KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 12: RUMAHMU SURGAKU


__ADS_3

    SETELAH rombongan mobil VW yang membawa teman-teman alumnus, Yudi bersama Handoyo dan Alex, dan tentu saja Rini, yang berada dalam satu mobil, tidak mengikuti rombongan teman-temannya. Handoyo duduk di depan samping sopir. Sedangkan Alex, Rini dan Yudi duduk di jok belakang sopir.


    "Belok kiri, Bos .... langsung ke rumah." kata Yudi memerintahkan sopir VW yang ditumpangi.


    "Siap, Mas Yudi ...." jawab sang sopir.


    "Pak Sopir, kenal sama Yudi?" tanya Rini yang mencoba menelisik.


    "Sangat kenal, Ibu ...." jawab sang sopir.


    "Pak Sopir tinggal di kampung ini juga?" tanya Handoyo.


    "Semua yang terlibat di Kampung Nirwana, penduduk sini, Pak. Tidak boleh ada orang luar. Kata Mas Yudi, ini paguyuban anak desa." sahut sopir.


    "Lah, emang Yudi penduduk sini, kan bukan?!" protes Rini.


    "Loh, memang Bapak dan ibu ini belum kenal sama Mas Yudi?" tanya sopir.


    "Kami sudah berpisah tiga puluh tahun yang lalu, Mas ...." jawab Alex.


    "Ooo .... Lha Kampung Nirwana ini yang mbangun kan Mas Yudi. Jadi, kami di sini, warga Kampung Nirwana ini ya sangat berhutang budi sama Mas Yudi ...." kata sang sopir.


    "Sudah, Bos ..., diam saja, konsen nyopir, nanti salah jalan." kata Yudi yang berusaha menyuruh diam sopir, tidak ingin menceritakan dirinya pada teman-temannya.


    "Oke, Mas Yudi .... Siaaap ...." jawab sopir.


    "Waaah .... Yudi main sembunyi-sembunyian, nich ...." kata Alex.


    Hanya sekitar enam menit, mobil yang ditumpangi Yudi bersama teman-temannya sudah sampai di depan rumah dengan bangunan unik. Gapura dan pagar depannya dibangun dari bata merah super yang khusus didatangkan dari Bali. Modelnya mirip arsitek Bali. Yudi menamakan gerbangnya itu sebagai "Gapura Bentar" dengan pintu besar kayu jati yang diberi sentuhan ukiran Jepara. Seperti gerbang kerajaan jaman kuno. Sangat keren.


    "Ayo, turun .... Ini rumahku. Jangan diejek kalau jelek. Maklum rumah orang miskin, bukan pejabat hebat seperti kalian." kata Yudi yang mengajak teman-temannya turun dari mobil untuk masuk ke rumahnya.


    "Wao ...." teman-temannya berdecak kagum.


    "Arsitektur yang hebat!" Alex menepuk punggung Yudi.


    "Wah, kamu ini manusia atau dewa, Yud ...?!" kata Handoyo yang memuji Yudi.


    "Ini rumah kamu, Yud? Busyeeet ...." tanya Rini setengah tidak percaya.


    "Sudaaah .... Ayo, masuk dulu .... Gak bakalan diteriakin orang!" kata Yudi yang mengajak temannya masuk.


    "Eh, sebentar, kita selfie dulu." kata Rini yang langsung mengajak teman-temannya berswafoto di depan gapura masuk rumah Yudi.


    Lantas mereka berempat melangkah masuk melintasi gapura yang ada tangganya satu trap, terbuat dari batu andesit. Sangat serasi dengan bata merahnya. Selanjutnya, di bagian balik pintu terdapat dua trap tangga batu. Setelah mereka masuk, temannya lebih terkagum. Ada halaman yang cukup luas dengan rumput hybrid yang hijau segar. Empuk seperti permadani. Di sisi kanan kiri halaman, terdapat pot-pot besar berjajar, berisi bunga anthurium  jenis gelombang cinta yang besar-besar dan sangat segar. Di bagian pojok kanan maupun kiri terdapat bunga kamboja jambon. Di tengah halaman ada jalan setapak yang terbuat dari potongan-potongan keramik warna-warni, yang sengaja dipotong kecil-kecil, kemudian ditata menjadi motif-motif yang indah. Jalan kecil itu menuju pendopo tanpa dinding, hanya tiang-tiang kayu jati yang besar sebagai penyangga atap. Pendopo itu cukup luas. Lantainya terbuat dari marmer tua. Di tengah pendopo terdapat dua buah bangku besar yang saling berhadapan, di tengahnya terdapat meja yang juga besar terbuat dari kayu jati. Tepat di atas meja besar itu tergantung lampu katrol kuno yang antik. Di sekeliling pendopo, terdapat kolam dengan air yang jernih mengelilingi seluruh bangunan pendopo tersebut. Lebarnya satu meter, langsung menempel di bawah lantai, seolah pendopo itu berada di atas air. Ikan koi besar-besar warna-warni menghiasi kolam itu. Sambil lesehan di lantai, orang bisa menggoda ikan-ikan yang berenang mengelilingi pendopo. Sangat menarik, indah sekali. Tentu membuat orang betah untuk memandangnya.


    "Wao ..., wao ..., wao ...." teman-teman Yudi terkagum. Kali ini benar-benar heran oleh kehebatan Yudi.


    "Yudi ...! Kamu ini dewa, ya ...?" kata Alex.


    "Aah .... Ayo, ayo ..., duduk sini dulu." ajak Yudi pada teman-temannya duduk di bangku.


    Temannya pun mengikuti duduk. Alex sengaja duduk di samping Handoyo. Otomatis Rini akan duduk di samping Yudi.


    "Orang tua kamu mana, Yud?" tanya Handoyo.


    "Ada di dalam, nanti sebentar aku temukan. Sebenarnya aku di sini sendirian. Bapak ibuku tidak mau aku ajak tinggal di sini. Tapi sering kemari kok, kebetulan kemarin beliau datang, eeeh ..., malah aku tinggal pergi. Beliau tidak mau meninggalkan kampung halaman, takut kehilangan teman-teman tuanya. Aku maklum, orang tua memang selalu begitu. Tapi banyak kok, anak-anak yang menemani aku di sini." kata Yudi.

__ADS_1


    "Hah, anakmu banyak, Yud?" tanya Alex yang bingung.


    "Hahaha .... Nanti kalian tahu sendiri." sahut Yudi.


    "Aku kok bingung?" selah Rini.


    "Sebentar, ya ...." kata Yudi yang kemudian beranjak berdiri.


    Yudi meninggalkan teman-temannya, untuk masuk ke rumah induk, menyeberangi semacam jembatan kecil di atas kolam yang ada di belakang pendopo, kemudian membuka pintu pagar belakang. Teman-temannya melongok mengamati rumah lewat pintu yang dibuka Yudi. Mereka berpikir, pasti Yudi akan mengambilkan minuman ataupun suguhan makanan.


     Benar. Beberapa saat setelah Yudi masuk, ada dua anak perempuan, usianya baru sekitar sepuluh tahun, datang membawa empat buah kelapa muda yang sudah dibuka kulitnya, disuguhkan ke tamu-tamu yang duduk di bangku.


    "Monggo, silakan diminum." kata gadis kecil itu.


    "Terimakasih ...." sahut tiga orang yang duduk di bangku itu, Alex, Handoyo dan Rini.


    Dua gadis kecil itu kembali ke belakang. Mereka berpikir, apa ini anaknya Yudi? Rini langsung berdiri, mengikuti gadis kecil itu, masuk ke rumah bagian dalam. Ia penasaran.


    "Waoo .... Ceckckck ..., ceckckck ...." Rini berdecak kagum, heran dengan apa yang terlihat di matanya. Rumah Yudi benar-benar artistik, seperti bangunan-bangunan di filem Saur Sepuh.


    "Awas, hati-hati, Rin ...!" kata Yudi memperingatkan Rini agar berhati-hati melintasi tangga turun.


    "Ya .... Gak papa ...." sahut Rini.


    "Eh .... Ada tamu to ...." kata seorang wanita tua berusia sekitar tujuh puluh tahun, yang berada di dekat Yudi. Dia ibunya Yudi.


    "Iya, Ibu .... Saya Rini, temannya Yudi waktu SMA." jawab Rini yang menyalami dan mencium tangan ibu Yudi.


    "Rini ...? Rini ini to, Yud?" tanya ibunya pada Yudi, seakan ingat sebuah nama.


    "Iya, Ibu, saya Rini .... Memang ada apa, Ibu?" tanya Rini pada ibu Yudi.


    "Rini yang teman SMA-nya Yudi, ya?" ibu itu masih mencoba bertanya, walau dihalangi Yudi.


    "Iya, Ibu .... Bagaimana, Ibu ...? Ada apa, Ibu ...?" Rini berusaha tanya, mendekati ibu Yudi.


    "Tidak apa-apa ...." Yudi mencegah Rini, menghalangi mendekat ke ibunya.


    "Yudi ..., jangan halangi aku. Pasti ada sesuatu yang kamu rahasiakan." Rini tetap mendekati ibu Yudi.


    Tapi ibu Yudi sudah melangkah, mendekati Rini dan langsung memeluk, lalu katanya, "Ealah, ini to, Rini. Wea cantik tenan kok."


    "Memang ada apa, Ibu? Apa Yudi pernah cerita tentang saya?" tanya Rini yang sudah memegang dua tangan ibunya Yudi.


    "Iya .... Yudi banyak cerita tentang kamu, Nak Rini yang cantik ...." kata ibu Yudi, sambil mengelus wajah Rini.


    "Jangan, Ibu ...! Jangan cerita!" Yudi melarang ibunya bercerita.


    Tapi Rini tetap memeluk ibu itu. Perasaan Rini yakin, pasti Yudi bercerita tentang dirinya kepada ibunya. Pasti masalah ..., ach ..., entahlah. Pasti itu. Rini mencoba menduga tentang hubungan mereka berdua. Walau ibunya belum bercerita, Rini tetap tersenyum, pasti nanti akan ketahuan juga rahasianya.


    Tidak sabar menunggu, karena terlalu lama, dua orang temannya, Alex dan Handoyo yang sudah menghabiskan minuman degan, menyusul masuk ke rumah yang ada di balik pendopo. Saat melangkah masuk, mereka juga terkagetkan dengan bangunan yang seperti dirahasiakan itu, bangunan yang tersembunyi dibalik indahnya pendopo depan.


    "Ckckck .... Yudi, kamu benar-benar arsitek yang istimewa. Ini rumah apa tempat shooting filem?" kata Handoyo yang keheranan.


    "Bukan main, teman kita satu ini .... Heh, Yudi, kamu bangun rumah kayak gini untuk siapa?!" Alex yang terkagum pun ikut meledek. Maklum mereka tahu kalau Yudi belum menikah.


    "Ya untuk permaisuri, lah ...." sahut Rini.

__ADS_1


    "Mana permaisurinya ...?" Tanya Handoyo.


    "Masih disembunyikan oleh Yudi, belum boleh dilihat temannya." jawab Rini yang bercanda.


    "Ach ..., kalian itu sukanya mengejek teman." kata Yudi menyaut ejekan teman-temannya.


    "Enggak, lah .... Kalau bingung cari permaisuri, di Nusa Tenggara banyak, aku carikan." kata Handoyo.


    "Di Tangerang juga banyak. Di Jakarta ada gak, Rin ...?" sahut Alex.


    "Ada, banyak." sahut Rini, yang sebenarnya hatinya berdebar-debar, tidak rela kalau ada orang lain yang jadi permaisuri Yudi.


    Tentu teman-teman Yudi lebih terkagum melihat bangunan rumah induk yang ditempati Yudi. Ketika tadi di depan mereka dikagumkan dengan pendoponya, kini di dalam, rumah itu benar-benar indah. Sangat artistik dan eksotik. Luar biasa. Bukan sekedar rumah untuk tinggal, yang terdapat empat bangunan rumah, di sisi kanan dan kiri, walau tidak besar tetapi sangat menawan. Sedangkan di bagian belakang ada bangunan-bangunan lain, semacam bangunan serbaguna. Termasuk ada dapur dan ruang makan. Di bangunan belakang itu ada beberapa anak yang sedang bermain, semacam belajar, tapi mengasyikkan.


    "Sudah .... Ayo makan. Ibuku sudah menyiapkan masakan khas, mari kita nikmati. Habiskan semua." Yudi mengajak teman-temannya ke ruang makan di bangunan yang dekat dengan tempat belajarnya anak-anak. Ruang makan yang terbuka. Disamping ruang makan ada ornamen dari batu-batu besar yang ditumpuk-tumpuk seakan menjadi dinding batu yang alami, dan dari puncaknya ada air yang mengalir menjadi air terjun, yang membasahi batu-batu itu. Suara gemericik air terjun itu menambah nikmatnya suasana makan.


    "Gila, kamu Yud! Habis uang berapa kamu bangun rumah ini?" tanya Alex yang selalu keheranan.


    "Aaah .... Ini bukan milikku." jawab Yudi santai.


    "Lah, memang milik siapa?" tanya Handoyo.


    "Titipan dari Yang Maha Kuasa. Ya, untuk mereka semua itu." jawab Yudi sambil menunjuk anak-anak yang bermain di dekat ruang makan.


    "Memang anak-anak itu siapa, Yud? Anakmu?!" tanya Alex.


    "Bukan .... Mereka anak-anak kampung sini. Mereka belajar di sini, itu ada yang remaja-remaja, mereka mengajari adik-adik yang lebih kecil. Macam-macam, tergantung dari kebisaannya. Ada yang mengajari bahasa Inggris, ada juga yang mengajari matematika. Saling asuh, saling asih. Aku hanya mengarahkan." jelas Yudi.


    "Busyet, mulia betul dirimu, Yud." kata Handoyo, teman Yudi yang jadi kepala Rumah Sakit itu.


    "Teman-teman, mohon maaf, nanti saya tidak ikut ke Taman Awang-awang." kata Rini menyela.


    "Lah, terus ...?!" Alex tanya.


    "Gue tinggal di sini, mau dikeloni sama ibunya Yudi. Hehehe ...." jawab Rini yang terlihat senang dan gembira.


    "Hah ...?!" Alex dan Handoyo kaget.


    "Memang kamu kenal?" tanya Alex.


    "Kenal. Dulu waktu SMA kan pernah ketemu. Hehehe ...." jawab Rini.


    "Ya, udah .... Silakan. Tapi nanti kecewa lho, gak bisa menyaksikan keindahan Taman Awang-awang." kata Handoyo.


    "Gak papa. Kirimin fotonya saja." sahut Rini.


    Tentu bukan hanya Handoyo dan Alex yang kaget, Yudi pun terkejut. Wajahnya langsung merah. Pasti rahasianya akan terbongkar, pasti ibunya akan menceritakan semuanya. Yudi tertunduk, takut.


    "Sudah ..., sana pada berangkat. Gue yang beresin tempat makan." kata Rini pada teman-temannya.


    "Matik aku ....!!" batin Yudi yang semakin ketakutan.


*******


    Wajah Rini nampak berseri. Senang dan bahagia bisa tinggal di rumah Yudi. Rumah yang artistik, rumah yang indah, rumah yang penuh kedamaian, rumah yang penuh amal kebaikan, rumah yang seperti surga.


    "Rumahmu sudah membius hatiku, apakah ini surga untukku, Yudi ....?"

__ADS_1


    Gejolak itu muncul di hati seorang wanita yang bernama Rini.


__ADS_2