KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 53: PROPOSAL CINTA


__ADS_3

    Sementara itu, sepulang Yuna dari Indonesia. Sesampai di Bandar Udara Haneda, Tokyo, Yuna langsung menuju Kyoto dengan mengendarai kereta cepat. Kota Kyoto dahulu merupakan ibu kota Jepang. Kyoto sudah ada dan ramai sejak abad pertama masehi, yang kemudian menjadi ibu kota Jepang selama lebih dari seribu tahun lamanya. Di Kota Kyoto ini peradaban bangsa Jepang dimulai, dengan berdirinya kuil-kuil penganut kepercayaan Sinto.


    Dengan adanya perkembangan zaman di Jepang, pemerintah Jepang berusaha memindahkan ibu kota negaranya ke Tokyo. Ini dilakukan untuk mempermudah pemerintahan serta mempercepat akses jalur transportasi dan komunikasi. Sedangkan Kyoto dijadikan sebagai Pusat Kebudayaan Jepang yang banyak memiliki situs warisan dunia dan cagar budaya internasional. Setidaknya di Kyoto terdapat seribu kuil Budha, dan lebih dari empat ratus kuil kepercayaan Sinto. Di Kota Kyoto, pemerintah maupun masyarakat Jepang, masih mempertahankan tradisi kehidupan masyarakat yang artistik dan unik. Nilai-nilai tradisi itu dipertahankan sampai sekarang. Maka tidak heran, jika Kyoto, kota yang memiliki empat musim ini menjadi tujuan utama bagi para turis internasional.


    Yuna yang lahir di Sakai, dibesarkan oleh orang tuanya di kota kecil itu. Lantas setelah menyelesaikan sekolah di akademi kebudayaan di Kyoto, ia mendapatkan pekerjaan sebagai seorang desainer eksterior di kota itu. Saat ini, Yuna lebih banyak tinggal di Kyoto, walau sering diminta oleh perusahaan-perusahaan besar yang mengembangkan bisnisnya di Tokyo. Ya, tentu Yuna lebih senang memilih tinggal di Kyoto, karena darah seni yang mengalir dalam tubuhnya, menuntut Yuna untuk mengembangkan berbagai kreativitas dalam bekerja sebagai desainer eksterior. Terlebih lagi, seniman di Jepang lebih senang hidup di Kyoto. Tentu karena tradisinya yang kuat dan masih mempertahankan nilai-nilai kerohanian yang sangat tinggi. Para seniman Jepang lebih intens dengan kesakralan moral dan tradisi para leluhurnya. Di Kyoto inilah, para pekerja seni banyak mencari inspirasi.


    Satu hari Yuna beristirahat di apartemennya, untuk menghilangkan rasa capai dalam perjalanan pulang, serta menata barang bawaan. Pagi harinya, dengan pakaian rapi Yuna langsung menuju Gedung Yayasan tempat dirinya bekerja sama. Yayasan yang akan memberikan bantuan untuk kegiatan pemberdayaan di Daerah Bantul, Yogyakarta Indonesia. Tentu dengan membawa berkas proposal yang sudah lengkap, termasuk data-data pendukung yang diperlukan.


    Yuna menyampaikan laporan telaahnya kepada Yayasan Penyandang Dana. Tentunya untuk mereview hasil telaah lapangan yang dilakukan oleh Yuna, akan dilakukan oleh tim khusus. Setidaknya membutuhkan waktu dua minggu. Jika hasil review tanpa catatan, maka tim khusus akan melakukan pengecekan lapangan. Tetapi jika hasil review terdapat catatan, Yuna harus memperbaiki data atau menyesuaikan fakta yang ditemui. Namun bila hasil review dinyatakan tidak layak, maka usulan program bantuan dibatalkan. Yuna sudah bersusah payah melakukan penelitian dan pembuatan rancangan proyek, yang semuanya langsung mengena pada sasaran pemberdayaan masyarakat. Tentu dengan bantuan Yudi dan seluruh masyarakat Kampung Nirwana. Apalagi dalam proposal itu sudah dilengkapi dengan foto-foto lapangan serta rapat pertemuan dengan masyarakat, serta dihadiri para pejabat terkait. Tentu itu akan menguatkan usulan yang diajukan oleh Yuna. Semoga saja usulan itu terealisasikan.


    Tepat dua minggu, Yuna dipanggil oleh Yayasan Penyandang Dana. Menghadap pada Tim Review. Pasti ada rasa khawatir. Berdebar akan mendengar hasil review. Namun Yuna sudah siap dengan hasil yang akan disampaikan. Itu sudah biasa dalam suatu usulan proyek. Sudah berkali-kali Yuna menerima proyek semacam ini. Tetapi, kali ini memang proyek yang berbeda. Yuna sudah meninggalkan hatinya di Kampung Nirwana. Yuna sudah membaur dengan simbok-simbok para penjual makanan tradisional. Yuna sudah terlanjur menaruh hatinya dalam relung hati Yudi. Jika usulan ini gagal, maka gagal pula semuanya. Tidak hanya gagal proyeknya, tetapi gagal juga untuk kembali mengambil cintanya yang sudah dititipkan kepada Yudi.


    Yuna duduk dihadapan lima orang laki-laki, dari tim review Yayasan Penyandang Dana.


    "Ohayou gozaimasu ..., Yuna shimai." ketua tim review mengucapkan selamat pagi kepada Yuna.


    "Ohayou gozaimasu ..., shinshi." Yuna menjawab salam dengan ucapan selamat pagi tuan-tuan semua. Tentu sambil membungkukkan badannya. Itulah kehebatan negara maju seperti Jepang. Sangat menjunjung tinggi rasa hormat kepada siapa pun.

__ADS_1


    "Yuna shimai ..., arigato gozaimasu. Saudari Yuna sudah menyelesaikan telaah lapangan secara baik. Hasil paparan dan telaahnya sangat detail dan lengkap. Sebuah pengembangan pemberdayaan yang sangat besar. Tetapi kami bangga kapada saudari Yuna. Yuna shimai ..., Anda adalah salah satu orang hebat yang kami banggakan. Walau tentu, ada yang harus dikaji ulang. Ada satu hal yang menjadi pertanyaan dari kami, yaitu tentang Gua Jepang. Mengapa Anda mencantumkan situs itu dalam pemberdayaan Anda?" pertanyaan dari Tim Review.


    Yuna merasa lega disanjung. Tentu ini akan memberikan hasil yang positif. Tetapi saat dipertanyakan tentang obyek Gua Jepang yang masuk dalam rancangan proyeknya, Yuna menjadi khawatir, karena situs ini termasuk sensitif bagi kehidupan bernegara di Jepang. Bangunan Gua Jepang merupakan peninggaIan di masa penjajahan. permasalahan ini dikemukakan, tentu ada ekses yang mengkhawatirkan. Setidaknya mengingatkan kembali sejarah kelam pada masa penjajahan. Ya, di Gua Jepang itu sudah memakan banyak korban.


    Yuna harus berhati-hati dalam menjawab. Perlahan ia menjelaskan, bahwa masyarakat Kampung Nirwana dan sekitarnya menganggap kalau Gua Jepang dulunya dijadikan benteng yang sanggup membendung serangan tentara Sekutu. Awal mula kemerdekaan Indonesia, terjadi agresi militer yang dilancarkan oleh tentara Belanda beserta para sekutunya. Gua Jepang inilah yang dijadikan tempat perlindungan para gerilyawan dalam menghadapi musuhnya. Gua Jepang ini sudah menyelamatkan banyak penduduk. Termasuk kawasan perbukitan di tepi Pantai Selatan, yang rencananya akan dijadikan Taman Awang-awang, adalah benteng alam yang digunakan untuk menyerang tentara NICA.


    Perlahan Yuna kembali menjelaskan, terkait Gua Jepang yang masuk dalam rancangannya. Yuna menerangkan jika masyarakat sekitar Gua Jepang, selalu mengadakan kegiatan ritual untuk mengenang para pahlawannya. Ritual itu berupa sadranan atau selamatan di kawasan Gua Jepang. Lantas Yuna bertanya, kenapa Jepang yang kalah perang pada pertempuran Perang Dunia kedua tidak mau menghormati tentara-tentara yang menjadi korban di sana? Lantas Yuna memaparkan rancangan kegiatan yang akan dilaksanakan di Gua Jepang, mulai dari menata situs tersebut menjadi lebih menarik, termasuk menata lingkungan sekitar, mulai dari sarana transportasi hingga penataan para pedagang. Kemudian membuat agenda kunjungan turis internasional, yaitu wisata religi dari keluarga korban perang dari Jepang. Rencananya dilaksanakan setiap peringatan kekalahan Jepang di Perang Dunia II. Tentu kegiatan itu bisa menambah kecintaan dan penghormatan terhadap para pahlawan.


    Yang namanya menanamkan nilai-nilai karakter bisa dilakukan mulai dari anak-anak. Termasuk kepada para keluarga dan veteran perang. Yuna juga mengungkapkan, Kekalahan Jepang bukan melawan Indonesia, tetapi dikeroyok tentara Sekutu. Demikian juga saat Indonesia sudah menyatakan merdeka, tentara Sekutu masih tidak mau menerima, bahkan mengobarkan agresi, yang membuat masyarakat Indonesia terus bergerilnya melawan penjajah.


    "Yuna shimai ..., kami senang mendengar paparan Anda yang menarik. Tetapi untuk yang berkaitan dengan wisata religi ke Gua Jepang, kami akan menyampaikan kepada pemerintah lebih dulu, termasuk kepada dewan budaya dan kementerian luar negeri. Hal ini terkait dengan hubungan bilateral antara Jepang dengan Indonesia. Kita tidak mau muncul ekses di kemudian hari." kata pimpinan review.


    "Hoka no puroguramu wa dodesu ka? Apakah program yang lain sudah bisa kami perbaiki?" tanya Yuna.


    "Tashikani dekimasu. Yuna shimai ..., dalam waktu satu minggu, kami minta perbaikan rancangan, khususnya pada perhitungan ulang jumlah kebutuhan. Dan dalam waktu dekat, kami akan mengirim tim visitasi ke Indonesia. Semoga proyek Anda akan segera terealisasi. Khusus untuk obyek wisata Gua Jepang, kami mohon waktu. Semoga dari pihak pemerintah akan merealisasikan usulan Anda."


    "Shinshi arigato ...." Yuna mengucapkan terima kasih kepada tim review, tentu sambil membungkukkan badannya, sebagai tanda hormat.

__ADS_1


    Review sudah selesai. Yuna bangkit berdiri, kembali membungkukkan badannya berterima kasih kepada tim review. Orang-orang yang hadir di ruangan itu bertepuk tangan, mengapresiasi apa yang dipaparkan oleh Yuna. Lantas satu persatu membungkukkan badan, tanda menghormat.


    Yuna merasa senang karena rancangan proyeknya akan disetujui. Tinggal menunggu hasil dari visitor yang akan melakukan kroscek di lapangan.


    Begitu sampai di kamar apartemen, Yuna langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Tentu dengan senyum yang mengembang. Tentu dengan perasaan yang senang. Sebentar lagi ia akan kembali ke Indonesia, untuk mewujudkan karyanya, arsitek Taman Awang-awang di Yogyakarta. Dan yang lebih menggembirakan, pasti Yuna bisa kembali bersama Yudi, yang akan diajak memadu kasih, membangun keluarga bersama orang yang pernah ia tambatkan rasa cintanya.


    Yuna memegang HP, ingin rasanya untuk menghubungi Yudi. Tetapi kembali ia meletakkan HP itu, masih ragu-ragu untuk menghubungi Yudi. Takut jika ditanya masalah hasil usulannya. Tentu jika Yudi menanyakan bagaimana hasilnya, Yuna belum bisa memberikan jawaban.


    "Ah ..., mengapa juga Yudi tidak menghubungi saya? Pasti dia tidak mau mengganggu pekerjaanku. Laki-laki itu memang baik. Aku betul-betul terkesan melihat pribadinya. Yudi, tunggu aku kembali, untuk membawa cinta seperti yang pernah aku tawarkan padamu."


    Dalam kesendiriannya di atas kasur apartemen itu, Yuna teringat bagaimana Yudi membopong saat ia tidur di pendopo rumah Yudi, lantas membaringkan di kasur ruang tidurnya. Ia juga ingat ketika dirinya memanja kepada Yudi untuk minta digendong menuju kamarnya. Yudi melakukan semuanya dengan gagah perkasa, penuh kasih sayang, sangat melindungi wanita yang lemah. Yuna sangat senang. Demikian pula pada saat malam perpisahan, Yuna tidur dalam pelukan Yudi, Yudi pun tidur sambil memeluk Yuna. Ah ..., sungguh bahagianya jika bisa punya suami seperti Yudi. Penuh kasih sayang dan bertanggung jawab.


    Lamunan Yuna pun melambung, membayangkan masa yang belum terjadi. Masa di mana nanti mereka berdua akan bahagia dalam berumah tangga.


    Yuna pun berdoa, semoga usulan proyek itu disetujui, sehingga dirinya bisa kembali dalam pelukan Yudi.


    Usulan proposal cinta.

__ADS_1


__ADS_2