
Setelah suaminya berangkat kerja, Rini meminta Mak Mun memberesi semua yang ada di meja makan. Meminta Mak Mun untuk mengajak Mang Udel sarapan. Selanjutnya para pembantunya itu diminta untuk memberesi semua pekerjaannya.
"Mak Mun, saya mau ke kamar. Tolong jangan ganggu dulu ya." kata Rini pada Mak Mun.
"Iya, Ibu .... Kalau perlu apa-apa tinggal bilang ke Mak Mun. Hehe ...." jawab Mak Mun.
"Terima kasih, Mak Mun .... Untuk sementara tidak dulu." sahut Rini, dan langsung masuk ke kamarnya.
Masuk kamar, Rini langsung mengunci pintu. Selanjutnya, tangan Rini menyahut HP yang ada di meja rias. Membuka telepon, mencari nomor Yudi. Lantas melakukan panggilan.
Emosi Rini sudah ditahan sejak kemarin. Tidak baik jika telepon kepada temannya di hadapan suaminya. Tidak etis. Mengganggu privasi keluarga. Apalagi sampai suaminya tahu. Itu keterlaluan. Seharian Rini menahan kemarahannya yang akan disampaikan kepada Yudi. Tentu hal itu sudah membuat panas dihatinya mendidihkan darah. Tensinya langsung naik. Emosinya tidak terkendali. Apa-apa salah, setiap orang ingin dibentak. Untung, kemarin seharian ditunggui suaminya. Jadi masih bisa diredam. Takut kalau ketahuan suaminya.
Hari ini, ia akan meluapkan kemarahannya itu pada Yudi.
"Selamat pagi, Rini .... Bagaimana kabarnya? Sudah sehat, kan?" kata Yudi saat ditelepon Rini.
"Heh, Yudi .... Dengar, ya ..., kamu itu laki-laki buaya ...!" bentak Rini mengumpat pada Yudi. Sangat berbeda dengan bawaannya setiap telepon Yudi yang mesra dan penuh kerinduan. Tapi kali ini Rini langsung to the point. Ingin marah, marah dan marah.
"Maaf, Rini .... Apa maksud Rini? Kok bahasa Rini pada saya seperti itu?" Yudi yang dibentak dengan kata-kata kasar langsung bingung, ada apa dengan Rini. Kok bahasanya begitu kasar.
"Tidak usah pura-pura, Yud .... Dasar playboy kampungan!" bentak Rini lagi.
"Maaf, Rini ..., bisakah Rini minum air putih barang seteguk lebih dahulu?" kata Yudi yang masih tetap halus dan lembut. Meminta Rini minum, agar hatinya menjadi sejuk.
"Tidak usah nyuruh-nyuruh orang. Urus saja dirimu sendiri. Pandainya kamu berkata manis di depanku. Kenyataannya, hatimu busuk, Yudi!" Rini terus meluapkan emosinya.
"Rini .... Kok Rini berubah seperti itu, sih? Coba Rini ke kamar mandi sebentar, tolong basahi tangan Rini, lantas usapkan ke wajah ...." kata Yudi, yang belum selesai bicara langsung dipenggal oleh Rini.
"Gue bilang, tidak usah nyuruh-nyuruh gue ...! Sekarang ini saya sudah tahu siapa Yudi sebenarnya. Kamu itu munafik, Yud ...!" sergah Rini menyerang Yudi.
"Baik, Rini .... Saya tahu, dirimu pasti sedang marah pada saya. Jika ada salah atau keliru, saya mohon maaf." jawab Yudi yang tetap sabar.
Yudi paham, jika seseorang sedang emosi, ia sulit untuk dikendalikan. Susah untuk dinasehati. Termasuk Rini, yang saat ini kelihatannya emosinya sedang meluap. Kemarahannya sedang memuncak. Maka apapun yang akan dikatakan oleh Yudi, semua serba salah. Yudi tetap yang salah.
Yudi yang sudah terbiasa dengan kehidupan susah, beruntung sanggup mengendalikan dirinya. Setidaknya tidak ikut-ikutan terbawa emosi. Maka Yudi yang punya perwatakan diam dan tenang itu, akan berusaha untuk mengalah. Pasti nanti setelah emosi yang ada dalam hatinya Rini mereda, Rini akan menurun tensi kemarahannya. Yudi sabar menunggu. Seperti halnya ia sudah sabar memendam benih cintanya selama tiga puluh tahun kepada Rini.
"Saya tidak akan memaafkan dirimu, Yud. Kamu itu ternyata pengkhianat. Kamu itu ternyata munafik. Kamu itu serigala berbulu domba. Di depan saya kamu berpura-pura baik, sok suci, sok setia, sok alim ..., ternyata bohong besar." Rini kembali menumpahkan emosinya.
"Baiklah, Rin .... Apapun yang akan Rini katakan padaku, akan aku terima. Jika maaf saja tiada kamu berikan, aku juga terima. Apa pun perlakuanmu padaku, aku siap menerimanya. Toh sudah dari dulu, aku menerima kenyataan tentang dirimu." kata Yudi lembut.
"Tidak usah mengungkit-ungkit masa lalu. Aku paling benci dengan laki-laki cengeng. Aku paling tidak suka dengan laki-laki yang lemah. Namun faktanya?! Ternyata kamu itu lebih parah, Yud! Munafik! Laki-laki macam apa kamu itu!" caci maki Rini pada Yudi.
Yudi merasa bingung. Kelihatannya kemarahan Rini tidak bisa diredakan. Rini benar-benar marah besar. Berarti memang ada yang tidak berkenan tentang dirinya di mata Rini. Tapi apa? Yudi belum tahu penyebabnya. Dan setiap ingin menanyakan hal ini, Rini semakin marah.
__ADS_1
Melihat situasi ini, Yudi ingin diam dulu. Bila perlu mematikan HP-nya. Agar Rini berhenti marah, dan Yudi juga tidak mendengar kemarahan dari Rini. Diam, sambil mengoreksi, mengingat-ingat tentang kesalahan yang sudah ia lakukan, sehingga membuat sakit hati Rini.
Rini masih marah-marah terus. Berbagai kata-kata kasar keluar dari mulut wanita cantik di mata Yudi itu. Yudi hanya mendengarkan umpatan-umpatan yang keluar dari bibir orang yang sudah melekat di hatinya. Yudi diam saja. Mau dikatakan apa saja oleh Rini, biarlah. Yudi menerima semuanya dengan hati pasrah.
"Yudi ...! Kenapa diam?! Ayo ngomong ...! Dasar pengecut!" bentak Rini lagi, saat tahu Yudi hanya diam saja.
"Maaf Rini, saya kira tidak ada gunanya saya bicara ...." belum selesai Yudi bicara, sudah dipotong lagi oleh Rini.
"Iya, memang ...! Kamu itu laki-laki tidak berguna!" sahut Rini.
Yudi sudah pasrah. Tidak mungkin sanggup meredam Rini. Walaupun Yudi masih terlihat tenang dan tidak marah, tetapi lama-kelamaan dikata-katai orang dengan bahasa yang tidak pas, tentu juga akan emosi. Akhirnya, Yudi harus mencari jalan lain. Yah, mematikan HP-nya. Mengakhiri panggilan Rini.
"Yudi ...! Yudi ...! Yudi ...! Dasar, laki-laki kurang ajar!" Rini meneriaki Yudi yang sudah mematikan teleponnya.
Rini lemas. Energinya terkuras untuk memarahi Yudi. Meski AC di kamarnya sudah disetel paling dingin, tetapi tubuh Rini masih berkeringat. Mungkin itu karena panas dalam hatinya yang meluap-luap.
Rini membuka pintu kamar, memanggil Mak Mun.
"Mak Mun ...!" Rini memanggil dengan suara agak keras, agar Mak Mun langsung mendengar.
"Iya, Ibu .... Ada yang bisa saya bantu, Ibu?" sahut Mak Mun yang berlari dari tempat menyeterika ke kamar Rini.
"Mak Mun, aku minta tolong dibuatkan cokelat hangat, ya." perintah Rini pada Mak Mun.
"Pakai gula merah saja, Mak Mun." sahut Rini.
"Oh, iya .... Siap, Ibu .... Tunggu sebentar." kata Mak Mun yang siap membuatkan minuman cokelat.
"Terima kasih, Mak Mun." sahut Rini.
*******
Sementara itu, setelah menutup teleponnya dengan Rini, Yudi langsung menelepon Silvy. Anak perempuan Rini yang selalu manja dengan Papah angkatnya itu.
"Halo, Papah Yudi .... Ada apa, Pah? Kok tumben menelepon Silvy?" ucap Silvy saat mengangkat telepon Yudi.
"Hai, Silvy .... Maaf saya mengganggu kerja Silvy. Tapi ini penting." kata Yudi.
"Memang Papah Yudi kenapa? Ada apa, Pah?" tanya Silvy yang khawatir.
"Silvy ..., bisakah Silvy bantu saya?" tanya Yudi.
"Tentu, Pah .... Tentu. Papah Yudi minta di bantu apa?" tanya Sylvy yang semakin khawatir dengan papah angkatnya.
__ADS_1
"Maaf sebelumnya, Silvy. Saya minta Silvy jangan marah dulu. Saya minta Silvy mendengar ucapan saya dengan hati yang jernih. Silvy bisa mengendalikan emosi." kata Yudi memasan Silvy terlebuh dahulu,
"Ih, Papah Yudi ..., kayak orang kuliah filsafat saja." sahut Silvy.
"Bukan, Silvy. Ini penting saya sampaikan agar Silvy bisa belajar mengendalikan emosi, seperti kata suami kamu tempo hari. Sehingga Silvy bisa belajar bijak." tutur Yudi lagi.
"Iya, Pah .... Akan saya usahakan." jawab Silvy.
"Begini, Silvy .... Hari ini saya dimarah-marahi orang, tanpa tahu apa penyebabnya. Tentu saya bingung. Sudah saya teliti, saya ingat semua yang saya lakukan, saya belum bisa menemukan kesalahan saya. Tetapi yang menilai saya kan orang lain. Dan orang yang menilai saya itu mengatakan saya salah. Saya keliru. Namun setiap kali saya tanyakan kesalahannya, dia semakin marah-marah. Bahkan saya minta maaf saja, dia tidak mau memaafkan. Saya jadi bingung, Silvy ...." kata Yudi pada Silvy.
"Memang orang yang marah-marah itu siapa, Pah? Kok sombong amat. Kayak dirinya itu paling hebat." kata Silvy yang ikut emosi.
"Lho, Silvy tidak boleh begitu. Itu tidak baik sayang. Kepada siapapun kita harus berbaik sangka. Jangan negatif thinking. Kalau Silvy ikut-ikutan emosi, itu berarti kamu belum bisa mengendalikan dirimu." tutur Yudi pada anak angkatnya.
"Eh, iya, Pah .... Maaf. Silvy masih emosian ya, Pah." sahut Silvy yang sadar dirinya keliru.
"Begini Silvy, ini saya tidak curhat, dan tidak minta dibelas-kasihani. Tetapi saya hanya ingin berbaik kepada setiap orang, termasuk yang membenci saya. Terutama saya ingin tahu kesalahan yang sudah saya lakukan." kata Yudi.
"Terus, bagaimana Silvy bisa membantu, Pah?" tanya Silvy.
"Saya mohon bantuan Silvy, nanti sore sepulang kerja, Silvy mampir ke rumah Mamah Rini. Setidaknya menengok Mamah." pinta Yudi pada Silvy.
"Memang Mamah kenapa, Pah?" tanya Silvy yang kaget.
"Tidak apa-apa. Ini hanya sandiwara. Saat Silvy nanti sudah dekat atau duduk bersama Mamah Rini, saya minta Silvy telepon ke saya. Pura-pura saja kangen." kata Yudi mengatur skenario.
"Lhoh, berarti orang yang memarahi Papah Yudi itu ..., Mamah Rini. Memang kenapa, Pah?" tebak Silvy, yang memang anak cerdas. Tidak mirip Rini, tapi segala pemikirannya justru mirip Yudi.
"Silvy, saya mohon maaf, untuk saat ini saya belum bisa bercerita. Tetapi besok kalau jiwa Silvy sudah matang, akan saya ceritakan semuanya. Dan saya mohon, Silvy jangan bertanya pada Mamah Rini. Tunggu saya yang cerita ke Silvy. Saat ini tugas Silvy, hanya menelepon saya saat dekat dengan Mamah Rini. Paham, ya?" tutur Yudi memesan anak angkatnya.
"Iya, Pah .... Silvy paham. Kalau misalnya ada Papah Hamdan, bagaimana?" tanya Silvy yang khawatir.
Rupanya Silvy mulai menduga, ada apa-apa antara Papah Yudi dengan Mamah Rini. Itu sudah dirasakan oleh Silvy sejak pertama kali bertemu Yudi.
"Tidak apa-apa, Silvy .... Kan tugas Silvy hanya menelepon, pura-pura kangen. Jadi tidak ada sangkut pautnya dengan siapapun. Ini antara kita berdua, sayang ...." sahut Yudi.
"Okey, Pah .... Beres. Tapi cerita yang itu tadi, yakin Silvy dikasih tahu ya, Pah." sahut Silvy yang sudah bersiap bersandiwara.
"Yakin, sayang .... Tunggu kamu dewasa. Terima kasih ya, sayang .... Ayo kerja lagi." kata Yudi mengakhiri teleponnya.
"Iya, Pah .... Kembali kasih. Da ..., da ..., Papah ...." balas Silvy.
Yudi merasa lega, bisa meminta bantuan ke Silvy. Demikian juga Silvy, yang pasti akan berusaha semaksimal mungkin untuk membantu papah angkatnya.
__ADS_1