
Rini sudah membayar lahan yang ditawarkan oleh Pak Lurah. Pekarangan seluas satu hektar lebih dengan harga empat ratus juta, bersih sudah balik nama. Rini hanya menahan uang dua puluh lima juta untuk beban biaya balik nama. Perjanjiannya, jika balik nama sertifikat sudah selesai, maka uang jaminan itu akan dibayarkan. Selain itu, Rini juga meminta dibuatkan jala, meski masih berupa tanah, tetapi sudah ada bentuk jalannya, sehingga kendaraan yang nanti akan keluar masuk ke kebun anggrek bisa lewat dengan mudah. Nanti kalau ada rezeki, jalan itu akan dicor agar lebih bagus dan nyaman.
Anak dan menantunya, Silvy dan Yayan ikut senang, karena ibunya bisa membeli lahan cukup luas, yang tentunya nanti akan memberi kesibukan sendiri buat ibunya. Biar ibunya bisa memanfaatkan waktu tanpa melamun. Demikian juga Pak Lurah dan saudaranya, yang dapat uang banyak. Katanya akan dibelikan mobil angkot, untuk mencari uang, ngompreng dari pasar ke kampung.
Lahan pekarangan yang dijual tersebut merupakan lahan yang yang sudah lama tidak terurus. Hanya tanaman pisang yang banyak tumbuh di tempat itu. Atau kalau yang punya mau menanam, paling-paling ditanami singkong yang tidak butuh perawatan. Begitu ditanam, ditinggal pergi, besok kalau sudah keluar singkongnya, dicabut. Daripada lahan tersebut tidak diurus, makanya dijual saja untuk dibelikan mobil angkutan pedesaan.
Sebenarnya lahan pekarangan itu tidak begitu jelek, hanya karena jarang diurus, maka banyak ditumbuhi rerumputan yang memberi kesan jelek. Letaknya tidak jauh dari rancangan Pasar Seni dan Pasar Rakyat Kampung Nirwana yang akan dibangun oleh Yudi. Yang nantinya juga akan terkoneksi dengan terminal desa sebagai tempat parkir para wisatawan dan berganti dengan mobil wisata. Hanya berjalan kaki ke arah timur, naik sedikit saja dari Pasar Rakyat tersebut, maka lahan yang akan dibuat kebun anggrek itu sudah tercapai. Pasti nanti akan ramai.
Namun sayangnya, sampai hari ini pasar tersebut belum terealisasi, karena belum ada dana. Apalagi setelah Yudi meninggalkan Kampung Nirwana, pergi ke Jepang menyusul istrinya. Seakan Kampung Nirwana kehilangan dewa. Semoga saja nanti ada dewa pengganti Yudi.
Namun kini ada PR baru bagi Rini, yaitu membangun kebun anggrek. Pasti bukan pekerjaan yang gampang dilakukan oleh seorang wanita. Jangankan untuk membuat bangunannya, membuat rancangan tempat anggrek saja Rini tidak sanggup.
"Seandainya ada Yudi, pasti semua akan dibantu olehnya ...." begitu gumam Rini dalam batinnya.
Tentu Rini bingung, bagaimana bisa membuat kebun anggrek yang baik. Setelah lama berpikir, setelah lama bingung untuk menata pekarangan itu, akhirnya Rini teringat pada Mas Wawan, pengembang Nirwana Homestay. Ya, Mas Wawan. Rini langsung menelepon laki-laki muda yang diyakini bisa dimintai bantuan untuk membuat tempat anggrek.
"Halo, selamat pagi .... Ibu Rini, ya?" kata Mas Wawan yang ditelepon Rini.
"Betul, Mas Wawan ...." sahut Rini menjawab sapaan Mas Wawan.
"Ada yang bisa kami bantu, Ibu Rini?" tanya Mas Wawan kepada Rini.
"Begini, Mas Wawan ...., saya mau minta tolong untuk dibuatkan kebun anggrek. Apa Mas Wawan bisa?" tanya Rini pada Mas Wawan.
"Kebun anggrek yang seperti apa ya, Ibu?" tanya Mas Wawan yang tentu bingung dengan yang dimaksud oleh Rini.
"Itulah yang saya ingin minta tolong sama Mas Wawan. Terus terang saya tidak paham, bahkan masih bingung menyebutnya, Mas Wawan ...." kata Rini yang tidak mampu menjelaskan dengan apa yang dimaksud.
"Ibu Rini hari ini ada di mana? Apakah kita bisa ketemu, Ibu?" tanya Mas Wawan.
"Saya di Nirwana Homestay, Mas Wawan. Unit Tiga." jawab Rini.
__ADS_1
"Saya akan ke sana, Ibu. Kita bicara langsung saja, biar saya tahu yang diminta Ibu Rini." kata Mas Wawan yang menghendaki bertemu langsung.
"Baik, Mas Wawan, saya tunggu." sahut Rini.
Akhirnya, tidak terlalu lama, kijang super tahun sembilan puluhan masuk ke halaman parkir di penginapan Unit Tiga. Penginapan milik Rini. Wawan yang turun dari setiran mobil itu, matanya langsung tertuju pada anggrek-anggrek yang bergantungan dan tertata di halaman taman dekat parkiran.
"Pasti di sini yang akan dibangun ruang anggrek." begitu gumam Wawan yang menduga-duga.
Rini bergegas keluar menuju halaman parkir, menyambut kedatangan Mas Wawan. Selanjutnya, mereka berdua duduk di ruang keluarga terbuka yang ada di tengah antara ruang-ruang penginapan.Membicarakan masalah kebun anggrek.
"Anggreknya banyak, Ibu .... Bagus-bagus ...." kata Mas Wawan yang sebenarnya tidak tahu tentang anggrek.
"Iya, Mas Wawan .... Pindahan dari Jakarta. Itu ada dua ratus pot lebih. Sayang kalau di sini tidak ada rumahnya, nanti bisa rusak terkena hujan." jawab Rini.
"Bererti yang dimaksud Ibu Rini membuat rumah anggrek di sini?" tanya Mas Wawan.
"Tidak di sini, Mas Wawan .... Saya ingin membangun kebun anggrek di tempat lain. Itu, di tanah pekarangan saudara Pak Lurah, yang ada di sebelah timur rencana pasar rakyat." jelas Rini.
"Itu lho, Mas .... Dari rencara pasar itu ke timur sedikit, hanya berselang satu petak. Yang banyak pohon pisang dan rumput perdu. Tanahnya tidak pernah digarap, nganggur." jelas Rini.
"Ooo ..., punyanya Kang Tohari ...." sahut Mas Wawan yang mulai paham.
"Iya ..., betul ...." kata Rini.
"Wah, itu harus membersihkan rumput dan pohon-pohon pisangnya lebih dahulu, Ibu. Termasuk nanti harus meratakan jalan, agar kendaraan bisa lewat. Itu kan belum ada jalannya, Bu." kata Mas Wawan.
"Iya, Mas .... Kemarin Pak Lurah bilang kalau mau dibuatkan jalan. Coba nanti Mas Wawan bicara sama Pak Lurah, bagaimana baiknya." kata Rini menjelaskan.
"Iya, Ibu Rini. Nanti saya tanyakan ke Pak Lurah, baiknya kerja bakti apa saya borong. Terus yang dimaksud Ibu Rini, rencananya kebun anggreknya bagaimana?" Mas Wawan masih belum paham dengan yang akan dikerjakan.
"Begini, Mas Wawan .... Terus terang saja, tempat itu rencananya akan saya buat kebun anggrek, yang nantinya bisa menjadi tujuan wisata di Kampung Nirwana. Tentu para wisatawan bisa beli oleh-oleh bunga anggrek. Makanya saya minta tolong pada Mas Wawan, untuk dibuatkan kebun anggrek yang bagus, menari, dan artistik. Tentu yang punya nilai seni seperti halnya bangunan-bangunan di Kampung Nirwana ini. Kami tidak sekadar menjual anggrek, tetapi juga menyajikan keindahan kebun anggrek. Biar menjadi lokasi piknik. Setidaknya saya bisa ikut andil menawarkan pesona dari kebun anggrek." jelas Rini pada Mas Wawan.
__ADS_1
"Waduh .... Ini yang berat. Dulu waktu masih ada Mas Yudi, semua konsep saya serahkan pada beliau. Sekarang, Mas Yudi di Jepang, saya tidak bisa minta bantuan." kata Mas Wawan yang tentu sangat kehilangan Yudi jika harus berurusan dengan arsitek keindahan kampung.
"Iya, Mas .... Saya juga merasa sedih, kehilangan Yudi. Tidak ada yang bisa membantu kalau ada masalah seperti ini. Lhah, terus bagaimana sebaiknya, Mas Wawan?" tanya Rini yang tentu merasa galau.
"Begini, Ibu Rini ..., saya akan lihat lokasi, kemudian coba buat sketsa lebih dahulu. Nanti jika sudah jadi, akan saya berikan kepada Ibu Rini untuk dikoreksi." kata Mas Wawan yang berjanji untuk membuatkan sketsa.
"Iya, Mas Wawan. Tolong buatkan rancangan yang bagus, indah, menarik. Dan tentunya artistik, sehingga besok kalau Mas Yudi datang, ia akan terkejut dengan bangunan Mas Wawan. Terima kasih, Mas Wawan .... Tapi jangan terlalu lama, lho ya ...." kata Rini yang mulai lega.
"Siap, Ibu Rini ...." sahut Mas Wawan.
Selanjutnya, Mas Wawan tentu langsung menuju kantor kepala desa, menemui Pak Lurah. Menceritakan apa yang disampaikan oleh Ibu Rini kepadanya. Kemudian bersama Pak Lurah menuju lokasi, di pekarangan milik saudara Pak Lurah yang dijual itu.
Mobil kijang tua itu menerabas tingginya rerumputan yang tumbuh liar di area yang rencananya akan dibuat jalan. Ban mobil yang menginjak rumput-rumput itu, langsung meninggalkan bekas. Ada bekas lintasan yang rumputnya langsung roboh rata dengan tanah. Walau akan dibuat jalan, namun belum ada wujudnya. Yang jelas hanya rumput-rumput yang tidak pernah tersentuh tangan manusia. Pantas pekarangan milik saudara Pak Lurah itu dijual. Pastilah yang punya pekarangan juga malas untuk melewati rumput liar yang menutupi lahannya.
Tentu banyak yang dibicarakan antara Mas Wawan dengan Pak Lurah. Terutama adalah rencana akan dibangunnya kebun anggrek. Dan ketika ditanyakan masalah jalan, Pak Lurah pasrah pada Mas Wawan. Tentu untuk meminta kerja bakti kepada warga, tidak etis karena ini adalah lahan milik pribadi Ibu Rini. Bukan milik masyarakat umum.
"Lhah ..., katanya perjanjiannya dengan Ibu Rini, masalah jalan ini tanggung jawab Pak Lurah?" tanya Mas Wawan.
"Iya betul .... Tapi kan tidak mungkin kalau saya nyuruh warga kerja bakti, hanya membuatkan jalan menuju tempat pribadi." jawab Pak Lurah.
"Tapi kita kan harus membuat jalan, Pak ...." balas Mas Wawan.
"Bagaimana kalau Mas Wawan buat dahulu, nanti biayanya akan saya carikan dari kas desa." kata Pak Lurah yang tentu kebingungan untuk membangun jalan.
Mas Wawan pun akhirnya mengalah. Pasrah dengan keputusan Pak Lurah. Tentu demi kemajuan Kampung Nirwana. Kalau wisatanya maju, tentu yang menginap di Nirwana Homestay juga ramai, dan pendapatan Mas Wawan juga bertambah. Maklum karena sebagai pengembang, Mas Wawan masih harus banyak butuh masukan untuk pelunasan bangunan-bangunan yang belum selesai pembayarannya. Terutama penginapan yang dimiliki oleh perangkat desa, kelompok masyarakat pengrajin dan paguyuban sopir wisata. Untuk pelunasan masih butuh masukan dari tamu-tamu yang menginap.
Tentu, nanti jika objek wisatanya bertambah, setidaknya kebun anggrek, para wisatawan yang berkunjung ke Kampung Nirwana pasti juga bertambah. Oleh sebab itulah, Mas Wawan juga berusaha untuk menciptakan keindahan Kampung Nirwana. Seperti falsafah hidup yang ditanamkan oleh Yudi, seniornya, jika kita banyak memberi, sebenarnya lebih banyak rezeki yang diberikan oleh Tuhan untuk menambah jumlah pemberian kita. Jadi, jangan pernah berhenti untuk memberi jika kamu ingin rezekimu bertambah terus. Begitu yang pernah diajarkan Yudi kepada Wawan saat dipasrahi membangun Nirwana Homestay.
Yah, kini saatnya untuk memberikan yang terbaik, agar nantinya Tuhan juga akan mengucurkan rezeki terbaik untuk kita. Mas Wawan ingin membangun kebun anggrek yang menarik dan indah. Mas Wawan ingin membuat kebun anggrek yang mempesona. Ia akan membuat kebun anggrek yang berbeda dengan kebun tanaman hias pada umumnya. Kebun anggrek yang punya nilai seni. Kebun anggrek yang artistik. Bukan hanya untuk Ibu Rini si pemilik kebun anggrek, tetapi impact dan outcome dari kebun anggrek itu sangat luas. Pasti seluruh masyarakat Kampung Nirwana akan merasakan. Seperti halnya Taman Awang-awang, yang ada di puncak bukit. Kebun anggrek ini akan memberi warna tersendiri bagi wisatawan yang bukan hanya orang-orang yang senang dengan tanaman hias, tetapi siapa saja yang melihat bisa tertarik. Nantinya, biro wisata akan membawa para turis masuk ke kebun anggrek itu. Dan yang terpenting, Rini akan memberikan pekerjaan kepada tetangganya untuk merawat dan mengurusi anggreknya.
Mas Wawan tersenyum. Filosofi seniornya, yaitu Yudi, sungguh sebuah ajaran hidup yang sangat luar biasa. Bahwa yang namanya unsur kehidupan itu saling berkaitan, saling tarik dan saling mengikat. Saling memberi dan saling menerima. Bukan saling meminta. Kalau meminta itu namanya pengemis. Tapi kalau menerima, itu hanya pengaruh dari pemberian dalam sebuah unsur. Ia akan berusaha semaksimal mungkin untuk membuktikan keterikatan unsur-unsur dalam kehidupan manusia itu.
__ADS_1