
"Ada apa ini ...?!"
"Hah ...?! Bagas kenapa ...?!"
"Ya ampun, Bagas ...!"
"Bagas ...!!"
Orang-orang berteriak. Bagas menjadi tontonan warga yang datang ke rumah Yudi. Beberapa orang mengangkat tubuh Bagas yang pingsan, terbenam di tanaman-tanaman hias taman rumah Yudi. Lantas bagas diletakkan di bangku besar yang ada di tengah pendopo. Selanjutnya seseorang mencoba menekan dada beberapa kali. Bagas belum juga sadar.
Kemudian datang ibu-ibu yang membawa minyak gosok. Lantas baju Bagas dibuka. Bagian dadanya di oles-oles pakai minyak gosok. Perutnya juga. Selanjutnya bagian punggung juga diolesi minyak gosok. Ada juga yang memijit jemari kaki serta tangan Bagas. Lantas ada yang membuat teh hangat.
"Bagas .... Bangun, Gas ...!" kata seorang ibu yang masih mengolesi minyak gosok di leher dan membaukan di bagian hidung Bagas.
Dan saat itu, ketika hidung Bagas diolesi minyak, Bagas mulai sadar. Tubuh Bagas menggeliat. Tangannya mulai bergerak. Lantas matanya mulai membuka secara perlahan.
"Alhamdulillah ...." kata orang-orang yang mengerubungi Bagas di pendopo rumah Yudi.
"Bagas, kamu kenapa?!" tanya laki-laki yang tadi ikut menggotong Bagas.
"Aduh ..., aduh ...." Bagas yang ditanya, justru merintih kesakita.
"Ada apa, Gas ...?!" tanya laki-laki itu yang bingung melihat Bagas.
"Auh .... Perutku sakit." kata Bagas merintih, sambil memegangi perutnya.
"Ya, diminumi teh hangat ..., biar anget perutnya." kata ibu-ibu yang menyodorkan gelas berisi teh hangat.
Bagas mendongakkan kepala, lantas menyeruput teh hangat tersebut. Segar dan memberi tambahan energi. Lantas tangan Bagas memegangi teh dalam gelas tersebut, dan menghabiskan minuman itu.
"Walah, kehausan to ini tadi ...?!" kata ibu yang memberikan minum.
"Kamu itu ada apa, Gas ...?!" tanya laki-laki itu lagi.
"Anu .... Mbak Yuna .... Mbak Yuna, mana?" setelah Bagas ingat, ia justru menjadi bingung, menanyakan Yuna.
"Tidak ada orang, Gas .... Mbak Yuna pergi bersama tamu yang dari Jepang tadi." sahut penjaga pos parkir yang sudah ikut menyaksikan Bagas yang pingsan.
"Lhoh .... Waduh .... Mbak Yuna diculik!!" kata Bagas yang tentu mengejutkan orang-orang yang ada di pendopo rumah Yudi.
"Apa ...??!!" teriak orang-orang, semuanya kaget mendengar kata-kata Bagas.
__ADS_1
"Waduh .... Blaik ...!" kata yang lain mulai ketakutan.
"Tolong Mas Yudi dikabari .... Mas Yudi dijemput ke kantor!" Bagas menyuruh orang yang ada di situ.
"Ya ..., ya ..., ya .... Saya yang akan menyusul Mas Yudi." kata seorang laki-laki yang langsung keluar. Tentu akan naik motor ke kantor tempat kerja Yudi.
"Lhah, kok tadi kamu tidak menolong Mbak Yuna, saat diculik ...?" tanya seorang ibu yang dari tadi mengusapkan minyak gosok di tubuh Bagas.
"Bagaimana saya bisa menolong ..., orang saya dipukul bagian perut, terus saya tidak tahu apa-apa ...." kenang Bagas.
"Oowalah ...."
"Lha orangnya yang nyulik Mbak Yuna itu bagaimana?" tanya yang lain.
"Orangnya gagah dan kuat. Saya tidak tahu apa yang diomongkan. Mereka bicara pakai bahasa Jepang. Saya tidak tahu artinya." jawab Bagas.
"Lha apa Mbak Yuna tidak melawan?" tanya yang lain lagi.
"Walah .... Mbak Yuna tangannya kecil, dipegang sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Lha wong saya yang tubuhnya besar saja, dipukul perut saya langsung mental dan pingsan. Hehehe ...." sahut Bagas sambil meringis malu-malu.
"Woo, lha kamu itu gede gombong, ya .... Baru di jotos perutnya yang langsung pingsan. Makanya olah raga tiap hari, biar badan kamu sehat dan kuat." ejek yang lain.
Di luar pendopo, di depan gerbang, sepeda motor berhenti. Yudi yang diboncengkan langsung turun dan berlari. Menerobos orang-orang yang ramai di pendopo rumahnya.
"Mas Yudi ...! Huk ..., huk ..., huk ...." Bagas langsung bangun den memeluk Yudi, dengan tangis yang mengguguk.
"Kamu ini ada apa? Mbak Yuna kenapa?!" Tanya Yudi yang sudah melepas pelukan Bagas.
"Mbak Yuna dibawa pergi orang, Mas .... Mbak Yuna diculik .... Huk ..., huk ..., huk ...." Bagas masih menangis.
Orang-orang yang ada di tempat itu, langsung iba menyaksikan Yudi yang kebingungan. Apalagi melihat Bagas yang menangis. Bahkan mendengar cerita Bagas yang dipukul perutnya oleh si penculik hingga pingsan, tentu sangat kasihan.
"Sabar .... Tarik napas .... Nah, sekarang cerita yang runtut ..., pelan-pelan." kata Yudi menyadarkan Bagas.
"Iya, Mas Yudi .... Tadi pagi, sekitar jam sepuluh, saya lewat di parkiran. Saya dipanggil Pak Lik Setro, yang bilang katanya ada tamu orang Jepang mencari rumah Mas Yudi. Saya pikir pasti tamu mau nyumbang nganten. Itu Pak Lik Setro ada, orangnya." kata Bagas sambil menunjuk orang petugas pos parkir.
"Iya, betul begitu, Lik ...? Bagaimana ceritanya?" tanya Yudi pada laki-laki yang ditunjuk Bagas tersebut.
"Benar, Mas Yudi .... Jadi tadi sekitar jam sepulahan, ada dua mobil mewah datang ke parkiran. Saya kira mau wisata. Ternyata setelah mobil yang depan sopirnya keluar, dan penumpangnya juga keluar, dua laki-laki orang Jepang, semua mengenakan setelan jas yang sangat keren. Sang sopir tanya, rumah Ibu Yuna yang baru saja menikah di mana. Maka saya menjawab, di sana, yang ada gerbang gapuronya. Mereka terus berjalan lagi menuju rumah Mas Yudi seperti yang saya tunjukkan. Sedangkan mobil satunya dinaiki dua orang, yang satu sopir dan yang satu lagi duduk di sebelah sopir. Mereka tidak turun. Langsung mengikuti mobil yang berjalan di depan. Setelah itu saya tidak tahu. Tahu-tahu, mobil itu sudah balik dan ngebut. Saya tidak bisa melihat di dalamnya, karena kacanya gelap. Jadi saya tidak tahu kalau Mbak Yuna di culik. Mohon maaf, Mas Yudi." cerita si tukang penjaga pos parkir tersebut.
"Terus, tahu kamu kalau Mbak Yuna di culik bagaimana, Gas?" tanya Yudi pada Bagas.
__ADS_1
"Lhah, saya dikasih tahu kalau ada tamu dari Jepang yang datang kemari, maka saya langsung bergegas menyusul kemari. Padahal itu sebenarnya saya mau ke pasar, tapi tidak jadi karena ada tamu tadi. Lha pikir saya, siapa tahu Mbak Yuna butuh bantuan untuk dibelikan jajanan atau minuman. Maka saya balik kemari. Lhah, setelah saya sampai di sini, saya masuk. Ternyata Mbak Yuna sudah ada di sini ini sama dua orang tamunya. Sudah berbincang. Saya sempat mengintip dari balik pintu belakang itu. Tadinya mau melihat apa sudah disuguhi apa belum. Ternyata suara pembicaraan antara Mbak Yuna dengan tamu tadi, agak keras. Seperti orang bertengkar. Kalau di kampung kita ini, seperti orang padu .... Saya kaget. Saya tidak jadi keluar. Terus saya mengintip saja. Mereka bertengkar menggunakan bahasa Jepang. Saya tidak mudeng, tidak paham, tidak tahu apa artinya. Maka secara sembunyi-sembunyi, dari celah pintu itu, saya merekam pertengkaran mereka. Pikir saya, rekaman itu nanti akan saya berikan kepada Mas Yudi yang tahu artinya. Belum selesai, Mbak Yuna yang mau masuk kemari, sudah dipegang tangannya dan diseret oleh laki-laki yang kekar itu. Terjadi pemberontakan dari Mbak Yuna. Akhirnya sampai di pintu itu, laki-laki kekar itu tahu kalau saya mengintip. Perut saya ditonjok. Saya terlempar dan nungsep di tanaman bunga-bunga. Saya pingsan. Terus ..., ya ditolong para tetangga ini." cerita Bagas yang mengenang peristiwa itu.
"Lhah, kok para tetangga tahu kalau kamu pingsan di sini?" tanya Yudi yang langsung melihat wajah para tetangga yang masih banyak di situ.
"Anu, Mas .... Kami curiga, karena Mbak Yuna ribut-ribut. Suaranya terdengar sampai rumah saya. Tapi yaitu, pakai bahasa Jepang. Saya tidak tahu artinya. Makanya saya langsung menuju sini. Belum sampai di sini, di jalan saya sudah melihat Mbak Yuna disuruh masuk ke mobil, dan mobil itu segera pergi .... Ngebut ...." kata seorang ibu yang menceritakan saat melihat Yuna dimasukkan ke mobil.
"Lhah, terus rekamannya sekarang mana, Gas ...?" tanya Yudi.
"Waduh ...?! HP saya ...?! HP saya di mana ...?!" Bagas bingung mencari HP-nya.
"Lhah, tadi kamu taruh di mana?" tanya Yudi.
"Tadi saya gunakan untuk merekam Mbak Yuna sama tamunya. Setelah itu saya dipukul, terus pingsan, saya tidak ingat lagi, tidak tahu HP di mana ...." jawab Bagas, yang tentu langsung sedih jika HP-nya hilang.
"Mudah-mudahan jatuh, dan tidak diambil oleh orang yang memukul kamu. Bapak, ibu, mas, mbak ..., Minta tolong carikan HP Bagas ya ...." kata Yudi, yang kemudian minta tolong kepada para tetangga untuk mencari HP Bagas, di sekitar tempat Bagas pingsan.
Beberapa orang pun pada mencari. Menyibak tanaman-tanaman yang ada di tempat Bagas pingsan.
"Ini ..., HP Bagas ketemu ...."
"Hore ...."
Dan tidak lama, HP milik Bagas sudah ketemu. Jatuh di dekat tembok, yang lumayan jauh dari tempat Bagas pingsan. Mungkin saat Bagas tersungkur, HP yang ada di tangannya terlepas dan terpental agak jauh.
Lantas, HP itu diserahkan ke Bagas. oleh orang yang menemukan. Bagas pun tersenyum gembira, karena HP-nya sudah ditemukan kembali.
"Terima kasih, ya, Kang ...." kata Bagas yang senang.
"Coba kamu buka rekamannya, seperti apa?" kata Yudi yang meminta Bagas memperlihatkan rekamannya.
Orang-orang yang ada di situ penasaran. Mereka juga ingin melihat rekaman itu. Lantas mereka mengerubungi Bagas dan Yudi yang melihat rekaman.
Tidak ada yang mudeng. Tidak ada yang tahu artinya. Tetapi dari gerakan perlawanan Yuna, mereka bisa menyimpulkan, bahwa Yuna memang akan dibawa dipaksa atau diculik.
Yudi yang paham sedikit-sedikit bahasa istrinya, tahu inti dari kedatangan dua orang yang memaksa Yuna untuk ikut dengannya. Tetapi tidak baik untuk disampaikan kepada para tetangganya yang memang tidak paham. Maka, Yudi hanya bisa mengelus dada karena kecewa.
"Bagas ..., rekaman ini saya simpan dahulu dalam komputer. Ini bukti, jangan sampai hilang." kata Yudi yang memegang HP Bagas.
"Iya, Mas Yudi .... Saya paham. Saya akan membantu Mas Yudi untuk mencari Mbak Yuna." jawab Bagas, yang tahu kesedihan Yudi.
"Kami semua siap membantu Mas Yudi untuk mencari Mbak Yuna ...!" teriak para tetangga yang ada di pendopo rumah Yudi.
__ADS_1
Yudi sudah tidak bisa berfikir lagi. Kini ia tidak tahu harus berbuat apa, semuanya sudah tidak dapat dilakukan. Untuk mengejar Yuna, juga tidak tahu mau dikejar ke mana. Hatinya hancur, setelah sang istri tercinta hilang dibawa orang yang belum diketahui siapa mereka itu. Air mata sudah menetes membasahi pipi Yudi.