KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 23: KETERLALUAN


__ADS_3

    RINI langsung menutup mulutnya dengan bantal. Ia khawatir jeritannya di dengar anak-anak atau orang lain. Takut kalau ada yang datang. Pandangannya menatap pintu, jangan-jangan ada yang membuka. Setelah beberapa saat tidak ada tanda-tanda orang yang menghampiri, dirasa aman, Rini baru merasa lega. Ia melepas bantal yang digunakan untuk menutup mulutnya.


    "Dasar, Yudi anak nakal .... Kamu keterlalua, Yud." gumam Rini.


    Tentu saja Rini kaget, juga jengkel dengan kelakuan Yudi. Tetapi hatinya juga bangga dan berbunga, karena cintanya Yudi yang nekad. Bagaimana tidak menjerit? Saat Rini menuju tempat tidur Yudi, saat ia akan merebahkan tubuhnya, saat ia akan tiduran, ternyata di atas kasur, di dekat bantal, Rini melihat setelan rok dan blus warna putih oranye yang dilipat rapi, di atasnya terdapat CD wanita warna coklat muda, serta bra BH warna hitam yang terlipat rapi. Ya, pakaian wanita itu semua adalah milik Rini yang tempo hari ditinggal di rumah Yudi.


    "Ya ampun, Yudi .... Kelakuanmu kok kayak anak kecil, ya .... Kamu keterlaluan, Yud. Cinta ya cinta, sayang ya sayang, tapi ya jangan seperti ini juga, Yud. Malu-maluin aja. Kayak gini kalau dilihat orang bagaimana ...? Gemes deh, aku gemes sama kamu, Yud!" Rini menggumam sendiri, "Pasti, ini semua setiap malam diciumi Yudi .... Kelakuan! Yang ini baunya pesing, Yud. Haha ...."


    Meski begitu, pasti hati Rini berbunga, karena ternyata Yudi benar-benar mencintainya. Buktinya, pakaian Rini dijadikan teman tidur. Walau hanya sekedar pakaian, tentu itu bisa menjadi obat rindu saat akan tidur. Ya, namanya juga cinta.


    Lantas Rini mengangkat pakaian-pakaiannya itu, dan menaruh dalam lemari pakaian Yudi. Rini tidak memasukkan ke dalam tasnya, tetapi sengaja ditinggal. Biarlah pakaian itu ada di rumah Yudi, yah, siapa tahu pakaian itu nanti dibutuhkan untuk salin sewaktu-waktu dirinya tidur di rumah Yudi lagi. Dan tentunya, Rini sengaja meninggalkan pakaian itu untuk pengikat cinta Yudi. Biar saja Yudi tidur bersama pakaiannya.


    "Biarlah pakaian ini menjadi penghibur cintanya Yudi. Toh aku juga senang kalau Yudi selalu mengelus atau menciumi pakaianku .... Namanya juga jatuh cinta, gak bisa nyium orangnya, yah, lumayan bisa nyium pakaiannya .... Hihi ...." begitu pikir Rini.


    Setelah menaruh pakaiannya di lemari, Rini duduk di kursi kerja Yudi. Ia menyalakan lampu belajar yang ada di meja, kemudian mencermati berbagai benda yang ada di atas meja kerja Yudi. Mengambil dan memeriksa satu persatu barang-barang milik Yudi.


    "Hah ...! Yudi ...! Kamu selalu memberi kejutan padaku." kata Rini, setelah melihat standing pigura di meja kerja Yudi yang memajang foto mereka berdua, foto Rini dan Yudi. Ya, foto saat mereka berdua saat duduk di Pantai Indrayanti.


    "Yudi kok bisa sih, punya foto ini? Siapa yang ngambil foto ini? Ah, dasar Yudi anak nakal!" gumam Rini yang masih mengelus-elus foto yang terpampang. Mengelus wajahnya dan wajah Yudi.


    Selanjutnya Rini menyentuh barang-barang lain yang ada di meja itu. Ada tempat pena yang berisi ballpoint Arrow warna emas, keren. Ada bola dunia kecil terbuat dari perak. Dan di dekat tempat pena terdapat box mika kecil berisi kartu nama. Rini ingin tahu kartu nama itu. Lantas ia mengambil satu lembar. "Yudi Satriya" nama yang tercantum di kartu nama itu. Desainnya bagus, jenis kertasnya juga bagus sekali. Tidak hanya nama yang tercantum dalam kartu nama itu, tetapi ada alamat rumah, alamat kantor, nomor telepon, instagram, dan alamat email.


    Rini membolak-balik kartu nama itu, sambil membayangkan wajah Yudi, pasti kartu nama ini didesain sendiri. Tiba-tiba, muncul keinginan Rini untuk mencoba mengirim email.


    "Ya, ada alamat email, siapa tahu Yudi sempat membaca emailnya. Jika HP hilang, susah untuk mengembalikan nomor telepon, tetapi email bisa dibaca kapan saja, dari berbagai tempat, lewat komputer. Perlu saya coba untuk mengirim email ke Yudi." begitu pikir Rini.


    Lantas Rini membuka HP-nya, menyeret layar, membuka email, lalu mengetik alamat email Yudi, dan menulis berita.


    "Halo, Yudi ku sayang .... Jika kamu membaca email ini, segeralah membalas. Aku mencemaskanmu. Masih adakah cintamu untukku?" kata-kata yang diketik Rini. Lantas, sanding email.


    "Semoga saja tidak terjadi apa-apa pada Yudi, dan ia membaca emailku." gumam Rini.

__ADS_1


    Tidak berapa lama, terdengar bunyi "Tlung ...." notifikasi HP Rini berbunyi.


    Rini langsung membuka HP. Ada email masuk. Hatinya berdebar. Ia berharap keajaiban. Bergegas ia membuka email itu.


    "Hai, Rini ku sayang .... Aku baik-baik saja. Maaf sudah membuatmu khawatir. HP-ku hilang saat perjalanan pulang dari kantor Mas Hamdan. Jadi tidak bisa menghubungi siapa-siapa. Lantas saya mampir ke Cikini, tempat teman-teman aktivis seni nongkrong. Aku menawarkan proposal ke teman-temanku. Akhirnya ada teman yang tertarik, yaitu teman saya dari Jepang, namanya Yuna, cewek cantik, muda, masih lajang. Kamu jangan cemburu, ya ..., hahaha .... Saat itu pula saya bergegas mencari penerbangan ke Tokyo untuk menemui Yuna. Ini saya masih berada di Jepang. Maaf ya, sayang .... Doakan rancanganku sukses. Salam rindu selalu untukmu. Aku tunggu kehadiranmu di istanaku." jawaban email dari Yudi.


    Rini membaca dengan hati berbinar. Syukurlah, orang yang dia cintai tidak terjadi apa-apa.


    "Dasar, keterlaluan .... Baru ketemu sudah pamer cewek. Aku cemburu, tahu!" jawab Rini yang membalas email Yudi.


    "Hahaha .... Gak usah cemburu. Wanita Jepang banyak yang tidak ingin direpotkan anak, maka Yuna belum mau menikah .... Kalau aku belum menikah, karena jodohku pergi ngikut orang kaya .... Hahaha ...." jawab Yudi lewat email.


    "Kamu keterlaluan, Yud ...." balas Rini.


    "Keterlaluan apanya?" tanya Yudi.


    "Kamu meniduri pakaianku, ya? Dasar maniak ...!" balas Rini.


    "Ya tahu, lah .... Ini aku di rumah kamu. Mau tidur di istanaku. Tapi sayang, rajaku meninggalkan istananya, mencari anak perawan dari negeri matahari terbit ...." balas Rini.


    "Hahaha .... Keterlaluan kamu, Rin. Kalau Mas Hamdan tahu bagaimana?" tanya Yudi selanjutnya.


    "Ini aku justru diantar suamiku, tahu! Apa nggak lebih keterlaluan, ha? Datang ke rumah pacarnya diantar sama suaminya .... Ini gila, Yud .... Demi cintaku padamu, Yud." tulis Rini membalas email.


    "Ya, Rin, aku minta maaf sudah merepotkanmu. Nanti kalau urusanku sudah selesai, aku segera balik ke Jogja." balas Yudi.


    "Cepetan pulang .... Aku rindu berat, nih ...." balas Rini.


    "Ya. Tapi aku ijin dulu mau ajak Yuna, temanku yang dari Jepang ini, ya .... Dia yang akan membantu membuatkan rancangan arsitektur proyekku." pinta Yudi di email.


    "Iya .... Pokoknya demi orang yang aku cintai, demi menggapai bintang, aku ikhlas. Tapi awas kalau deket-deket sama si cewek Jepang itu." balas Rini.

__ADS_1


    "Ya ampun, Rin .... Masih kurang apa lagi diriku ini? Jangan khawatir ...." tulis Yudi.


    "Iya ..., iya .... Aku terlalu cinta padamu, Yud. Aku takut kehilangan kamu." balas Rini.


    "Okey, Rin, aku mau melanjutkan diskusi. Nih, kamu dapat salam dari Yuna. Hajimemashite, Yuna, yoroshiku. Begitu kata Yuna untuk Rini." tulis Yudi.


    "Apa itu artinya, Yud?" tanya Rini.


    "Salam kenal dari Yuna. Sudah duluan sayang, aku harus berdiskusi lagi. Kurindukan selalu dirimu ...." begitu akhir tulisan email dari Yudi.


    "Ach, Yudi ..., Yudi .... Kamu memang keterlaluan. Tapi aku bangga padamu. Satriyaku yang gagah dan gigih, Yudi Satriya yang perkasa, Satriya yang tidak pernah putus asa. Kamu semakin membuatku bangga. Kamu semakinmembuatku terpesona. Wajar kan, Yud ..., kalau aku cemburu bila ada orang lain yang mendekatimu? Ach, Yudi ..., Yudi ...." gumam Rini yang sudah merebahkan tubuhnya di tempat tidur, lantas memejamkan mata, mimpi bersama Yudi.


*******


    "Waduh, Mah, aku benar-benar bangga pada teman Mamah, ini. Benar-benar luar biasa. Papah keliling Kampung Nirwana, rasanya tidak ingin pulang. Benar-banar kampung surga. Tepat kalau teman Mamah memberi nama Kampung Nirwana. Kampung Surga, kampungnya para dewa, Mah. Aku benar-benar dibuat kagum. Takjub luar biasa. Bagaikan hidup di tempat tinggalnya para dewa. Papah betah tinggal di sini, Mah." kata Hamdan pada Rini saat makan malam berempat, bersama Mas Jo dan Mas Bagas.


    "Apa yang Mamah bilang, Pah .... Papah sih, sukanya nggak percaya." sahut Rini.


    "Iya, Mah. Apalagi potensi di rancangan obyek Taman Awang-awang, Papah terpesona dengan ciptaan Yang Maha Kuasa. Benar-benar luar biasa. Maha Kuasanya Tuhan." tambah Hamdan.


    "Makanya, bantu proyek itu, Pah." sahut Rini.


    "Secara pribadi, Papah ingin berinvestasi di sini, Mah." kata Hamdan.


    "Yakin?!" tanda tanya Rini.


    "Semoga bisa ya, Mah .... Eh, kabarnya teman Mamah, si Mas Yudi bagaimana beritanya, Mah?" tanya Hamdan.


    "Gak usah khawatir, orangnya masih di Jepang. Gegara ditolak perusahaan Papah, ia langsung menawarkan kepada temannya yang ada di Jepang. Ia pergi ke Jepang, untuk ngurusi proyek Taman Awang-awang itu. Kerjasama dengan orang Jepang." jawab Rini.


    "Hah, di Jepang?! Ngurusi Taman Awang-awang?! Lantas kita bagaimana, Mah?! Kita masih bisa berinvestasi di sini, nggak?!" kini Hamdan yang bingung.

__ADS_1


    Akankah niatan Hamdan untuk tinggal di Kampung Nirwana bisa terlaksana?


__ADS_2