KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 46: KARYA-KARYA PENGUSIR SEPI


__ADS_3

    Sudah satu minggu Yuna kembali ke Jepang. Tentu ada rindu dalam hati Yudi. Rindu yang sangat mendalam. Tetapi Yudi menepati komitmen. Tidak akan menelepon ataupun mengirim chat whatshap, jika memang bukan hal penting yang terkait dengan pekerjaan. Itulah sistem kerja orang profesional. Yuna juga demikian, tidak telepon ataupun mengirim pesan di WA. Itu berarti Yuna masih sibuk dengan pekerjaannya.


    Yudi sudah tidak berharap lagi telepon atau WA dari Rini. Perlahan Yudi ingin melupakan Rini. Maka ia tidak ingin menghubungi Rini lagi. Jika memang Rini sudah tidak menghubungi, Yudi malah bersyukur. Untuk apa menghubungi Rini, malah akan menambah masalah baru. Biarlah Rini sibuk mengurusi keluarganya, mengurusi suaminya, mengurusi rumah tangganya. Toh selama tiga puluh tahun, sebelum acara reuni itu, Rini juga tidak pernah berkomunikasi dengan Yudi. Saat ini pun, sudah berminggu, Rini juga tidak mau menghubungi Yudi. Apalagi peduli dengan nasibnya. Sudahlah, kembali seperti dulu saat sebelum bertemu. Begitu pikir Yudi.


    Masih ada satu PR, yaitu Silvy, putrinya Rini yang sudah terlanjur dekat dengan dirinya, bahkan menganggap Yudi sebagai papahnya. Kurang ajar anak ini. Sejak kapan Yudi dapat mamahnya? Bukan masalah. Toh Silvy anak yang mandiri. Tidak mau bergantung pada orang tuanya. Bahkan bekerja saja tidak mau di kantor papahnya. Katanya itu kolusi dan nepotisme, yang nantinya akan menyebabkan terjadinya korupsi. Baik juga pendirian Silvy. Dasar anak cerdas. Beda dengan mamahnya, PR saja selalu Yudi yang mengerjakan. Itu dulu.


    Teringat akan Silvy, Yudi ingat saat pertama kali bertemu. Anak itu merajuk untuk dibuatkan lukisan tentang dirinya. Yudi pun bergegas menuju pendopo rumah yang ada di depan. Tempat ia biasa melukis, dengan ditemani ikan-ikan koi warna-warni. Lantas Yudi mengambil kanvas, menaruh kanvas itu di easel, kemudian mengangkat palet dan kuas, lantas menuangkan cat minyak di palet. Yudi mulai melukis wajah perempuan yang sudah menganggap dirinya sebagai papahnya.


    Beberapa warna cat minyak sudah tergores. Beberapa kali pula Yudi berhenti. Sejenak membayangkan wajah Silvy. Maklum, hanya dua hari Yudi bersama Silvy, tentu belum detail mengingat wajahnya. Namun lama-kelamaan sketsa wajah Silvy sudah tertuang dalam kanvas. Kalau soal melukis, jangan ditanya. Waktu SMA, Yudi berkali-kali menjadi juara melukis.


    Seperti kebiasaannya, saat sepi Yudi meluangkan waktu untuk menggoreskan cat minyak di kanvas. Banyak lukisannya yang dijual di galeri seni Kridosono maupun rumah budaya Yogyakarta. Bahkan teman-temannya sering mengambil karya lukisan Yudi ini untuk dipamerkan di Taman Budaya Yogyakarta. Itulah Yudi dengan jiwa seni yang terkadang meluap-luap. Tetapi hasil karyanya bisa untuk membangun rumah.


    Cara berkesenian Yudi yang berbeda. Jika sebagian temannya selalu ingin kumpul-kumpul, nongkrong, hingga akhirnya mabuk karena kebanyakan minum, sangat berbeda dengan prinsip hidup Yudi. Ia lebih senang menyendiri. Tidak suka membuang waktu sia-sia, hanya sekadar ngobrol bareng yang tidak ada faedahnya. Bagi Yudi, aliran lukisan setiap orang berbeda-beda. Ada yang senang naturalis, ada yang lekat dengan kubisme, ada yang lebih menekankan surealis, bahkan ada pula yang mengagungkan ekspresionis. Maka konsen pada satu aliran yang dianut, itulah hasil karya yang mewakili jiwanya. Jadi menurut Yudi, melukis tidak butuh diskusi. Tidak ada benar salah, tidak ada aliran yang paling hebat. Semua memiliki ceritanya sendiri-sendiri.


    Nyatanya, lukisan Affandi yang abstrak dan sulit untuk diterjemahkan, harganya bisa mencapai ratusan juta rupiah. Demikian pula lukisan Abdullah Suriosubroto, pelukis Indonesia yang berhasil meraih perutasi internasional, karya-karyanya banyak dipajang di museum seni di Belanda.

__ADS_1


    Yudi, dengan aliran naturalismenya, ingin memotret fakta keindahan. Dan kini, ia ingin melukis kecantikan Silvy, sehingga orang akan terkagum melihat wajah ayu yang terpampang di kanvas. Setidaknya, Silvy akan senang memajang lukisan itu di ruang rumahnya.


    Sehari, coretan-coretan cat minyak itu masih belum begitu kontras, meskipun wajah Silvy sudah menempel di kanvas. Dua hari, lukisan Silvy sudah mulai terihat cantiknya. Tiga hari, senyum yang mengembang pada lukisn itu benar-benar hidup. Seakan Silvy tersenyum pada Yudi, sambil berbisik "Papah memang pelukis yang hebat". Siapapun akan terkesima menyaksikan lukisan wanita cantik yang terseyum itu. Benar-benar indah. Benar-banar hidup. Yah. Selesailah sudah karya Yudi yang melukis Silvy.


    Yudi merebahkan dirinya di bangku besar yang ada di tengah pendopo. Lantas melihat HP. Membuka WA, kosong tidak ada chat maupun panggilan. Yudi lebih senang, karena tidak harus membalas WA. Lantas ia membuka galeri. Membuka foto-foto yang ada di galeri. Terpampang wajah Yuna yang cantik, dengan latar belakang stupa Candi Borobudur. Yudi memandangi foto gadis itu. Terus dan terus. Semakin dipandang, foto itu terlihat semakin cantik dan terus bertambah cantik. Bahkan senyum yang ada di foto itu seakan mengajak tersenyum pada Yudi yang sedang tiduran. Tidak sekedar tersenyum, tetapi bibir gadis cantik itu kini seakan berbicara, "Yudi ..., I love you."


    Yudi kaget. Langsung bangun dari rebahannya. Lantas kembali memandang foto itu lekat-lekat. Benar, semakin lama dipandang, foto gadis Jepang itu memang semakin cantik. Dan senyum itu seakan benar-benar dari bibir mungil yang pernah ia sentuh, bisa bergerak.


    "Cantik sekali foto ini. Apakah aku sanggup melukis gadis secantik ini?" gumam Yudi.


    Berkali-kali Yudi berjalan mundur dari kanvas yang terpampang di easel. Kepalanya miring ke kanan dan kiri. Mengamati lukisan yang sedang dibuat. Lantas maju lagi, menutulkan kuas pada lukisannya. Kembali mundur, memandangi dengan seksama. Belum juga mendapatkan hasil seperti yang diharapkan. Lantas kembali ke kanvas, untuk mengoleskan kuas, menekan pada beberapa bagian wajah cantik.


    Hampir satu minggu. Yudi belum bisa menghasilkan lukisan yang sanggup mungucap "I love you". Meski lukisan itu sudah terlihat cantik, sudah seperti foto, namun Yudi merasa belum puas. Ia merasa, Yuna belum mencintai dirinya. Yuna belum mengungkapkan cintanya. Yuna masih diam dan membisu.


    Yudi jengkel.

__ADS_1


    "Haaahh ...!! Hyiaahh ...! Hah ...! Hah ...!" Yudi berteriak sekeras-kerasnya.


    Yudi merasa tidak berhasil membuat lukisan yang hidup. Ia gagal melukis wajah ayu orang yang sedang digandrungi. Yudi gagal membuat lukisan yang bisa diajak komunikasi. Gagal membuat lukisan yang bisa mengungkapkan kata-kata cinta.


    "Mengapa Yuna tidak mau mengatakan cinta kepadaku?" gemuruh hati Yudi dipenuhi rasa gundah.


    Kejengkelan Yudi memuncak. Lukisan itu ditendang. Terlempar keluar dari easel, dan jatuh ke dalam kolam koi yang yang ada di bawahnya. Tercelup ke dalam air.


    Yudi terdiam. Napasnya tersengal menahan emosi kemarahannya. Punggungnya tersandar di tiang pendopo, kakinya menyelonjor. Lemas tidak berdaya. Putus asa. Yudi merasa kalah dan bersalah. Tidak sanggup melukis Yuna secara sempurna. Ada apa dengan dirinya?


    Kembali Yudi teringat pada cinta pertamanya yang terpahat dalam relung hati paling dalam. Ia teringat pada wanita yang bernama Rini. Wajah Rini kembali melekat kuat dalam lamunannya. Polah tingkah dan kemanjaan Rini kembali melintas di ingatan. Tetapi hanya sebentar bayangan itu muncul.


    Lantas bayang-bayang gadis Jepang muncul lagi dalam lamunannya. Wajah cantik ayu yang sudah memberi harapan. Bukan sekedar harapan untuk mengurai rasa cintanya, tetapi juga harapan untuk mewujudkan mimpi-mimpinya.


    "Ah .... Sepi memang menyakitkan." kata Yudi yang pasrah dengan kesunyian.

__ADS_1


__ADS_2