
Hari itu matahari sudah bergeser ke langit barat. Udara sudah tidak terlalu panas. Di rumah Yudi kedatangan tamu, dua orang laki-laki yang berboncengan naik kendaraan. Yang membonceng seorang laki-laki sudah berumur, namun terlihat gagah dan berwibawa. Dia adalah Kadus Kampung Karang. Sedangkan yang di depan, menyetir Honda Mega Pro, seorang laki-laki yang juga sudah berumur, tetapi bedannya agak kerempeng, walau tidak terlalu kurus. Dia adalah Pak Lurah, Kepala Desa di Kampung Karang. Dua orang itu masuk ke pendopo depan rumah Yudi.
"Monggo, Pak Kadus .... Monggo Bapak ..., monggo pinarak ...." kata Yudi yang menyambut kedatangan tamunya, mempersilakan tamu itu duduk di bangku besar ruang pendopo luar.
"Nggih, Den Mas .... Maturnuwun ...." kata Pak Kadus yang selanjutnya duduk bersebelahan dengan Pak Lurah, berhadapan dengan Yudi yang duduk di bangku seberang meja.
Yuna keluar, membawa baki berisi empat gelas wedang jahe dan jajanan dari pasar. Tentu untuk menyuguh tamunya. Lantas menaruh sepiring jajanan tersebut di atas meja. kemudian membagikan gelas wedang jahe tersebut kepada para tamunya, dan juga untuk Yudi dan diri Yuna sendiri.
Yuna ikut duduk di pendopo, tentu bersanding di sisi Yudi. Ia ingin ikut mendengarkan pembicaraan mereka.
"Monggo, silakan diminum .... Wedang jahe khas Bantul ...." kata Yudi mempersilakan tamunya untuk minum.
"Nggih, Den Mas .... Maturnuwun ...." sahut dua orang tamunya, yang langsung mengangkat gelas dan menyeruput wedang jahe hangat. Tentu, keringat langsung keluar dari lehernya.
"Begini, Den Mas Yudi ..., ini kami berdua datang kemari, saya bersama Pak Lurah, ingin membicarakan masalah Bukit Karang yang kemarin Mas Yudi tanyakan ...." kata Pak Kadus mengawali pembicaraan.
"O, ya .... Maaf Pak Lurah, kemarin saya sempat berbincang dengan Pak Kadus ..., terus terang saya sudah pernah di selamatkan oleh warga Kampung Karang, tentu saya punya utang budi. Oleh sebab itu saya ingin memajukan masyarakat di Kampung Karang, dengan memperbaiki kondisi perekonomiannya. Untuk itu, saya butuh akses, setidaknya saya punya tempat di Kampung Karang. Harapan saya, Kampung Karang nanti akan banyak dikunjungi orang untuk menyaksikan keindahan alamnya. Oleh sebab itulah, saya pengin memanfaatkan bukit karang yang ada di sisi barat Kampung Karang tersebut." jelas Yudi pada Pak Lurah.
"Ya, Mas Yudi .... Pak Kadus sudah cerita ke saya. Tapi permasalahannya, tanah itu bukan milik perorangan. Tanah itu tanah gege, tanah negara. Terus terang kami tidak berani menjual, nanti saya malah dituduh lurah koruptor, terus ditangkap KPK, diberi rompi oranye, ada tulisan tahanan, saya masuk TV, semua orang melihat saya sebagai koruptor .... Saya tidak mau seperti itu, Mas Yudi. Tapi kalau misalnya, tanah bukit karang yang gersang itu mau dipakai untuk kegiatan masyarakat, misalnya Mas Yudi tadi berencana akan membuat sanggar lukis di sana, monggo kami izinkan. Yang penting bermanfaat bagi masyarakat." kata Pak Lurah yang menjelaskan kemanfaatan tanah negara tersebut.
"Oo ..., seperti itu ya, Pak .... Apakah kami bisa tukar guling? Misalnya saya beli tanahnya penduduk, nanti saya tukar dengan bukit karang itu?" tanya Yudi.
"Sebenarnya bisa, Mas Yudi .... Tetapi prosesnya yang ribet, karena itu menyangkut perubahan bondo deso. Harus ada laporan ke kecamatan dan kabupaten, terkait perubahan lokasi dan status lahan. Tapi apa Mas Yudi tidak eman-eman ..., bukit itu gersang, Mas Yudi ..., bukit itu berupa batu karang dan padas, hanya ilalang yang bisa tumbuh. Eman-eman ..., sayang ...." kata Pak Lurah menjelaskan keadaan bukit itu.
__ADS_1
"Terima kasih informasinya, Pak Lurah .... Mungkin jika diizinkan, saya akan membuat semacam pendopo di atas bukit itu, setidaknya jika hujan tidak kehujanan, jika panas tidak kepanasan. Pendopo itu rencananya sebagai tempat untuk melukis. Teman-teman saya, para pelukis dari Jogja, ingin melukis pemandangan alam di
Kampung Karang. Dan tentu nanti di sisi bawahnya akan kami buat semacam kios-kios atau warung, biar digunakan oleh warga yang mau berjualan. Setidaknya bisa dipakai untuk warung kopi." kata Yudi.
"Lha, untuk mendirikan pendopo dan warung-warung itu kan butuh biaya, Mas Yudi ..., siapa yang akan membiayai?" tanya Pak Lurah.
"Nanti saya yang membiayai, Pak Lurah ...." sahut Yuna.
"Wah ..., terima kasih Den Ayu ...." ucap Pak Kadus.
"Pak Lurah, kemarin kami sudah menikmati masakan warga Kampung Karang. Ibu-ibu memasak hasil laut yang ditangkap oleh para nelayan. Rasanya benar-benar nikmat dan lezat. Kami semua bergembira menikmati makanan itu. Betul kan Pak Kadus ...?!" kata Yudi.
"Iya ..., iya ..., betul Pak Lurah. Kemarin spontanitas, Den Mas Yudi mengajak masak ibu-ibu kampung ..., lantas dimakan bersama-sama .... Ternyata meriah, Pak Lurah." timpa Pak Kadus.
"Kalau memang Mas Yudi ikhlas akan membangunkan, kami tidak masalah. Tapi yang jelas, desa tidak punya uang untuk membiayai." sahut Pak Lurah yang berterus terang tidak menanggung biayanya.
"Terima kasih, Pak Lurah .... Doakan saja kami bisa membantu." kata Yudi.
"Saya yang berterima kasih, Den Mas Yudi ...." sahut Pak Kadus.
"Kalau begitu, besok saya minta tolong pada Pak Kadus, untuk mencari tukang kayu, mulai membangun pendopo di puncak bukit karang." kata Yudi pada Pak Kadus.
"Siap, Den Mas Yudi ...." sahut Pak Kadus.
__ADS_1
"O ya, Pak Lurah ..., nanti rencananya, dalam waktu dekat, kalau pendopo dan warung-warung sudah jadi, saya akan menyelenggarakan lomba lukis. Ya, berjenjang .... Mulai dari tingkat SD, SMP, SMA dan tentu yang terbesar nanti tingkat masyarakat umum. Rencananya yang tingkat SD, nanti kita adakan se kecamatan, yang tingkat SMP se Kabupaten Gunung Kidul, dan yang tingkat SMA nanti kita adakan se Provinsi DIY. Sedangkan yang untuk masyarakat umum, kita adakan untuk tingkat nasional se Indonesia. Nantinya, setelah itu saya ingin mengundang pelukis-pelukis dunia untuk melukis keindahan alam Kampung Karang. Ini upaya untuk mengenalkan Kampung Karang kepada masyarakat umum, Pak Lurah .... Biar jadi terkenal, dan pada datang menyaksikan pantai pasir putih yang indah. Dan tentu, itu akan memberi kontribusi ekonomi masyarakat Kampung Karang." jelas Yudi pada Pak Lurah dan Pak Kadus.
"Wuah ..., keren banget, Mas Yudi .... Pasti Kampung Karang nanti akan ramai. Lha, tapi kampungnya seperti itu, bagaimana? Apa tidak ngisin-ngisini?" tanya Pak Lurah.
"Justru saya senang dengan yang alami itu, Pak .... Itu perwujudan kampung nelayan yang sangat khas, sangat menarik, dan sangat indah nilai seninya." kata Yudi yang justru melihat keunikan kampung nelayan di Kampung Karang.
"Iya, betul ..., Pak Lurah. Lha wong kemaring kampung saya itu sudah dilukis sama Den Mas Yudi ..., hasil lukisannya sangat indah sekali .... Bagus banget, Pak Lurah .... Saya pajang di ruang tamu." kata Pak Kadus yang pamer lukisan Yudi.
"Lha, terus nanti hadiahnya, bagaimana?" tanya Pak Lurah yang khawatir kalau dimintai sumbangan.
"Jangan khawatir, Pak Lurah .... Nanti saya yang memberi hadiah." sahut Yuna.
"Mantap ..., Den Ayu .... Terima kasih lho, Den Ayu ...." kata Pak Kadus.
"Tidak usah khawatir, Pak Lurah. Nanti saya hanya minta bantuan hansip dan perangkat desa untuk mengatur saja. Soal pelaksanaan, semuanya akan kami usahakan bisa ditangani. Nah, ingin saya, lapak-lapak orang yang berjualan itu selesai dahulu. Dan pendopo yang ada di puncak bukit juga jadi. Biar nanti kelihatan lebih menarik." kata Yudi.
"Monggo, Mas Yudi .... Saya pasrah semua. Pokoknya bukit karang itu saya serahkan ke Pak Kadus dan Mas Yudi, silakan dikelola sebaik mungkin. Yang penting bermanfaat." kata Pak Lurah yang langsung menyerahkan puncak bukit itu.
"Ya, Pak ..., nanti akan saya usahakan berguna untuk kegiatan masyarakat di Kampung Karang." jawab Yudi.
"Terima kasih, Mas Yudi, sudah mau memikirkan kemajuan kampung kami." jawab Pak Kadus.
Hingga akhirnya matahari terbenam, Pak Lurah, Pak Kadus, Yudi dan Yuna, mengakhiri pembicaraan tentang Bukit Karang. Semoga apa yang diharapkan, yang dicita-citakan, untuk membangun kemakmuran warga Kampung Karang bisa terwujud. Bukit Karang yang akan menjadi tonggak kemajuan kampung.
__ADS_1