KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 183: JODOH DAN REZEKI ADA YANG MENGATUR


__ADS_3

    Pagi hari, Rini sudah sibuk membantu Mak Mun menyiapkan sarapan pagi. Ia ikut menata makanan di meja makan. Tentu nanti untuk sarapan bersama anak-anaknya.


    Keluar dari kamar, menuju meja makan, Silvy langsung memeluk tubuh ibunya. Rini yang dipeluk anaknya, hingga kaget karena tidak tahu sebelumnya kalau ada anaknya yang datang.


    "Iih ..., Silvy .... Ngapain sih ini ...?!" kata Rini yang berusaha melepas pelukan anaknya.


    "Iya, ini dengaren, Neng Silvy pakai peluk-peluk Mamah .... Pasti ada maunya ...." Mak Mun yang melihat ikut berkomentar.


    Yayan yang juga sudah keluar dan duduk di kursi makan, ikut nimbrung mengomentari, "biasanya sih, ada sesuatu yang mau diminta." kata Yayan.


    "Ada apa Silvy ...?" tanya Rini yang juga ikut penasaran.


    Mereka duduk bertiga di ruang makan, tentu untuk sarapan pagi. Rini mengambilkan nasi di piring untuk anak-anaknya. Sedangkan Rini sendiri belum mengambil nasi. Belum ingin sarapan.


    "Mamah, mana nasinya?" tanya menantunya yang merasa disayang karena diladeni oleh mertuanya.


    "Mamah nanti saja ..., bareng sama Mak Mun dan Mang Udel. Ada yang harus Mamah bicarakan pada mereka." kata Rini sambil minum lemon tea.


    "Pasti masalah pemberhentian mereka." kata Silvy mencoba menebak.


    "Bukan ...., tepatnya membicarakan nasib mereka ke depan." sahut Rini.


    "Kata-kata Mamah semalam, sama Pakde, Bude, Om dan Tente itu beneran ya, Mah ...?!" tanya Silvy yang tentu masih sangat penasaran dengan kata-kata ibunya, yang seakan sangat aneh.


    "Ya benar, lah .... Masak orang bicara kok asal-asalan .... Nanti dicap mencla-mencle." jawab Rini yang memang sudah sangat tenang.


    "Terus, beneran Mamah mau tinggal di rumah kami yang kecil?" tanya Yayan yang juga ingin meyakinkan.


    "Ya iya, lah .... Tapi untuk sementara waktu saja." jawab Rini.


    "Lhah, terus selanjutnya ...?" tentu Yayan penasaran.


    "Mamah mau pindah ke Jogja. Kan kita masih punya rumah di Jogja ...." kata Rini yang seakan mengingatkan anaknya yang lupa.


    "Oo, iya .... Malah aku lupa." Silvy menepuk jidatnya.


    "Sudah pikun, ya ...." kata Rini mengejek.


    "Tapi Silvy bangga sama Mamah ...." kata Silvy.


    "Kenapa?" tanya ibunya.


    "Mamah itu orang hebat. Sangat jarang ada orang yang begitu saja melepas harta benda, memberikan rumah mewah untuk orang lain. Padahal, Om dan Tante ditambah sama Bude, itu jelas-jelas jahat. Ingin mengusir Mamah dan menguasai harta milik Papah. Tapi, tadi malam, saya menyaksikan sendiri Mamah dengan tenang menyampaikan itu semua. Silvy ikut kaget, Mah ..., mendengar kata-kata Mamah semalam. Sampai-sampai, Pakde saja tidak bisa bicara. Makanya Silvy memeluk Mamah. Silvy bangga punya Mamah yang baik dan hebat ini. Silvy kagum punya Mamah yang tidak gila harta." kata Silvy yang menyanjung ibunya.


    "Aah ..., jangan terlalu memuji, nanti Mamah jadi sombong." sahut ibunya.


    "Iya, Mah .... Kami benar-benar tidak menyangka kalau semalam Mamah akan mengatakan itu semua. Yayan dapat lagi guru terbaik di dunia ini ...." kata Yayan yang juga memuji mertuanya.


    "Tapi ngomong-ngomong, kenapa kemarin saudara-saudara Mamah yang ada di Bandung tidak diundang ...? Kan ada keluarga Om dan Tante yang baik." tanya Silvy yang tentu bingung karena keluarga ibunya justru tidak diundang dalam acara kirim doa empat puluh hari meninggalnya bapaknya.


    "Kalau Mamah undang keluarga Om dan Tante yang di Bandung, bicara Mamah sudah berbeda. Tidak seperti tadi malam. Karena, pasti Om dan Tante kamu akan keberatan. Tidak terima kalau warisan Papah kamu diberikan kepada saudaranya Papah kamu semua ...." jelas Rini.

__ADS_1


    "Oo ..., begitu ya, Mah ...." kata Silvy yang tentu juga menyadari, jika ada adik-adik ibunya tentu keikhlasan itu akan berubah.


    "Terus, kita mau pindahannya kapan, Mah?" tanya Yayan.


    "Ya mulai sekarang. Hari ini .... Nanti saya akan minta tolong ke Mang Udel, untuk memilah barang yang akan kita ambil. Termasuk kamu. Butuh apa yang bisa kamu bawa ke rumahmu. Kamu pilih dahulu, biar besok diangkut truk untuk mengirim ke rumah kalian." jelas Rini pada menantunya.


    "Iya, Mah .... Nanti sore saya bicarakan dengan Silvy. Yang jelas tempat tidur Silvy sama lemari yang ada di kamarnya." kata Yayan yang disuruh memilih barang untuk dibawa pulang.


    "O ya ..., mobil Papah di sini nganggur. Tidak ada yang pakai, kamu bawa saja biar lebih nyaman." kata ibunya lagi yang meminta Yayan agar membawa mobil tinggalan mertuanya.


    "Lhah, Mah ..., mau ditaruh di mana? Mobil itu saja sudah pas se garasi. Masak mau ditambah mobil Papah?" sahut Yayan.


    "Yang punya kamu di tinggal di sini. Punya Papah yang kamu bawa kerja. Itu kan lebih baru tahunnya." kata mertuanya lagi.


    "Lebih baru, iya, Mah .... Pajaknya juga berbunyi, Mah ...." sahut Yayan yang tentu berfikir dua kali kalau bicara pajak mobil. Sayang uang yang besar dibuang sia-sia.


    "Sudah .... Pokoknya kamu bawa saja dahulu. Besok pasti kita membutuhkan." kata ibu mertuanya yang memaksa.


    "Iya, Mas Yayan .... Kalau kita ke Jogja kan lebih nyaman pakai mobil Papah." sahut istrinya.


    "Iya, Mah ...." Yayan pun mengalah.


    "Sudah, sana berangkat .... nanti terlambat." kata ibunya yang mengingatkan anak-anaknya untuk segera berangkat ke kantor.


    Setelah anak-anaknya berangkat kerja, Rini memanggil Mak Mun dan Mang Udel. Mengajak sarapan di ruang makan. Tentu sambil diajak mengobrol. Tidak hanya mengobrol, tetapi juga ada pesan yang akan disampaikan.


    "Sini, Mak Mun ..., Mang Udel .... Ayo kita sarapan bareng." kata Rini yang sudah duduk di ruang makan.


    "Tidak usah sungkan .... Ayo, sini .... Saya mau ajak Mak Mun dan Mang Udel omong-omong." kata Rini yang tahu kalau para pembantunya itu sungkan.


    "Iya, Ibu ...." kata Mak Mun sambil perlahan menaruh pantatnya di kursi makan.


    "Maaf, Ibu Rini .... Saya jadi tidak enak ...." kata Mang Udel yang jyga mulai duduk.


    "Tidak apa-apa .... Justru saya yang tidak enak mengundang kalian berdua kemari. Tapi ada yang harus saya sampaikan. Makanya, kita sarapan sambil ngobrol." kata Rini yang sudah mengambilkan nasi untuk Mang Udel sama Mak Mun.


    "Jangan, Ibu .... Saya bisa ambil sendiri kok ...." sahut Mak Mun yang langsung meminta sendok nasinya.


    Mereka bertiga pun sudah mulai makan bersama. Bagi Rini, ia berfikir, mungkin ini adalah makan bersama yang terakhir bagi mereka bertiga.


    "Kami mau dipecat ya, Bu ...." tanya Mak Mun tiba-tiba, disela makan.


    "Siapa bilang ...?!" tanya Rini.


    "Tadi malam saya dengar Ibu bicara mau pindah dari sini." jawab Mak Mun polos.


    "Ah, kamu itu lho .... Sukanya nguping pembicaraan orang." sahut Rini.


    "Tapi benar kan, Bu ...?!" tambah Mak Mun.


    "Tergantung .... Mak Mun sama Mang Udel mau yang mana ...." kata Rini yang tentu sulit dipahami.

__ADS_1


    "Maksudnya gimana sih, Bu ...? Kami di sini sama bos baru? Saudaranya Bapak yang tadi malam mau nempati rumah ini?" tanya Mak Mun yang penasaran.


    "Mak Mun mau ...?" tanya Rini mencoba menguji.


    "Ah ..., mending saya nganggur, Bu ...." sahut Mak Mun tegas.


    "Lhah, memang kenapa?" tanya Rini ingin tahu.


    "Nanti kalau saya tidak dibayar, dimarah-marahi, disiksa .... Jadi kurus tubuh saya, Bu ...." kata Mak Mun yang tidak ingin punya majikan saudara tiri Rini tersebut.


    "Begini Mak Mun, Mang Udel .... Mak Mun tadi malam sudah dengar sendiri, mungkin Mang Udel juga sudah tahu .... Terus terang rumah ini sudah saya serahkan kepada kakak dan adik-adiknya Pak Hamdan. Saya tidak mau rebutan harta orang yang sudah meninggal. Apalagi berebut dengan saudara. Makanya saya akan pergi meninggalkan rumah ini. Makanya nanti saya mau minta tolong sama Mak Mun dan Mang Udel untuk membantu memilah barang yang akan saya bawa pindah. Dan Mang Udel tolong besok dicarikan truk, untuk mengangkut barang-barang saya. Tidak semua saya bawa, hanya yang penting dan punya kenangan saja." kata Rini menjelaskan.


    "Memang mau pindah ke mana, Ibu ...?" tanya Mang Udel yang juga merasa kehilangan dan pasti akan jadi pengangguran.


    "Nanti sebagian barang ada yang dibawa Silvy. Sebagian lagi akan saya bawa ke Jogja. Saya mau pindah ke Jogja." kata Rini menjelaskan.


    "Walah, kok jauh amat, Bu ...? Kenapa tidak pindah ke Bandung yang dekat dengan keluarga Ibu?" tanya Mak Mun.


    "Saya sudah punya rumah di Jogja, Mak Mun .... Memang dahulu rencananya mau ditempati saat pensiun. Kalau di Bandung, saya belum punya rumah. Rumah keluarga sudah ditempati adik saya yang bungsu. " jawab Rini.


    "Oo .... Jadi kalau sering ke Jogja itu, memang nengok rumahnya yang di Jogja ya, Bu ...?" kata Mak Mun.


    "Itu rumah Silvy .... Untuk singgah jika kami ke Jogja, biar tidak bingung mencari hotel. Hanya sebagai penginapan saja." jawab Rini.


    "Lha terus, kami bagaimana, Bu?" tanya Mang Udel. Tentu terkait dengan pekerjaan.


    "Mang Udel ..., sebenarnya saya berencana mau buka kegiatan untuk Mang Udel .... Tapi di Jogja. Apa Mang Udel mau ikut saya ke Jogja?" tanya Rini.


    "Kalau boleh tahu, rencananya kegiatan apa, Bu ...?" tanya Mang Udel.


    "Itu, anggrek Bapak kan cukup banyak .... Rencananya saya ingin sekalian membuat usaha kebun anggrek. Yah, untuk hiburan saya, Mang Udel ...." jawab Rini.


    "Saya pikir-pikir dahulu, Bu .... Tentu harus saya bicarakan dengan istri dan anak-anak." jawab Mang Udel.


    "Iya, Mang Udel .... Kalau Mak Mun, mohon maaf, saya tidak bisa apa-apa. Kalau misal Silvy sudah punya anak, pasti akan saya minta untuk momong anaknya Silvy. Tapi untuk saat ini, belum ada yang dirawat ...." kata Rini yang tentu menyesal dengan keadaan Mak Mun.


    "Walah, malah saya yang jadi pengangguran." kata Mak Mun yang sangat kecewa.


    "Makanya besok, saya mohon bantuan Mang Udel untuk carikan dua buah truk. Yang satu mengangkut barang, ada kasur, lemari dan barang lain, dan yang satu lagi mengangkut anggrek. Semuanya diangkut dan dibawa ke Jogja." kata Rini minta tolong pada Mang Udel.


    "Iya, Ibu .... Nanti akan saya sampaikan ke tukang jasa angkut. Semoga cepat dapat." jawab Mang Udel yang sanggup mencarikan truk.


    "Terima kasih, Mang Udel ...." sahut Rini.


    "Iih ..., Ibu Rini .... Hik ..., hik ..., hik ...." Mak Mun melendot ke tubuh Rini, sambil menangis karena kecewa.


    "Kenapa, Mak Mun ...?" tanya Rini yang tentu sudah tahu alasannya.


    "Saya kecewa .... Saya sedih .... Saya besok bagaimana, Ibu ...." kata Mak Mun yang tentu sangat sedih akan berpisah dengan majikannya yang selama ini sangat baik kepadanya.


    "Jangan bersedih .... Tidak usah kecewa .... Jodoh dan rezeki itu sudah ada yang mengatur .... Jika kita memang ada jodoh, pasti nanti bisa bersama lagi. Kalau Mak Mun ternyata dapat rezeki di tempat lain, ya harus disyukuri .... Demikian juga Mang Udel .... Kalau ternyata Mang Udel diizinkan keluarganya ikut saya ke Jogja, ya itu rezekinya Mang Udel .... Siapa tahu kita ini masih akan terus bersama ...." kata Rini menghibur Mak Mun serta Mang Udel.

__ADS_1


    Ya, lahir, jodoh, rezeki dan mati adalah suratan Yang Maha Kuasa. Kita hanya bisa menjalani, sebagai makhluk yang mestinya berbakti kepada Sang Pencipta.


__ADS_2