KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 177: BERITA KEPADA KAWAN


__ADS_3

    Rini benar-benar terguncang dengan kematian suaminya. Makanya, saat diberi tahu kalau suaminya meninggal, yang dihubungi pertama kali adalah Silvy, anak perempuannya. Meminta agar anaknya segera menelepon Yayan suaminya, untuk segera mengurus semua administrasi rumah sakit, serta membawa pulang jenazah bapaknya. Lantas yang kedua dihubungi adalah Alex, sahabat karibnya yang tinggal di Tangerang. Cukup dekat untuk ke Jakarta. Rini tidak menghubungi siapa-siapa lagi. Tentu karena kacaunya pikiran dia, serta sekujur badan yang sangat letih. Bahkan tangispun sudah tidak lagi mampu mengeluarkan air mata.


    Silvy dan Yayan memang sangat sigap. Dua anak ini memang cerdas dan pintar. Maka dengan cepat, Silvy dan Yayan langsung menghubungi semua relasi bapaknya, serta saudara-saudara dekatnya. Makanya yang datang melayat ke kematian Hamdan sangat banyak. Termasuk hampir seluruh karyawan di perusahaan dahulu tempat Hamdan bekerja.


    Silvy yang paham seluruh saudara dan kerabat dari ayah dan ibunya, ia pun mengabarkan kematian ayahnya kepada semua saudara-saudaranya. Bahkan Silvy sudah mengabarkan berita itu saat Hamdan masih tak sadarkan diri dirawat di rumah sakit. Ya, meskipun Silvy hanya anak angkat dari Hamdan, tetapi rasa persaudaraan itu sangat kuat. Memang, meski anak angkat, Silvy masih anak dari saudara keluarga Hamdan sendiri. Jadi, semuanya tetap masih saudara seketurunan. Makanya, begitu Silvy menulis pesan di WA grup keluarga, semua saudaranya langsung merespon dan saling memberitahu saudara-saudara yang lain. Bahkan ada juga tetangga dari kampung yang ikut melayat ke rumah Hamdan.


    Demikian juga Yayan. Ia langsung menghubungi keluarganya. Terutama ayah dan ibunya, yang otomatis adalah besan keluarga Hamdan dan Rini. Maka, ayah dan ibunya Yayan juga datang melayat dan ikut mengantar jenazah Hamdan ke pemakaman sampai selesai. Bahkan Ayah dan Ibu Yayan masih tinggal di rumah besannya itu, tentu untuk memberi motivasi kepada Rini dan anaknya.


    Begitu menerima telepon dari Rini, seperti tidak percaya, Alex bertanya keras dan membentak. Tapi faktanya, kata-kata Rini itu benar adanya. Alex langsung lemas. Tidak sanggup untuk menjawab kata-kata Rini. Tentu karena Alex sudah kenal dengan Hamdan, suami sahabatnya itu. Bahkan Alex juga pernah mendapat proyek dari perusahaan Hamdan.


    Alex langsung menyampaikan berita kematian suami Rini di WA grup alumni SMA.


    "Berita duka: telah meninggal dunia, suami dari teman kita tercinta Rini. Mohon dimaafkan atas segala salah dan dosa, dan mohon didoakan agar Bapak Hamdan diterima di sisi-Nya, istri dan anak yang ditinggalkan tabah dan ikhlas. Amin. Silakan teman-teman yang bisa melayat ke rumah Rini, kita bersama-sama memberi penghiburan kepada teman kita tercinta Rini dan keluarganya." begitu chat dalam grup WA alumni SMA yang ditulis oleh Alex.


    "Inalillahi .... Semoga Pak Hamdan, suami Rini, husnul khotimah ...." balasan chat dari teman alumni.


    "Masyaallah .... Ya ampun Rini .... Yang tabah, ya Rini .... Semoga almarhum mendapat tempat yang indah di sisiNya. Amin, YRA." chat yang lain muncul.


    "Ya ampun, Rini .... Mas Hamdan kenapa? Sakit apa?" tanya teman lainnya lagi.


    "Lhoh, katanya baru pulang dari Jerman ..., kok malah meninggal? Sakit, ya?" tanya teman yang lain.


    "Kasihan Rini ...." tambah chat dari lainnya lagi.


    "Iya, ya .... Padahal Rini masih cantik .... Yang tabah ya, Rin ...." timpal yang lain.


    "Suaminya Rini sakit apa?" tanya yang lain lagi.


    "Katanya tidak sadar seminggu lebih di rumah sakit. Itu kata Rini saat telepon saya." jawab Alex.


    "Ya ampun, Rini .... Kasihan sekali ...." sahut yang lain.


    "Terus, ini siapa saja yang mau melayat ke rumah Rini?" tanya Anik, yang tentu ingin melayat ke Jakarta. Pekalongan ke Jakarta tidak terlalu jauh, hanya empat jam naik kereta.


    "Ayo yang mau ikut berangkat ke Jakarta ngelist ...." ajakan yang lain untuk mendata teman-teman yang mau ikut melayat.


    "Aku ikut .... Anik, satu orang." chat Anik yang langsung akan berangkat.

__ADS_1


    "Alex, satu orang. Maaf istri saya ada pekerjaan. Ini saya langsung menuju rumah Rini." chat dari Alex, yang tentu akan melayat, karena Rini adalah sahabatnya.


    "Jojon, satu orang, langsung berangkat." chat dari Jojon yang juga bilang langsung berangkat.


    Berikutnya, chat di WA grup dari teman-teman alumni terus bergantian. Tentu banyak yang ikut berangkat melayat, tetapi banyak juga yang tidak bisa ikut karena rumah yang jauh dari jakarta. Namun yang perlu diingat adalah, dengan adanya WA grup alumni ini, teman-teman seangkatan bisa akrab dan saling memberi informasi. Paling tidak bisa saling membantu memberi tahu.


*******


    Alex sudah datang sebelum upacara pemakaman dimulai. Tetapi peti mati sudah ditutup. Pelayat masih sangat banyak. Mobil ambulan yang akan membawa jenasah sudah siap di depan pintu pagar. Sebentar lagi upacara pemakaman dimulai. Alex untuk sementara baru menyalami Yayan dan keluarganya yang ada di depan rumah. Yayan paham dengan Alex. Sudah beberapa kali bertemu. Terutama saat berkumpul bersama di Kampung Nirwana.


    "Ikut berbela sungkawa, Mas Yayan ...." kata Alex saat menyalami Yayan.


    "Terima kasih, Om Alex .... Itu Ibu ada di dalam." kata Yayan, sambil menunjukkan ibu mertuanya.


    "Nanti saja, biar upacara pemakamannya selesai dahulu." sahut Alex yang kemudian berdiri menepi.


    Pemakaman sudah siap. Empat orang laki-laki, petugas dari yayasan kematian mengangkat peti, menggotong dan memasukkan ke dalam mobil ambulan. Alex melihat Rini dipapah oleh beberapa ibu, dibantu untuk masuk ke mobil ambulan, ikut ke tempat pemakaman. Rini seakan tidak kuat berjalan. Bahkan terlihat akan pingsan. Makanya dibantu ibu-ibu. Alex yang sigap, langsung membantu memapah Rini.


    "Alex .... Huk ..., huk ..., huk ...." Rini yang tahu ada Alex yang ikut memapah, tangannya langsung memegang erat lengan Alex, dan menangis lagi.


    "Yang sabar, Rini .... Relakan dan ikhlas .... Biar Pak Hamdan tenang di alam baka." kata Alex menghibur sahabatnya.


    "Uuwiiiiingng ....!!!" suara sirene ambulan berbunyi keras. Mobil jenazah berangkat menuju pemakaman.


    Para pelayat yang ikut ke tempat pemakaman, sudah disediakan bus takziah. Alex ikut naik bus. Karena nanti setelah dari makam, tentu akan menemui Rini lagi, untuk memberi penghiburan. Tentu Alex sudah posting di WA grup Alumni, agar teman-temannya tahu. Selain itu, banyak juga yang membawa mobil pribadi sendiri-sendiri, yang nanti setelah selesai pemakaman lebih mudah untuk langsung pulang.


*******


    Pemakaman sudah selesai. Para pelayat sudah pada pulang. Di rumah Rini masih banyak orang, tetapi hanya di dalam rumah. Mang Udel sudah menata kembali kursi ruang tamu. Bahkan menambah kursi dari ruang keluarga dan kursi dari persewaan deklit.


    Sementara tukang tenda, sudah membongkar tenda dan kursi yang ada di jalan. Tentu tujuannya agar tidak mengganggu lalu lintas warga. Maklum di Jakarta beda dengan di kampung pedesaan. Namun tenda yang ada di halaman rumah Rini, masih terpasang. Kursinya juga masih tertata. Yayan minta demikian, agar kalau masih ada tamu yang takziah, masih ada tempat yang nyaman.


    Rini sudah lumayan keadaannya. Bisa duduk tenang di ruang tamu. Alex duduk mendekati Rini. Tentu sambil menunggu teman yang lain, Alex mengajak berbincang Rini.


    "Maaf, Rini ..., Yudi sudah kamu kasih tahu?" tanya Alex pada Rini.


    "Ya ampun, Alex ..., aku lupa ...." sahut Rini yang baru teringat kalau Yudi tidak punya HP. Lantas Rini memanggil anaknya, "Silvy ....!" begitu panggilnya.

__ADS_1


    "Iya, Mah .... Ada apa?" sahut Silvy yang langsung menghampiri ibunya.


    "Mamah lupa, belum kasih kabar ke Papah Yudi .... Tolong telepon Mas Bagas akar mengabari Papah Yudi." kata Rini kepada anaknya.


    "Ya ampun, Mah .... Silvy juga lupa. Iya, Mah ...." sahut Silvy yang langsung mengambil HP. Menelepon Bagas. Silvy menekan tombol handsfree, agar ibunya bisa ikut mendengar.


    "Halo .... Selamat siang ...." Bagas memberi salam di telepon.


    "Halo, Mas Bagas .... Ini Silvy, putrinya Ibu Rini ...." balas Silvy menjawab salam Bagas.


    "Ya, Neng Silvy .... Ada apa, ya ...?" tanya Bagas.


    "Halo, Mas Bagas .... Apa Papah Yudi ada?" tanya Silvy.


    "Waduh .... Mas Yudi nya tidak ada ..., Neng .... Ada apa, ya?" jawab Bagas.


    "Ini kami mau kasih kabar, Papah Hamdan, meninggal dunia." kata Silvy memberi tahu.


    "Innalillahi .... Ya ampun, Neng .... Saya ikut berbela sungkawa, ya .... Semoga Pak Hamdan dilapangkan kuburnya, mendapat surga disisi-Nya." sahut Bagas yang tentu kaget mendengar berita itu.


    "Iya, Mas Bagas .... Tolong sampaikan ke Papah Yudi, ya .... Ini teman-teman Mamah juga sudah pada datang ke Jakarta." kata Silvy.


    "Waduh ..., Neng Silvy, ini Mas Yudi sedang mencari Mbak Yuna ...." sahut Bagas menjawab Silvy.


    "Memangnya Mis Yuna ke mana?" tanya Silvy.


    "Mbak Yuna diculik orang, Neng .... Ini Mas Yudi mencari ke Jepang sejak kemarin." jawab Bagas.


    "Apa ...?!" Rini yang mendengar percakapan antara Silvy dan Bagas langsung kaget. Ia meminta HP anaknya, lantas bicara langsung dengan Bagas.


    "Halo, Mas Bagas .... Ini Ibu Rini .... Yuna kenapa? Ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Rini yang tentu ikut khawatir.


    "Maaf, Ibu Rini .... Mbak Yuna tiga hari yang lalu, hari Senin, didatangi tamu dari Jepang. Tetapi ternyata tamu itu membawa secara paksa Mbak Yuna. Istilahnya diculik, Bu .... Mas Yudi sudah tanya ke kedutaan, tapi disuruh cepat-cepat ke Jepang. Makanya kemarin Mas Yudi sudah berangkat ke Jepang, mencari Mbak Yuna." jelas Bagas pada Rini.


    Lagi-lagi, Rini sok. Langsung lemas. HP dikembalikan ke anaknya.


    Alex yang ikut mendengar suara telepon itu, tentu juga kaget. Ada masalah apa lagi ini. Malang betul nasib Yudi.

__ADS_1


    "Ibu, ini ada teh hangat. Diminum dahulu, biar tenaganya pulih." kata Mak Mun yang menyuguhkan teh hangat kepada Rini dan Alex.


    Rini menyeruput teh hangat bikinan Mak Mun. Lumayan, tubuhnya bisa sedikit segar.


__ADS_2