KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 105: KECERIAAN DI TAMAN AWANG-AWANG


__ADS_3

    Secara umum, proyek pembangunan Taman Awang-awang sudah selesai. Tinggal menunggu peresmian. Yudi dan Yuna sudah menyampaikan kepada Pak Lurah tentang rencana peresmian Taman Awang-awang.  Pak Lurah sudah meminta anggaran kepada Yudi, besarnya lima puluh juta. Rencananya siang hari ada kesenian reog dan jaran kepang. Sedangkan malam hari ada hiburan pagelaran wayang kulit semalam suntuk. Yang diundang Bapak Bupati, Kepala Dinas Pariwisata dan pejabat dari berbagai instansi. Dan tentu, seluruh masyarakat Kampung Nirwana. Konsumsi untuk undangan tentu juga habis banyak.


    Biaya itu belum yang diposkan oleh Yuna. Tentu Yudi yang jadi kalang kabut, bingung mencari dana. Karena uang sebanyak itu tentu tidak gampang untuk mencarinya. Mau tidak mau, Yudi harus mencari sumbangan. Orang yang pertama kali diminta sumbangan adalah Pak Lurah. Karena menurut Yudi sebenarnya ini adalah tugas Pak Lurah. Tetapi saat meminta sumbangan ke Pak Lurah, malah dibalik oleh Pak Lurah, Yudi disuruh nyumbang duluan. Yah, akhirnya, mau tidak mau Yudi yang harus banyak keluar uang untuk acara peresmian tersebut. Tetapi, meski sedikit-sedikit, semua warga Kampung Nirwana ikut meringankan biaya yang dibutuhkan. Tidak masalah, katanya. Yang penting meriah. Toh nanti rezeki dari Taman Awang-awang ini akan mengalir deras bagai banjir, menyejahterakan masyarakat Kampung Nirwana.


    Yuna akan mengundang yayasan penyandang dana yang ada di Jepang. Setidaknya nanti ada lima orang yang diperkirakan akan datang ke Indonesia. Tentu seluruh akomodasi ditanggung oleh Yuna. Untuk penginapan dan konsumsi tidak masalah. Ada Nirwana Homestay dan Loka Boga yang sudah siap membantu. Tinggal tiket pesawat, yang masih menunggu konfirmasi personal yang akan ditugaskan. Setidaknya yang datang adalah tim monitoring dan evaluasi.


    Untuk undangan tim dari Jepang tidak masalah. Karena memang dalam anggaran yang dirancang oleh Yuna sudah ada anggaran monitoring. Hanya hiburan dan acara peresmian yang tidak dianggarkan. Namun bagi masyarakat Kampung Nirwana yang sangat memegang teguh rasa persaudaraan, menjunjung tinggi nilai-nilai gotong royong dan kerja sama, terikat dengan rasa paguyuban yang sangat kuat, paham dengan kebaikan Yudi dan Yuna, maka mereka pun saling bahu membahu membantu biaya yang dibutuhkan.


    Kepanitiaan peresmian Taman Awang-awang ini, dipimpin langsung oleh Pak Lurah.


*******


    Hari itu, Sabtu minggu terakhir di bulan Juli. Hari yang ditunggu-tunggu oleh seluruh masyarakat Kampung Nirwana, untuk memulai sejarah baru, di mana kampungnya akan tercatat sebagai daerah tujuan wisata internasional. Wisatawan manca negara akan berdatangan ke Taman Awang-awang, menyaksikan keindahan alam.     Semua orang di Kampung Nirwana terlihat sibuk, menyiapkan berbagai perlengkapan acara peresmian Obyek Wisata Taman Awang-awang. Ada yang menata kursi untuk para tamu. Ada yang mengatur parkir. Ada yang mengatur lalu lintas di setiap perempatan jalan, ada pula yang mengatur para penonton yang akan menyaksikan acara peresmian.


    Di panggung Pendopo Ageng, bangunan terbuka Taman Awang-awang, meja dan kursi khusus tamu para pejabat. Meja dan kursinya berbeda dengan kursi-kursi yang ada di lapangan. Kursi yang disediakan untuk para pejabat ini kursi bagus dari kayu yang ada ukirannya dengan busa tebal. Tentu empuk dan nyaman untuk dibuat duduk. Di depannya ada meja pendek, juga dari kayu yang diukir dan bagian atasnya diberi kaca. Elegan untuk sebuah meja kursi di perkampungan petani pinggir pantai.


    Tiga orang pemuda menata kursi lipat di luar pendopo. Sebagai tempat duduk warga yang datang ikut memeriahkan acara peresmian. Bagian depan pendopo sengaja dikosongkan, nanti untuk berpidato memberi sambutan, serta untuk pentas tarian penyambutan para tamu. Rencananya ada tari gambyong yang diperagakan oleh sembilan remaja putri, ada tari merah dari anak-anak sekolah dasar, serta ada tari bambangan cakil. Tentu hal ini akan menarik perhatian warga.


    Bendera umbul-umbul terpajang di sepanjang jalan, mulai dari parkiran utama lapangan kampung, hingga di puncak bukit. Bagian puncak bukit yang paling meriah. Setiap dua meter ada bendera umbul-umbul yang di pasang. Pada bagian pagar tepi bukit, semua dihiasi dengan bendera umbul-umbul aneka warna. Dan tentu ada lampu warna-warni, lampu kelap-kelip yang pada malam hari nanti akan dinyalakan untuk memeriahkan suasana. Semua meriah.


    Di bagian gapura masuk Taman Awang-awang, terdapat kembang manggar sepasang. Yaitu hiasan semacam bunga kelapa yang terbuat dari kertas yang digunting kecil-kecil, kemudian dililitkan pada lidi. Jumlahnya sangat banyak. Selanjutnya ditancapkan pada bonggol pisang yang dibuat bulatan, lantas dipasang pada ujung bambu yang cukup panjang. Kembang manggar itu terlihat seperti bunga kelapa yang sedang mekar, dengan warna-warni yang indah. Tidak hanya di gapura masuk yang dipajang kembang manggar, tetapi juga di pintu ke arah pendopo.


    Selain kembang manggar, di Taman Awang-awang juga dihias dengan berbagai dekorasi dan hiasan dari janur. Ada yang dibuat kembar mayang, ada yang dibuat anyaman-anyaman berbentuk mainan, ada juga yang dibuat ketupat yang digantung-gantungkan di setiap sudut tempat. Para remaja yang membuat hiasan-hiasan tersebut. Tentu sangat meriah, dan menunjukkan kebersamaan mereka.


    Sementara itu, di lapangan parkir, mobil-mobil VW wisata dihias dengan kertas warna-warni. Tampak menarik. Sengaja panitia melarang mobil naik ke puncak bukit. Para tamu undangan maupun wisatawan yang akan menyaksikan acara peresmian, hanya boleh membawa mobil sampai pada parkiran umum. Selanjutnya dari lapangan parkir para tamu itu disambut oleh para sopir wisata yang sudah mengenakan pakaian adat daerah Jogja, dengan mengenakan baju lurik, kain jarik serta tutup kepala blangkon. Sangat menarik. Lantas para tamu itu naik mobil VW wisata yang sudah dihias tersebut, menuju Taman Awang-awang. Tentu, ini kenangan tersendiri bagi para tamu.


    Mobil dinas plat merah yang akan mengantarkan pejabat dengan pakaian resmi pegawai, langsung dibelokkan oleh pengatur jalan. Diminta parkir di lapangan. Sang sopir keluar, menemui yang nyegat jalan.


    "Mas, ini kami mau mengatar Bapak Kepala Dinas acara peresmian obyek Taman Awang-awang." kata sopir mobil dinas tersebut.


    "O, ya .... Silakan parkir di sini, nanti pihak panitia yang mengantar ke tempat peresmian." jawab si pengatur lalu lintas.


    Lantas sang sopir mobil dinas itu masuk ke mobil lagi, memarkirkan mobilnya di lapangan.


    "Kok parkir di sini?" tanya pejabat yang ada di dalam mobil itu.


    "Kita disuruh parkir di sini, Pak." jawab sang sopir.


    "Lhah, naiknya kan masih jauh .... Wah payah ini ..., sebentar saya yang bilang!" kata sang pejabat langsung membuka pintu dan turun menemui orang yang mengatur parkir.

__ADS_1


    Seorang laki-laki dengan mengenakan sorjan lurik dan blebet kain jarit serta memakai blangkon menemui akan menyambut pejabat yang turun dari mobil dinas itu. Namun belum sempat menyampaikan sambutannya, pejabat itu sudah berkata duuan.


    "Eh, Pak ..., ini saya pejabat yang akan menghadiri acara peresmian obyek wisata!" kata sang pejabat itu dengan nada agak keras.


    "Maaf, Bapak ..., untuk kelancaran jalan, semua tamu undangan parkir di sini, kami yang akan menghantarkan para tamu sampai di tempat acara. Mohon maaf sekiranya kurang berkenan." kata sang penyambut tamu itu dengan senyum ramahnya. Walau kadang emosi, Yudi sudah memesan memberikan kesan kepada tamu yang terbaik.


    "O, begitu .... Bilang dari tadi ...!" kata sang pejabat itu lagi.


    "Monggo, Bapak .... Silakan memilih mobil wisata yang Bapak kehendaki." kata sang penyambut tamu itu lagi.


    "Lha sopir sama ajudan saya bagaimana?" tanya pejabat itu lagi.


    "Siapapun akan kami layani dengan senang hati." jawab sang penyambut tamu.


    "Oke kalau begitu. Tapi gratis to, ini?" pejabat itu masih tanya lagi.


    "Gratis, Pak ...." jawab sang penyambut tamu yang mengenakan pakaian adat khas Jogja itu.


    Lantas pejabat dengan rombongannya itu naik ke mobil wisata yang sudah dihias, menuju puncak bukit, di Taman Awang-awang. Tentu di tempat acara peresmian, pejabat itu sudah disambut oleh among tamu yang ada di sana.


    Jam sepuluh pagi, tiga buah mobil VW kuno yang dihias dengan berbagai pernak-pernik keluar dari Nirwana Homestay. Setiap mobil membawa seorang tamu dari Jepang, yang duduk di samping sopir. Tamu itu mengenakan setelan jas yang bagus, dengan bajunya yang berwarna putih cemerlang, lengkap dengan mengenakan dasi yang bagus pula. Ya, mereka adalah tamu dari Yayasan Penyandang Dana Sosial yang sudah diperbantukan untuk pemberdayaan masyarakat di Kampung Nirwana. Mereka bertiga sengaja diundang oleh Yuna yang sudah merampungkan proyek Taman Awang-awang. Oleh Yudi, tamu-tamu dari Jepang ini diberi kehormatan menginap di Nirwana Homestay. Tiga mobil wisata itu langsung melaju menuju puncak bukit, khusus mengantarkan tamu kehormatan.


    Tiga orang berpakaian adat Jogja, langsung berlari menemui petugas protokoler. Setelah bicara sebentar, dan setuju, dua unit mobil wisata yang sudah dihias, bersiap menyambut dan menghantarkan rombongan Bupati. Bapak Bupati beserta istrinya turun dari mobil dinasnya, lantas berpindah ke mobil wisata yang sudah disiapkan. Sementara salah satu dari motor besar petugas keamanan langsung meraung-raung lagi sirenenya, mengantarkan Bupati bersama istrinya yang naik mobil wisata VW kuno dengan berbagai hiasan yang menarik, menuju puncak bukit, di tempat acara peresmian. Pak Bupati sangat senang. Ibu Bupati malah selfie-selfie. Tentu dengan senyum yang gembira, bisa naik mobil antik yang menarik. Malah sebelum mobil wisata itu jalan, istri Pak Bupati minta tolong penyambut tamu ontuk mengambilkan foto lebih dahulu. Beerapa jepretan langsung diambil oleh sang penyambut tamu tersebut.


    Sesampai di tempat acara, Pak Bupati disambut dengan meriah. Ada dua gadis kecil yang cantik dengan dandanan pakaian adat Jawa, membawa roncean bunga melati dan dikelungkan kepada Bapak Bupati dan istrinya. Tentu banyak warga yang minta berswafoto bersama bupatinya. Dan saat itu pula, para penari gambyong langsung memasuki tempat pentas, menyambut kedatangan Bupati.


    Petugas penyambut tamu langsung memberi jalan kepada Bupati, menuju kursi depan yang sudah disediakan, lantas mempersilakan duduk Bupati dan istrinya, berjejer dengan tiga orang tamu dari Jepang yang sudah datang lebih dulu. Tentu Ibu Bupati menjadi terheran, "Kok ada orang asing?"


    Yudi mengenakan pakaian adat Jawa dengan blangkon Mataraman, duduk di samping kiri istri Pak Bupati. Sementara, Yuna yang mengenakan setelan jas wanita, duduk di samping kanan tamu-tamu yang dari Jepang. Tentu Yuna sambil menerangkan dan menerjemahkan kepada para undangan khusus tersebut.


    "Pak Bupati, ini adalah tamu dari Jepang. Beliau-beliau ini adalah penyandang dana untuk membantu pembangunan Taman Awang-awang ini." kata Yudi memberi tahu kepada Bupati.


    "Orang Jepang? Waduh, saya tidak paham bahasa Jepang, he ...." sahut Pak Bupati.


    "Tidak apa-apa, Bapak ..., nanti Mis Yuna yang menerjemahkan." kata Yudi memberitahu.


    Kali ini Pak Bupati bingung, berdekatan dengan orang Jepang, tetapi tidak bisa bicara apa-apa. Mau memakai bahasa isyarat, kok ya tidak nyaman. Yah ..., diam saja.


    "Tari gambyong .... itu tari gambyong ...." kata Pak Bupati pada tamu dari Jepang itu. Yang penting bisa bilang tari gambyong sambil menunjuk para penari.

__ADS_1


    "Kore wa dansudesu 'gambyong'. Jogujakaruta no dento buyo." kata Yuna yang menjelaskan kepada para tamunya.


    "Aa, sore wa totemo utsukushidesu." kata para tamu dari Jepang itu.


    "Pak Bupati, tamu kita dari Jepang ini mengatakan, tarian ini sangat indah sekali." Yudi menjelaskan kepada Pak Bupati.


    "Waah .... Mereka terkagum menyaksikan tari gambyong. Eh, Mas Yudi, kalau saya mau mengucapkan terima kasih, ngomong Jepang-nya bagaimana?" tanya Bupati pada Yudi.


    "Bapak berdiri menghadap tamu itu, lalu bilang saja 'arigato' sambil membungkukkan badan." Yudi mengajari Pak Bupati.


    Lantas Pak Bupati mengikuti yang diajarkan Yudi. Ia berdiri menghadap ke tamu dari Jepang itu, lantas membungkukkan badannya, sambil mengatakan, "Arigato ..., arigato ..., arigato ...."


    Setelah tari gambyong selesai, pembawa acara menyampaikan, bahwa akan ada sambutan dari perwakilan Pemerintah Jepang. Tentu yang dimaksud adalah perwakilan dari salah satu Tamu Jepang itu.


    Yuna langsung berdiri, membungkukkan badan, lantas meminta ketua yayasan penyandang dana untuk memberikan sambutan. Tentu Yuna ikut mendampingi sebagai penerjemah.


    Salah astu dari tiga orang tamu Jepang itu berdiri, lantas membungkukkan badan, memberi hormat kepada Bapak Bupati. Pak Bupati yang didampingi Yudi ikut berdiri, membalas membungkukkan badan.


    Ketua yayasan itu memberi sambutan. Tidak banyak. Tidak panjang. Hanya sebentar. Yang kemudian dilanjutkan oleh Yuna yang menerjemahkan dalam bahasa Indonesia.


    "Bapak Bupati yang terhormat, bersama Nyonya .... Mas Yudi, dan semua pejabat serta seluruh masyarakat Jogja, Yayasan dana sosial untuk pemberdayaan masyarakat mengucapkan terima kasih, masyarakat di sini sudah membangun obyek wisata yang sangat istimewa. Terutama, kami senang diajak naik mobil kuno yang sangat antik. Semoga masyarakat di sini semakin sejahtera. Amin." begitu ucap Yuna yang menerjemahkan ucapan ketua yayasan.


    "Horee ...." tepuk tangan meriah dari seluruh masyarakat yang hadir di situ terdengar menyambut ketua yayasan yang baik itu.


    Tentu masyarakat merasa senang, walau sedikit sambutannya, tetapi ia sudah mengungkapkan perasaannya saat naik mobil antik. Itu adalah daya tarik yang harus dikembangkan.


    Selanjutnya, ada tarian anak-anak. Tidak kalah menarik. Walau yang menari anak-anak, tetapi semuanya piawai. Demikian pula dengan gebyar pakaian tari yang dikenakan, tentu membuat tarian semakin terlihat meriah.


    Dan yang berikutnya, yang ditunggu-tunggu, adalah peresmian Taman Awang-awang oleh Bapak Bupati. Setelah memberikan sambutan, ular-ular dan pesan, agar masyarakat di Kampung Nirwana ini menjaga dan melestarikan obyek wisata yang megah, yang menarik dan mempesona, sebagai tempat untuk mencari rezeki dan meningkatkan kesejahteraan.


    Lantas Pak Bupati bersama Ibu, di ajak menuju pinggir bukit di arah selatan, tepatnya di depan spot foto ke arah Pantai Selatan, untuk memotong untaian bunga. Lantas untaian bunga itu diberikan kepada Ibu Bupati. Tanda Taman Awang-awang resmi dibuka untuk wisata.


    Tepuk tangan meriah mengiringi acara peresmian itu. Bersamaan dengan itu, suara musik yang mengagetkan terdengar dari tangga berundak. Gamelan pengiring tarian reog sudah berkumandang. Dua buah reog sudah meliuk-iuk menarikan bulu-bulu merak. Menakjubkan.


    Bersamaan dengan kemunculan tari reog, di sisi utara, di tempat penurunan penumpang, puluhan mobil wisata antik yang dihias dengan berbagai pernak-pernik berdatangan. Menurunkan wisatawan asing dari Eropa. Ada sekitar dua puluh lima orang berkebangsaan Eropa, datang ke Taman Awang-awang. Tentu para turis asing ini  langsung berbaur menyaksikan keramaian dan keindahan alam.


    Hari yang meriah. Seluruh masyarakat Kampung Nirwana bergembira. Senang. Terharu, sudah memiliki obyek wisata yang berkelas internasional. Dan mereka, akan menunggu malam, bahkan menunggu pagi kembali muncul, sambil menyaksikan pertunjukan wayang kulit.


    Yudi tersenyum. Yuna memeluk Yudi dengan senyum yang manis. Senyum dua insan dalam pelukan. Senang menyaksikan ramainya Taman Awang-awang yang indah. Bahagia melihat masyarakat Kampung Nirwana yang gembira.

__ADS_1


__ADS_2