
Iring-iringan pengarak pengantin itu akhirnya berakhir di lapangan, yang sudah disiapkan tenda besar untuk macara pesta pernikahan Yudi dan Yuna.
Para penari, orang-orang yang terlibat dalam tugas mengiring pengantin, langsung beristirahat pada tenda khusus yang sudah disediakan. Tentu mereka langsung makan dan minum, karena kecapaian, lapar dan kehausan berjalan mengiring pengantin sambil menari dan membawa barang-barang lainnya. Termasuk para penabuh terbang. Semuanya langsung makan minum.
Sedangkan warga yang hanya menonton di pinggir jalan dan para tamu undangan, duduk di tamu undangan yang sudah disediakan. Pak Lurah dan Bagas, sebenarnya sudah menyewa dua ribu kursi. Oleh yang punya persewaan alat pesta, ditambah lima ratus kursi. Jumlahnya sudah dua ribu lima ratus kursi. Tetapi kenyataan, setelah para tamu duduk, kursinya masih kurang. Masih ada tamu yang berdiri, belum kebagian tempat duduk. Hal ini karena undangan yang datang melebihi hitungan Pak Lurah dan Bagas. Terutama, para turis yang semestinya tidak diundang, mereka pada berdatangan dan ikut duduk sebagai undangan. Tentu para turis ini senang, saat Yudi mengatakan kepada Bagas, biarkan saja para turis itu ikut berpesta. Padahal jumlahnya cukup banyak.
Kereta garuda yaksa masuk ke dalam tenda pesta, berhenti tepat di depan panggung. Pasukan pengawal berbaris di sisi depan tempat pesta, seakan mengamankan raja dan ratu yang sedang turun dari tunggangannya.
Yudi dan Yuna turun dari kereta, lantas neik ke atas panggung. Duduk di kursi pelaminan.
Dua mobil antik juga menurunkan orang tua Yudi dan Yuna. Lantas pengatur acara menuntun lima orang tua-tua itu naik ke atas panggung, untuk mendampingi anak-anaknya yang menjadi raja dan ratu sehari.
Pesta pernikahan Yudi dan Yuna, baru saja dimulai. Ketika pembawa acara, memulai acaranya, mempersilakan kedua mempelai berdiri, ayah dan ibu Yudi yang mendampingi di sisi kanan berdiri, serta ayah, ibu dan paman Yuna yang mendampingi di sisi kiri, ikut berdiri. saatnya para tamu, para undangan memberikan ucapan selamat, maju satu persatu bersalam-salaman dengan pengantin serta orang tua dari kedua mempelai.
Alex bersama istrinya, yang diikuti oleh istri dokter Handoyo, berjalan beriringan menyalami pengantin. Mulai dari menyalami ayah dan ibunya Yudi, lantas menyalami pengantin. Yudi memeluk erat Alex. Sahabatnya yang sudah banyak memberikan suport.
"Selamat, Yudi .... Hidupmu pasti lebih berarti jika didampingi seorang istri ...." kata Alex saat berpelukan dengan Yudi.
"Terima kasih, Alex .... Kamu sudah banyak membantu hidupku." kata Yudi pada Alex.
Lantas, setelah lepas dari pelukan Yudi, Alex menyalami Yuna, menyalami keluarga Yuna, yang tentu sambil membungkukkan badan. Cara hormat ala Jepang. Istri Alex mengikuti suaminya.
Yudi menghentikan istri dokter Handoyo, saat perempuan itu menyalaminya.
"Selamat, Mas Yudi .... Mohon maaf, suami saya sedang ada tugas ke Manila." kata istri dokter Handoyo.
"Sampaikan kepada dokter Handoyo, saya sangat berterima kasih atas kedatangan Ibu dokter." kata Yudi pada istri dokter Handoyo.
"Nanti akan saya sampaikan. Dan pasti saya akan cerita, pesta pernikahan Yudi benar-benar meriah. Selamat, ya ...." kata istri dokter Handoyo.
Kini giliran Rini yang bersalaman. Rini sudah menyalami ayah Yudi, lantas ibu Yudi, Rini dipeluk oleh ibunya Yudi. Kini, Rini akan memberi ucapan selamat kepada Yudi. Rini sudah berhadapan dengan Yudi. Tentu jantung Rini berdebar saat berhadapan dengan laki-laki yang dicintai itu melangsungkan pernikahan. Rini memandangi Yudi, bingung apa yang akan dilakukan.
"Yudi ..., kamu peluk Rini ...." bisik Yuna saat melihat Rini yang termangu memandang Yudi.
"Yuna tidak cemburu?" tanya Yudi yang juga membisik kepada Yuna.
"Cepat kamu peluk ...." kata Yuna kembali menyuruh Yudi.
Tanpa ragu, Yudi membuka dua tangannya, menyambut Rini .... Lantas pengantin laki-laki itu memeluk erat wanita yang saat SMA pernah membuat hatinya jatuh cinta.
Rini pun menjatuhkan tubuhnya dalam pelukan Yudi. Tentu sambil meneteskan air mata.
"Selamat ..., Yudi .... Semoga kalian berbahagia ...." kata Rini, yang sadar diri lantas melepas pelukan Yudi.
__ADS_1
"Terima kasih, Rini .... Kamu sudah banyak membantu kami." Yudi tersenyum menatap wajah Rini. Lantas jemari tangannya pun mengusap air mata Rini yang membasahi pipi.
Selanjutnya Rini menghampiri Yuna. Yuna memeluk erat wanita yang pernah menjadi saingannya itu. Rini juga memeluk Yuna, tentu air matanya semakin banyak keluar. Rini menangis, tidak kuat menahan kekecewaan.
"Terima kasih Rini .... Kamu sudah banyak membantu kami, terutama menjodohkan saya dengan Yudi." kata Yuna saat berpelukan dengan Rini.
Rini tidak menjawab. Ia melepas pelukannya. Lantas memandangi pengantin yang terlihat cantik itu, dengan senyuman. Dan tentu dengan buraian air mata.
Yuna juga mengusap air mata Rini yang membasahi pipinya. Walau hanya dengan senyuman, Yuna sudah tahu apa yang ada dalam hati Rini.
Setelah puas memeluk dan memandangi Yuna, Rini menyalami keluarga Yuna. Ibu Yuna yang dari tadi memperhatikan anaknya memeluk wanita itu, akhirnya juga ikut memeluk tubuh Rini.
Berbeda dengan saat berpelukan dengan Yudi dan Yuna, yang mana hati Rini terasa remuk. Tapi saat dipeluk oleh ibunya Yuna, Rini bisa tersenyum senang.
"Haik .... Arigatogozaimashita .... Zehi Nihon e okoshi kudasai." kata ibu Yuna yang menawarkan Rini untuk jalan-jalan ke Jepang.
"Rini, ibu saya meminta Rini untuk pergi ke Jepang ...." Yuna memberi tahu Rini, yang tentu tidak paham dengan apa yang disampaikan oleh ibu Yuna.
"Terima kasih, doakan saya bisa pergi ke Jepang." jawab Rini yang tentu sambil tersenyum senang. Senyum itu yang menambah kecantikan Rini.
Kedua anaknya, Silvy dan Yayan, juga mendapat pelukan dari Yudi. Terutama Silvy, yang dipeluk erat oleh Yudi, tentu sambil berpesan, "Mohon jaga ibu kamu, ya ...." pesan Yudi pada Silvy.
Demikian juga saat memberikan ucapan selamat kepada Yuna, Silvy dipeluk erat oleh Yuna. Tentu ada rasa gemas pada anak tersebut.
“Tuliliiing tuloliliiiing …. Tuliliiing tuloliliiiing …!”
"Ah, paling-paling Hamdan yang cemburu, ingin tahu saya sedang apa .... Apa tidak tahu sih, kalau saya sedang mengikuti acara resepsi pernikahan Yudi ...?! Masak Yudi menikah, saya kondangan, kok masih dicemburui." gerutu Rini yang menganggap panggilan itu adalah suaminya yang selalu cemburu pada Yudi.
Rini membiarkan, tidak membalas panggilan. Ia bersama kedua anaknya, langsung menuju hidangan makanan. Tentu karena Rini sudah sangat kehausan mulai saat mengiring pengantin. Maka begitu selesai bersalaman memberi ucapan selamat kepada para pengantin, Rini ingin segera minum sebanyak-banyaknya.
“Tuliliiing tuloliliiiing …. Tuliliiing tuloliliiiing …!”
Kembali HP Rini berdering. Sambil duduk dan meletakkan minuman di meja, Rini mengambil HP-nya. Lagi-lagi panggilan dari rumah. Rini masih mengamati panggilan itu. Ia jadi jengkel, pasti suaminya yang cemburuan itu akan menyuruh pulang.
"Mah, saya ambilkan makan, ya ...." kata Silvy yang menawari makan pada ibunya."
"Iya, Sayang .... Jangan terlalu banyak ..., sedikit saja." sahut Rini.
"Ini, Mah .... ada oseng-oseng mercon .... Hahaha ...." kata Yayan yang memberikan secawan makanan kepada ibu mertuanya.
"Makasih, Sayang ...." kata ibunya yang disuguhi masakan aneh dari Jogja.
Karena terlalu lama mengangkat, dering telepon itu pun kembali berhenti. Rini kembali memasukkan HP ke dalam tasnya.
__ADS_1
Kedua anaknya menyuguhkan banyak makanan di meja yang dihadapi Rini. Mereka bertiga makan bersama, menikmati suguhan khas pesta pengantin ala Jogja.
"Telepon dari siapa, Mah ...?" tanya Silvy pada ibunya.
"Dari rumah .... Paling-paling Papah kamu yang cemburu, menyuruh kita segera pulang. Kan HP Papah kamu aku sita. Dia tidak punya HP. Makanya manggil pakai telepon rumah." jawab Rini.
“Tuliliiing tuloliliiiing …. Tuliliiing tuloliliiiing …!” kembali telepon Rini berdering.
"Diangkat, Mah .... Siapa tahu penting ...." kata Yayan meminta ibu mertuanya untuk mengangkat telepon.
"Iya .... Telepon dari rumah lagi. Papah kamu cemburu berat .... Pasti kita disuruh segera pulang." kata Rini yang kemudian mengangkat HP, menerima panggilan telepon.
"Halo ...." kata Rini di telepon.
"Ibu .... Ini Mak Mun, Ibu ...! Ibu, tolong segera pulang ...." ternyata yang menelepon adalah Mak Mun.
"Ada apa, Mak Mun?!" tanya Rini yang tentu berubah bingung.
"Bapak, Ibu .... Pokoknya Ibu segera pulang." kata Mak Mun di telepon yang meminta Rini untuk segera pulang.
"Mak Mun ...?! Halo ...?! Halo .... Mak Mun ...?!" telepon sudah dimatikan.
"Ada apa Mah ...?" tanya Silvy.
"Mak Mun telepon, kita disuruh segera pulang oleh Papah kamu." jawab Rini.
"Huh ..., dasar ...." gerutu Silvy yang tentunya jengkel.
"Ya sudah .... Toh kita sudah bersalaman dengan pengantin. Kita juga sudah makan minum. Hanya tinggal menonton hiburan .... Artinya acara sudah selesai, dan kita boleh pulang. Dari pada nambah masalah dengan Papah, sebaiknya kita pulang saja." kata Yayan yang menyarankan kepada istri dan ibu mertuanya.
"Hai Rini ...." seorang perempuan gemuk dengan pakain pink datang menghampiri Rini.
"Anik ...?! Kapan datang?" kata Rini yang langsung berpelukan dengan temannya itu.
"Baru saja sampai .... Nanti kita jadi kumpul-kumpul, kan?!" kata Anik pada Rini.
"Iya ..., itu teman-teman kita sudah pada kumpul di sana." kata Rini yang langsung menunjukkan temen-temannya kepada Anik.
“Tuliliiing tuloliliiiing …. Tuliliiing tuloliliiiing …!” lagi-lagi kembali HP Rini berdering. Telepon dari rumah terus memanggil. Rini langsung mengangkat.
"Halo, Mak Mun ...." kata Rini di telepon.
"Ibu ..., cepat pulang ...!" lagi-lagi kata Mak Mun di telepon.
__ADS_1
"Iya ..., iya .... Ini sudah mau pulang!" kata Rini yang langsung mengakhiri teleponnya.
"Yayan ..., Silvy ..., ayo kita segera pulang. Mak Mun telepon terus sambil mewek." kata Rini mengajak anak-anaknya pulang, meninggalkan pesta pernikahan Yudi dan Yuna.