
Yudi membawa HP Bagas ke ruangnya. Dia akan memindah rekaman ke komputernya. Sebelum melakukan pemindahan data, Yudi mengamati ruangannya. Karena ia yakin, kalau Yuna pasti berganti pakaian lebih dahulu sebelum dibawa pergi oleh orang-orang yang datang dari Jepang. Maka Yudi mencoba mencari, kemungkinan adanya pesan yang ditinggal oleh istrinya.
Beberapa saat Yudi meneliti ruangannya, semua masih utuh. Tidak ada yang berubah, tidak ada yang hilang. Lantas Yudi menuju ke meja kerjanya. Tas Yuna yang ada di selorok meja masih ada. Posisinya juga tidak berubah. Demikian juga tas kecil, semacam dompet agak besar dan terbuat dari kulit khas Malioboro, juga masih tetap di tempatnya.
Selanjutnya Yudi mengamati koper besar milik Yuna yang ada di samping lemari pakaian. Koper itu masih utuh. Tidak berubah posisinya. Kemudian, Yudi membuka lemari pakaian. Ada hanger gantungan baju yang sudah kosong masih tergantung di lemari. Artinya Yuna sudah mengenakan pakaiannya. Berarti pakaian ini yang dipakai istrinya. Ya, baju blazer kerja, yang ia bawa waktu datang dari Jepang. Apa Yuna disuruh kembali bekerja di Jepang? Tanda tanya dalam pikiran Yudi.
Yudi duduk di meja kerja. Seperti tujuan utamanya, akan memindah data rekaman yang ada di HP Bagas. Lantas ia menyalakan lampu belajar untuk menerangi meja kerjanya. Selanjutnya Yudi menarik selorok meja kerjanya, kembali mengambil dompet milik Yuna. Yudi membuka dompet itu. Isinya masih utuh. Beberapa lembar uang dalam bentuk Yen maupun Rupiah, masih ada. Hanya paspor yang tidak ada. Berarti Yuna hanya diizinkan mengambil paspor. Tentu ini karena terkait identitas perjalanan.
Yudi terdiam. Pikirannya melayang. Ada apa ini sebenarnya. Bingung, tidak tahu apa yang terjadi pada istrinya.
"Sudah, Mas ...?!" terdengar suara Bagas menanyakan kepada Yudi.
Yudi kaget. Tersadar kalau dirinya sudah beberapa saat melamun. Tentu membayangkan kekhawatiran dengan keadaan istrinya.
"Eh, iya .... Sebentar ...." sahut Yudi dari dalam ruangannya.
Yudi langsung membuka laptop. Mencari kabel data. Lantas menghubungkan file rekaman yang ada di HP Bagas, dipindah ke laptop. Tidak hanya di simpan di laptop, tetapi Yudi juga menyimpan dalam drive dan di flashdisc. Tentu untuk antisipasi agar data rekaman itu tidak hilang.
Setelah menyimpan data, Yudi kembali membuka rekaman melalui laptopnya. Ia ingin meyakinkan, orang-orang yang membawa Yuna. Yudi mengamati rekaman itu secara saksama. Beberapa saat dihentikan, untuk memastikan penglihatannya. Tetapi sangat asing dengan dua laki-laki yang memaksa istrinya untuk ikut pergi. Belum kenal sama sekali. Bahkan dari pakaiannya, Yudi juga tidak mengetahui seragam apa yang dikenakan.
Demikian juga dengan bahasa yang digunakan saat bicara dengan Yuna. Meski bahasa yang digunakan adalah bahasa Jepang, namun karena itu dilakukan saat percekcokan, percakapan itu terlalu cepat. Sangat sulit untuk dipahami oleh Yudi. Meskipun ada beberapa yang bisa dimengerti.
"Sudah selesai, Mas ...?!" Bagas bertanya lagi.
"Sudah ...! Ini, HP-nya ...." sahut Yudi.
Bagas mengambil HP yang sudah dipindah datanya oleh Yudi.
"Kok lama to, Mas ...?" tanya Bagas.
"Iya, saya simpan di beberapa tempat. Kalau ada yang terhapus, masih punya file yang lain. Biar aman. Masalahnya ini bukti, Gas ...." jelas Yudi, yang sebenarnya hanya sebagai alasan saja.
"Walah, Mas Yudi ini memang cerdas ...." sahut Bagas.
"Besok ikut saya ke Jakarta, ya ...." kata Yudi mengajak Bagas.
"Ada apa, Mas? Kalau diajak menemui Ibu Rini, saya tidak mau." sahut Bagas yang antisipasi dengan ajakan Yudi.
__ADS_1
"Kok malah nyebut Ibu Rini .... Antar saya ke kantor kedutaan. Mau menanyakan nasib Yuna." jelas Yudi.
"Oo .... Saya kira .... Ya, Mas .... Siap. Berangkat jam berapa?" tanya Bagas.
"Kita naik kereta malam. Sampai Jakarta pagi, langsung ke kantor kedutaan. Sorenya pulang, naik kereta malam balik ke Jogja. Sampai Jogja pagi hari." jelas Yudi.
"Saya bawa apa saja, Mas?" tanya Bagas yang tentu bingung akan diajak masuk kedutaan.
"Yang penting bawa KTP. Pakaian ganti, mengenakan baju batik yang bagus. Kita bertamu di kedutaan Jepang. Pakai sepatu, jangan sandal jepit. Setidaknya kita menghormati diri sendiri." jelas Yudi pada Bagas.
"Siap, Mas Yudi ...." jawab Bagas.
*******
Di Jalan M.H. Thamrin, Jakarta. Jam delapan pagi, Yudi bersama Bagas mendatangi Gedung Konsuler Kedutaan Besar Jepang yang ada di Jakarta, untuk daerah pelayanan Yogyakarta. Cukup lama Yudi berkomunikasi dengan petugas bagian keamanan di gerbang depan. Tentu harus melengkapi prosedur kedatangan di Kantor Kedutaan Besar.
Setelah petugas keamanan menyampaikan maksud tujuan kedatangan Yudi, kepada pihak administratur dan protokoler. Akhirnya Yudi disetujui masuk sekitar jam sembilan. Hanya Yudi sendiri yang diizinkan masuk. Sedangkan Bagas tidak boleh ikut masuk. Tidak masalah. Yang penting Yudi bisa bertemu dengan Konsuler. Sementara menunggu Yudi, Bagas hanya boleh duduk di ruang tunggu yang ada di dekat bagian keamanan.
Tanpa ragu, Yudi langsung masuk ke ruang Konsuler, dengan diantar oleh petugas protokoler. Setelah dibukakan pintu, Yudi membungkukkan badan, sebagai tanda menghormat. Ada seorang laki-laki yang duduk di kursi di balik meja kerja yang besar. Laki-laki dewasa dari Jepang, yang mengenakan setelan jas lengkap, dan terlihat rapi. Rambut dengan pomade yang disisir ke samping, khas gaya pejabat Jepang.
Pejabat yang tadi duduk, kini berdiri, juga membungkukkan badan, tanda ikut menghormati tamunya. Tentu bukan orang Jepang, karena mengenakan batik khas Indonesia.
"Ohayogozaimasu. O suwari kudasai." kata si pejabat itu, mempersilakan Yudi untuk duduk.
"Sumimasen, Watashinonamaeha yudidesu, Jogujakaruta kara." kata Yudi memperkenalkan diri.
"Oow ..., dari Yogyakarta. Sesuai dengan kain batiknya. Jangan khawatir, saya sudah bisa bahasa Indonesia. Saya sudah lima tahun di Jakarta. Saya juga pernah beberapa kali ke Yogyakarta, kota yang menarik." jawab pejabat konsuler tersebut.
"Maaf, Bapak .... Saya asli dari Yogyakarta, istri saya berasal dari Kyoto, Jepang. Namanya Yuna." kata Yudi membuka percakapan.
"Apa ...?! Jadi Anda ini laki-laki hebat yang bernama Yudi ...?!" sang pejabat konsuler itu bangkit berdiri dan langsung menyalami Yudi sambil menepuk-tepuk pundak Yudi.
Yudi tentu heran, ada apa dengan dirinya. Mengapa begitu tahu nama Yudi, pejabat itu seakan langsung terkejut dan menghormatinya.
"Tuan Yudi ..., Anda laki-laki hebat. Terima kasih sudah membantu membenahi Gua Jepang di Yogyakarta. Terima kasih pula sudah ditanam bunga-bunga sakura. Anda orang luar biasa, Tuan Yudi. Adakah rencana Anda untuk tinggal di Jepang?" tanya sang pejabat konsuler.
"Terima kasih, Tuan .... Jangan menyanjung kami terlalu tinggi, nanti akan sakit jika saya jatuh. Saya hanya orang biasa, Tuan." kata Yudi yang malu disanjung.
__ADS_1
"Ah, Tuan Yudi terlalu merendah. Ada yang bisa saya bantu?" tanya sang konsuler.
"Maaf, Tuan .... Hari ini saya datang ke kedutaan, karena ada masalah dengan Yuna, istri saya." kata Yudi perlahan.
"Masalah ...? Masalah apa?" tanya pejabat konsuler.
"Kemarin ada tamu dari Jepang. Istri saya yang dicari. Mereka ketemu Yuna. Tetapi Yuna dibawa pergi secara paksa. Apakah itu sepengetahuan dari pihak kedutaan? Siapa mereka? Dan sekarang, Yuna ada di mana?" tanya Yudi.
"Maaf, Tuan Yudi. Kami tidak tahu. Tidak ada laporan pejabat datang ke Indonesia. Dan tentu kami tidak bisa memastikan istri Tuan Yudi ada di mana. Apakah Tuan Yudi tahu ciri-ciri tamu yang datang membawa Nyonya Yuna?" tanya pejabat konsuler.
"Tuan, saya membawa rekaman percakapannya. Isinya, Yuna dipaksa harus pulang ke Jepang. Padahal kami masih pengantin baru, bulan madu belum selesai. Apakah Tuan bisa membantu saya?" kata Yudi yang langsung mengeluarkan flashdisc, dan menyodorkan kepada konsuler itu.
"Boleh saya buka?" tanya si pejabat konsuler.
"Silakan." kata Yudi yang ingin segera tahu, siapa mereka sebenarnya.
Lalu, Pejabat Konsuler itu memasukkan flasdisc dalam komputer. Kemudian membuka file video yang diberikan Yudi. Yudi ikut melongok melihat video itu lagi. Sang Pejabat Konsuler mengamati dengan saksama. Bukan sekadar mendengarkan kata-kata yang diperdebatkan, tetapi pejabat itu juga mengamati pakaian yang dikenakan oleh orang-orang yang menjemput Yuna. Cukup lama pejabat itu mengamati rekaman video. Bahkan beberapa kali mengulang bagian-bagian tertentu.
"Ada rekaman yang lain? Mungkin yang bagian awal atau yang bagian akhir?" tanya sang pejabat tersebut.
"Tidak ada, Tuan. Hanya ini bukti rekamannya." jawab Yudi.
"Pasti mereka tidak datang melalui protokoler kedutaan." kata sang pejabat yang sudah mengamati rekaman itu.
"Memang ini rahasia?" tanya Yudi.
"Saya tidak berani menyampaikan kepada Tuan Yudi. Ini urusan negara. Saya tidak tahu tempat pasti di Jepang, di mana sekarang istri Tuan Yudi dibawa. Tetapi memang ada hal yang urgen." kata sang pejabat tersebut.
"Apakah ini semacam penculikan orang?" tanya Yudi.
"Bukan. Jangan katakan seperti itu. Saya hanya mau katakan kepada Tuan Yudi, bahwa istri Tuan, itu orang penting yang dilindungi oleh negara. Dia aset bangsa kami." jelas pejabat itu.
"Lalu, bagaimana dengan pernikahan kami?" tanya Yudi lagi.
"Berangkatlah ke Jepang sesegera mungkin. Temui orang tua atau keluarga istri Anda. Semoga Tuan Yudi masih bisa bertemu dengan istri Anda." kata sang pejabat konsuler tersebut.
"Berangkat ke Jepang? Segera? Agar masih bisa ketemu?" gumam Yudi yang tentu sangat khawatir.
__ADS_1