
Rini masih berbaring di bed rumah sakit. Sendiri. Karena suaminya harus ngurusi kantor. Silvy dan suaminya juga bekerja. Tetapi tidak mengapa. Rini sudah biasa sendiri. Apalagi di rumah sakit, ada perawat yang mengawasi dan siap membantu setiap saat. Jadi, ia tidak khawatir.
Hasil pemeriksaan menyatakan tensi Rini agak tinggi. Sudah mencapai seratus lima puluh. Jantungnya agak kurang teratur. Hasil diagnosis dinyatakan detak jantungnya agak lemah, oleh dokter dikatakan mengalami kardiomiopati, yaitu kondisi yang terjadi ketika otot jantung melemah sehingga tidak dapat memompa darah ke seluruh tubuh dengan baik. Ini biasanya terjadi karena kecapaian yang menerus. Tentu Rini menyadari, karena ia bolak-balik Jakarta - Jogja berkali-kali. Walau hatinya senang, namun fisiknya tidak bisa dipaksa untuk bersenang-senang. Banyak orang yang tidak menyadari, karena memang gejalanya tidak kelihatan.
Bagi Rini, mestinya tidak hanya kecapaian fisik. Tetapi ada hal lain yang menyebabkan sesaknya dada, yaitu pikiran. Pikiran yang tidak nyaman ketika melihat kehadiran wanita Jepang di rumah Yudi. Maka pikiran Rini mulai diselimuti oleh noktah-noktah negatif. Pikiran Rini mulai diselimuti rasa cemburu. Pikiran Rini mulai digerogoti rasa curiga. Yah, bagaimana tidak curiga, bagaimana tidak cemburu, karena Rini menyaksikan sendiri gadis Jepang yang cantik itu mengenakan pakaian yang tidak pantas untuk dipamerkan ke laki-laki. Waduh, ini keterlaluan, pasti akan menggoda Yudi. Rini takut Yudi akan tergoda.
Teringat akan Yuna yang tinggal di rumah Yudi, bahkan menurut rencananya akan tinggal satu bulan bersama Yudi, Rini benar-benar khawatir. Rini benar-benar cemburu. Dan tentu, Rini ketakutan, takut akan kehilangan Yudi, jika Yudi tergoda oleh cewek Jepang yang cantik itu. Dibandingkan dari segi apapun, Rini jelas-jelas kalah bersaing. Dari kecantikannya, Rini mengakui, Yuna lebih cantik dan lebih muda. Dari kepandaiannya, Rini kalah jauh. Ia tidak kuliah. Tapi Yuna, seorang arsitek desain eksterior memiliki keahlian yang luar biasa. Dari kekayaan, walau suaminya direktur, punya perusahaan, rumahnya seperti istana, tapi menurut cerita, Yuna akan membiayai proyeknya Yudi, akan membantu semuanya, berarti Yuna bukanlah orang miskin, duitnya pasti banyak, dan sangat dermawan karena mau menyumbang untuk orang lain. Apalagi jika dikatakan Yuna masih lajang, belum menikah, belum punya suami ..., tamatlah harapan cinta Rini. Ia sudah bersuami, sudah berkeluarga. Tidak mungkin melamar atau menikahi Yudi. Ia tidak mungkin pergi meninggalkan suaminya. Tidak mungkin meninggalkan keluarganya.
Rini pasrah. Apalagi ketika ia mengingat kata-kata yang pernah terucap oleh Yudi, cinta tidak harus memiliki, cinta tidak mesti bersama. Rini sudah ada yang punya, Yudi tidak boleh mengganggu privasi Mas Hamdan. Kata-kata itu masih terngiang di telinga Rini.
Jika demikian, akankah Rini lari dari kenyataan? Akankah Rini pergi meninggalkan suami dan keluarganya? Apakah kalau Rini meninggalkan suaminya, terus Yudi mau menerima begitu saja? Rini sudah bukan perawan, Rini sudah bukan gadis lagi. Usia sudah tua, kecantikannya sudah berganti keriput. Bahkan kepalanya sudah penuh uban. Tidak pantas untuk bermain cinta.
Tangan Rini mengambil HP yang ada dalam tas tentengnya. Lantas menyalakan HP, membuka layarnya. Maklum, sejak naik pesawat pulang dari Jogja, ia belum sempat membuka HP, kecuali saat menghubungi Mas Jo yang menjemput. Perlahan Rini membuka WA. Banyak sekali bulatan hijau notifikasi WA. Ada dari Grup Alumni SMA, ada dari Anik, banyak dari teman-temannya, dan yang jelas ada WA dari Yudi. Demikian juga pada panggilan, ada banyak panggilan masuk.
Rini memandangi saja profil Yudi. Pada notifikasinya ada dua puluh lima pesan. Rini takut untuk membuka pesan WA nya. Atau bahkan, bukan takut, tetapi mencoba berusaha untuk tidak mau membuka WA dari Yudi. Entah kenapa, antara kasihan memberi harapan hampa pada Yudi, atau membiarkan Yudi agar pergi menjauhi Rini. Atau Rini ingin memberi kesempatan Yudi agar dekat dengan cewek Jepang itu. Yang jelas Rini cemburu.
"Ahh .... Yudi. Aku khawatir. Yudi .... Aku tahu kamu, Yud ..., tetapi aku tidak ingin mengecewakanmu untuk yang kedua kali. Aku tidak mungkin mengkhianati Mas Hamdan." desah Rini yang bingung.
Akhirnya, jemari Rini menekan profil WA Yudi, lantas menekan kotak sampah. Chat dari Yudi sudah hilang. Demikian juga saat membuka panggilan, Rini menghapus semua notifikasi panggilan yang berasal dari Yudi.
Tega benar kamu Rini .... Kenapa pesan-pesan Yudi tidak dibalas, kenapa tidak didelet sekalian saja kontak Yudi, kan hilang. Biar Yudi tidak bisa menghubungi kamu, Rin. Gemuruh pikiran Rini, antara sayang dan ingin menjauh.
Baru saja chat pada WA Yudi di hapus, tiba-tiba muncul lagi. Ada sepengkal kalimat yang terbaca, "Aku sangat mengkhawatirkanmu, Rin?" pesan dari Yudi.
__ADS_1
Rini kembali bingung. Dibuka atau tidak? Dijawab atau tidak? Lama sekali Rini memandangi layar HP. Tidak juga segera mengambil keputusan, ya atau tidak.
"Aku benci kamu, Yudi." akhirnya, kata itu yang keluar dari lidah Rini.
Kata benci memang mudah keluar dari mulut Rini, tapi benarkah hati Rini membenci Yudi? Bagaimana dengan janji-janjinya tatkala di Pantai Indrayanti? Ah, dasar wanita pembohong. Bilangnya benci, tapi hatinya memendam rindu yang mendalam. Nanti kalau sudah ditinggal oleh Yudi, kalau Yudi punya cewek lain, kalau Yudi bermesraan dengan perempuan lain? Ia menangis-nangis, katanya di putus, ditinggal, dikhianati. Dasar wanita tidak mau jujur dengan perasaannya.
Akhirnya, Rini mendelet juga chat dari Yudi.
"Aku sakit, Yudi .... Ini gara-gara kamu. Kata dokter jantungku melemah, ini pasti juga gara-gara ada wanita lain yang tidur di rumah kamu, Yud .... Sekarang aku harus opnam di rumah sakit, ini juga gara-gara kamu yang membuat perasaanku galau, Yudi .... Sungguh dirimu keterlaluan, sudah melukai hatiku, Yud .... Kamu tahu, Yud ..., sakitnya tuh di sini, di hatiku, Yud ...." Rini mendesah, lalu menarik napas panjang, menyesali sakitnya.
“Tuliliiing tuloliliiiing .... Tuliliiing tuloliliiiing ....” HP Rini berdering, ada panggilan.
Rini mengamati panggilan. Anik. Yang memanggil Anik, teman akrabnya dulu waktu SMA. Rini mengangkat panggilan itu.
"Halo, Anik .... Ada apa, Nik?" kata Rini di HP.
"Baik, Nik. Cuman agak sedikit kurang sehat. Ini saya di rumah sakit." jawab Rini.
"Hlah, sakit apa?" tanya Anik.
"Agak kecapaian. Lengan tangan kiri saya agak terasa berat, bahu terasa kaku, tangan kesemutan, dan sering gemetar, sama keluar keringat dingin. Kemarin aku pingsan lagi. Kata dokter harus istirahat dulu." jawab Rini.
"Tapi gak kenapa-kenapa, kan? Jantungnya baik-baik saja?" tanya Anik lagi.
__ADS_1
"Lah, kok bilang begitu, Nik? Jangan nakut-nakutin, dong." sahut Rini.
"Bukan nakut-nakutin, Rin .... Biasanya seusia kita ini harus mulai waspada dengan kesehatan jantung. Harus sering chek up." tutur Anik.
"Iya, Nik ..., terimakasih nasehatnya. Doakan saya cepet sehat, ya." sahut Rini.
"Iya, Rin .... Eh, Rin, ini aku mau tanya, nomor WA Yudi kok tidak aktif ya? Di grup juga tidak pernah coment, apa nomornya ganti ya, Rin?" tanya Anik pada Rini.
Jantung Rini langsung berdebar. Pikirnya, ada orang menyebut nama Yudi saja, sudah menambahi penyakit. Dasar Anik teman kurang ajar. Mengapa juga menyebut nama Yudi. Yang lain, kek.
"Waduh, gue gak tahu, Nik ..., mungkin HP nya hilang." jawab Rini yang berpura-pura.
"Lah, Rini kan temen dekat ..., pakaianmu saja masih kamu tinggal di rumah Yudi .... Hehehe ...." gurau Anik yang mengejek Rini.
"Ih, Anik .... Enggaklah, Nik. Ach, ngacau kamu ini." Rini terkejut, kata-kata Anik benar lagi.
"Ada nomor lain gak, Rin? Masalahnya ini penting banget, saya harus menghubungi Yudi. Atau mungkin Rini tahu nomor yang bisa dihubungi?" rengek Anik.
"Coba, ya .... Ini ada nomor, tapi jangan bilang kalau yang ngasih nomor ini dari aku, ya ...." kata Rini yang selanjutnya memberikan nomor HP Yudi kepada Anik.
"Iya ..., iya .... Yang rahasia-rahasia gak bakalan aku bocorin." sahut Anik.
"Memang mau ngapain, sih ..., nyari-nyari Yudi?" tanya Rini.
__ADS_1
"Ini, emak-emak, temen kita yang cewek-cewek, pada mau berkunjung ke rumah Yudi. Mau lihat rumah Yudi yang kayak istana kerajaan Majapahit itu lho. Kamu ikut ya, Rin." jawab Anik.
Waduh .... Rini langsung terdiam. Meletakkan HP di atas selimut yang menutup tubuhnya. Tidak sanggup menjawab kata-kata Anik. Hatinya bertambah perih. Detak jantungnya semakin tidak karuan. Ia kecewa sudah memberikan nomor HP Yudi ke Anik. Ternyata Anik sudah menambah sakitnya hati yang terluka. Rini benar-benar sedih. Rini benar-benar sakit. Sakitnya tuh di sini ..., di hati ini.