KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 226: BAHAGIANYA HAMIL


__ADS_3

    Tiga bulan sudah, Rini dan Yudi hidup bersama dalam mengarungi rumah tangga sebagai suami istri. Hidup Rini selalu bergelimang kemanjaan. Hanya ada kebahagiaan yang penuh kasih sayang. Yudi tidak pernah mempersoalkan apapun yang dilakukan atau diminta oleh Rini. Bagi Yudi, yang penting masih bisa dinalar dengan akal logika dan masih dalam rambu-rambu kebaikan. Meski demikian, Rini adalah wanita baik. Wanita yang bisa memahami kehidupan Yudi sebagai seorang pelukis. Maka Rini tidak pernah meminta atau berlaku yang aneh-aneh.


    Tetapi malam itu, saat Rini minta bermanja di kamarnya, seperti biasa, Rini selalu meletakkan kepalanya di dada Yudi. Alangkah khawatirnya Yudi, karena Rini berkali-kali terlihat seperti kurang sehat. Terkadang keringat dingin keluar dari leher Rini yang tersentuh saat dibelai Yudi. Bahkan beberapa kali Rini bersendawa.


    "Kamu sakit, Sayang ...?" tanya Yudi yang mulai memijit pundak dan tengkuk Rini.


    "Tidak tahu, Yud .... Cuman rasanya badan saya agak kurang enak saja." jawab Rini.


    "Saya keroki, ya ...." kata Yudi menawarkan kerokan pada Rini.


    "Jangan, Yud ...." sahut Rini yang tidak mau kerokan.


    "Kenapa ...?" tanya Yudi.


    "Yudi ..., kelihatannya aku hamil ...." kata Rini sambil mendongakan kepalanya, tentu ingin tahu reaksi suaminya.


    "Apa ...?!!" Yudi yang terkejut langsung bergerak bangun dari tidurannya. Tentu tubuh istrinya yang semula merebah di dada Yudi, langsung terangkat karena kagetnya Yudi yang mendengar kata-kata Rini.


    Lantas Yudi memegangi dan meraba-raba perut Rini. Bahkan Yudi mulai membuka daster yang dikenakan oleh Rini, lantas mengelus dan menciumi perut Rini.


    "Kamu yakin kalau hamil, Sayang ...?" tanya Yudi sambil menempelkan telinganya di perut istrinya.


    "Saya tidak yakin, Yudi .... Saya menikah dengan Mas Hamdan tiga puluh tahun lebih, tidak punya anak. Saya belum pernah hamil. Tetapi setelah menikah dengan kamu, tiga bulan ini saya tidak datang bulan. Tiga periode saya tidak menstruasi, Yudi .... Apakah mungkin ini pertanda hamil?" kata Rini yang masih ragu-ragu.


    Ya, terus terang Rini memang belum pernah hamil selama menikah dengan Hamdan. Namun Rini tidak mau menuntut kepada suaminya, untuk periksa agar tahu siapa yang mandul. Setidaknya Rini menghormati apapun yang menjadi keputusan suaminya. Jika Hamdan tidak mau periksa ke dokter, Rini pun tidak mau menuntut suaminya. Rini tidak ingin ada keributan dengan suaminya. Dia ingin keluarganya tetap tenteram dan damai. Apapun yang menjadi keputusan suaminya, Rini menurut dan mengikut dengan patuh. Tentu karena Rini juga takut, jika diperiksa dokter ternyata dirinya yang mandul, ia khawatir akan dicampakkan suaminya.


    "Bagaimana kalau besok kita periksa ke dokter?" kata Yudi yang tentu ingin meyakinkan kehamilan Rini, setidaknya kalau Rini tidak hamil, ia akan memeriksakan kesehatannya.


    "Iya ..., Yud ...." jawab Rini yang tentu juga penasaran. Lalu katanya, "Kalau misalnya ..., aku benar-benar hamil ..., bagaimana?" tanya Rini yang kembali memanja pada Yudi.


    "Kok bagaimana ...? Ya, senang ..., lah ...." jawab Yudi yang tentu sambil mengelus-elus perut istrinya.


    "Hiq ..., hiq ...." Rini tersenyum simpul akan tertawa.


    "Kenapa ngikik begitu ...?" tanya Yudi.


    "Lucu .... Masak sudah usia lima puluh tahun kok hamil .... Pasti nanti ditertawakan orang ...." kata Rini yang mulai geli dengan dirinya sendiri.


    "Ya udah .... Kita tidur dahulu .... Jaga kesehatan Rini, agar bayi kita juga sehat. Besok pagi kita ke dokter, periksa kehamilan." kata Yudi yang langsung memeluk istrinya, dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


*******


    Pagi itu, Yudi sudah siap antre di ruang tunggu dokter Laksono, Sp.OG. Dokter spesialis kandungan yang cukup terkenal di daerah Bantul Jogja. Jam tujuh pagi saja sudah ada lima orang yang antre.


    Setelah sekitar setengah jam menunggu, akhirnya tiba giliran Yudi dan Rini. Mereka berdua dipersilakan masuk ke ruang dokter. Yudi dan Rini langsung duduk di depan dokter Laksono.


    "Ada apa, Bapak ..., Ibu ...? Apa yang dikeluhkan?" tanya dokter kandungan itu yang langsung bertanya kepada Yudi dan Rini.


    "Begini, dokter .... Kami mau periksa, apakah istri saya ini hamil?" kata Yudi yang tentu sambil tersenyum.


    "Kenapa tersenyum ...?" tanya dokter itu, yang tentu juga ikut tersenyum.


    "Kami sudah tua, Pak .... Masak hamil ...." sahut Rini yang juga tersenyum malam.


    "Coba saya periksa dahulu ...." kata si dokter, yang selanjutnya meminta kepada perawat untuk melakukan pemeriksaan kesehatan Rini.


    Perawat itu langsung melakukan penimbangan berat badan, pengukuran tinggi badan, pengecekan tensi, kemudian juga mengecek detak jantung Rini. Selanjutnya perawat itu meminta Rini untuk berbaring di bed periksa.


    Setelah Rini bersiap di bed pemeriksaan, sang dokter kandungan itu lantas melakukan pemeriksaan. Yang pertama kali dilakukan adalah melakukan tes kehamilan dengan alat media tester, yaitu mengambil lendir untuk dites dengan bahan kimia. Lebir itu dicelup ke tabung reaksi, jika nanti ada perubahan warna, berarti Rini hamil. Jika tidak ada perubahan warna, berarti tidak hamil. Yang melakukan pengetesan adalah perawatnya.


    Selanjutnya sang dokter kandungan itu melakukan pemeriksaan perut Rini dengan menggunakan alat USG, yang pada bagian dalam perut Rini terlihat di layar monitor. Beberapa kali alat itu ditempelkan dan digeser-geser pada perut Rini.


    "Sudah, Ibu .... Cukup. Hehe ...." kata dokter kandungan itu sambil tersenyum, yang selanjutnya kembali duduk di kursinya. tersenyum pada Yudi yang sudah menatapnya.


    Selanjutnya, perawat sudah membawa tabung reaksi kecil-kecil dua buah, dan ditaruh di meja  sang dokter. Ada perubahan warna pada reaksi kimia tersebut. Itu adalah hasil pemeriksaan tes kehamilan dari lendir kewanitaan Rini.


    "Bapak Yudi ..., Ibu Rini ...." kata dokter itu.


    "Iya, Pak dokter ...." Yudi langsung menyahut. Tentu tidak sabar untuk mendengar hasil pemeriksaannya.


    "Bapak Yudi usianya sekarang berapa?" tanya Pak dokter.


    "Lima puluh satu tahun." jawab Yudi.


    "Kalau Ibu Yudi, usianya sekarang berapa?" tanya dokter itu lagi.


    "Lima puluh tahun, Pak dokter ...." jawab Rini.


    "Lima puluh ...?! Saya kira masih tiga puluh lima ...." kata sang dokter yang keliru menebak umur Rini.

__ADS_1


    Maklum, wajah Rini memang masih terlihat muda dan cantik. Belum terlihat ketuaannya. Belum pantas kalau berusia lima puluh tahun.


    "Kami sudah tua, Pak dokter .... Tapi kami baru menikah tiga bulan yang lalu." sahut Yudi.


    "Oo .... Pantas ...." kata sang dokter yang tentu juga agak terkesan.


    "Bagaimana, dok ...?" tanya Rini.


    "Selamat, ya .... Ibu Rini, Pak Yudi ..., Nyonya Yudi ..., Ibu hamil." kata dokter tersebut.


    "Hah ...?! Yang benar ..., dok ...?!!" Rini langsung kaget mendengar kata-kata dokter tersebut.


    "Yang benar, Pak dokter ...?!" Yudi tentunya juga kaget mendengar berita itu.


    "Iya, betul .... Ibu hamil. Mohon hati-hati .... Usia ibu sudah rentan untuk mengandung." kata dokter itu.


    "Terima kasih, Pak dokter ...." kata Yudi dan Rini yang gembira, dan langsung berpelukan.


    "Apa dulu Ibu Yudi ini belum pernah hamil sebelumnya?" tanya dokter itu.


    "Belum pernah, Pak dokter ...." jawab Rini.


    "Yang penting hati-hati .... Jangan kecapaian, jangan kelelahan. Banyak makan sayur dan buah. Bila perlu minum susu. Terus, rutin periksa untuk melihat perkembangan janinnya." kata sang dokter itu menasehati.


    "Siap, Pak dokter .... Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga kehamilan ini." kata Yudi.


    Yudi dan Rini keluar dari ruang dokter dengan bergandengan tangan, sambil tertawa kecil. Tentu karena senang dan merasa lucu. Tetapi itu membuat Yudi dan Rini sangat penuh harap untuk punya anak. Pasti mereka berdua akan menjaga kandungannya sebaik mungkin.


*******


    Berita kehamilan Rini langsung tersebar ke seluruh warga Kampung Nirwana. Tentu kabar menggembirakan itu langsung diterima dengan senang dan gembira. Maka para tetangga, terutama ibu-ibu, langsung berdatangan ke rumah Yudi, untuk memastikan berita kehamilan Rini tersebut. Lantas ada yang membasuh telapak kaki Rini, ada yang menyapu rumah dan halaman. Bahkan ada yang datang membawa sapu gerang dan sabit yang sudah tidak terpakai. Lantas sapu dan sabit gerang tersebut di diletakkan di pojok rumah Yudi bagian depan. Konon menurut adat orang kampung situ, sapu dan sabit gerang ini dipercaya bisa mengusir roh-roh jahat yang akan mengganggu.


    Simbok langsung dijemput oleh Bagas. Tentu agar simbok tahu kalau menantunya sudah hamil, yang nanti akan melahirkan cucunya. Maka Simbok langsung membuat bobokan jamu tradisional. Ada jamu puyang untuk menguatkan kandungan Rini, serta membuat bedak adem untuk menjaga kulit Rini agar tidak kisut.


    Tentu Rini merasa sangat tersanjung, karena disayangi oleh orang se kampung, serta senantiasa dimanjakan oleh Simbok dan Yudi. Bahkan makanannya juga terjamin. Ibarat kata ngidam apa saja, pasti keturutan. Sungguh menyenangkan.


    Pada bulan ke empat kehamilan, Pak Modin langsung meminta warga untuk mengadakan acara selamatan di rumah Yudi. Orang Kampung Nirwana menyebut dengan istilah "neloni", yaitu acara telung lapan kehamilan Rini. Acara selamatan ini terkait dengan pertumbuhan janin, yang menurut kepercayaan pada acara neloni ini Tuhan Yang Maha Kuasa meniupkan nyawa ke dalam sang janis yang sedang dikandung. Dan tentu, yang datang pada acara selamatan neloni ini, dari ibu-ibu maupun bapak-bapak para tetangga Yudi sangat banyak sekali. Sehingga pendopo rumah Yudi sangat ramai, penuh sesak orang yang datang. Ini merupakan bukti bahwa Yudi dan Rini sangat di senangi oleh para tetangga.


    "Semoga Mas Yudi selamat dunia akhirat .... Semoga Ibu Rini selamat dunia akhirat, sehat dan kuat .... Semoga bayi yang dikandung oleh Ibu Rini tetap sehat bugar, tidak ada aral apapun yang mengganggu." kata Pak Modin dalam doanya.

__ADS_1


    "Aamii ...." sahut semua yang hadir di rumah Yudi.


    Tidak hanya para tetangga atau Simbok saja yang senang. Tetapi Silvy juga senang dengan kehamilan ibunya. Semoga Rini dan bayi yang ada dalam kandungannya, senantiasa sehat dan selamat. Aamiin ....


__ADS_2