
Usia Yuni sudah menginjak sembilan tahun. Ia bertumbuh menjadi gadis kecil yang periang dan penuh empati kepada sesama. Tidak sekadar baik kepada orang-orang yang ada di Pasar Rakyat, jika ikut ibunya berbelanja, tetapi juga keada semua orang yang ia temui di Kampung Nirwana. Bahkan kadang-kadang Yuni juga ikut masuk ke sanggar lukis, mengajari anak-anak yang ikut kursus melukis, yang sebenarnya para peserta les menggambar ini seusia dengan dirinya, bahkan ada yang lebih kecil. Tentu Yuni senang bisa berinteraksi dengan anak-anak seusianya yang juga senang melukis tersebut. Pasti mereka yang ikut les melukis itu senang jika Yuni mengajarinya. Ya, itu karena bahasanya yang sepadan, antara anak-anak dengan anak-anak. Jadi tidak ada rasa takut. Seperti halnya belajar bersama temannya sendiri. Tetapi Yuni memang berbakat untuk menjadi guru les gambar di hadapan anak-anak yang belajar di sanggar lukis tersebut.
Secara emosional, Yuni sudah menjadi anak yang tumbuh dewasa. Emosional dan kematangan jiwanya sudah benar-benar seperti layaknya orang dewasa. Bahkan banyak teman-teman Yudi, pelukis-pelukis dewasa yang kalah matang secara emosional. Apalagi dari segi konsentrasi diri. Daya konsentrasi Yuni yang sejak kecil dikagumi oleh ayahnya, itu benar-benar sangat luar biasa. Yuni tidak mudah terganggu oleh apapun yang ada di sekitarnya. Walau di ruang sanggar lukis sangat sangat ramai oleh anak-anak yang pada kursus atau les, maklum tingkah anak-anak, namun Yuni tidak terganggu oleh keramaian anak-anak yang bisa disebut sebagai temannya tersebut. Faktanya, ia justru bisa melukis keramaian teman-temannya tersebut. Anak-anak yang gojekan di dalam ruang sanggar, justru bisa dijadikan objek lukisannya.
Gadis kecil Yuni sudah sangat piawai dalam melukis. Ia tidak lagi mau bersanding dengan ayahnya saat menggoreskan cat-cat di kanvas lukisnya. Yuni mulai asyik mencari objek alam untuk dijadikan model lukisannya. Berkali-kali ia membawa peralatan lukisnya menuju puncak bukit. Di Taman Awang-awang ia menuangkan cat dalam kanvasnya. Tentu objeknya adalah keindahan alam dari puncak Taman Awang-awang. Deburan ombak Pantai Selatan serta hamparan pemandangan alam dari puncak bukit, adalah sasaran utama lukisan Yuni. Demikian juga indahnya sinar lembayung saat senja, rona merah matahari yang akan tenggelam, serta burung-burung laut yang berlompatan bermain di atas air, tentu tidak luput dari lukisan Yuni.
Tentu, saat Yuni melukis di Taman Awang-awang itu, banyak para wisatawan yang berkunjung ke situ menyaksikan kepiawaian gadis kecil itu. Makanya, tidak sedikit dari pelancong yang datang ke Taman Awang-awang minta dilukis oleh Yuni. Pasti Yuni dapat uang dari lukisan-lukisan itu. Meski dihargai hanya beberapa puluh ribu, tetapi Yuni senang. Setidaknya, Yuni sudah bisa membahagiakan orang lain melalui memberi kenangan lukisannya.
Namun bagi orang yang tahu siapa itu Yuni, bocah ajaib yang lukisannya dibeli oleh kolektor dengan harga mencapai tujuh ratus lima puluh juta, pasti mereka akan meminta untuk dilukis secara detail. Terkadang Yuni mau, tetapi kadang pula tidak bersedia dengan alasan harus butuh waktu yang lama dan tempat khusus yang tidak terganggu oleh orang lain.
Tidak hanya alam objek lukisan Yuni. Ia juga akrab dengan keramaian pasar jika diajak ibunya berbelanja di Pasar Rakyat. Yuni juga senang dengan fakta sosial tentang kemiskinan. Beberapa lukisannya ada yang menggambarkan kehidupan pengemis dan gelandangan. Bahkan Yuni juga pernah melukis orang gila.
Kali ini, Yuni malas keluar rumah. Ia membantu Mas Trimo yang sedang menyiram anggrek. Yuni ikut berkeliling mengelilingi lahan satu hektar yang penuh dengan tanaman anggrek tersebut. Tentu Yuni sangat senang menyaksikan warna-warni bunga anggrek yang bermekaran. Bahkan Yuni sempat mengintip laboratorium kakaknya yang berisi ribuan botol bibit anggrek.
"Mas Trimo senang merawat anggrek?" tanya Yuni pada Trimo saat menyirami tanaman.
"Ya senang lah, Neng Yuni .... Ini kan pekerjaan Mas Trimo. Kalau tidak senang, saya mau kerja apa ...." jawab Trimo yang tetap memegang selang air untuk menyiram anggreknya.
"Kalau dijual, bunga-bunga anggrek ini laku berapa?" tanya Yuni yang tentu ingin tahu harga anggrek milik kakaknya itu.
"Macam-macam, Neng .... Kalau yang di rak depan itu, jenis dendrobium biasa, yang sudah berbunga per pot harganya lima puluh ribu. Kalau yang ada di rak sebelahnya itu, namanya anggrek bulan, harganya seratus sampai seratus lima puluh ribu, tergantung besarnya. Lha itu, yang digantung-gantung itu, namanya anggrek vanda, yang besar harganya seratus ribuan." Trimo menjelaskan kepada Yuni.
"Kalau yang kecil-kecil di sana itu ...?" tanya Yuni sambil menunjuk rak yang agak jauh.
"Oh ..., itu masih bibit kecil. harganya per pot sepuluh ribu. Kalau yang di dalam botol itu, satu botolnya dua puluh lima ribu. Isinya banyak, Neng ...." jelas Mas Trimo yang sudah hafal dengan harga-harga anggrek.
"Kok saya pernah dengar Kakak punya anggrek yang mahal?" tanya Yuni yang penasaran.
Memang selama ini Yuni tidak pernah mau tahu tentang anggrek. Dia lebih memilih ikut papahnya ke galeri yang penuh dengan lukisan. Apalagi saat Yudi membangun sanggar lukis yang dipakai untuk kursus atau les melukis, Yuni lebih senang berinteraksi dengan anak-anak yang seusia dirinya di tempat les. Makanya, Yuni tidak paham masalah jenis maupun harga anggrek.
"Iya, Neng .... Memang ada anggrek yang mahal. Dahulu oleh Ibu Rini dibuatkan tempat khusus. Itu ..., di sana ...." kata Mas Trimo sambil menunjukkan green house yang ada di dekat laboratorium. Ya, green house itu memang diberi pagar kawat dan ada pintunya yang terkunci, sehingga tidak ada yang bisa masuk, hanya melihat dari luar.
"Harganya berapaan ...?" tanya Yuni yang penasaran.
"Macam-macam, Neng .... Yang anggrek hitam itu seratus juta per pot. Kalau yang tinggi besar-tinggi besar itu namanya anggrek raksasa, oleh Mas Yayan dijual sepuluh juta per pot." Mas Trimo menjelaskan harga-harga anggrek yang mahal.
"Saya bisa masuk ke green house itu?" tanya Yuni yang tentu ingin tahu.
"Walah ..., yang membawa kuncinya Mas Yayan. Biasanya kalau ada pengunjung yang ingin melihat, ya nonton dari luar, Neng ...." jelas Mas Trimo.
"Oke ..., makasih Mas Trimo .... Nanti saya mau masuk sama Mas Yayan." kata Yuni yang langsung meninggalkan Mas Trimo, tentu akan mencari kakaknya.
Benar, Yuni yang meninggalkan Mas Trimo yang masih menyirami anggrek-anggrek di kebun itu, langsung berlari kecil menuju depan kamar kakaknya.
"Kakak .... Kakak Silvy .... Kakak Yayan ...." panggil Yuni di depan kamar kakaknya.
"Iya, Yuni .... Sebentar ..., Kakak baru salin pakaian ...." suara Silvy dari dalam kamar menjawab panggilan adiknya.
Sebentar kemudian Silvy sudah keluar kamar, tentu langsung menemui adiknya.
"Ada apa ...?" tanya Silvy kepada Yuni.
__ADS_1
"Kak Yayan, mana?" tanya Yuni.
"Masih mandi .... Memang ada apa?" tanya Silvy.
"Saya mau lihat anggrek hitam .... Katanya harganya mahal ...." jawab Yuni.
"Iya, memang benar .... Kalau tidak percaya, browsing saja di internet ...." kata Silvy yang meyakinkan adiknya.
"Kak ..., aku boleh lihat, nggak?" Yuni tentu semakin penasaran.
"Boleh .... Nanti, ya .... Tunggu Kak Yayan .... Sudah ya, aku mau bantu Mamah masak. Ayo, ikut ke dapur bantu Mamah, anak perempuan harus bisa masak ...." kata Silvy yang langsung melangkah menuju dapur.
Yuni mengikuti langkah kakaknya, tentu mau ikutan membantu ibunya yang sedang menyiapkan sarapan pagi. Dan tiga wanita itu sibuk di dapur, sampai masakan sarapan pagi siap disajikan di meja makan.
"Ayo, sarapan ...." kata Rini yang tentu mengajak sarapan suaminya.
"Kak Yayan ..., sarapan ...." Yuni juga memanggil kakaknya. Tentu saat itu ia harus mendekat kepada Yayan, demi bisa melihat anggrek hitam yang katanya harganya mahal.
"Ya ...." jawab Yayan yang langsung keluar dari kamarnya.
Tentu Yuni sudah menunggu keluarnya Yayan. Begitu kakaknya keluar, lantas katanya, "Kak Yayan ..., nanti saya boleh lihat anggrek hitam punya Kakak ...?" tanya Yuni.
"Boleh .... Habis sarapan, ya ...." sahut Yayan yang langsung menggandeng Yuni menuju tempat makan.
Lantas mereka satu keluarga sarapan bersama. Ada Yudi yang duduk dekat dengan istrinya. Sedangkan Yuni, tentu duduk di sebelah Yayan, karena masih ada yang diharapkan dari kakaknya. Sambil bercanda dan ngobrol macam-macam tentang berbagai aktivitas masing-masing.
"Hari ini Yuni mau ke mana?" tanya Yudi pada anaknya.
"Mamah ada acara apa?" tanya Yudi pada Rini.
"Paling ke pasar .... Mau belanja." sahut Rini.
"Aku ikut, ya ...." kata Yudi yang ingin ikut ke Pasar Rakyat, tentu ia ingin melihat suasana Pasar Rakyat yang sudah lama tidak ia kunjungi.
"Papah mau ikut ke pasar?" tanya Rini.
"Iya .... Mau lihat-lihat saja ...." jawab Yudi.
"Mas Trimo ...! Sarapan dahulu ....!" teriak Rini yang memanggil Trimo, menyuruhnya untuk sarapan.
Hingga sarapan selesai, mereka asyik berbincang. Itulah tanda keluarga bahagia dan sejahtera. Selanjutnya, mereka akan melakukan aktivitas masing-masing. Dan yang paling menggebu adalah Yuni, yang ingin segera menyaksikan anggrek hitam di kebun Yayan.
"Ayo, Yuni .... Ikut Kak Yayan, lihat anggrek hitam dari Papua." kata Yayan sambil mengajak adiknya.
Yuni mengikuti Yayan, berjalan menyusuri bunga-bunga anggrek yang jumlahnya ribuan. Lantas berhenti di green house yang ada di tengah, berada di antara anggrek-anggrek dewasa dengan anggrek-anggrek yang masih bibit. Yayan membuka pintu green house, lantas mengajak Yuni masuk.
"Nah ..., ini .... Anggrek hitam dari Papua. Ini dari Borneo, yang ini anggrek emas kinabalu, sedangkan yang ini dari Nias." kata Yayan sambil menunjukkan bunga-bunganya.
"Wao .... Keren banget, Kak Yayan .... Bunganya unik ya, Kak .... Ini sangat istimewa .... Benar-benar eksotis. Sungguh mempesona." kata Yuni yang baru kali ini menyaksikan anggrek hitam dari Papua tersebut. Padahal sudah bertahun-tahun menyaksikan bunga-bunga yang indah di kebun kakaknya itu.
"Kakak masih tergiur dengan Shenzhen Nongke Orchi, itu harganya mencapai tiga miliar .... Tapi itu hanya mimpi .... Makanya kakak berusaha untuk mengawinkan anggrek-anggrek mahal, agar bisa menghasilkan harga yang lebih mahal lagi. Kakak ingin mendapat hasil silangan anggrek yang unik. Biar nanti bisa dijual dengan harga yang mahal." kata Yayan menjelaskan kepada adiknya.
__ADS_1
"Wah ..., keren, Kak .... Semoga bisa berhasil ya, Kak ...." kata Yuni yang terkesima dengan penuturan kakaknya.
"Terima kasih Sayang ...." kata Yayan sambil mengelus kepala adiknya.
"Kak Yayan .... Ini anggrek hitam yang dari Papua boleh saya lukis?" tanya Yuni kepada Yayan, yang tentu minta izin terlebih dahulu untuk melukisnya.
"Boleh saja .... Itu sudah di-upload sama Kak Silvy, lho .... Sudah ada di website Taman Anggrek Nirwana." kata Yayan pada adiknya.
"Oke, Kak Yayan .... Saya akan melukis di sini. Terima kasih Kak Yayan ...." kata Yuni yang langsung meninggalkan kakaknya untuk mengambil peralatan lukisnya.
*******
Seharian di dalam green house, Yuni melukis anggrek hitam dari Papua. Meski yang menjadi objek adalah anggrek hitam, namun background yang melatarbelakangi anggrek hitam tersebut juga tidak luput dari pandangan Yuni. Ada daun yang menjuntai, ada batang, serta tanaman-tanaman dan bunga lain yang mekar. Namun yang menjadi objek utama adalah bunga anggrek hitam dari Papua itu. Hingga sore hari, Yuni baru menyelesaikan lukisan itu.
"Mas Trimo bantu ya, Neng ...." kata Mas Trimo yang menawarkan diri untuk membantu Yuni.
"Iya, Mas Trimo ..., terima kasih." sahut Yuni yang masih sibuk menata lukisannya.
Mas Trimo membantu menata peralatan lukis Yuni. Mas Trimo ikut membantu menutup tube-tube cat oil, menutup minyak, melipat easel. Kemudian membawakan ke teras dekat kamarnya.
Yuni membawa kanvas hasil lukisannya. Sampai di teras, Silvy yang bertemu, tentu ingin melihat hasil lukisan adiknya.
"Hai, Yuni .... Mana hasil lukisannya?" tanya Silvy pada adiknya yang masih memegangi kanvas.
"Ini, Kak Silvy ...." jawab Yuni yang langsung menunjukkan lukisannya.
"Wao .... Keren, Yuni .... Kakak foto dahulu .... Ayok, dipegangi .... Di sini, biar terlihat bagus." kata Silvy yang langsung mengatur posisi adiknya.
Yuni berdiri dengan latar belakang kebun anggrek. Ia memegangi lukisannya. Tentu dengan senyum yang menawan.
"Cepret ..., cepret ..., cepret ...." Silvy sudah memotret adiknya berkali-kali.
Setelah itu, Silvy menyandarkan lukisan Yuni di dinding. Kemudian juga difoto berkali-kali. Selanjutnya, lukisan adiknya langsung diunggah ke website Yudi's Gallery.
Pada saat itu, kebetulan Yudi datang. Begitu melihat dua anak perempuannya melakukan sesuatu, pasti Yudi penasaran. Maka ia langsung mendekat.
"Pada ngapain ...?" tanya Yudi kepada kedua anak perempuannya.
"Ini, Pah .... Memotret lukisan Yuni." sahut Silvy sebelum keduluan adiknya.
"Wao .... Keren sekali ...." puji Yudi saat melihat lukisan anaknya.
"Ini lukisan anggrek hitam Kakak .... Katanya harganya termahal. Makanya saya lukis sebaik mungkin." kata Yuni sambil menunjukkan kanvasnya yang sudah ada gambar anggrek hitam tersebut.
"Anggreknya mahal, pasti lukisannya nanti juga laku mahal ...." kata Yudi membombong anak-anaknya.
"Iya, Pah .... Doakan bisa laku mahal ...." sahut Yuni.
"Nah, begini .... Silvy ..., kamu kan ahli medsos .... Ini saling menguntungkan, buat berita tentang gadis cilik dengan lukisan mahal, sudah melukis anggrek dengan harga termahal .... Begitu. Atau, anggrek termahal sudah dilukis oleh pelukis cilik kelas dunia .... Ha, begitu ...." kata Yudi yang mengajari anaknya promosi.
"Oh, benar, Pah .... Akan saya promosikan semacam itu, di dua laman, laman milik Taman Anggrek Nirwana dan laman Yudi's Gallery .... Dua-duanya sudah go public .... Hehehe ...." sahut Silvy yang tentu akan segera mengunggah foto-fotonya.
__ADS_1
Anggrek hitam dalam lukisan di Taman Anggrek Nirwana, dan lukisan anggrek hitam dari Taman Anggrek Nirwana. Silvy sudah memposting keduanya.