
Di Jakarta, Rini semakin gelisah. Sudah seminggu lebih suaminya, Hamdan, belum juga sadar. Berkali-kali polisi datang mengamati perkembangan Hamdan. Berkali-kali, petugas kepolisian menemui Rini. Tentu menanyakan perkembangan suaminya. Tentu Rini sedih. Tidak hanya memikirkan suaminya yang masih tergeletak dan belum sadar. Tetapi juga sudah sangat lelah tidur di rumah sakit setiap hari. Ingin rasanya meninggalkan suaminya, untuk pulang ke rumah, hanya sekadar ingin merebahkan dirinya di kamar. Tetapi khawatir, kalau-kalau dipanggil oleh perawat, dokter atau pihak rumah sakit. Maka, meski capai, lelah dan sangat sedih, Rini tetap menguatkan dirinya untuk menjaga suaminya.
Pada jam besuk, pagi itu, suasana rumah sakit cukup ramai oleh para orang yang berkunjung, membesuk keluarganya yang sakit. Dan pasti tidak sedikit para tetangga, teman atau sahabat yang juga berdatangan untuk membesuk.
Tetapi untuk ruang ICU, tidak semua pengunjung boleh masuk. Kalaupun ingin membesuk, biasanya hanya dibolehkan masuk satu persatu, secara bergantian. Tentu hal itu dilakukan demi menjaga kenyamanan pasien yang ada di dalam ruang ICU. Bahkan ada juga pasien yang tidak boleh dibesuk karena kondisi tertentu.
Rini masuk ke ruang ICU. Tentu untuk melihat kondisi suaminya. Karena walaupun jaga, Rini pun hanya boleh masuk pada saat jam kunjungan. Maka pada saat itu, Rini berada di dalam ruang ICU untuk menunggui suaminya secara langsung. Tidak di ruang tunggu.
Pada kesempatan itulah, Rini bisa mengelus wajah suaminya, menyisiri rambutnya, bahkan juga menata tangan dan kaki suaminya, meskipun tidak pernah bergerak sama sekali. Dan yang paling dirindukan, menggenggam jemari tangan suaminya, lantas meremas dan menekan sekuatnya. Tentu di saat itu, Rini langsung meneteskan air mata. Ia teringat betapa suaminya tidak pernah marah kepadanya selama pernikahan. Tetapi gara-gara wanita pelakor itulah, rumah tangga Rini menjadi bubrah. Semuanya berubah. Hamdan jadi pemarah, bahkan selalu menyalahkan istrinya. Dan akhirnya, keretakan itu menyebabkan kehancuran keluarga Hamdan.
Lagi-lagi, Rini menangis. Apalagi kalau tidak menangisi kehancuran rumah tangganya. Dan saat ini, suaminya tergeletak tanpa daya, bahkan sudah tidak bisa apa-apa, tidak sadar sudah satu minggu lebih. Ini semua gara-gara wanita pelakor yang jahat itu.
Kembali Rini mengelus wajah suaminya dengan tangan lembutnya. Hati Rini rasanya bagai diiris. Sedih melihat wajah suaminya yang layu, ditumbuhi kumis dan brewok yang tidak keruan. Saat masih kerja, suaminya selalu berpenampilan bersih, tanpa kumis dan tidak brewokan. Setiap hari pasti dicukur. Tidak pernah berpenampilan kasar dengan kumis maupun brewok. Pernah sekali waktu masih muda, Hamdan mencoba pelihara kumis, diprotes oleh Rini. Kata Rini, kalau nyium bikin sakit, kasar dan tidak enak. Makanya, Hamdan terus berusaha mencukur kumis serta jenggotnya. Bahkan rambut pun tidak pernah terlalu kepanjangan. Pokoknya, penampilan suaminya selalu rapi. Itulah yang disukai Rini pada suaminya.
Tapi kini, seminggu tidak sadar, tergeletak di bed rumah sakit, ketampanan Hamdan seakan sirna. Hilang bersama berantakannya penampilan. Kumis yang jelek, serta jenggot yang berantakan. Dan tentunya, rambut-rambut yang tumbuh tidak keruan itu, warnanya sudah pada memutih.
Rini melangkah menuju meja para suster yang berjaga di ICU. Lantas katanya, "Suster, bisakah minta tolong, besok kalau membersihkan suami saya, mohon kumis sama jenggotnya dikerok ya." kata Rini meminta tolong kepada perawat yang ada di ruang ICU.
"Iya, Ibu ..., besok akan saya sampaikan kepada yang tugas." jawab suster itu.
"Terima aksih, Suster." kata Rini, yang langsung kembali menunggui suaminya.
Pembesuk yang masuk ruang ICU semakin ramai. Keluar masuk bergantian. Di saat itu, ia sudah melihat Mak Mun, yang juga melihat majikannya yang terbaring, dari balik dinding kaca ruang ICU. Tangan Mak Mun melambat, memberi tanda kedatangannya. Rini mengalah dari keramaian orang. Ia keluar meninggalkan suaminya.
"Mak Mun sudah dari tadi?" tanya Rini saat masuk ruang jaga dan bertemu Mak Mun.
"Iya, Ibu .... Bersama orang-orang yang pada besuk itu." jawab Mak Mun.
"Mak Mun mau melihat Bapak?" tanya Rini menawari Mak Mun.
"Di dalam, Ibu ...? Boleh masuk?" tanya Mak Mun yang agak ragu.
__ADS_1
"Iya .... Masuk ke dalam .... Lihat Bapak dari dekat." sahut Rini.
"Iya, Ibu .... Mau ..., saya mau, Ibu ...." jawab Mak Mun sambil tersenyum bahagia. Tentu senang, karena selama seminggu; lebih majikannya dirawat di ruang ICU, Mak Mun belum pernah melihat dari dekat. Hanya menyaksikan dari balik jendela kaca saja di ruang tunggu.
"Ya sudah sana .... Lewatnya pintu sebelah samping itu, sandalnya di lepas, pakai baju jas berkunjung yang kayak baju dokter bedah itu. Lalu masuk ke dalam lewat pintu sana itu." Kata Rini yang menjelaskan kepada Mak Mun pembantunya.
"Iya, Ibu ...." sahut Mak Mun yang langsung masuk ke ruang sterilisasi, dan mengenakan baju berkunjung ruang ICU.
Memang seperti itulah prosedur berkunjung di ruang ICU. Tentu tujuannya untuk menjaga kebersihan di ruang ICU. Terutama agar tidak mengganggu pasien. Maka jumlah pengunjung dibatasi dan diwajibkan mengenakan baju steril, semacam jas praktikum di laboratorium.
Setelah Mak Mun masuk menjenguk majikan laki-lakinya, Rini memandu Mak Mun dari balik jendela kaca. Tentu sambil mengamati suaminya yang tergolek diam saja. Melihat Mak Mun yang ada di dalam ruang ICU menangis saat mengamati Hamdan, Rini yang ada di ruang tunggu, ikut menangis. Pasti karena bersedih yang sangat mendalam.
"Siapa yang sakit, Bu ...?" tiba-tiba terdengar suara menanyai Rini. Rini menoleh, ada laki-laki tua, kira-kira berumur tujuh puluh tahunan, dengan mengenakan baju batik lengan panjang yang sangat bagus. Rambutnya yang sudah putih ditutup dengan peci hitam. Kumisnya tebal terawat dipotong rapi, tetapi sudah putih semua. Tidak memelihara jenggot. Terlihat halus, habis dicukur.
"Eh ..., anu ..., suami saya, Pak .... Sudah satu minggu di ruang ICU belum sadar." jawab Rini sambil mengusap air mata yang membasahi pipinya.
"Yang sabar ya, Bu ...." kata laki-laki tua itu.
"Hidup itu milik Allah .... Mati itu kuasa Allah .... Semua sudah ditakdirkan. Semua sudah digariskan. Suratan Allah tidak bisa kita tolak." kata laki-laki tua itu, sambil memandangi Rini secara tajam.
Seolah ada kekuatan yang bisa menghipnotis Rini, sehingga ia tunduk takut saat melihat orang tua yang memandangnya itu. Bahkan seolah kata-kata lelaki tua itu sangat kuat menembus telinga Rini. Seakan di sekitar tempat itu tidak ada orang lain yang berbicara. Rini hanya mendengar kata-kata dari lelaki tua itu.
"Kita tidak bisa mengubah yang telah terjadi, juga tidak bisa menggariskan kepastian masa depan. Kita tidak bisa kembali ke masa lalu. Jangan meratapi nasib dengan penyesalan, atas apa yang sudah tidak bisa kita ubah. Hidup itu sangat singkat. Sementara keinginan kita sangat banyak. Oleh karenanya, kita harus menatap langit, mengingat pada Yang Kuasa. Janganlah terlalu lama melihat ke tanah, memikirkan hal-hal yang bersifat duniawi. Kalau merasa jalan sudah makin sempit, kembalilah kepada Allah yang Maha Mengetahui hal yang gaib. Dan ucapkan alhamdulillah atas apa saja yang Ibu rasakan." kata laki-laki tua itu memberi nasihat kepada Rini.
"Iya, Pak ...." jawab Rini yang pasrah.
"Jadi ..., jangan kamu genggam terus sesuatu yang harus kamu lepas. Jangan kamu sembunyikan, barang yang harus dikembalikan. Dunia ini hanya sementara. Semuanya fana. Tidak ada yang abadi. Ada saatnya kita diberi, tetapi ada saatnya pula milik kita diminta lagi. Relakanlah. Berikan dengan ikhlas. Jangan kamu genggam erat. Lepaskan saja. Allah itu maha adil, maha murah dan maha memberi. Yang kita butuhkan, yang kita perlukan, semuanya akan diberikan." kata laki-laki tua itu yang masih memandang Rini dengan kuat.
"Iya, Pak ...." lagi-lagi, Rini hanya sanggup mengatakan ya.
"Jika memang iya ..., relakanlah. Ibu harus rela, jangan ada yang menghalangi ..., yang ikhlas dan tulus ...." kata laki-laki itu.
__ADS_1
Rini terdunduk diam. Rini bingung. Apa yang direlakan. Apa yang harus diikhlaskan.
"Tapi, Pak ...?!" Rini ingin menanyakan kepada Pak Tua. Namun saat mendongakkan kepalanya, laki-laki tua itu sudah tidak ada. Sudah hilang dari hadapannya.
"Pak ...! Pak ...!" Rini berusaha memanggil dan mencari, hingga keluar ruang, tetapi laki-laki tua itu memang sudah tidak ada lagi.
*******
"Keluarga pasien atas nama Bapak Hamdan ..., dimohon segera masuk ruang perawat ICU ...! Panggilan kami tujukan kepada keluarga pasien atas nama Bapak Hamdan ..., dimohon segera masuk ruang perawat ICU .... Terima kasih." suara informasi melalui pengeras yang terpasang di ruang tunggu pasien ICU.
Mak Mun berlari dari ruang ICU langsung keluar, dan masuk ke ruang jaga. Ia mencari Rini, sambil menangis.
"Ibu ...! Ibu ...! Ibu ...!" kata Mak Mun yang langsung menubruk majikannya.
"Ada apa, Mak Mun ...?" tanya Rini.
"Bapak ..., Ibu .... Bapak ...." kata Mak Mun yang bingung untuk bicara.
Tadi Rini melamun, memikirkan kata-kata orang tua yang sudah menghilang. Makanya ia tidak mendengar informasi panggilan yang disiarkan melalui microfone yang ada di ruang tunggu pasien. Maka ketika Mak Mun datang seperti itu, Rini justru bingung.
"Mohon perhatian .... Panggilan kami tujukan kepada keluarga pasien atas nama Bapak Hamdan ..., dimohon segera masuk ruang perawat ICU .... Terima kasih." suara informasi melalui pengeras yang terpasang di ruang tunggu pasien ICU itu kembali berbunyi.
"Itu, Bu ..., ada panggilan ...." kata Mak Mun yang memberi tahu majikannya.
Sontak Rini kaget. Jantungnya berdegup kencang. Ada sesuatu yang sangat mengganggu pikirannya saat mendengar panggilan itu. Lantas Rini bergegas berlari menuju ruang perawat yang ada di dalam ruang ICU. Mak Mun ikut berlari, membuntuti Rini.
"Maaf, Ibu keluarga Bapak Hamdan?" tanya petugas di ruang perawat.
"Iya, saya istrinya ...." jawab Rini.
"Yang tabah ya, Ibu .... Mohon maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menolong Bapak Hamdan, namun kiranya kehendak Tuhan yang sudah menakdirkan. Maaf, Ibu .... Bapak Hamdan tidak bisa kami selamatkan." kata petugas di ruang perawat itu.
__ADS_1
"Plasss ...." Rini limbung, penglihatannya menjadi gelap. Lantas pingsan.