
PUKUL 13.00 waktu Jogja. Rini mengangkat HP, menelpon Anik, teman akrabnya waktu SMA.
"Halo, Rin .... Kamu jadi berangkat reuni, kan?!" tanya Anik di HP.
"Ya jadi, lah .... Gue udah nyampai hotel, nih ...!" jawab Rini.
"Hah ..., di mana?" tanya Anik.
"Gue di kamar. Lu udah nyampe lon ...?" kata Rini.
"Lah, Rin ..., kok di kamar? Aku masih di lobi, ini ndaftari teman-teman yang datang. Ayo, kamu turun sini, daftar dulu." sahut Anik.
"Oke, gue turun." jawab Rini. Ia pun bergegas turun.
Tak berapa lama, Rini sampai di lobi. Ia menengok ke kanan kiri. Mencari temannya SMA yang bernama Anik. Maklum sudah lebih tiga puluh tahun tidak bertemu, pasti pangling. Wajah dan badannya sudah mengalami perubahan, sehingga tidak mengenal lagi. Apakah temannya masih kecil, atau sudah menjadi gemuk.
"Halo, Nik .... Elo di mana? Nich, gue udah nyampai di lobi." tanya Rini melalui telepon, mencari temannya.
"Halo, Rin .... Aku di meja panitia. Dari sisi resepsionis, ada lorong. Lewat situ, nanti sampai di ruang pertemuan. Saya ada di depan ruang. Nanti malam kegiatan kita di ruang itu." sahut Anik dari telepon.
"Oke ..., oke .... Gue ke sana." sahut Rini.
Benar, di sisi resepsionis ada lorong lobi menuju sebuah ruang besar yang biasa digunakan untuk acara-acara pertemuan maupun resepsi pernikahan. Rini langsung menuju meja yang ada di depan aula tersebut. Ada dua wanita yang duduk di kursi balik meja itu. Yang satu pendek agak gemuk, masih nampak segar dan manis. Satunya lagi tidak begitu gemuk, tetapi juga tidak langsing. Dandanannya seperti orang kantoran. Pasti yang gemuk itu Anik, begitu tebakan si Rini. Tetapi kalau yang satunya, yang terlihat lebih cantik itu, Rini benar-benar lupa. Dua wanita itu masih asyik mengobrol.
Rini berhenti di depan meja. Sambil tersenyum ia mengamati dua wanita, yang ia yakin adalah temannya.
"Rini ...?!" teriak wanita yang gemuk, yang tidak lain adalah Anik.
"Anik ...?!" sahut Rini.
"Haaaaaaaa ...! Huaaa ...!" mereka berbarengan berteriak.
Anik langsung berdiri, menubruk dan memeluk Rini. Demikian juga Rini, yang memeluk erat temannya itu. Mereka berdua berpelukan erat yang seakan tidak mau terlepas. Tubuh keduanya terguncang-guncang, saking inginnya untuk saling mengangkat.
Wanita yang satunya juga berdiri dari kursi, ikut nimbrung memeluk Rini dari belakang.
"Rini ...!" teriak si wanita yang agak langsing.
Rini membalas memeluk. Tapi ia lupa nama teman itu. Rini mengamati wajah wanita itu, berusaha mengingat, tepi belum juga ingat.
"Pasti lupa sama aku ...." kata wanita yang kedua tangannya masih memegang tangan Rini.
"Sebentar .... Gue inget-inget dulu ...." sahut Rini.
"Siapa, coba ...!" kata Anik yang menambah penasaran.
"Yayuk, ya ...?!" tebak Rini.
"Haaaa ...! Benar ...!" teriak wanita yang disebut Yayuk itu.
__ADS_1
"Iiihh .... Kamu berubah banget, Yuk ...?!" kata Rini.
"Maklum, Yayuk sekarang jadi CEO sebuah bank di Palembang. Penampilannya harus dijaga terus. Daya tarik untuk nasabahnya." kata Anik.
"Ach ..., ngaco kamu, Nik!" sergah Yayuk sambil memukul pundak Anik.
"Kamu awet cantik, Rin .... Masih sama dengan cantiknya saat SMA." puji Anik.
"Dari dulu Rini memang cantik, Nik .... Mantan princes, gitu loh ...." sahut Yayuk.
"Ach ..., ngaco kalian. Gimana kabarnya?" tanya Rini pada kedua temannya.
"Pokoknya, well ...!" kata Anik.
"Aku tugas di Palembang, Rin. Dua tahun lagi pensiun." kata Yayuk.
"Ah, enaknya ...." kata Rini.
"Enak gimana ...?! Enakan kamu dong, Rin .... Jadi istri orang kaya, mau apa saja bisa." sergah Yayuk.
"Ach, loh pada ngaco. Enakan lo, dong Yuk, bisa cari uang sendiri, gajinya besar." sahut Rini.
"Yang gak enak cuman diriku. Jadi PRT." timpal Anik.
"Lah, sama dengan gue dong, Nik!" sahut Rini.
"Beda, Rin .... Kamu PRT orang kaya, aku PRT pegawai rendahan ...." sergah Anik.
"Iya ..., iya .... kita sama-sama wanita, pengabdi para suami." Yayuk menengahi perdebatan.
"Teman-teman yang lain mana?" tanya Rini.
"Ada beberapa yang sudah hadir. Baru sembilan orang yang daftar, langsung masuk kamar. Katanya capek!" jawab Anik.
"Gue didaftar dulu, Nik." kata Rini.
Anik langsung kembali ke kursi, melihat catatan peserta. Lantas mencari nama Rini dalam daftar. Demikian juga Yayuk, duduk bersebelahan dengan Rini.
"Berapa orang, Rin?" tanya Anik.
"Satu. Gue sendirian." jawab Rini.
"Lah, katanya sama suami ...?!" tanya Anik lagi.
"Iya, kemarin sama suami. Tapi ada meeting mendadak. Barusan suamiku pulang, tadi jam sepuluh." jawab Rini.
"Aow ..., aow ..., aow .... Orang penting. Akhir tahun harus meeting." ledek Yayuk.
"Mendadak .... Ada tamu dari Jerman." sahut Rini.
__ADS_1
"Kamu sering ditinggal ya, Rin?" tanya Anik.
"Udah biasa." jawab Rini.
"Berarti nanti se kamar sendirian?" tanya Anik.
"Gue udah ada kamar, Nik. Ngak usah didaftarin kamar." sahut Rini.
"Lah, ini sudah ada plot kamar." kata Anik.
"Nggak papa .... Gue udah bayar, kamarnya buat temen yang lain aja. Malahan nanti klo ada temen cewek yang sendirian, suruh aja tidur di kamar gue." jelas Rini.
"Oke, lah, kalau begitu." kata Anik.
"Nanti acaranya gimana?" tanya Rini.
"Eh, iya .... Ini time schedule-nya. Nanti malam jam tujuh mulai acara, di ruang aula ini." kata Anik sambil memberikan selembar kertas rundown acara.
Rini membaca sepintas rundown acara. Tertulis rancangan kegiatan selama dua hari.
"Wow .... Asyik, ada pikniknya. Kita jalan-jalan ke mana ini?" tanya Rini.
"Keliling Jogja." jawab Yayuk, "Mumpung kita kumpul di Jogja." lanjutnya.
"Eh, kalian udah pada makan siang, belon?" tanya Rini.
"Aku belum ...!" sahut Yayuk.
"Yayuk, kita cari makan, nyok." ajak Rini pada Yayuk.
"Anik gimana?" tanya Yayuk.
"Aku sudah makan. Silakan makan dulu, nanti sakit lambung lo." sahut Anik.
"Ayo, kita makan bareng." ajak Rini.
"Ayo ...." jawab Yayuk.
"Daa ..., Anik!" kata Rini meninggalkan Anik sambil melambaikan tangannya.
Rini dan Yayuk meninggalkan Anik di meja panitia. Mereka berdua melangkah keluar. Rini ingin mengajak Yayuk untuk mencari makan di luar hotel. Mereka berdua naik taksi yang parkir di depan hotel.
Sementara itu, di depan aula, Anik menerima kedatangan teman-temannya yang akan ikut reuni. Seorang, dua orang, tiga orang, dan terus berdatangan, berdatangan dan berdatangan. Ada yang datang sendiri, ada yang datang bersama suami atau istri, ada yang mengajak keluarganya, ada pula yang mengajak cucunya. Suasana di ruang penerimaan pendaftaran itu sangat ramai. Riuh. Saling berpelukan. Saling bertegur sapa. Saling bercerita tentang kisah masing-masing. Menanyakan pekerjaan, menanyakan suami atau istri, menanyakan anak, menanyakan cucu. Berbagai pembicaraan, berbagai obrolan. Saling kangen. Walau acara belum di mulai, namun ruang aula itu suasananya sudah betul-betul ramai.
Anik yang dibantu teman-teman yang lain, sibuk mengatur pembagian kamar bagi para peserta. Hingga sebelum maghrib, ada empat puluh peserta dari teman satu kelas saat SMA, yang mendaftar sebagai peserta kegiatan reuni. Hanya empat orang yang belum hadir, itu temannya yang berada di luar negeri. Ya, Brun ada di Belanda, Albert tinggal di Perancis, Leni tinggal di Kanada, dan Eva tinggal di Australia. Mereka semua berhasil dan sukses di negeri orang. Walau tidak berangkat, mereka sudah mengirim dana bantuan untuk kegiatan reuni. Demikian juga saat acara nanti, mereka ingin ada room meeting, entah pakai google meet maupun zoom meeting, untuk menampilkan secara virtual antara teman-teman yang tidak bisa hadir dengan seluruh peserta yang hadir di ruang aula. Ya, tentu dengan adanya teknologi modern ini, memang sangat memudahkan untuk bertemu secara virtual. Jarak bukan penghalang untuk bisa komunikasi secara langsung.
Beberapa panitia sudah mengatur pegawai hotel untuk menata ruang pertemuan. Sebanyak tiga puluh meja bundar yang dilengkapi kursi dengan kain penutup warna putih plus pita ungu, tertata rapi. Di bagian depan diberi ruang kosong cukup luas, yang rencananya nanti untuk acara temu kangen. Di bagian dinding terpampang MMT background dengan tulisan besar "REUNION KEKANCAN SELAWASE". Di samping kanan dan kiri, ada layar putih besar, nanti digunakan untuk memutar LCD. Tentu acaranya akan seru.
Handoyo, ketua panitia reuni, masih di front office, mengurusi administrasi keuangan. Ya, Handoyo memang orang paling pinter dan paling sukses dalam angkatan SMA itu. Ia jadi dokter. Sudah dokter spesialis. Tapi sekarang menjadi kepala rumah sakit di Mataram. Dalam organisasi tidak diragukan. Sejak SMA dia sudah jadi pengurus OSIS. Maka saat ditunjuk jadi ketua reuni, ia pun sudah melaksanakan keorganisasian dengan baik.
__ADS_1
Handoyo menanyakan deposit keuangan yang sudah masuk di panitia. Sambil menyeret-nyeret layar HP, melihat dana transfer yang masuk ke rekening panitia. Dari pegawai front office hotel, menyampaikan dana deposit sudah masuk sebesar lima puluh juta. Kalkulasi sementara untuk penginapan dua malam sejumlah tiga puluh lima kamar, sekitar tujuh puluh juta. Handoyo melihat pemasukan di rekening, sudah ada dana lima puluh juta. Alhamdulillah, sangat cukup. Semoga nanti ada pemasukan lagi.
Ya, semoga acara pertemuan kawan lama ini bisa sukses, bisa menjadi keakraban yang baik, bisa menjadi persahabatan sejati selamanya. Aamiin ....