
Usia kandungan Rini sudah mencapai tujuh bulan. Seperti kebiasaan adat istiadat atau tradisi di kampung, ketika kehamilan pertama seorang perempuan menginjak usia tujuh bulan, maka diadakan upacara adat yang disebut "mitoni". Mitoni merupakan selamatan yang dilaksanakan saat usia kandungan sudah masuk tujuh bulan. Selamatan dalam acara mitoni ini dimaksudkan agar ibu yang hamil itu diberi kesehatan, bayi yang ada dalam kandungannya juga sehat, serta dimudahkan saat melahirkan kelak.
Namun bagi warga Kampung Nirwana, acara mitoni ini merupakan upacara ritual yang dilaksanakan dengan berbagai kegiatan. Ada mitos yang sangat kuat di kalangan masyarakat, bahwa mitoni ini sangat berpengaruh pada kelangsungan keluarga orang yang akan punya anak, termasuk ibu dan bapaknya. Demikian juga pada jabang bayi yang akan dilahirkan oleh sang ibu.
Yudi menurut saja dengan apa yang diminta oleh Simbok dan para tetangga yang mesih memegang teguh adat tradisi mitoni ini. Bahkan Yudi mengundang teman-temannya seniman Jogja, untuk menyaksikan acara mitoni tersebut. Para seniman itu pun pada berdatangan memenuhi undangan Yudi. Dan ternyata, yang datang untuk menyaksikan acara mitoni kehamilan Rini, bukan hanya teman-teman seniman Jogja, tetapi juga para turis dari Eropa ikut datang menyaksikan ritual itu, yang tentu akan diabadikan sebagai nilai tradisi yang pernah mereka saksikan saat berkunjung ke Jogja. Tentu hari Sabtu Legi itu rumah Yudi ramai oleh para turis bule, seniman Jogja serta tamu-tamu dari berbagai daerah yang sengaja ingin menyaksikan tradisi mitoni.
Jam tujuh pagi, acara mitoni kehamilan Rini dimulai. Di halaman pendopo rumah Yudi, di sisi pojok kanan, sudah dipasangi gentong, yaitu tempayan tempat air yang terbuat dari tanah atau gerabah. Namun gentong gerabah yang dipasang di pojok halaman itu bukan gerabah biasa, melainkan gentong yang dipesan dari pengrajin gerabah Kasongan. Ada ukir-ukirannya yang menghiasi gentong tersebut, dan finishingnya digrasur dengan warna alami.
Di belakang gentong yang menempel pada dinding pagar, dihias dengan anyaman bleketepe. Yaitu anyaman dari janur atau daun kelapa muda. Anyamannya terlihat bagus. Termasuk pada bagian atas gentong, juga diberi anyaman daun janur tersebut, sehingga terlihat seperti layaknya pada sebuah gubuk yang asri. Dan tentu di tempat itu juga diberi hiasan-hiasan dari janur.
Pada bleketepe tergantung dua buah kelapa gading yang masih muda atau yang disebut dengan istilah cengkir gading. Cengkir gading tersebut kulitnya yang kuning seperti warna gading, diukir gambar Kamajaya dan Dewi Ratih. Kamajaya dan Dewi Ratih adalah perlambang seorang dewa yang sangat tampan dan cantik. Diharapkan nantinya, jika sang bayi lahir, jika laki-laki wajahnya sangat tampan, jika wanita parasnya sangat cantik seperti Kamajaya dan Dewi Ratih.
Gentong yang ada di pojok halaman itu sudah diisi air. Airnya berasal dari tujuh sumber mata air yang dipercaya mempunyai berkah sangat besar. Maka Yudi yang dibantu oleh Bagas, mencari sumber air dari peninggalan para Wali dan Raja di Jawa. Di dalamnya terdapat bunga setaman, yaitu bunga tujuh rupa yang dipilih dengan bau bunga paling harum. Ada bunga mawar, bunga melati, bunga kenanga, bunga kantil serta bunga-bunga lain yang harum dan wangi. Menurut kepercayaan orang Jawa, bunga-bunga yang nanti akan digunakan untuk memandikan Rini diamksudkan agar si bayi yang dikandung oleh Rini, kelak mampu mengharumkan nama orang tua, bangsa dan negara serta agama.
Di atas gentong terdapat siwur, yaitu gayung yang terbuat dari tempurung kelapa dengan gagang dari kayu. Siwur ini terbuat dari kelapa gading. Nanti, siwur ini akan dipakai untuk mengambil air dari gentong, saat memandikan Rini.
Di sebelah kiri gentong terdapat kursi kayu ukiran khas Jepara. Nanti Rini akan duduk di kursi tersebut untuk dimandikan oleh keluarganya. Sedangkang di depan gentong agak maju, terdapat dua kursi ukir yang sama dengan yang akan digunakan untuk mandi. Simbok dan Bapak orang tua Yudi sudah duduk di situ, dengan mengenakan pakaian tradisional. Simbok mengenakan kain jarik dan baju kemben, rambutnya disanggul. Sedangkan Bapak mengenakan kain jarik dan beskap hitam serta memakai blangkon.
Acara mitoni yang pertama pun dimulai. Seorang dukun bayi sudah siap mengatur acaranya. Dukun bayi itu sudah tua. Tentu sudah banyak pengalaman untuk merawat dan mengurus ibu hamil maupun bayi.
"Monggo ..., kita akan mulai sungkeman ...." kata dukun bayi tersebut.
__ADS_1
Ya, sungkeman adalah acara pertama dalam ritual upacara mitoni. Sungkeman dilakukan oleh calon ibu kepada calon ayah dari sang jabang bayi yang masih dalam kandungan. Rini yang sudah didandani dengan mengenakan kemben, melakukan sungkeman kepada Yudi yang duduk di kursi. Rini jongkok di depan Yudi yang duduk di kursi, ia mencium kaki Yudi. Makna dari sungkeman ibu yang hamil kepada calon ayah dari sang jabang bayi adalah mengajarkan menghormat kepada ayahnya kelak.
Para turis bule dari Eropa sudah sibuk memotret maupun memvideokan acara itu. Tentu para tetangga juga ikut menonton. Apalagi acara itu dihadiri turis-turis cukup banyak. Orang-orang justru ingin melihat turis asing itu mennyaksikan acara mitoni.
Setelah itu, Rini dan Yudi melakukan sungkeman kepada kedua orang tuanya. Mereka berjongkok, sungkem atau menyembah kepada Simbok dan Bapak yang sudah duduk di kursi ukir dekat tempat pemandian. Sungkeman dilakukan untuk memohon doa restu agar kehamilan Rini tetap sehat, serta bayi yang dikandung juga sehat dan besok bisa keluar dengan lancar.
Setelah sungkeman, acara puncaknya adalah siraman atau memandikan Rini. Siraman adalah tahap di mana
Rini yang hamil tujuh bulan itu dimandikan oleh keluarganya. Siraman merupakan simbol pembersihan diri, baik
fisik maupun jiwa, dengan maksud tentu untuk membersihkan badan dan jiwa Rini, agar kelak anak yang dikandungnya menjadi anak yang bersih dari segala hal serta berjiwa baik dan selalu menjunjung nilai-nilai kebenaran. Yang memandikan pun berjumlah tujuh orang dari kerabat dekat atau keluarganya, yang dipilih dari orang-orang tua.
Simbok yang diberi kesempatan pertama kali untuk memandikan tubuh Rini. Simbok mengguyurkan tujuh kali siraman air dari siwur yang dipakai untuk mengambil air dari gentong. Selanjutnya Bapak, juga menyiramkan air pada tubuh Rini, mulai dari ujung rambaut, air itu mengalir mengguyur seluruh tubuh Rini. Kemudian Yudi, yang tentu menyiramkan air dengan penuh kemesraan. Seterusnya ada saudara-saudara Bapak dan Simbok yang sengaja datang dari Magelang, untuk ikut memberikan siraman kepada Rini.
Ya, setelah melakukan siraman, acara selanjutnya adalah tradisi pecah telor. Sang dukun bayi sudah menyiapkan pirantinya. Para turis dan teman-teman Yudi serta para tetangga yang ikut menyaksikan langsung mengerubung.
Rini yang masih duduk di kursi tempat mandi tadi, oleh sang dukun bayi kain jarit yang dikenakan Rini dibuka ikatannya. Lantas sang dukun bayi itu memasukkan telur ayam kampung di bagian perut Rini yang sudah mengenakan kain jarik yang tidak kencang lagi. Selanjutnya, Rini menjatuhkan telur yang menempel di perutnya itu, melonggarkan kain jarik, dan menjatuhkan telur yang tadi menempel di perutnya.
"Pyok .... Pyar ...." telur yang jatuh dari perut Rini melintas di kain jarik, langsung pecah.
"Anaknya perempuan ...." teriak ibu-ibu tetangga Yudi.
__ADS_1
"Lhoh ..., kok ...?!" Rini tentu bingung dengan tebakan para tetangga itu.
"Iya ..., itu kalau telur yang keluar langsung pecah, pertanda besok anaknya akan lahir perempuan. Kalau telur yang jatuh tidak pecah, itu anaknya laki-laki. Lha, ini telur yang jatuh dari perut Rini langsung pecah .... Berarti besok si jabang bayi kalau lahir pasti perempuan." kata para tetangganya.
Itulah keyakinan orang kampung. Benar atau tidak, itu urasan Yang Maha Kuasa.
Acara selanjutnya adalah memecah kelapa. Di mana pada acara pecah kelapa ini, penglihatan Yudi ditutup atau diikat dengan selendang, sehingga tidak bisa melihat. Selanjutnya, dengan mata tertutup tersebut Yudi memilih salah satu kelapa gading yang sudah digambari Kamajaya dan Dewi Ratih. Lantas Yudi membelah kelapa itu menjadi dua bagian. Dan ternyata, Yudi mengambil dan memecahkan kelapa gading yang bergambar Dewi Ratih.
"Nah ..., benar kan .... Cengkir gading yang dipecah Yudi juga Dewi Ratih." kata ibu-ibu.
"Oo ..., iya .... berarti anaknya Rini besok perempuan. Pasti cantik seperti ibunya." sahut ibu-ibu yang lain.
Selanjutnya adalah upacara ganti busana, yaitu mengganti kain jarik yang dikenakana oleh Rini saat dimandikan. Tradisi ini dilakukan berganti kain jarik sebanyak tujuh kali. Kain jarik yang digunakan untuk berganti busana pun menggunakan tujuh jenis batik, yaitu batik sidomukti yang melambangkan kebahagiaan, batik sidoluhur yang melambangkan kemuliaan, batik rama yang melambangkan keabadian cinta, batik udan riris yang melambangkan kehadiran bayi yang menyenangkan, batik cakar ayam yang melambangkan kemandirian, batik truntum yang melambangkan kasih sayang terhadap sesama, serta batik sekar jagad yang melambangkan pesona keindahan yang sangat menawan.
Acara yang terakhir dari rankaian adat mitoni ini adalah berjualan es condol dan rujak. Rini dan Yudi berjualan es cendol dan rujak. Di pendopo rumah Yudi sudah disediakan pikulan tempayan tempat es cendol, serta keranjang dunak tempat rujak. Rini dan Yudi menjual es cendol dan rujak tersebut kepada semua para tamu yang ada di situ. Tentu hanya dengan mengenakan uang mainan dari koin tanah liat yang sudah disediakan. Sangat ramai sekali. Orang-orang yang ada di situ berjubel untuk meminum es cendol dan rujak.
Makna dari berjualan es cendol dan rujak ini adalah melambangkan kelak sang anak mendapatkan rezeki yang berlimpah saat berusaha atau bekerja.
Tradisi mitoni pada kehamilan Rini tersebut ditutup dengan acara makan bersama. Para ibu yang sudah menyiapkan masakan di dapur, langsung dikeluarkan di meja pendopo. Tentu Bagas dan para tetangga yang sibuk mengatur makanan tersebut. Semua tamu yang hadir langsung diminta makan bersama. Termasuk para seniman temannya Yudi dari Jogja, serta para turis yang menyaksikan acara mitoni tersebut.
Bagas menyetel musik klasik gending Jawa. Suasana makan bersama tersebut terlihat guyub, enak dan menyenangkan. Bahkan para turis bule itu langsung mengobrol dengan orang-orang yang ada di pendopo tersebut. Itu yang menjadikan keakraban suasana.
__ADS_1
Yudi dan Rini tersenyum gembira. Senang menyambut semua tamu yang datang, yeng tentunya mendoakan keselamatan kepada Yudi dan Rini, mendoakan kesehatan serta kemudahan kelahiran bayinya. Semoga Yang Maha Kuasa senantiasa melindungi Rini dan bayinya.