KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 187: PELAJARAN PERTAMA


__ADS_3

    Sudah satu bulan Yudi berada di Kuil Shinto Kifune. Namun pimpinan pendeta atau tetua shinshoku yang mengelola kuil tersebut belum juga memberi nasihat maupun penjelasan tentang nasib dirinya. Bahkan, Sang Pendeta itu belum pernah menemui Yudi secara langsung. Seakan pendeta itu tidak mau menemui Yudi. Apakah mungkin karena Yudi hanya orang biasa, orang Indonesia yang bermasalah? Atau karena memang belum saatnya Yudi pantas untuk ditemui. Namun yang jelas, Yudi di kuil itu hanyalah orang awam yang dititipkan untuk diselamatkan. Semacam disembunyikan. Makanya, Yudi tidak boleh keluar dari kuil. Bahkan saat ada pemujaan dari masyarakat atau penduduk sekitar kuil, Yudi malah disuruh sembunyi.Walau hal itu tidak diceritakan oleh pimpinan kuil.


    Seperti saat pertama bangun pagi di kuil itu, kini setiap pagi Yudi ikut menyapu, membersihkan halaman kuil bagian dalam. Setiap bangun pagi, Yudi langsung menyapu hingga selesai seluruh pelataran dalam, mulai dari pelataran aula tempat shinshoku, para kannushi, dan para pendeta muda memanjatkan doa, hingga sampai pada tepian sungai. Reruntuhan daun pada musim gugur memang cukup banyak. Sehingga butuh tenaga cukup untuk membersihkannya.


    Beruntung Yudi bertemu seorang kannushi, yang berasal dari Negeri Jiran. Kannushi asal Negeri Jiran itu mengabdikan dirinya menjadi pendeta muda, untuk merawat Kuil Shinto Kifune. Maka Yudi memanggil pekerja di kuil tersebut dengan panggilan "Kannushi Negeri Jiran".


    Yudi senang bisa bertemu dengan Kannushi Negeri Jiran. Setidaknya, Yudi bisa bertanya maupun berbincang dengan menggunakan bahasa Melayu, yang hampir sama dengan bahasa Indonesia. Sehingga Yudi lebih mudah untuk memahami apa yang disampaian, dan jika ada bahasa Jepang yang Yudi belum tahu artinya, ia bisa bertanya kepada Kannushi Negeri Jiran tersebut.


    Sebenarnya, Yudi ingin banyak bercerita atau curhat kepada Kannushi Negeri Jiran. Namun nampak sudah menjadi kebiasaan, atau tradisi dalam kuil, bahwa orang-orang yang tinggal di Kuil Shinto Kifune jarang yang berbicara. Atau boleh dikatakan, para pendeta muda, miko maupun orang-orang yang membantu pekerjaan di kuil, rata-rata pendiam dan sulit membuka mulut. Mereka jarang yang bercakap atau ngobrol. Ini mungkin sudah menjadi budaya di kuil. Dan memang seperti itulah mestinya, jika hidup untuk mengabdikan diri di dunia keagamaan. Mengabdi tanpa bicara.


    Yudi yang sudah satu bulan tinggal di Kuil Shinto Kifune, setiap hari menyaksikan kehidupan para pembantu pendeta maupun para pekerja di kuil itu, seakan ia mulai menangkap, di kuil yang indah itu, tidak ada kepentingan duniawi. Tidak ada hasrat untuk memenuhi kecukupan jasmani. Tidak ada yang mengurusi keluarga. Tidak ada yang memikirkan anak maupun istri. Semuanya hanya mengabdikan diri untuk melayani orang-orang atau masyarakat yang datang ke kuil bersembahyang dan melakukan pemujaan.


    Jadi, para pendeta, para kannushi, para miko, dan para pekerja di Kuil Shinto Kifune, tidak memikirkan kehidupan duniawinya, hanya demi melayani masyarakat dalam hidup sejahtera di dunia.


    Ada hal yang aneh di mata Yudi. Jika di negerinya, kehidupan sehari-hari dari orang-orang yang mengaku menjadi laskar Tuhan, mengaku demi nama Tuhan, tetapi mereka masih mementingkan dirinya sendiri. Mengumpulkan harta kekayaan demi dirinya, menggembar-gemborkan nama Tuhan demi kepentingan pribadinya. Sungguh ironis. Manakala ada yang bilang demi kepentingan rakyat, tetapi rakyatnya tetap menderita, justru harta bendanya ia timbun sendiri.


    Sedikit demi sedikit, Yudi mulai sadar, bahwa jika seseorang ingin mendekatkan dirinya kepada Sang Pencipta, Sang Maha Agung, maupun Sang Maha Kuasa, maka ia harus meninggalkan pemikiran-pemikiran keduniawian. Ia harus melupakan kebutuhan duniawi. Ia harus meninggalkan harta milik yang bersifat duniawi. Jika seseorang bisa melepas hasrat untuk memiliki harta benda duniawi, jika seseorang bisa ikhlas meninggalkan kepentingan duniawi, maka ia baru bisa mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

__ADS_1


    "Mohon pencerahan, Sang Pendeta .... Apakah ada berita dari Shinshoku Tetua Pendeta untuk saya?" tanya Yudi kepada Kannushi Negeri Jiran, saat bertemu pada pagi hari di halaman pinggir sungai.


    Kannushi Negeri Jiran itu diam memandangi Yudi. Walau tersenyum, tapi senyum itu seakan mengejek Yudi. Ia tidak menjawab pertanyaan Yudi.


    Yudi sadar, di kuil itu, para pekerja jarang yang bicara. Maka Yudi pun tidak melanjutkan pembicaraannya. Yudi tersenyum memandangi Kannushi Negeri Jiran itu, lantas melanjutkan menyapu halaman.


    Demikian juga Kannushi Negeri Jiran, yang tahu kalau Yudi sadar tidak akan menerima jawaban darinya, ia pun melanjutkan bersih-bersih pada jalan yang ada di pinggir sungai, menuju tempat air terjun.


    Yudi yang agak kecewa karena tidak mendapat jawaban, walau tersenyum, ia terus melanjutkan menyapu. Tetapi tentu cara menyapunya sudah berbeda. Karena emosi, maka Yudi menyapu dengan gerakan yang melambangkan kemarahan. Kelihatannya bergerak cepat untuk menyapu halaman, tetapi gerakan itu kasar dan kaku. Tidak menunjukkan kelembutan.


    Lantas, secara perlahan, pendeta yang memegangi tangan Yudi tersebut membantu menggerakkan tangan Yudi yang memegang sapu. Halus, lembut, dan terlihat lemah. Namun kenyataannya, sapu itu sudah mendorong daun-daun yang berserakan, mengikuti arah yang diminta oleh sang penyapu.


    Yudi membungkukkan tubuhnya, menghormat, dan tentu meminta maaf kepada Sang Pendeta tersebut.


    "Anatanokokoroni kanjo o motte wa ikemasen ...." kata Sang Pendeta tersebut, yang meminta jangan pernah ada emosi dalam hati. Lantas Sang Pendeta tersebut meninggalkan Yudi.


    Yudi sadar, emosinya diketahui oleh Sang Pendeta. Pendeta itu bisa membaca hati Yudi. Ini yang ia temui baru pendeta biasa, bukan pendeta tetua-tetua yang ada di kuil. Belum lagi jika yang melihat Yudi seperti itu adalah pendeta pimpinan kuil. Yudi mulai sadar, berarti apa yang ada dalam hatinya, para pendeta di kuil ini sudah banyak yang mengetahui. Tahu kegundahannya, tahu kesedihannya, tahu emosinya yang kadang tidak terkendali.

__ADS_1


    "Mungkinkah tetua pendeta tidak menemui diriku karena saya belum bisa mengendalikan diri?" tanya Yudi pada dirinya sendiri.


    Yudi tidak melanjutkan pertanyaannya. Tetapi ia sudah tahu jawabannya. Ya. Itulah yang dilakukan oleh tetua pendeta. Ia tidak menemui Yudi karena memang belum saatnya. Yudi belum sanggup mengendalikan dirinya. Yudi masih terbawa emosi. Batinnya belum tenang. Hidupnya belum bisa terlepas dari hal-hal yang bersifat duniawi. Yudi masih diselimuti perasaan manusiawi yang sangat kuat.


    Maka, setelah mendapat teguran dari seorang pendeta yang serta merta menghentikan tangannya saat menggerakkan gagang sapu, itu adalah pelajaran yang sangat berharga. Pelajaran yang sangat penting dalam hidupnya. Meski pendeta itu tidak berceramah, meski ia tidak marah, meski ia tidak memaki-maki, namun bagi Yudi dipegang tangannya oleh pendeta saat ia emosi ketika menyapu, adalah peringatan dari malaikat yang langsung menunjukkan kesalahan yang telah ia lakukan.


    Apalagi, saat pendeta itu memegang tangan Yudi, lantas membantu dan mengajari cara mengayunkan sapu, itu adalah pelajaran yang sangat menggores dalam kalbu. Yudi sudah ditegur oleh malaikat. Yudi sudah diajari oleh dewa.


    Kini tinggal Yudi, sanggupkah ia menerima ajaran-ajaran yang diberikan oleh para pendeta?


    Ya, Yudi kini mulai kembali menata hati. Menata batin. Menata jiwa. Ia ingin menjadi orang yang bukan sekadar hidup, tetapi ia ingin menjadi manusia yang bisa bermanfaat bagi orang lain. Seperti pepatah Jawa, "Urip iku urup." Hidup itu harus bisa memberikan kehidupan bagi orang lain, bisa menerangi siapa saja yang ada di sekitarnya.


    "Ah, benar .... Emosi hanya akan merusak hati. Memikirkan harta benda hanya akan merusak jiwa. Nestapa akan merusah raga." gumam Yudi sendirian.


    "Yudi ..., mari sarapan pagi." ajak Kannushi Negeri Jiran.


    Mereka berdua melangkah, berjalan bersama menuju ruang tempat makan. Tanpa bicara. Hanya senyum yang mereka lepas saat saling pandang. Yudi menyaksikan senyum tulus dari pendeta muda yang berasal dari Negeri Jiran tersebut, bukan senyum yang seakan mengejek Yudi.

__ADS_1


__ADS_2