
Hari sabtu siang, Yudi masih asyik menata tanaman hias di halaman pendopo, saat ada tamu yang datang lewat gerbang depan. Tamu yang diantar oleh mobil antik wisata Kampung Nirwana.
"Mas Yudi ...! Ada tamu ...!" teriak sang sopir yang tentu sangat hafal dengan Yudi.
"Iya ..., sebentar ...!" sahut Yudi yang tidak jauh dari pintu gerbang rumahnya.
Yudi lantas melangkah menuju gerbang, membukakan pintunya. Seorang wanita setengah baya berdiri di depan pintu gerbang. Terlihat cantik, dengan senyum yang menawan.
"Saya langsung balik lapangan ya, Mas Yudi." kata si sopir wisata yang mengantar tamu Yudi.
"Iya, Bos .... Terima kasih." jawab Yudi dengan melambaikan tangan ke sang sopir.
"Selamat siang, Yudi ...." sapa wanita yang berdiri tepat di depan pintu gerbang.
"Selamat siang .... Bukankah ini ..., Yayuk, ya?!" Yudi membalas salam dari wanita itu, dan menebak wanita yang datang.
"Masak baru kemarin bertemu, sekarang sudah pangling sama saya ...." kata wanita yang sekarang sudah berhadapan dengan Yudi.
"Yayuk, kan?!" ulang Yudi menyebut nama temannya.
"Iya ...." sahut wanita itu.
Ya, wanita yang baru saja datang ke rumahnya adalah Yayuk, teman SMA Yudi yang baru bertemu kembali saat reuni beberapa bulan yang lalu. Reuni saat Nataru, setelah tiga puluh tahun berpisah.
"Yayuk ..., Yayuk .... Ayo masuk, jangan berdiri saja di sini." ajak Yudi pada tamunya.
"Eh, sebentar .... Aku mau selfie dulu. Rumahmu bagus sekali, Yud .... Mirip istana Majapahit. Pantas teman-teman ribut membicarakan rumahmu. Ayo, sini ..., kita berswafoto bareng." kata Yayuk yang langsung ceprat-cepret selfie.
"Ayo, silakan duduk sini dulu." kata Yudi mempersilakan temannya duduk di bangku besar yang ada di tengah pendopo.
"Wao ..., wao ..., wao .... Rumah kamu benar-benar keren, Yud .... Ini rumah apa tempat shooting film?" Yayuk keheranan menyaksikan keindahan pendopo yang ada di rumah Yudi.
"Ya ampun, Yayuk .... Ini kamu sendirian saja? Tanpa teman?" tanya Yudi stelah duduk berhadapan.
"Iya ...." jawab Yayuk yang masih saja tersenyum.
"Dari rumah atau dari mana?" tanya Yudi lagi.
"Saya langsung dari Palembang, sengaja menuju rumah Yudi." jawab Yayuk yang masih tetap tersenyum.
"Ya ampun, Yayuk .... Apa tidak capai?" tanya Yudi lagi.
"Enggak ...." lagi-lagi, senyum Yayuk masih menempel di bibirnya.
"Ini mau wisata keliling Kampung Nirwana lagi?" tanya Yudi menyinggung kedatangan Yayuk.
"Hehe .... Aku mau lihat rumah Yudi .... Habis, kemarin teman-teman tidak pada mengajak kemari." lagi-lagi, Yayuk tetap memasang senyumnya.
"Ya ampun, Yayuk .... Eh, sebentar saya ambilkan minum." kata Yudi yang berdiri, tentu untuk mengambil suguhan bagi tamunya.
Saat melangkah ke dalam, untuk mengambil minuman, Yudi sempat berfikir yang kurang baik. Kok aneh, Yayuk datang ke rumahnya sendirian. Jauh-jauh dari Palembang, hanya ingin melihat rumah Yudi. Ada apa?
__ADS_1
Tetapi Yudi itu orang baik. Tidak mau berprasangka yang negatif. Khawatir, nanti akan menjadi fitnah. Maka Yudi pun tidak lagi menduga-duga hal yang kurang baik. Mengalir saja, positif saja. Jangan menilai jelek pada orang lain, karena belum tentu yang menilai itu lebih baik, bisa jadi justru lebih buruk dari yang dinilai jelek.
Beberapa saat kemudian, Yudi sudah kembali di ruang pendopo bersama gadis kecil sepuluh tahun, membantu membawakan jajanan.
"Monggo, silakan diminum ...." kata gadis kecil dengan rambut panjang itu pada Yayuk.
"Eh, iya .... Terima kasih." jawab Yayuk yang agak kaget dengan hadirnya gadis kecil cantik di rumah Yudi itu.
"Ayo .... Silakan diminum. Ini wedang jahe khas Jogja. Ada jamunya, untuk menyegarkan otot yang capai." kata Yudi mempersilakan Yayuk mencicipi minuman jahe.
"Iya, Yud .... Terima kasih." kata Yayuk yang mulai meneguk minumannya.
"Ini, ada kue moho sama jadah bakar. Ayo di coba." kata Yudi menawarkan jajanannya.
"Iya, Yud .... Eh, Yudi, ini tadi gadis kecil cantik itu anakmu?" tanya Yayuk yang mulai agak khawatir.
"Anakku banyak, Yuk .... Ramai .... Itu di belakang ...." kata Yudi pamer anak.
"Lhoh, saya dengar dari teman-teman, Yudi belum nikah?" tanya Yayuk yang heran.
"Hehe .... Memang kalau belum menikah tidak boleh punya anak?" sahut Yudi sambil meringis.
"Ya .... Bagaimana, ya? Aku kok jadi bingung? Lhah, terus yang jadi ibunya siapa?" Yayuk mulai kehilangan senyum.
"Hehe .... Lupakan anak-anak saya. Saya mau tanya, ini Yayuk ke Kampung Nirwana mau milih wisata yang mana? Latihan membatik, menyaksikan kesenian anak-anak, atau mau belanja hasil kerajinan?" tanya Yudi yang mengalihkan pembicaraan.
"Eh, Yudi .... Aku jadi malu untuk bicara." jawab Yayuk yang mulai ragu, walau ia tersenyum.
"Ah ..., tidak. Tidak Jadi Yud ...." jawab Yayuk sambil menundukkan kepala, malu untuk menyampaikan sesuatu.
"Lhah, Yayuk ini bagaimana? Jauh-jauh dari Palembang sampai Jogja, kok bingung mau apa. Kalau memang harus keliling wisata, bisa saya antar. Tidak apa-apa ...." sahut Yudi yang mulai bingung juga menyaksikan tamu yang bingung.
"Sebenarnya .... Ah, Yudi ..., aku jadi malu." sahut Yayuk.
"Memangnya ada apa, Yuk? Kenapa harus malu dengan saya? Apa karena saya bujang? Belum nikah? Perjaka tua? Hah ...?!" selidik Yudi, yang melalui cara merendahkan dirinya sendiri.
"Justru itu, Yud .... Sebenarnya saya pengin bicara empat mata sama Yudi." jawab Yayuk. Lantas diam lagi.
"Lhah, ini kita sudah empat mata. Di sini tidak ada orang yang dengar." kata Yudi lagi.
Terus terang lama kelamaan Yudi merasa jengkel juga dipermainkan oleh temannya ini.Tidak mau berterus terang maunya apa. Malah seperti mengajak tebak-tebakan. Yudi mulai muncul prasangka, pasti ada yang tidak beres terhadap wanita ini. Ya, Yudi tahu persis siapa Yayuk. Teman satu kelasnya selama tiga tahun saat di SMA. Walaupun cantik, tetapi Yudi tidak Simpatik. Yayuk sering berganti-ganti pacar. Bahkan kata orang terbilang agak kemayu. Agak sombong, karena merasa sok cantik. Padahal masih banyak teman perempuan lain yang cantik tapi tidak sombong. Makanya saat reuni, Yudi mendengar cerita tentang Yayuk dari teman laki-laki, kalau Yayuk itu janda, karena ditinggal suaminya. Padahal dari segi materiil, finansiil, maupun jabatan, Yayuk tidak kurang. Kepala Cabang sebuah bank besar di Palembang. Tentu semua kebutuhan materi mudah tercukupi.
"Begini, Yudi .... Yang saya dengar dari teman-teman, Yudi kan belum menikah. Apa Yudi tidak ingin menikah?" tanya Yayuk pada Yudi dengan suara lirih, takut didengar orang lain.
"Ya, memangnya kenapa dengan diriku yang belum menikah?" tanya Yudi yang sudah mulai meraba arah pembicaraan Yayuk.
"Apa Yudi tidak ingin menikah?" tanya Yayuk.
"Kamu lihat sendiri, Yuk. Saya ini sudah tua. Mana pantas saya menikah." jawab Yudi mulai mencari alasan.
"Pantas saja lah .... Menikah tidak dibatasi usia, Yud." sahut Yayuk.
__ADS_1
"Ya ampun, Yayuk .... Mana ada gadis yang mau menikah sama diriku?" balas Yudi.
"Tidak harus gadis, kan?!" sahut Yayuk.
Yudi terdiam. Ingin menjawab, tetapi pasti jawabannya akan dipatahkan oleh Yayuk lagi.
"Begini, Yudi .... Saya terus terang saja, ya ...." kata Yayuk selanjutnya.
"Silakan, Yayuk mau carikan jodoh untukku?" sahut Yudi.
"Saat reuni yang lalu, begitu mendengar cerita dari teman-teman dan melihatmu, saya merasa kasihan pada dirimu. Ingin rasanya aku bicara waktu itu. Tetapi karena banyak teman, aku rasa kurang etis. Makanya hari ini aku sengaja datang secara pribadi ke rumah Yudi, untuk bicara langsung dengamu." kata Yayuk.
"Maksudmu ...?!" tanya Yudi.
"Maaf jika ini fulgar. Tetapi di daerah saya, ini adat yang biasa. Terus terang, saat ini diriku kan janda. Saya sendirian. Single. Seperti layaknya gadis. Belum punya siapa-siapa.Jabatanku kepala cabang pada bank besar, gajiku tidak sedikit, tidak kurang apa-apa. Tapi saya kesepian kalau terus menerus hidup sendirian. Kamu sendiri, saya sendiri. Apa tidak lebih indah kalau kita bisa hidup bersama? Maaf Yudi, Jogja beda dengan daerahku. Maka aku menggunakan adatku, untuk bertanya lebih dulu kepada dirimu." kata Yayuk yang blak-blakan. Tidak ragu-ragu untuk berterus terang.
Yudi lemas. Tidak bisa berfikir jernih. Sulit untuk menjawab. Tangan Yudi meraih cangkir, meneguk minuman yang ada rempahnya. Segar. Bisa membasahi tenggorokannya, bisa membuka akal pikirannya. Mencari kata-kata untuk memberikan jawaban kepada Yayuk yang sudah menikam jantungnya dengan kata-kata yang fulgar.
"Yayuk, ada banyak hal yang harus kamu ketahui tentang saya. Tidak secepat ini kamu mengatakan hal itu sebelum mengetahui sepenuhnya tentang diriku. Ini yang harus Yayuk pahami. Yang pertama, tadi Yayuk sudah melihat anak gadisku, itu baru satu, di belakang masih ada banyak anak-anak, yang setiap hari ramai dan selalu ribut di rumah ini. Anak-anak itu harus kamu pertimbangkan. Karena selama ini Yayuk mungkin belum pernah merawat anak. Yang kedua, Yayuk belum tahu tentang saya yang sesungguhnya. Yayuk belum tahu pribadi saya yang sebenarnya. Yayuk belum tahu sikap saya setiap hari. Itu kamu harus tahu, agar kelak tidak kecewa. Yang ketiga, pernikahan itu untuk selamanya. Bukan untuk sesaat. Jadi dalam membina rumah tangga nanti, itu untuk jangka waktu yang tidak sebentar, suami istri harus saling memahami kekurangan dan kelebihan masing-masing. Tidak untuk mengalahkan atau memenangkan sebuah ego. Tetapi bersama-sama menyatukan hati. Yang keempat, saya tinggal di Jogja, Yayuk tinggal di Palembang, bagaimana kita akan hidup bersama. Kalau pun saya menikah, saya pasti akan mengajak istri saya hidup bersama di rumah ini. Tidak saling berpisah dengan jarak yang sangat jauh. Apa artinya berumah tangga. Dan yang terakhir, saya akan memikirkan terlebih dahulu tawaran Yayuk. Dan saya minta, Yayuk juga berfikir lebih dalam tentang rencana hidup bersama saya. Kira-kira begitu, Yayuk ..., pandanganku tentang pernikahan. Mungkin karena itu, maka wanita tidak mau mendekati saya. Maaf, untuk sementara ini jawaban saya seperti itu. Yayuk tidak usah gundah, tidak usah risau. Jika Yayuk sudah blak-blakan untuk mengajak hidup bersama saya, saya juga blak-blakan memaparkan cara hidup saya. Mohon itu dipertimbangkan lebih dulu. Terima kasih Yayuk sudah memberi perhatian pada saya." kata Yudi yang panjang lebar membeberkan kepada Yayuk.
"Terima kasih, Yudi .... Setidaknya diriku tahu tentang kehidupanmu." balas Yayuk mendengar ceramah Yudi.
"Sama-sama, Yayuk .... Saya juga senang dirimu memberi perhatian khusus pada saya." balas Yudi.
"Aku akan memikirkan apa yang Yudi sampaikan. Eh, Yud ..., boleh aku minta nomor HP kamu? Kok yang di grup tidak aktif?" pinta Yayuk pada Yudi.
"Maaf, Yuk .... HP saya hilang saat perjalanan dari Jakarta mau pulang. Yah, nasib." jawab Yudi yang tidak memberikan nomor HP.
Sengaja Yudi tidak membagikan nomor HP. Khawatir akan terganggu dengan harapan Yayuk. Tentu sebenarnya Yudi sudah menolak secara halus. Tapi tidak tahu, bagaimana yang dipikirkan oleh Yayuk. Apakah pantang menyerah? Atau akan berhenti sampai di sini.
"Oo .... Pantas dirimu sudah tidak pernah balas obrolan di WA grup." kata Yayuk.
"Panjang ceritanya. Yah, namanya juga apes." sahut Yudi.
"Eh, Yudi .... Aku bisa minta tolong, nanti diantar ke bandara? Untuk pulang ke Palembang." pinta Yayuk.
"Memang pulang hari ini?" tanya Yudi.
"Iya, Yud .... Saya kan punya banyak pekerjaan di kantor." jawab Yayuk.
"Sudah beli tiket?" tanya Yudi.
"Sudah. Ini barusan pesan. Jaman sekarang itu gampang, Yudi .... Pesan tiket bisa secepat kilat." kata Yayuk yang sudah biasa pesan tiket on line.
"Okey, bisa. Nanti saya antar. Jam berapa?" tanya Yudi.
"Sekarang." jawab Yayuk.
"Hah ...?! Sekarang?! Ya udah, tunggu sebentar, saya keluarkan mobil." jawab Yudi yang kaget dengan rencana yang mendadak itu.
Lantas Yudi membawa mobil dari garasi belakang, memutar ke jalan depan. Mengantarkan Yayuk menuju bandara. Perempuan yang penuh misteri. Datang tiba-tiba dan pergi mendadak pula. Perempuan yang berani blak-blakan mengutarakan isi hatinya. Perempuan yang berterus terang kepada laki-laki tanpa keraguan. Yudi patut acung jempol, karena dirinya belum terlalu berani untuk mengungkapkan cinta kepada perempuan.
__ADS_1