
Sore itu, Simbok mengadakan acara selamatan kecil-kecilan untuk mengungkapkan rasa syukurnya setelah anak laki-lakinya, enam bulan pergi dari kampung halaman, berada di negeri orang tanpa kabar berita. Tentu Simbok merasa senang setelah anaknya pulang dengan selamat, kembali bisa bersama dengan orang tuanya. Walau seharian Simbok menangis, karena Yudi tidak bisa menemukan istrinya. Bahkan menurut cerita anaknya, Yudi disembunyikan oleh para pendeta di kuil agar tidak ketemu dengan orang-orang jahat yang menangkap istrinya, maka Simbok tentu sangat sedih mendengarkan cerita itu. Maka, tentu Simbok sangat bersyukur anaknya bisa pulang selamat.
Sebenarnya hanya tetangga-tetangga dekat yang diundang untuk acara selamatan itu. Namun kenyataannya, para tetangga yang bedartangan tidak terhitung jumlahnya. Tentu semuanya ingin tahu cerita Yudi yang sebenarnya. Pasti para tetangga penasaran dengan nasib yang dialami oleh Yudi di Jepang, maupun Yuna. Termasuk Pak Lurah, meskipun kemarin sudah mendengar cerita dari Yudi. Bahkan Rini juga ikut hadir, setelah Bagas disuruh oleh Simbok untuk menjemputnya.
Yudi pun menceritakan nasib dirinya. Ia tidak ingin para tetangganya bingung dengan menebak-tebak yang mereka tidak tahu cerita yang sebenarnya. Tentu, setelah Yudi menceritakan kisahnya saat mencari istrinya, para tetangga menjadi merasa iba. Kasihan mendengar kisah Yudi.
"Berarti Mbak Yuna tidak ketemu, Mas Yudi ...?!" tanya beberapa tetangganya.
Yudi hanya menggeleng-gelengkan kepala. Ia tidak sanggup menjawab ketika ditanyai keadaan Yuna. Jangankan bagaimana keadaan Yuna, tempatnya di mana saja Yudi tidak tahu. Bahkan saat dirinya baru sampai di rumah mertuanya saja, ia sudah disuruh pergi menghindar agar tidak ditangkap oleh orang-orang yang sudah membawa Yuna.
"Ya ampun, Mas Yudi .... Kok nasibmu apes to, Mas ...?!" kata tetangga yang lain.
"Mas Yudi cari istrinya kejauhan, sih ...." ada tetangga yang berseloroh, tentu sangat menggoda.
"Iya .... Cantik pisan ...!!" sahut yang lain, yang akhirnya justru menjadi semacam gojekan.
"Berarti sekarang Mas Yudi munduda ...?!" tanya tetangga yang lain lagi, juga ikut menggoda.
"Iya, betul .... Kan sendirian lagi ...." sahut yang lain.
"Bagaimana kalau dijodohkan sama Ibu Rini ...?!" tiba-tiba ada tetangga yang nyeletuk.
"Setuju ...!!!" yang lain langsung berteriak.
Tentu Rini yang duduk di samping Simbok, langsung memerah pipinya. Malu, tapi ada rasa mau dalam hatinya.
"Iya, Ibu Rini .... Cocok, kok ...." ibu-ibu yang dekat dengan Rini langsung mengomentari, dan tentu sudah menengok wajah Rini yang memerah.
"Ibu Rini ..., mau ya .... Kami setuju, kok ...." sahut yang di sebelahnya lagi.
"Apaan ..., sih ....?!" Rini yang malu-malu menyela menyahut celoteh ibu-ibu yang menggoda dirinya.
"Halah ...! Mau ..., mau ..., mau ...!" sahut ibu-ibu yang ramai mengeroyok Rini.
"Simbok setuju, ya ...." kata ibu-ibu yang ada di sebelah Simbok.
"Hehehe ...." Simbok hanya tertawa kecil.
__ADS_1
"Iya, Mas Yudi .... Dari pada njomblo terus. Duda dapat Janda .... Pas itu ..., tidak ada masalah." ibu-ibu ramai membujuk Yudi dan Rini.
"Pak Lurah .... Ayo langsung dinikahkan ...!" ada juga yang langsung meminta Pak Lurah untuk menikahkan Yudi dengan Rini.
"Boleh .... Saya juga setuju ...." kata Pak Lurah sambil tersenyum.
"Ini apa-apaan, sih .... Kalian itu loh, aneh-aneh saja ...." Yudi yang merasa digoda dengan berbagai celotehan, akhirnya bicara.
"Kami mendukung kalau Mas Yudi menikah dengan Ibu Rini .... Sebagai pengganti Mbak Yuna, Mas ...." kata salah seorang yang ada di pendopo itu.
"Sudah .... Kalian tidak perlu ribut. Saya akan pikirkan dahulu ...." kata Yudi yang tentu ingin agar para tamunya berhenti untuk membahasnya.
"Jangan lama-lama, Mas Yudi .... Kasihan Ibu Rini sendirian terus di rumahnya." sahut yang lain.
"Ya ampun .... Kalian ini kok tidak sabaran, sih .... Beri waktu pada saya untuk berpikir." kata Yudi lagi.
*******
Terus terang Rini merasa senang setiap kali Yudi datang ke Taman Anggrek Nirwana. Setidaknya ada teman yang bisa diajak ngobrol, dengan cita rasa pembicaraan yang sama. Yaitu tentang cinta. Cinta orang dewasa. Cinta antara janda dan seorang laki-laki yang kehilangan istri. Dan tentu, cinta masa lalu yang saat SMA pernah bersemi, kini akan kembali dengan keadaan yang sudah sama-sama menjelang tua. Apalagi Rini, yang sepertinya kala itu saat pertemuan di reuni kembali tergila-gila dengan Yudi.
Wajar jika Hamdan cemburu. Namun karena Hamdan adalah direktur perusahaan besar, dengan penghasilan kelas Jakarta yang tentu sangat besar, mau apa saja bisa, maka tidak menampakkan kecemburuannya itu pada istrinya. Maka benar seperti yang disangkakan oleh saudara-saudara Hamdan saat berkali-kali menelepon Rini yang dianggap sebagai teror, mereka marah kepada Rini karena menganggap Rini tidak setia pada suaminya. Dan akhirnya, Hamdan berselingkuh dengan wanita lain.
Entahlah. Itu masa lalu. Dan kini bukanlah masa seperti saat Rini masih punya suami. Kini Rini hanyalah seorang janda. Janda yang ditinggal mati oleh suaminya. Apakah salah jika sekarang Rini berdekatan dengan Yudi? Apalagi orang-orang kampung juga sudah mengatakan kalau Yudi itu duda yang kehilangan istri. Bahkan jika para tetangga sudah banyak yang meminta agar Yudi menikah saja dengan Rini. Pasti sangat wajar jika rasa cinta itu kembali muncul dalam hati Rini.
Seperti halnya sore itu, saat Yudi datang ke Taman Anggrek Nirwana. Rini yang masih melayani pembeli, begitu melihat Yudi datang, ia langsung bergegas menemui Yudi. Pasti dengan perasaan riang. Senang yang tak terkira.
"Yudi ...!" teriak Rini memanggil Yudi.
Yudi yang paham jika di kebun anggrek ada pembeli, maka ia langsung menyusul di tempat keberadaan Rini. Ia tidak ingin mengganggu pelanggannya. Tentunya Yudi tetap memberi kesempatan kepada pelanggan itu untuk memilih anggrek.
"Sini, Yud ...." kata Rini yang masih meladeni pembeli.
"Lhoh ..., Pak Yudi ...?!" sepasang kekasih pembeli anggrek itu kaget saat tahu yang datang ke situ adalah Yudi.
"Iya, betul .... Maaf, siapa ya ...?" tentu Yudi bertanya karena lupa.
"Kami sering mengikuti kegiatan Mas Yudi di Taman Budaya, saat kami kuliah di ISI." jawab yang laki-laki.
__ADS_1
"Oo ..., mahasiswanya Pak Prof, ya ...." sahut Yudi.
"Betul, Pak Yudi .... Saya senang mendengar ide-ide Pak Yudi. Sudah lama saya ingin bertemu Pak Yudi, ternyata Bapak tinggal di sini. Terus terang saya ingin belajar hakekat seni dengan Bapak. Boleh kan, Pak ...?" kata laki-laki yang paling baru berusia tiga puluh tahun itu.
"Boleh .... Silakan saja. Ilmu itu harus dibagi, biar semakin berkah. Dan itu amal jariah." sahut Yudi santai.
"Terima kasih Pak Yudi ..., kapan-kapan saya akan datang kemari untuk belajar seni dengan Bapak. Nanti sekalian biar istri saya belajar anggrek pada istrinya Pak Yudi." kata laki-laki itu.
Tentu Rini yang mendengar kata-kata "istrinya Pak Yudi" langsung menutup mulutnya yang ingin tertawa geli.
"Ya ..., ya .... Boleh. Silakan datang, setiap saat kami siap berbagi ilmu." jawab Yudi santai.
"Terima kasih, Pak Yudi .... Terima kasih, Ibu Yudi ...." kata sepasang kekasih itu sambil menyalami Yudi dan Rini.
Lagi-lagi, Rini tertawa geli mendengar kata-kata dari sepasang kekasih itu. Dirinya disebut "Ibu Yudi".
Setelah pelanggan anggrek itu meninggalkan Taman Anggrek Nirwana, dan diantar hingga keluar pendopo, Rini langsung memukuli pundak Yudi sambil tertawa geli.
"Ada apaan, sih ...?!" Yudi yang dipukuli pundaknya, tentu merasa heran dengan tingkah Rini.
"Itu, tuh .... Masak dia bilang, istrinya Pak Yudi ..., Ibu Yudi .... Ya geli lah, aku ...." lagi-lagi Rini tertawa sambil memukuli pundak Yudi.
"Ya ..., diamini saja .... Itu doa ...." kata Yudi santai.
"Maksud kamu ...?!" tanya Rini yang memandang Yudi sambil mengharap jawaban yang pasti.
"Siapa tahu itu jadi terwujud ...." kata Yudi lagi yang tetap santai.
"Terwujud apanya?" tanya Rini lagi.
"Ya ..., itu .... Jadi istrinya Pak Yudi ...." kata Yudi sambil tersenyum.
"Iih .... Yudi ...!!!" lagi-lagi Rini memukuli pundak Yudi. Kali ini tentu lebih keras pukulannya.
"Lah ..., jika iya, mau apa tidak ...?!" Yudi menggoda.
"Mau ...." jawab Rini yang langsung memeluk lengan Yudi dan merebahkan kepalanya di pundaknya.
__ADS_1
Di langit barat mentari mulai berganti cahaya. Awan lembayung membuat suasana aram temaram. Yudi yang masih dalam kebingungan, akhirnya mengurungkan niatnya untuk mengajak Rini ke rumahnya. Setidaknya, Yudi tetap ingin menjadi orang baik. Tidak ingin mengumbar hawa nafsunya. Bahkan saat Rini menawarkan kepada Yudi untuk tidur di tempat Rini, sekalian menemani dirinya yang selalu sendiri, hampir saja Yudi bersedia.
"Waktu masih panjang, meski mentari telah tenggelam, esok hari ia akan muncul kembali." kata Yudi yang berpamitan untuk pulang.