
Sesaat setelah Rini memberikan banyak nasehat, dan tentu omelan yang sangat pedas, Yudi mulai sadar jika dirinya secara fisik memang tidak mungkin untuk mendapatkan Rini. Walau cinta itu tidak harus memiliki, meski cinta itu tidak harus bersanding, tetapi kasih sayang tidak mungkin diberikan kepada orang yang tidak berhak menerimanya. Kasih sayang hanya mungkin diberikan untuk orang yang bisa diajak bersanding. Kasih sayang sebagai ungkapan perasaan cinta hanya mungkin diserahkan untuk orang yang bisa diajak bersatu dalam rumah tangga. Dan, kasih sayang sepenuh hati hanya bisa dilakukan oleh orang yang saling mencinta.
Yudi tidak mungkin lagi untuk memberikan kasih sayang dengan penuh kemesraan kepada Rini. Namun Yudi akan bisa meluapkan rasa kasih sayang itu, meluapkan ungkapan tanda cinta, bahkan meluapkan segala perasaan yang ada dalam hatinya,sepenuh hasrat dalam dirinya, hanya kepada Yuna. Yah, cinta Yudi hanya pantas diberikan kepada Yuna, gadis yang cantik, cerdas, punya berbagai kelebihan, dan yang pasti sudah berharap bisa tinggal di Jogja bersama Yudi.
Setelah Yudi sadar hal itu, ia bergegas mengemas lukisan-lukisan Rini beserta pakaian yang disimpan dalam lemari. Lantas membawa ke lapak jasa paket titipan kilat. Mengirim lukisan-lukisan itu kepada Rini, di Jakarta.
Semoga dengan terkirimnya lukisan Rini, kamar itu sudah tidak ada lagi wanita yang menyaingi Yuna. Demikian juga Rini, semoga lukisan itu bisa menjadi kenangan bagi dirinya, bahwa Rini pernah digandrungi seorang pelukis hebat.
Setelah mengirimkan paket untuk Rini, Yudi menuju toko seni. Membeli kanvas ukuran besar, serta perlengkapan lukis lainnya. Tidak ketinggalan, Yudi membeli beberapa warna cat minyak merek Rembrandt dan Maimeri.
Kini, Yudi duduk di kursi kayu kecil yang berada di pojok pendopo rumahnya. Ia diam berkonsentrasi. Memejamkan mata sebentar, membayangkan wajah Yuna, membayangkan segelondong cinta yang akan diberikan pada wanita Jepang itu. Yudi akan memberikan seluruh kemampuannya demi cinta yang dipertahankan.
Yudi menghadapi kanvas besar yang sudah ia pasang bersandar di dua buah easel besar atau tiang kayu penyangga. Sehingga kanvas itu tampak membentang cukup panjang di sudut pendopo, berukuran sekitar dua kali tiga meter.
Lantas Yudi memegang valet serta kuas lukis. Ada beberapa tube cat minyak yang sudah dituangkan ke palet. Selanjutnya, tangan seniman itu mulai menggoreskan cat-cat yang menempel pada ujung kuasnya.
Perlahan Yudi menarik gagang kuas yang dipegangnya. Menuang cat di atas palet, menetesi minyak, lantas mengaduk dengan ujung kuasnya, selanjutnya menggoreskan ke kanvas. Berkali-kali cat dari palet dioleskan ke kanvas, berkali-kali pula ada penambahan warna-warna cat yang lama-kelamaan, warna-warna itu sudah berpadu padan, membentuk sebuah sketsa calon lukisan kisah perjalanan cintanya dengan seorang gadis yang cantik .... Yaitu Yuna.
__ADS_1
Ada pepatah kuno dari para pujangga yang mengatakan, jika seseorang sedang jatuh cinta, maka ia mendadak akan menjadi seorang penyair. Artinya, jika seseorang jatuh cinta, maka tiba-tiba saja ia bisa membuat ouisi untuk orang yang dicintainya. Tiba-tiba saja orang itu pandai merangkai kata-kata indah yang penuh pujaan pada orang yang digandrungi. Ia benar-benar piawai menulis sajak cinta. Yah ..., itu kata pujangga.
Mungkin seorang bangsawan, seperti yang dikisahkan dalam cerita Alibaba, ketika ia jatuh cinta kepada seorang gadis, maka ia sanggup membangun istana yang megah, demi cintanya untuk wanita pujaan yang ingin dipersuntingnya. Demikian pula saat Syah Jehan mengungkapkan rasa cintanya kepada sang istri Mumtaz Mahal, yang meninggal saat melahirkan putranya, maka Raja Syah Jehan membangun sebuah makam yang sangat megah untuk istrinya, yaitu Taj Mahal. Kemegahan Taj Mahal hingga kini dipercaya sebagai lambang cinta dari seorang laki-laki kepada wanita pujaannya.
Kini Yudi, setelah pasrah dengan ketidak mungkinan untuk memperistri Rini, hatinya kembali memuja Yuna. Mengagumi kecantikan gadis dari Jepang itu, yang memiliki segala-galanya. Ya, ibarat syuga dalam keyakinan orang Jepang, Yuna teramat cantik, teramat indah, dengan muatan biologis yang sangat kuat bagi siapa saja yang memandangnya, penuh kelembutan, penuh kemesraan, sangat estetis, namun juga tegas dan prinsipiil. Tubuhnya dialiri darah keagungan, sehingga siapa saja yang melihatnya seakan merasa damai dan tenteram, namun tetap berwibawa dan disegani orang. Dalam bahasa para pujangga, Yuna ini adalah titisan Dewi Yang Maha Indah.
Jika demikian, apa lagi yang diragukan oleh Yudi?
Cinta itu sudah merasuk dalam imajinasi Yudi. Meski ia tidak sanggup membangun istana seperti Alibaba, atau bangunan megah Taj Mahal seperti yang dipersembahkan oleh Raja Syah Jehan untuk persembahan cinta bagi istrinya, bahkan juga tidak sanggup membangun seribu candi seperti yang dilakukan oleh Ratu Boko untuk mempersunting Roro Jonggrang. Namun Yudi ingin mengungkapkan perasaan cintanya itu melalui lukisan. Yudi ingin menorehkan goresan-goresan cinta untuk Yuna. Bukan sekadar kata-kata, tetapi cinta sepenuh jiwa dan raga, cinta yang terungkap dari lubuk hati terdalam, melaju ke imajinasi budi dan daya, akal dan pikiran. Cinta yang terwujud dalam sebuah maha karya.
Yudi ingin mengisahkan perjalanan cintanya, seperti yang tertuang dalam relief Candi Borobudur, yang pernah Yuna tanyakan kepadanya, yaitu tentang kisah cinta antara Ratu Kinari dengan Pangeran Sudhana. Kini Yudi ingin menuangkan kisah cinta dirinya dengan Yuna, bukan pada pahatan batu, melainkan dalam kanvas besar dan panjang. Yah, bukan sembarang lukisan, tetapi lukisan raksasa yang berisi cerita cinta.
Yudi memulai cerita lukisannya itu dari pertemuannya dengan Yuna di Kyoto. Beberapa segmen kisah permulaan bertemunya dua insan itu menggambarkan negeri Jepang. Dua wajah antara Yudi dan Yuna yang dihiasi bunga sakura, serta latar belakang kuil-kuil Shinto dan kecantikan wanita-wanita Jepang yang mengenakan kimono dengan rambut ditekuk diikat di bagian belakang, terlihat cantik di balik payung-payung kertas yang beraneka warna. Yudi melukis para wanita Jepang itu dengan detil. Mulai dari pakaian adatnya, dandanan rambut, maupun bentuk payung yang khas.
Pasti Yuna akan senang menyaksikan keindahan lukisan adat dari negerinya. Yudi sudah membayangkan, nanti Yuna akan bertanya, "Di antara gadis-gadis yang berjajar menuju kuil, yang mana diriku?" Lantas Yudi akan menjawab, "Gadis yang paling cantik itulah dirimu." Yudi tersenyum sendiri memandangi lukisan yang masih sepucuk kanvas itu.
Goresan-goresan itu benar-benar sama dengan orang yang ada dalam angannya saat Yudi berkunjung ke Kyoto. Ya, lukisan wajah Yuna yang tersenyum bahagia saat pertama bertemu Yudi di Kyoto. Tergambar juga oleh Yudi, saat Yuna berjalan di Amanohashidate, yang disebut sebagai jembatan surga bagi masyarakat Jepang. Bambu-bambu besar dan tinggi menaungi jembatan yang dilintasi Yuna. Sangat indah dan menakjubkan. Terlukis juga saat Yuna berada di Kuil Fushimi Inari Taisha, Kuil Shinto yang terletak di puncak bukit bagian selatan Kota Kyoto. Yuna terlihat sangat khusyuk dalam berdoa. Menarik sekali.
__ADS_1
Yudi memandangi kanvas lukisannya. Menggoyang kepala ke kanan dan ke kiri. Kadang-kadang juga mundur. Terkadang juga miring. Ia memastikan cat-cat yang tergores di kanvas itu benar-benar mirip dengan gadis yang ia bayangkan. Yaitu Yuna. Yuna dalam tradisi masyarakat Jepang.
Merasa puas dengan hasilnya, setelah sejenak beristirahat, Yudi kembali menggoreskan cat minyak pada kanvas. Kali ini ia melukis kisah-kisah pertama kali Yuna datang ke Jogja. Wajah-wajah Yuna terpampang di beberapa tempat. Mulai dari suasana Kampung Nirwana, puncak bukit, Gua Jepang dan Pantai Parang Tritis. Dalam segmen ini Yudi mengungkapkan tugas pertama Yuna. Yudi juga menggambarkan kebersamaan dirinya dengan Yuna untuk mewujudkan Taman Awang-awang. Bahkan Yudi juga menampilkan cerita tentang Yuna bersama para bakul yang suka memberi jajanan kepadanya.
Benih-benih cinta mulai ditampilkan pada segmen ke tiga. Diawali dengan adegan Yudi bekerja berdua bersama Yuna di pendopo. Lantas diperlihatkan Yuna yang memanja. Selanjutnya gambar Yuna yang tertidur di pangkuan Yudi. Muncul pula gambar Yudi yang membopong Yuna menuju tempat tidurnya, sampai pada menyelimuti tubuh yang terbujur tidur karena kecapaian itu. Lantas cerita lukisan juga memuat saat Yuna akan kembali ke Jepang. Yudi memainkan gitar, Yuna menyanyi. Sungguh luar biasa. Semua terungkap secara detil.
Sehari belum selesai. Dua hari masih sedikit. Tiga hari belum juga rampung separuh. Seminggu berlalu, lukisan raksasa yang dikerjakan oleh Yudi tinggal menyelesaikan hiasan untuk mempercantik. Di Segmen tengah, Yudi memasukkan pengaruh Kanjeng Ratu Nyai Roro Kidul yang mengabulkan permintaan Yuna. Hempasan gelombang besar yang menyiram tubuh cantik itu terlukis dengan indahnya. Di atas gambar air laut yang terhempas, ada sosok wanita cantik dengan pakaian adat Jawa serba hijau, serta mengenakan mahkota emas yang dihias permata. Itulah sosok Nyai Roro Kidul, yang diyakini oleh Yuna sudah mengijinkan percintaannya dengan Yudi. Lantas terlukis pula dua cincin cantik pemberian Sang Ratu. Sungguh luar biasa.
Selanjutnya, Yudi pun melukis kisah-kisahnya bersama Yuna yang menyaksikan matahari terbenam, kisahnya menyaksikan keindahan langit malam di puncak bukit, kisahnya tentang cintanya yang diempas gelombang Pantai Parang Tritis. Yudi juga melukis kisahnya saat Yuna cemburu. Bahkan Yudi juga melukiskan kisahnya dalam gelisah saat ditinggal Yuna.
Di akhir segmen, Yudi melukiskan indahnya Taman Awang-awang, indahnya Gua Jepang, indahnya Kampung Nirwana, ramainya pasar seni serta ramainya sudut-sudut kreatifitas kerajinan dan kesenian tradisional yang semakin maju. Kampung Nirwana menjadi sebuah kampung wisata yang menjadi tujuan utama para turis asing. Di segmen itu pula Yudi melukiskan pesta pernikahannya dengan Yuna. Pernikahan adat Jogja. Yuna memakai pakaian adat Jogja. Kedua orang tua Yudi tersenyum bahagia dengan mengenakan pakaian kebesaran adat Jawa. Dalam pesta itu, seleruh masyarakat Kampung Nirwana ikut mengiring mulai dari Taman Awang-awang hingga sampai di sebuah istana yang megah.
Dua minggu, Yudi menyelesaikan lukisan raksasa itu. Sesaat sebelum ada suara telepon masuk dari Yuna.
"Hello ..., Yuna ..., oh ..., my love ..., my darling .... Uhuk ..., uhuk .... Aku sangat merindukanmu, sayang ...." Yudi hanya sempat menangis di depan lukisan besar yang akan dipersembahkan untuk kekasihnya itu.
Lukisan cinta untuk sebuah perjalanan cinta kepada gadis yang dia cintai. Lukisan cinta Yudi kepada Yuna.
__ADS_1