
Bakat melukis Yuni, berkembang dengan pesat. Lukisan-lukisan Yuni sudah bukan lagi lukisan seorang bocah, tetapi sudah membuat iri para pelukis teman-teman Yudi, termasuk Pak Prof. Tentu itu semua karena lukisan Yuni yang benar-benar luar biasa. Namun tentunya, Yuni yang masih anak-anak tersebut belum memiliki aliran yang dianut secara pasti. Tentunya itu pengaruh dari teman-teman ayahnya yang setiap kali datang ke Yudi's Gallery, membawa lukisan dengan berbagai aliran.
Ya, itu terjadi setiap kali ada pelukis yang datang memasukkan lukisan ke galeri ayahnya, Yuni selalu bertanya kepada teman-teman ayahnya tersebut.
"Kak ..., itu lukisan apa ...?" begitu pertanyaan yang selalu muncul dari mulut Yuni.
Pasti pelukis itu menjelaskan kepada Yuni. Meskipun mereka tahu Yuni adalah anak kecil, namun Yudi, sang ayah, sudah menyampaikan kepada teman-temannya bahwa anaknya saat ini belajar melukis. Ia pun berpesan kepada teman-teman seniman, apapun yang ditanyakan oleh Yuni tentang lukisan, mohon untuk dijawab dan dijelaskan.
Maka sebenarnya, soal aliran-aliran dalam seni lukis, Yudi sudah kalah dengan Yuni. Meski Yuni masih bocah, tetapi dididik oleh banyak pelukis dengan berbagai aliran, maka Yuni sudah membuat lukisan aneka ragam aliran. Kadang Yuni meniru gaya lukisan John Dean, yang memotret benda-benda di sekitar lingkungannya. Kadang Yuni juga mencontoh lukisan-lukisan karya Kristine Andrea, yang melukis binatang-binatang piaraan yang lucu-lucu. Maupun meniru gaya Pauline Paquin yang memotret kehidupan masyarakat dengan berbagai aktivitasnya. Bahkan Yuni juga melukis bunga-bunga anggrek milik kakaknya, Silvy dan Yayan. Itu semua karena pengaruh gaya lukisan teman-teman ayahnya.
Yudi sengaja membiarkan gaya lukisan anaknya. Seperti yang pernah dikatakan oleh Pak Prof saat ngobrol bareng bersama teman-teman seniman se Jogja, Perkembangan anak itu akan matang dengan sendirinya, saat ia menemukan kesenangan batinnya. Seperti halnya orang berpacaran, berganti-ganti pacar itu hal yang biasa. Tetapi saat ia menemukan calon pasangan yang dirasa cocok, maka akan berniat untuk menikah. Itulah jodohnya.
Silvy dan Yayan yang selalu memotret lukisan-lukisan adiknya, langsung meng-upload ke Master Gallery. Tentu ingin mengenalkan atau mempromosikan lukisan-lukisan adiknya agar dilihat oleh orang se dunia. Tidak sekadar lukisan saja yang di-upload. Terkadang Silvy atau Yayan memotret adiknya saat melukis, kemudian juga memotret adiknya yang ia suruh bergaya memegang lukisannya. Foto-foto itu di-upload, yang tentu juga disertai dengan identitas Yuni. Silvy dan Yayan juga mencantumkan nama Yudi's Gallery sebagai tempat belajarnya Yuni. Bahkan Silvy juga memotret Yuni dengan membawa lukisan-lukisannya di depan gedung Yudi's Gallery. Ya, tentu Silvy juga ingin memamerkan galeri milik ayahnya itu.
Memang media sosial di zaman sekarang ini memegang peranan penting dalam segala hal. Itu terbukti. Dalam waktu sekejap, yang di-upload oleh Silvy dan Yayan, baik yang melalui Yudi's Gallery maupun Master Gallery, mendapat respon yang sangat luar biasa. Tentu ada yang merespon positif, tetapi ada juga yang negatif. SEperti contoh misalnya, di laman Master Gallery, Yuni mendapat pujian yang luar biasa. Pecinta seni, yang dalam laman ini biasa disebut sebagai Master Art, mereka acung jempol. Setidaknya banyak yang memberi pujian dan memotivasi agar Yuni terus belajar untuk menghasilkan karya-karya yang lebih bagus. Demikian juga bagi para orang tua yang ingin anaknya bisa melukis, mereka sungguh takjub melihat hasil karya Yuni. Pastinya para orang tua ini ingin mengikutkan anak-anaknya untuk belajar melukis seperti Yuni. Tentu banyak pertanyaan, di mana Yuni belajar melukis? Silvy pun memberi jawaban, "Yudi's Gallery" tempatnya.
Namun bagi orang yang pola pikirnya kerdil, selalu tidak percaya dengan apa yang diposting oleh Silvy dan Yayan. Yang sering muncul biasanya justru komen dari orang-orang yang tidak paham lukisan, atau bahkan tidak paham tentang seni sama sekali. Dan itu terbukti, jika dilihat dari komen-komen yang diberikan, bahasanya pasti bahasa orang bodoh. Tidak tahu tapi sok tahu. Contohnya saja, ada orang yang mengaku dari fakultas seni dan sastra, tetapi dia menulis, "Apa bedanya lukisan sama foto, kok lukisannya mirif foto?". Ah, terlalu bodoh orang ini.
KIni, yang terjadi adalah dampak dari apa yang di-upload oleh Silvy dan Yayan. Yudi's Gallery kini ramai pengunjung. Tentu para pengunjung ingin menyaksikan koleksi lukisan di Yudi's Gallery, selain itu mereka juga ingin menyaksikan kepiawaian Yuni si pelukis cilik.
Beberapa pengunjung pada menanyakan hasil karya Yuni, si pelukis cilik. Namun saat ditanyakan kepada wanita cantik pegawai galeri yang menangani penjualan karya, ternyata setelah dicek pada katalok di komputer, karya-karya Yuni belum masuk dalam daftar jual. Maka pegawai itu langsung ke ruang belakang, menyampaikan permasalahan ini kepada Yudi, sang pemilik galeri.
"Pak Yudi ..., ini ada pengunjung yang mau membeli hasil karya Yuni yang terpampang di website ..., bagaimana, Pak?" tanya remaja putri yang bertugas melayani para pengunjung tersebut.
"Waduh .... Lukisan Yuni ada yang mau beli?" Yudi malah jadi bingung.
"Iya, Pak .... Masalahnya sudah terpampang di website. Tadi para pengunjung menunjukkan gambar-gambar itu." jawab si pegawai galeri.
__ADS_1
"Oke ..., begini saja ..., bilang sama mereka, untuk sementara karya-karya Yuni masih didata dalam koleksi galeri, baru akan dijual saat pameran bulan Juni. Tapi kalau mereka ingin melihat, silakan saja diantar petugas ke ruang koleksi khusus di atas." jawab Yudi menjanjikan.
Ya, memang lukisan-lukisan Yuni sampai saat ini belum boleh dijual oleh Yudi. Lukisan-lukisan Yuni masih disimpan oleh ayahnya di ruang khusus koleksi pribadi, yang tentu sebagai kenang-kenangan keluarga. Tetapi kini, saat para tamu menanyakan lukisan-lukisan Yuni, Yudi mulai berpikir untuk mulai memasarkan karya anaknya tersebut. Tetapi itu harus dirembuk bersama dengan keluarga terlebih dahulu.
Malam itu, saat makan malam, Yudi sengaja menyampaikan permasalahan yang sedang membuat dirinya jadi bingung.
"Papah mau minta pendapat kalian semua ...." kata Yudi mengawali pembicaraan.
"Tentang apa, Pah ...?" tanya Rini.
"Papah tadi siang banyak tamu ...." kata Yuni yang ikut-ikutan nimbrung.
"Iya .... Tadi siang tamu di galeri sangat ramai. Dan saya yakin besok-besok juga akan ramai. Inilah yang mau saya katakan." kata Yudi, yang tentu baru pembuka.
"Cuman ramai begitu, Papah bingung ...?" tanya Silvy.
"Lhah, kalau ada yang mau beli ya dijual saja, Pah .... Kan lumayan bisa untuk beli bahan lagi." sahut Silvy.
"Sekarang adikmu, boleh nggak lukisannya di jual ...." kata Yudi.
"Dik Yuni .... Lukisan kamu mau dibeli orang boleh ndak?" Silvy langsung menanyakan ke adiknya.
"Yuni dapat uang ...." timpal Yayan menambahi, tentu sambil membujuk adiknya.
"uangnya banyak, nggak ...?" tanya Yuni yang tentu mulai tergiur akan dapat uang.
"Ya pasti lah .... Nanti uangnya dikumpulin, ditabung, besok bisa buat beli mobil yang bagus ...." kata Silvy lagi yang tentu sangat menarik bagi adiknya.
__ADS_1
"Mau .... Yuni mau dapat uang .... Asyik ...." tentu Yuni senang mendengar akan dapat uang.
"Berarti lukisan-lukisan Yuni boleh dibeli seperti lukisan Papah yang sudah dibeli banyak orang?" tanya Rini yang mulai tersenyum mendengar anaknya sudah mau jual lukisan.
"Berarti boleh dijual?" tanya ayahnya pada Yuni.
"Boleh, Pah .... Kan Yuni nanti dapat uang kalau lukisannya dijual." jawab Yuni yang tentu polos sebagai bocah.
"Oke lah, anak Papah yang cantik .... Umh ..., umh ...." Yudi yang senang langsung mencium Yuni berkali-kali.
Akhirnya, siang harinya Yudi mengundang tukang pigura untuk membuatkan bingkai-bingkai lukisan Yuni. Tentu agar lukisan itu terlihat lebih indah dan berkelas. Pasti juga mempunyai nilai jual yang lebih tinggi. Lantas lukisan-lukisan Yuni dipajang di ruang koleksi lukisan Yudi. Tentu agar menyatu antara lukisan ayah dan anak. Harapannya, nanti para penyuka lukisan jika gagal memilih punya Yuni, setidaknya akan melihat dan memilih lukisan-lukisan Yudi.
Benar, hari-hari selanjutnya para pengunjung Yudi's Gallery terkesima menyaksikan lukisan Yuni. Sengaja Yudi mengajak Yuni untuk menunggui lukisannya. Rini sudah mendandani anaknya dengan pakaian yang bagus, agar anaknya terlihat cantik saat berada di dalam ruang pamer. Yuni mengenakan gaun putih ala bidadari. Demikian juga Yudi, yang mengenakan setelan jas. Tentu terlihat gagah.
Dan benar, saat tamu mulai berdatangan, begitu melihat Yuni, mereka langsung terkesan dengan anak yang genius itu.Tentu banyak pertanyaan yang dilontarkan kepada Yuni. Namun Yuni memang bocah ajaib. Semua pertanyaan para pengunjung ia jawab dengan lincah. Bahkan, saat ada pengunjung orang asing, orang-orang bule, Yuni pun sanggup menjelaskan dalam bahasa Inggris. Tentu orang-orang yang melihatnya terkesima dan kagum. Apalagi para pengunjung lokal yang tidak bisa bahasa Inggris, menyaksikan Yuni yang menjelaskan lukisannya kepada para bule dengan bahasa Inggris, sungguh sangat luar biasa.
Sengaja Yudi maupun bagian katalog lukisan tidak memberi daftar harga pada lukisan Yuni. Tentunya Yudi ingin memancing tawaran-tawaran dari pencinta seni dari manca negara.
"How much does this painting cost?" tanya salah seorang pengunjung bule dari Eropa yang ingin tahu harganya.
"This is a painting of my daughter when she was six years old. A painting that should be a memory. How much do you dare to pay?" jelas Yudi tentang lukisan anaknya itu, lantas menanyakan pada orang Eropa itu berani membayar berapa untuk membawanya.
"Fifty thousand euros ...." jawab pengunjung dari Eropa tersebut.
"Fifty thousand euros? Okey, agreed ...." kata Yudi sepakat dengan penawaran pencinta seni dari Eropa tersebut.
Sebuah lukisan Yuni, si bocah ajaib itu, lukisannya mampu terjual dengan harga sekitar tujuh ratus lima puluh juta rupiah. Wao .... Sungguh harga yang sangat fantastis.
__ADS_1