
Sepeninggal dua teman perempuannya yang nyentrik itu, Yudi menjadi repot. Pasalnya, dua perempuan nyentrik itu sangat jorok. Di kamar penuh puntung rokok berceceran di mana-mana. Bantal dan kasurnya bau rokok semua. Sampai kamar mandi tidak karuan. Betul-betul kotor dan menjijikkan. Wah, sungguh keterlaluan perempuan-perempuan ini. Sangat berbeda dengan Yudi. Jika yang laki-laki saja selalu menjaga kerapian dan kebersihan, tetapi dua perempuan nyentrik itu benar-benar tidak mengenal kata rapi dan bersih. Padahal yang namanya seni itu identik dengan keindahan. Mana ada indahnya orang jorok.
Kebetulan kamar yang digunakan tidur oleh dua perempuan nyrntrik itu adalah kamar yang dulu digunakan oleh Yuna. Tentu Yudi merasa kecewa dan khawatir, kalau Yuna nanti datang lagi ke Jogja, pasti akan tinggal di kamar itu lagi. Padahal saat ditempati Yuna selama satu bulan, kamar itu sangat rapi dan baunya harum. Meski dalam berkesenian, Yuna lebih mapan dan punya penghasilan yang besar. Tetapi Yuna sangat rapi dan bersih. Tidak pakai pakaian yang macam-macam seperti dua wanita teman Yudi waktu kuliah itu. Terus terang Yuna tidak pernah bermake up. Tidak pernah memakai lipstik maupun berdandan dengan berbagai aksesoris. Yuna orangnya sangat bersahaja. Tidak macam-macam. Tetapi justru kelihatan lebih cantik.
Menyaksikan kamar yang berantakan itu, Yudi langsung menyeret seprai dan kain-kain pembungkus bantal, untuk dilaundry. Yudi pun juga menjemur kasur dan bantalnya, serta menyemproti dengan pewangi. Tentu agar tempat tidur itu menjadi bersih dan wangi. Demikian juga kamar itu, Yudi membersihkan total. Lantas juga menyemprotkan pewangi dalam kamar. Yudi tidak ingin kamar itu kotor maupun berbau tidak sedap. Setidaknya jika nanti Yuna kembali, maka kamar itu sudah siap untuk ditempati oleh orang yang akan mewujudkan impiannya.
Menata dan merapikan kamar itu, Yudi kembali teringat pada Yuna. Dua kali Yudi merebahkan tubuh ayu di atas tempat tidur itu. Yang pertama saat Yuna tertidur karena kecapaian bekerja. Yudi membopong dari pendopo sampai di kasur itu. Lantas membenarkan tubuh gadis cantik itu dan menutupi dengan selimut. Yang kedua, saat Yuna memanja minta digendong dari pendopo depan hingga masuk kamar dan merebahkannya di tempat tidur. Lantas wanita cantik yang hanya mengenakan sweater rajut itu menarik kepala Yudi dan menciumnya. Yudi yang kala itu menyaksikan kemulusan tubuh Yuna, tentu perasaannya melayang ke mana-mana. Tetapi Yudi teguh, untuk menjaga kesucian wanita itu.
Yudi menjadi kangen dengan gadis empat puluh tahun yang masih cantik layaknya gadis dua puluh tahun itu. Yudi menjadi Rindu. Rindu dengan cueknya, rindu dengan kerja kerasnya, rindu dengan karya-karyanya yang bagus. Dan tentu Yudi rindu dengan cinta yang pernah ditawarkan oleh Yuna.
Yudi teringat pada malam terakhir bersama Yuna. Yuna yang menyanyikan lagu Kokoro no tomo, Yudi yang memainkan gitar, mereka menyanyi dengan penuh perasaan. Seakan Yuna tidak ingin berpisah, ingin hidup bersama dengan Yudi. Yudi pun sempat menanyakan cinta kepada Yuna. Rupanya dua manusia dewasa yang masih lajang itu saling membuka hati dan saling berkeinginan untuk mengisi.
Yudi teringat saat berdua mengelilingi Borobudur, Yuna menanyakan relief cinta untuk dirinya yang ada di dalam hati Yudi. Kala itu Yudi tidak menjawab secara terus terang, hanya mengkiaskan cinta yang diberikan oleh Raja Jataka dan Ratu Kinari, yaitu ketulusan cinta yang dilandasi dengan kasih sayang, bukan nafsu semata. Tentu Yuna bisa menerima cinta yang berlandaskan kasih sayang itu dari Yudi, meski Yudi belum memberikan sepenuhnya. Maklum kala itu Yudi masih terbayang-bayang wajah Rini.
Yudi ingat betul kala dia menanyakan kesediaan Yuna untuk memberikan ruang dalam hatinya sebagai tempat mengukir relief cinta, Yuna tidak menjawab secara langsung, tetapi Yuna mengatakan, saat di Jepang ia tidak berkeinginan untuk menikah, tetapi di Jogja rasa itu berubah, ia berniat ingin membangun rumah tangga, tapi tentu dengan Yudi. Lantas pada malam terakhir sebelum Yuna pulang ke Jepang, Yuna menyerahkan seluruh hidupnya untuk Yudi. Yuna ingin Yudi membahagiakan dirinya. Dan malam terakhir itu pun, Yuna tidur bersama Yudi, Walau Yudi hanya menemani sang gadis yang malam itu ingin dimanjakan. Akhirnya pun malam itu, Yuna tertidur dalam pelukan Yudi, dan Yudi pun tertidur sambil memeluk Yuna.
Tapi setelah itu, sudah tiga minggu lebih, Yuna belum berkirim kabar sama sekali. Tentu jika mengingat kenangan-kenangan manis itu, Yudi jadi kangen. Yudi jadi Rindu.
"Yuna, bagaimana kabarmu di Jepang? Adakah dirimu masih ingat pada diriku? Tahukah kamu, aku yang di sini sangat merindukanmu, Yuna ...." Yudi mengguman sendiri, sambil memeluk guling yang biasa dipakai Yuna.
Ingin rasanya Yudi menelepon Yuna. Tetapi berkali-kali ia mengambil HP, tidak juga berani menelepon. Takut mengganggu pekerjaan Yuna. Mungkin saja Yudi bisa mengirim pesan lewat WA. Tetapi juga takut mengganggu. Yudi sangat menghormati cara kerja orang Jepang yang serius dan tidak mau diganggu.
"Kriiiing .... Kriiiing ...." tiba-tiba telepon Yudi berdering.
Yudi bergegas mengambil HP dan mengamati telepon yang masuk.
"Ach .... Ternyata Rini. Ada apa lagi perempuan tua ini?" gumam Yudi saat melihat nama yang memanggil.
Tentu Yudi kecewa, saat yang diharapkan Yuna, yang memanggil malah Rini. Walau demikian, ia tidak ingin menyakiti hati Rini, apalagi Rini masih dalam kondisi sakit. Lantas ia mengangkat teleponnya.
"Halo, Rini .... Bagaimana kabarmu? Sudah sehat?" kata Yudi saat mengangkat telepon.
"Iya, Yudi .... Terima kasih sudah memberikan motivasi padaku. Alhamdulillah saya sudah baik, dan ini sudah di rumah. Terima kasih juga sudah memijitin aku seharian .... Hehe ....." jawab Rini dari Jakarta.
__ADS_1
"Syukurlah ...." jawab Yudi.
"Yudi ..., dirimu baik-baik saja, kan?" tanya Rini.
"Iya, Rini ..., saya baik-baik saja. Memangnya ada apa?" tanya Yudi balik.
"Aah ..., cuma tanya. Soalnya gini, Yud .... semalam aku bermimpi, Yudi nikahan .... Hehe .... Senang rasanya hatiku menyaksikan dirimu di pelaminan." kata Rini, yang sebenarnya hanya pura-pura untuk memulai cerita.
"Hah ...?! Kamu ada-ada saja, Rin .... Nikah sama kamu, ya?" sahut Yudi yang kurang senang.
"Ih, nggak, lah .... Kan aku sudah punya suami." balas Rini.
"Lhah, terus sama siapa? Masa nikah sendirian? Mestinya sama kamu itu, Rin ...." balas Yudi selanjutnya.
"Ada, deh .... Pokoknya aku senang." sahut Rini lagi.
"Gak lucu ...." balas Yudi sekenanya.
"Eh, Yud ..., kalau kabar Yuna, bagaimana?" tanya Rini lagi, yang ingin memancing Yudi.
"Tidak balik ke Jogja lagi?" tanya Rini.
"Belum tahu, Rini .... Kalau usulannya di setujui, dia akan ke Jogja lagi untuk mengerjakan proyeknya. Tapi kalau usulannya tidak disetujui ya tidak kembali ke Jogja." jawab Yudi.
"Oo .... Gitu ya? Aku doakan semoga usulannya disetujui, biar Yuna bisa datang lagi ke Jogja." sahut Rini, padahal sebenarnya ia berharap Yuna tidak akan kembali lagi ke Jogja. Tentu Yudi tidak jadi hidup bersama Yuna.
"Terima kasih, Rini." sahut Yudi.
"Eh, Yudi ..., semalam saya itu bermimpi, kamu menikah dengan Yuna, lho ...." kata Rini, kembali memancing perasaan Yudi. Padahal itu hanya pura-pura.
"Aah ..., Rini kebanyakan tidur kali. Kalaupun menikah, aku maunya sama Rini ..., tahu!" sahut Yudi memaksa Rini untuk berfikir lagi.
"Tidak, ya .... Jangan begitu, Yud .... Khawatir kalau didengar Mas Hamdan. Tapi aku senang, kok .... Saya gembira melihat Yudi menikah dengan Yuna ...." sahut Rini.
__ADS_1
"Itu kan cuma mimpi .... Bukan beneran. Coba kalau beneran, Yudi ..., aku cemburu melihat kamu .... Begitu, kan." kata Yudi yang mengejek Rini..
"Tidak, Yudi. Benar. Yudi ..., terus terang aku merasa kasihan denganmu, aku merasa bersalah. Jika Yudi mau, aku rela Yudi menikah dengan Yuna, kok. Bener, Yud." kata Rini pada Yudi untuk meyakinkan.
"Apa bukannya sebaliknya? Rini cemburu kalau saya berdekatan dengan Yuna .... Hehe ...." sahut Yudi.
"Iih, Yudi .... Kamu kok sukanya nebak-nebak, sih ...." sahut Rini yang langsung sewot. Padahal itu memang benar adanya. Jangankan sampai menikah, baru didekati saja sudah cemburu.
"Tapi benar, kan ...?" tanya Yudi.
"Iya, sih .... Hehe .... Tapi, Yud, ini aku sungguh-sungguh, keluar dari lubuk hatiku yang paling dalam, jika Yudi mau menikah dengan Yuna, aku akan membiayai semua kebutuhan nikahmu. Itu nadarku. Janjiku. Yakin, Yudi." kata Rini menegaskan ucapannya.
"Rini ..., kamu kok begitu, sih ...?" Yudi merasa bingung. Ucapan Rini ini suatu jebakan atau sungguh-sungguh.
"Yudi ..., percayalah pada dambaan hatimu ini, Yud. Aku bersungguh-sungguh. Aku ingin menebus kesalahanku padamu." kata Rini lagi.
"Rini, kamu tahu kan, saya ini sudah tua .... Sudah tidak pantas menikah. Apalagi dengan Yuna gadis dari Jepang, yang belum tentu mau, Rini .... Tolong Rini jangan macam-macam, deh. Aku malu, Rin." kilah Yudi.
"Besok kalau Yuna balik ke Jogja, biar aku sama Mas Hamdan yang melamar. Jangan khawatir, Yudi. Serahkan semua pada kami, Yuna akan langsung aku bawa ke penghulu." sahut Rini lagi.
"Ih, Rini ...." Yudi jadi bingung.
"Tenang, Yudi ..., kamu tidak usah khawatir. Semua yang menanggung kami." kata Rini meyakinkan.
"Terserah kamu lah, Rin .... Aku sudah tidak sanggup berfikir lagi." Kata Yudi pasrah.
"Nah, begitu, Yudi .... Terus terang aku pengin kamu hidup bahagia. Bukan hanya keluargaku yang kamu bahagiakan. Tetapi kami juga pengin membantumu untuk bisa bahagia." jelas Rini.
"Rini ..., jika nanti aku merindukanmu, apakah masih diijinkan?" tanya Yudi yang penuh belas kasihan.
"Yudi ..., kan katamu sendiri bahwa cinta itu tidak harus memiliki, cinta tidak harus menjadi satu. Aku pun akan tetap merindukanmu, Yudi ...." kata Rini yang penuh harap pada Yudi. Dan rasa rindu itu kembali muncul dari hati Rini. Rindu untuk dibelai, rindu untuk ditunggu saat sakit, dan rindu dipijat agar badannya menjadi enak.
Bagi Yudi, tentu kata-kata Rini ini sangat aneh. Baru kali ini Yudi melihat ucapan-ucapan aneh dari Rini, wanita tempat menaruh hati. Tidak seperti dulu yang selalu ingin menguasai Yudi, yang selalu cemburu pada setiap wanita yang mendekat pada Yudi. Tapi kali ini, Rini justru akan melamarkan Yuna untuk bisa menikah dengan Yudi. Kok aneh?! Jika memang itu benar, tentu Yudi akan senang bisa dilamarkan Yuna. Tetapi jika ini hanya halusinasi Rini, akan lebih berantakan hidupnya Yudi.
__ADS_1
Yudi pasrah. Seperti dulu-dulu, jika berhadapan dengan Rini, Yudi selalu mengalah, tidak mau berdebat, apalagi melawan. Kekasih yang selalu memaksa. Pujaan hati yang sudah menyiksa. Biarlah waktu yang akan menjadi saksi.