
Yuna baru saja selesai memeriksa bangunan di bagian spot-spot foto di ujung tebing sisi selatan. Jika dari puncak bukit, bagian tebing ini merupakan lokasi yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia atau yang oleh masyarakat Jogja dikenal dengan Laut Selatan. Spot foto ini yang nantinya diperkirakan akan ramai pengunjung. Karena berbatasan langsung dengan tebing curam yang bagian bawahnya adalah samudera, maka bangunan yang menjadi pengaman spot foto tersebut harus benar-benar kuat dan tidak membahayakan pengunjung. Yuna sangat detil memeriksa konstruksinya.
Kini Yuna duduk di kursi dari bambu yang dibuat oleh para tukang, untuk duduk para tukang saat istirahat. Kursi bambu itu cukup jauh tempatnya dari bangunan spot samudera. Mumpung tukang dan pekerja sudah pada pulang, Yuna menikmati pemandangan yang luar biasa indahnya. Ciptaan Tuhan yang luar biasa.
Di tempat kursi bambu yang digunakan duduk itu, nantinya akan dibangun tangga berundak yang cukup lebar dengan diberi tempat-tempat duduk untuk menyaksikan pemandangan samudera, seperti halnya saat ini dilakukan oleh Yuna. Jika sore hari, pasti tempat itu akan ramai diduduki wisatawan untuk menyaksikan sunset atau matahari terbenam. Demikian juga pada pagi hari, wisatawan bisa menyaksikan matahari terbit. Sedangkan pada siang hari, wisatawan bisa menyaksikan deburan ombak Pantai Selatan. Jika malam terang, wisatawan akan dimanjakan oleh bertaburnya bintang di angkasa raya. Maka oleh Yuna, bangunan tangga berundak ini dibuat membentang dari timur ke barat, di bagian tengahnya melengkung ke arah selatan, seperti busur panah yang sedang ditarik oleh kesatriya.
Yudi yang datang menjemput Yuna, langsung menghampiri gadis cantik yang duduk sendirian di kursi bambu. Gadis itu masih asyik menyaksikan keindahan Pantai Selatan. Tentu tidak tahu saat Yudi datang menghampirinya. Dan Yuna pun terkejut saat Yudi tiba-tiba sudah duduk di sampingnya.
"Ah, Yudi ...! I am shocked. Kamu sudah membuatku kaget." kata Yuna yang langsung memukul punggung Yudi.
"Habisnya, Yuna melamun sendirian."
"Yudi, lihatlah ...!" kata Yuna yang menunjukkan Laut Selatan kepada Yudi.
"It's the Indian Ocean. Masyarakat di sini memberi nama Laut Selatan. Laut yang dikeramatkan oleh masyarakat Jogja. Sacred ocean." kata Yudi.
"O ya .... Mengapa dikeramatkan?" tanya Yuna.
"Menurut legenda masyarakat Jogja, Laut Selatan adalah tempat Kerajaan Ratu Nyai Roro Kidul. Nyai Roro Kidul Queen." jawab Yudi.
"Hm, Nyai Roro Kidul Queen? Di mana dia? Apakah kita bisa bertemu?" tanya Yuna yang penasaran.
"Yuna, Kerajaan Ratu Nyai Roro Kidul itu berada di alam gaib. The unseen kingdom. Manusia biasa tidak sanggup melihat. Hanya orang-orang hebat, orang-orang yang punya kelebihan supranatural yang sanggup menyaksikan kerajaan itu." jelas Yudi.
"Maksud Yudi, yang sanggup melihat hanya saint, orang suci?" tanya Yuna lagi.
"Iya. Hanya para pendata atau orang-orang suci dengan tingkat religi yang sangat tinggi. Hanya para sufi. Manusia seperti kita, yang masih banyak memikirkan duniawi dan masih banyak dosa, tidak akan sanggup melihatnya." kata Yudi.
"Kalau Nyai Roro Kidul Queen, apakah juga tidak bisa kita lihat?" tanya Yuna lagi.
"Benar, Yuna. Sama, Sang Ratu juga hanya bisa dilihat oleh orang-orang suci. Para sufi yang sudah meninggalkan kepentingan duniawi." jawab Yudi.
"Apakah dia cantik?" tanya Yuna yang penasaran.
"Menurut legenda seperti itu. Bahkan kecantikannya sangat mempesona dengan cahaya yang berkilauan." jelas Yudi.
"Yudi .... Yuna ingin bertemu Nyai Roro Kidul Queen ...." Yuna merajuk.
"Yuna ..., itu tidak mungkin." sahut Yudi.
"Kenapa?" tanya Yuna.
"Karena kita masih menjadi manusia biasa yang memikirkan kehidupan duniawi. Untuk bertemu Sang Ratu, kita harus benar-benar suci dan sudah meninggalkan kepentingan duniawi. Tapi Yuna bisa melihat maupun merasakan kehadiran Sang Ratu." jelas Yudi.
"Benarkah?" Yuna ingin meyakinkan.
"Iya. Bahkan Sang Ratu Nyai Roro Kidul bisa menjawab permintaan kita." kata Yudi.
"Caranya bagaimana, Yudi ...?" Yuna yang penasaran, pasti ingin mencoba yang dikatakan Yudi.
"Begini, Yuna ingin tahu tentang apa .... Misalnya Yuna ingin tahu apakah proyek ini direstui oleh Sang Ratu, caranya Yuna konsentrasi, pusatkan pikiran dan hati, lantas berteriak bertanya kepada Sang Ratu 'Kanjeng Ratu Laut Selatan, apakah pembangunan saya ini direstui oleh Kanjeng Ratu?' Begitu. Lantas Yuna akan mendapat jawaban, jika nanti dari tengah samudera ada ombak besar yang bergulung, lantas ombak dari kanan dan kiri ikut menyatu, kemudian ombak itu datang kemari dan meninggi, seakan ombak itu mau menghampiri kita dan memercikkan air laut untuk membasahi kita, itu berarti permintaan kita dikabulkan atau diijinkan. Tetapi jika tidak diijinkan, ombak di samudera terlihat tenang, tidak bergulung." jelas Yudi.
"Benarkah, Yudi? Ayo kita coba." kata Yuna yang langsung menarik Yudi menuju pinggir tebing.
"Kita lakukan, Yuna?!" tanya Yudi.
__ADS_1
"Yah .... Saya sudah siap."
Lantas dua orang itu meneriakkan permohonan ijin kepada Sang Ratu penguasa laut selatan.
"Kanjeng Ratu Laut Selatan, apakah pembangunan saya ini direstui oleh Kanjeng Ratu?" mereka berteriak keras.
"Mana, Yudi? Apakah disetujui oleh Kanjeng Ratu?" tanya Yuna yang penasaran.
"Tunggu sebentar, Yuna. Kita lihat lautan itu, lihat ombaknya." jawab Yudi.
Beberapa saat mereka menunggu. Yuna hampir tidak sabar. Tiba-tiba ada ombak putih bergulung.
"Yuna ..., lihat itu!" Yudi menunjukkan ombak yang bergulung kepada Yuna.
"Hah ...! Iya, Yudi ...." Yuna tersenyum girang.
Ombak yang disaksikan dua orang itu terus bergulung. Semakin membesar. Ombak-ombak yang ada disekitarnya ikut menyatu. Menjadi sebuah gelombang yang tinggi dan besar. Dengan cepat gelombang tinggi tersebut berlari menuju pantai. Dan, sesaat kemudian ....
"Byuuur ...!!"
Gelombang tinggi tadi sudah menyiramkan air ke tubuh Yuna dan Yudi yang berdiri di tepi tebing pantai. Mereka berdua basah kuyup.
"Yudi ...! Benar Yudi ..., kita berhasil ...!" Yuna berteriak kegirangan.
Yudi tersenyum. Ternyata benar tentang legenda Laut Selatan yang sering diomongkan orang.
"Yudi ..., kita berhasil. Berarti kita diijinkan untuk membangun puncak bukit ini, Yudi ...." Yuna masih kegirangan.
"Iya, Yuna. Saya berterima kasih banyak kepadamu." kata Yudi yang masih tersenyum puas.
"Arigatogozaimasu ..., Arigato kuin .... Arigato kuin ...." kata Yuna berkali-kali.
Sebenarnya baru sekali ini Yudi melakukan hal seperti ini. Sebelumnya, Yudi hanya menganggap bahwa cerita-cerita legenda tentang Ratu Pantai Selatan atau Ratu Nyai Roro Kidul hanyalah mitos belaka. Namun ternyata, setelah ia mengajari Yuna dan dipraktekkan, itu adalah fakta. Kita tidak harus melihat yang kasat mata, tidak harus bertemu secara langsung kepada Sang Ratu, tetapi tanda-tanda alam itu sudah memberi jawaban, sudah bisa menjelaskan segalanya. Termasuk pertanyaan Yudi dan Yuna tentang diijinkannya pembangunan di puncak bukit untuk membuat sebuah obyek Taman Awang-awang. Mereka sudah mendapat jawaban. Alangkah senangnya rasa hati Yudi, yang sedikit banyak masih terpengaruh oleh adat istiadat masyarakat Pantai Selatan.
"Yudi, sekarang saya ingin tahu, apakah Sang Ratu menjodohkan kita?" kata Yuna.
"Maksud Yuna?" Yudi bertanya karena belum tahu yang dimaksud Yuna.
"Yudi, saya bertanya, apakah Yudi mencintai Yuna?" tanya Yuna.
Yudi mengangguk. Lantas menjawab, "Iya, Yuna ..., saya mencintaimu."
"Kalau begitu, mari kita tanyakan kepada Sang Ratu, apakah Sang Ratu memberi ijin kepada kita untuk memadu cinta kita berdua, dan apakah kita boleh menikah. Yudi setuju?" tanya Yuna.
"Yuna .... Banyak misteri tentang Kanjeng Ratu Nyai Roro Kidul. Kita jangan sembrono, jangan sembarangan. Itu berarti kita menuntut banyak. Orang Jawa mengatakan, itu namanya serakah. Yoku fukai ..., greedy." jawab Yudi.
"Bukan begitu, Yudi. Saya hanya ingin meyakinkan, apakah cinta kita direstui oleh Sang Ratu." desak Yuna.
"Yah ..., cobalah. Tapi jangan terlalu berharap. Kita sudah banyak meminta kepada Sang Ratu." Yudi pasrah, tidak sanggup menahan kemauan Yuna.
Yuna kembali melangkah ke tepi bukit. Tentu sambil menggenggam tangan Yudi. Lantas gadis Jepang itu berteriak keras, seakan mau memecah samudera.
"Kanjeng Ratu Laut Selatan, apakah cinta saya kepada Yudi direstui oleh Kanjeng Ratu? Kanjeng Ratu Laut Selatan, apakah saya diijinkan untuk menikah dengan Yudi?" teriak Yuna.
Yuna berdiri diam. Menunggu jawaban dari Ratu Laut Selatan.
__ADS_1
"Kok diam. Tidak dijawab, Yudi ...." Yuna bersedih. Sudah menunggu cukup lama, belum ada tanda-tanda gelombang akan datang.
"Tunggu sebentar, Yuna. Sabar ...." jawab Yudi.
Beberapa saat mereka menunggu. Yuna hampir putus asa. Kepalanya menunduk sedih. Namun tiba-tiba ada ombak putih kembali bergulung.
"Yuna ..., lihat itu!" Yudi menunjukkan gulungan ombak kepada Yuna.
"Hah ...! Yudi ...! Yudi ...!" Yuna berteriak. Rasa sedihnya hilang berganti dengan senyum girang. Dan, sesaat kemudian ....
"Byuuur ...!! Byuuur ...!!"
Gelombang yang sangat tinggi kembali menghantam dinding tebing bukit. Kali ini gelombang yang benar-benar besar dan dahsyat. Tubuh Yuna terhantam deburan ombak yang besar, terpental dan jatuh.
Yudi yang sigap langsung mendekap tubuh Yuna agar tidak tertarik kembali oleh air laut.
"Yuna ...! Awas, hati-hati ...! Pegangan tanganku!" teriak Yudi yang ketakutan.
Yuna yang terjatuh, langsung memegang erat tangan Yudi. Hempasan gelombang besar itu sudah mengguyur air ke tubuh Yuna dan Yudi yang terjatuh. Mereka berdua bertambah basah kuyup.Bahkan Yuna sempat meminum air laut yang menyapu tubuhnya.
Perlahan Yudi berdiri. Lantas membantu membangunkan tubuh Yuna. Lantas menuntun ke kursi bambu, untuk didudukkan.
"Yudi ...! Ampun .... Saya percaya, Yudi .... Sudah, cukup ...! Saya menyerah ...." Yuna yang kesakitan pasrah.
Yudi membersihkan tubuh Yuna yang basah kuyup dan tertempeli rumput-rumput kering.
"Tubuhmu basah semua, Yuna .... Ayo ke mobil. Kita segera pulang. Nanti kamu bisa masuk angin." kata Yudi yang membopong Yuna untuk dimasukkan ke mobil.
Yuna yang lemas dan kesakitan, pasrah. Sudah tidak sanggup berjalan. Bibirnya menggigil kedinginan. Tentu perutnya juga mual karena kemasukan air laut yang tertelan.
Yudi merebahkan tubuh Yuna di jok tengah, yang lebih lebar dan leluasa. Lantas membuka bagasi, mengambil ransel, membuka dan mengeluarkan kaos dan kain sarung miliknya. Lantas Yudi membuka pakaian Yuna yang basah kuyup. Kemudian tanpa ragu-ragu, Yudi mengelap seluruh tubuh Yuna yang kotor, dengan kedua telapak tangannya.
Yuna diam saja. Tidak tahu harus bagaimana. Bahkan saat seluruh tubuhnya disentuh telapak tangan Yudi. Apalagi saat Yudi membersihkan pada bagian-bagian yang sensitif. Meski malu, Yuna diam dan pasrah.
Akhirnya, Yuna sudah mengenakan kaos dan kain sarung untuk menutup tubuhnya yang kedinginan. Lumayan. Setidaknya sudah mengenakan pakaian kering dan lebih hangat.
Perlahan Yudi menjalankan mobilnya. Menuruni bukit Taman Awang-awang. Membawa gadis pujaannya yang lemas tidak berdaya.
Dalam berbaringnya, meski tubuhnya terasa sakit, meski kondisinya masih lemah, Yuna tetap tersenyum. Hatinya bahagia, senang tidak terkira. Yuna sungguh terkesan, begitu besarnya kasih sayang Yudi pada dirinya. Menyelamatkan dirinya dari sapuan gelombang samudera. Bahkan dengan penuh kasih sayang, Yudi sudah merawat tubuhnya, menelanjangi dirinya untuk membersihkan dan menyeka setiap kulit yang basah. Lantas mengenakan pakaian gantinya untuk Yuna, sementara Yudi sendiri tetap membiarkan dirinya basah. Sungguh suatu cinta yang luar biasa. Tentu Yuna semakin cinta. Cinta yang harus dipupuk dan disiram setiap saat.
"Yudi ..., bisakah saya duduk di depan, duduk di sampingmu. Saya ingin menemani Yudi." kata Yuna yang sudah mulai bangkit dari berbaringnya.
Yudi meminggirkan mobilnya, berhenti.
"Silakan melompat sini." kata Yudi.
Yuna melompat, dari jok tengah berpindah ke depan. Duduk menemani Yudi.
"Yudi, terima kasih untuk segalanya. Yuna sudah mendapatkan jawaban cinta dari Sang Ratu Pantai Selatan. Kini Yuna tidak ragu pada hati Yudi. Begitukah, Yudi?" kata Yuna dengan senyum bahagia.
"Yuna ..., cinta itu saling percaya. Tidak perlu pembuktian. Kasih sayang itu yang lebih penting, karena harus bertanggung jawab dan saling menjaga." sahut Yudi sambil mengendarai mobilnya.
"Iya, Yudi .... Saya percaya. Tetapi Sang Ratu sudah lebih memberikan bukti cinta kita. Semoga cinta kita bisa abadi seperti ombak laut selatan ya, Yudi ...." kata Yuna yang sudah merebahkan kepalanya di pundak Yudi.
"Amiiin ...." sahut Yudi mengamini harapan Yuna.
__ADS_1