    "Ayo, Mas Yudi ..., mampir dulu ke warung .... Minum dan makan nasi pecel dulu ...." kata salah seorang pedagang yang sempat menghentikan.


    "Ini saya mau nengok kebun anggreknya anak .... Besok saja saya kemari, khusus keliling pasar." jawab Yudi.


    Namun tiba-tiba, ada seorang laki-laki agak tua mendatangi mobil Yudi yang berhenti itu, katanya, "Mas Yudi, ini ada gorengan ..., monggo buat camilan di jalan." kata orang itu sambil memberikan sekantong kresek jajanan jualannya.


    "Walah ..., kok malah merepotkan .... Yo wis, maturnuwun, Pak Lik ...." kata Yudi yang sudah menerima gorengan itu. Lantas kembali melajukan mobilnya.


    Bagaimana orang-orang di Pasr Rakyat itu tidak berterima kasih kepada Yudi, kalau mereka sudah dibangunkan pasar untuk berjualan. Padahal Yudi tidak meminta uang sewa atau pungutan apapun. Soal ada retribusi atau karcis kebersihan dan iuran paguyuban, itu semua dikelola oleh desa. Yudi tidak mau tahu dan tidak meminta bagian. Tentunya para pedagang ini merasa berutang budi kepada Yudi.


    Hanya berjarak sekitar seratus lima puluh meter, antara Pasar Rakyat dengan Taman Anggrek Nirwana. Maka hanya butuh waktu dua menit sudah sampai. Memang Yudi dahulu membangun Pasar Rakyat ini akan akses jalan menuju rumah Rini menjadi ramai. Sehingga kebun anggreknya juga ikut ramai oleh para pembeli.


    "Hai ..., hai ..., hai .... Adik kecil ..., ayo lihat bunga anggrek yang banyak bermekaran ...." sambut Yayan saat mamah dan papahnya tiba di rumahnya.


    "Wah ..., wah ..., wah .... Banyak sekali anggrek kamu, Yayan .... Keren banget .... Calon pengusaha anggrek yang sukses." kata Yudi memuji anaknya sambil mengacungkan jempol.


    "Wao .... Hebat banget kalian .... Jadi selama ditinggal mamah hamil sampai melahirkan Yuni, ternyata kalian sudah bekerja keras. Luar biasa anak-anak Mamah ini." kata Rini yang ikut memuji anak-anaknya.


    "Papah Yudi, ayo lihat laboratorium saya .... Maaf, Mamah sama Adik Yuni jangan masuk lab, banyak bahan kimia yang tidak baik dihirup bayi." kata Yayan yang langsung mengajak Yudi.


    Yudi mengikuti ajakan Yayan, yang pasti ingin melihat hasil kerja Yayan di laboratorium pembibitan anggrek.


    "Ini, Pah .... Hasil kerja saya selama ini sebagian besar masih berada di ruang laboratorium ini.  Ini, Pah ...." kata Yayan yang menunjukkan botol-botol berisi bibit anggrek. Jumlahnya ada ribuan botol yang tertata di rak dalam lab.


    "Wao .... Kamu benar-benar hebat, Yayan .... Ini pekerjaan yang luar biasa. Yayan sudah klasifikasikan masing-masing botol ini sesuai jenisnya?" tanya Yudi yang sok tahu jenis anggrek.


    "Ya, pastilah, Pah .... Itu setiap botol ada label dengan tulisan nama-nama anggreknya. Papah harus lihat yang di sana ...." kata Yayan sambil menunjuk rak botol yang ada di ujung, lantas menuju rak itu.


    "Kenapa dengan botol-botol bibit yang ini ...? Kok bentuknya seperti brokoli ...?" tanya Yudi.


    "Ini bibit anggrek mahal, Pah .... Saya berhasil mengawinkan anggrek-anggrek mahal yang dimiliki Mamah. Bijinya baru saja saya kembangkan, dan ternyata berhasil, Pah .... Ini yang paling saya banggakan." kata Yayan pada Yudi sambil menunjukkan bibit anggrek dalam botol yang masih seperti brokoli tersebut, itu karena gerombolan benih yang baru tumbuh.


    "Yayan ..., kamu benar-benar hebat. Saya bangga padamu." kata Yudi sambil menepuk pundak anaknya.


    Setelah berkeliling, akhirnya Yudi, Yayan, Silvy serta Rini yang memangku Yuni, duduk di kursi keluarga yang sengaja dibawa dari Jakarta. Barang-barang dari rumahnya yang sudah diangkut ke Taman Anggrek Nirwana, dan rumahnya di Jakarta sudah dikontrak oleh temannya waktu kerja dahulu.

__ADS_1


    "Mana Mas Trimo ...? Tolong panggilkan, saya mau bicara ...." kata Yudi setelah berkumpul di kursi keluarga. Mas Wawan sengaja membuat ruang yang dahulu sebagai dapur menjadi ruang keluarga. Sedangkan dapurnya sudah dipindah berdekatan dengan laboratorium, sekaligus untuk memudahkan bembuatan media.


    "Mas Trimo ...!! Sini sebentar, Mas Trimo ...!" teriak Silvy memanggil Trimo.


    Yang dipanggil langsung segera datang. Tentu paham akan ada yang dibicarakan.


    "Iya, Neng Silvy .... Ee, ada Ibu Rini dan Mas Yudi ...." kata Trimo yang sudah mendekat.


    "Iya, Mas Trimo .... Sini duduk dulu sebentar ...."kata Yudi menyuruh Trimo.


    Trimo mengambil kursi, lantas duduk bersama, lantas katanya, "Ada apa, njih ...?" tanya Trimo.


    "Katanya Mas Trimo kewalahan merawat anggrek sendirian ...?" tanya Yudi yang langsung pada masalah. Maklum, Yudi sudah paham Trimo yang tidak bisa diajak basa-basi.


    "Betul, Mas Yudi .... Sekarang tanamannya sangat banyak sekali, saya tidak sanggup ngurusi seorang diri. Apalagi kalau pas ramai pembeli, saya jadi bingung .... Hehe ...." jawab Trimo yang memang polos.


    "Ya sudah, besok cari teman diajak membantu, biar Mas Trimo tidak kewalahan." kata Yudi enteng.


    "Begitu ya, Mas Yudi .... Saya ajak Solekan, boleh ...?" kata Mas Trimo yang langsung mencoba mengusulkan temannya.


    "Terserah kamu .... Yang penting orangnya mau, kerjanya cocok sama kamu." jawab Yudi yang memasrahkan pada TRimo.


    "Siap, Mas Yudi .... Terima aksih, Mas Yudi ..., Ibu Rini .... Mas Yayan dan Neng Silvy ...." kata Trimo yang tentu senang karena mulai besok kerjanya tidak sendiri lagi, tapi ada temannya.


    "Pah ..., sebenarnya saya juga punya ide .... Itu kalau Papah Yudi setuju." kata Yayan mencoba menyampaikan gagasan.


    "Apa ...?" tanya Yudi.


    "Saya pengin melatih anak-anak di Kampung Nirwana untuk menanam anggrek. Lantas memberikan beberapa bibit ke mereka untuk dirawat di rumahnya. Nanti kalau anggreknya sudah besar atau berbunga, dibawa kemari lagi untuk di jual di sini. Jadi, kita memberi rejeki kepada mereka." kata Yayan menyampaikan gagasannya.


    "Bagus itu .... kalau bisa, jangan hanya anak-anak, tetapi juga ibu-ibu yang punya waktu luang. Itu kan pekerjaan gampang, tidak ditunggui setiap saat, hanya disiram pagi sore .... Jadi bisa dibuat sambilan. Pasti banyak yang mau." jawab Yudi yang sangat senang dengan ide anaknya itu.


    "Terima kasih, Pah .... Jika diizinkan, nanti setiap hari Sabtu saya akan ajari mereka cara merawat anggrek." kata Yayan lagi, yang langsung bersemangat mendapat restu dari orang tuanya.


    "Papah sama Mamah sering-sering kemari .... Biar kami lebih semangat ...." timpal Silvy yang tentu ingin selalu ditengok oleh orang tuanya.


    "Doakan, tanah yang ada di bawah parkiran itu dijual .... Kalau tanah itu dijual, akan Papah beli, lantas akan saya bangun galeri di situ, nanti rumahnya bisa kita gandengkan dengan milik kalian. Jadi kita bisa tinggal satu rumah lagi." kata Yudi yang tentu sangat menyenangkan hati anak-anaknya.


    "Yang bener, Pah ...?!" sahut Silvy.


    "Saya setuju." Rini menimpali.


    "Waah ..., jika bisa seperti itu, pasti lebih keren, Pah ...." kata Yayan yang tidak ketinggalan senyumnya.


    "Iya .... Papah sudah pengin sekali punya galeri. Setidaknya untuk memajang lukisan Papah. Biar nanti kalau teman-teman Papah pada datang, dia tidak mengganggu Yuni sama Mamah .... Mereka bisa langsung ke ruang galeri." jelas Yudi pada anak dan istrinya.


    Tentu, istri dan anak-anaknya menganggukkan kepala sambil tersenyum riang, tanda senang mendengar rencana ayahnya.

__ADS_1


    Ya, dari dulu Yudi memang bertekad untuk mengembangkan lukisan-lukisannya. Setidaknya Yudi punya tempat khusus untuk berkreasi dan berkarya. Tidak sekadar mencari uang untuk biaya hidup, tetapi juga sebagai tempat eksistensi karya-karyanya agar dikenal oleh dunia.


__ADS_2