
Sudah satu bulan proposal Yuna dinilai kelayakannya. Baik melalui presentasi yang disampaikan oleh Yuna sendiri, review yang dilakukan oleh tim penyelia rancangan program, serta kroscek lapangan yang dilakukan oleh tim visitasi. Dan yang paling lama adalah persetujuan dari pihak pemerintah Jepang, terkait dengan situs peninggalan sejarah Gua Jepang yang akan diekspose untuk wisata religi bagi masyarakat Jepang. Istilah muslim Indonesia, ziarah.
Yuna yang bekerja di perusahaan jasa desain di Tokyo, tetap menyelesaikan desain-desain yang diminta oleh klien, yaitu perusahaan maupun perorangan yang menggunakan produk yang ditawarkan oleh perusahaan tempat Yuna bekerja. Perusahaan tempat Yuna bekerja adalah bidang jasa konstruksi dan desain. Tidak hanya bangunan besar, bahkan Yuna pernah mengerjakan pembuatan desain teko tempat minum dan cangkir alat minum. Jadi Yuna ini orang yang bisa membuat berbagai macam desain barang.
Di Jepang, pekerjaan jasa pembuatan desain sangat berkembang. Perusahaan-perusahaan besar tidak akan membayar karyawan khusus untuk membuat desain. Terlalu membuang uang. Perusahaan-perusahaan besar di Jepang, seperti Toyota, Honda, Yamaha, Suzuki, untuk membuat sebuah desain mobil yang akan diciptakan, perusahaan-perusahaan besar ini tidak perlu merekrut pekerja khusus desainer di perusahaannya, mereka cukup memesan desain itu di perusahaan jasa desain, seperti perusahaan tempat Yuna bekerja.
Tetapi jangan dipikir jika Yuna yang perempuan itu hanya bisa membuat desain teko atau cangkir minum. Walau seorang perempuan, Yuna pernah diserahi pekerjaan khusus untuk membuat desain sebuah kapal perang. Untuk membuat desain yang benar dan detail, maka Yuna harus terjun secara langsung mengamati kapal perang dari berbagai pangkalan. Tentu dengan dikawal para tentara militer.
Orang seperti Yuna, yang memiliki otak cemerlang, jiwa seni tinggi, perhitungan geometri yang cermat, serta ketelitian pembuatan desain, itu sangat jarang. Di perusahaan tempat Yuna bekerja yang berkantor di Tokyo, hanya Yuna sendiri yang perempuan. Yuna memiliki segalanya. Maka orang seperti Yuna ini banyak dicari dan diperebutkan berbagai perusahaan. Yang pasti, honornya sangat tinggi. Bahkan ibarat kata, Yuna minta gaji berapa saja, banyak yang siap membayarnya. Itulah penghargaan kejeniusan otak seseorang di negara maju. Orang pintar diberi tempat yang sesuai dengan kompetensinya, yang tentu sesuai pula jumlah uang untuk menghargai otaknya.
Setelah evaluasi secara keseluruhan, hasil asesmen akan disampaikan. Yuna dipanggil kembali oleh Yayasan Penyandang Dana. Tentu untuk menetapkan apakah rencana program yang akan dikembangkan di Kampung
Nirwana disetujui atau tidak.
Pagi sekali Yuna sudah sampai di kantor yayasan. Dengan mengenakan setelan rok dan jas wanita yang sangat bagus, rambut lurus sebahu disisir rapi, serta mengenakan sepatu high heels, sangat serasi dengan kecantikannya. Yuna sudah siap menerima keputusan.
Yuna sudah duduk di ruangan berukuran lima kali lima meter, yang dilengkapi meja melingkar serta sepuluh buah kursi putar, yang sesaat kemudian masuk dua orang laki-laki tua. Laki-laki yang berusia sekitar tujuh puluh tahun itu mempunyai gaya berpakaian, ukuran tubuh serta setelan jas dan dasi yang sama, bahkan sisiran rambut yang tinggal sedikit ditarik ke belakang, juga sama. Dua orang yang bisa dikatakan tua ini adalah pengurus yayasan. Walau terlihat tua, pasti dua orang ini memiliki pengaruh yang besar di yayasan. Setidaknya, dua orang ini adalah pengurus utama. Dua orang itu duduk berseberangan, berhadapan dengan Yuna.
"Ohayou gozaimasu, ane Yuna." salah seorang pengurus yayasan itu memberi salam kepada Yuna.
Yuna bangkit berdiri dari duduknya, lantas membungkukkan badan, tanda menghormat. Yuna mengatakan salam, "Ohayou gozaimasu, shin'ainaru shinshi."
"O suwari kudasai." pengurus yayasan itu mempersilakan Yuna untuk duduk.
Dua orang laki-laki tua itu tersenyum lebar menyambut Yuna. Bahkan gigi tuanya yang masih utuh terlihat semua. Pertanda senang bisa bertemu dengan Yuna.
"Saudari Yuna, kami bangga memiliki orang sehebat Anda. Bahkan reputasi saudari Yuna ini sungguh luar biasa. Hasil penelusuran catatan tentang saudari Yuna, Anda pernah membuat desain mobil militer, dan yang terakhir Anda membuat desain kapal perang. Sungguh prestasi yang luar biasa untuk seorang gadis yang secantik Anda." pengurus yayasan itu memuji Yuna.
Tentu Yuna tersipu malu saat disanjung terlalu tinggi seperti itu. Nampak pipinya langsung merona merah. Kecantikannya bertambah lebih aduhai.
__ADS_1
"Arigato gozaimasu. Shinshi wa amarini mo shosan shite imasu." Yuna meminta dua tuan dari pengurus yayasan ini agar tidak terlalu memuji.
"Arigato, Yuna-san. Kami sangat berterima kasih, saudari Yuna sudah banyak membantu yayasan kami. Yayasan akan sampaikan hasil asesmen terkait rencana bantuan dari program yang akan Anda kembangkan. Terus terang yayasan sangat setuju dengan usulan saudari Yuna. Selamat, semoga sukses." kata dua orang pengurus yayasan tersebut, lantas berdiri menyalami Yuna.
Tentu perasaan Yuna sangat senang mendengar hasil putusan itu. Ia segera berdiri, membungkukkan badannya, lantas menyambut tangan pengurus yayasan tersebut, menyalami satu persatu.
Lantas dua orang pengurus yayasan kembali duduk, Yuna juga ikut kembali duduk.
"Yuna-san, silakan tanda tangan untuk nota kesepahaman yang sudah kami siapkan." salah satu pengurus yayasan membuka stofmap berisi berkas kesepakatan.
"Arigato, Shinshi." Yuna mengucapkan terima kasih dan lantas berdiri, menandatangani satu persatu berkas yang sudah disiapkan oleh yayasan.
Setelah selesai penanda tanganan, Yuna diberi satu bendel berkas yang dimasukkan dalam stofmap.
"Satu salinan berkas ini untuk disimpan saudari Yuna, sebagai bukti kesepakatan kita hari ini." kata salah satu pengurus yayasan yang menyiapkan berkas kesepahaman itu.
"Jika boleh kami tahu, siapa nanti yang akan Anda rekomendasikan untuk mengerjakan program ini?" tanya salah satu pengurus yayasan yang lain pada Yuna.
"Hah, Nona Yuna sendiri yang akan berangkat ke Indonesia?" dua orang pengurus yayasan itu terkaget.
Tentu kagetnya adalah kaget senang. Karena orang terbaik yang pernah kerja sama dengan yayasan penyandang dana tersebut, mau terjun langsung untuk melaksanakan programnya.
"Yuna-san, kami sangat-sangat berterima kasih kepada Nona. Anda memang benar-benar gadis yang luar biasa. Orang yang mau terjun langsung ke lapangan. Saya percaya, program ini akan sukses." kata pengurus yayasan itu, kemudian keduanya tepuk tangan mengapresiasi Yuna.
"Arigato, Shinshi. Mohon bimbingan dari tuan-tuan semua. Kami yang muda harus berguru kepada yang senior." Yuna mengucapkan terima kasih dan tentu tetap merendah untuk meminta dibimbing.
"Tentu, Nona Yuna. Begitu Anda ingin menjadi pimpinan program ini, saya langsung berniat datang ke Indonesia. Tentu untuk mendampingi Nona Yuna. Suatu kehormatan bagi kami, bisa berkunjung ke Indonesia karena Nona Yuna." kata pengurus yayasan tersebut, yang langsung berkeinginan datang ke Indonesia.
"Arigato, Shinshi. Nanti tuan berdua akan saya agendakan ke Indonesia saat peringatan Kemerdekaan Indonesia. Di sana ada tradisi selamatan di depan Gua Jepang. Nanti tuan berdua akan merasakan betapa keramatnya Gua Jepang itu bagi masyarakat setempat." kata Yuna menjelaskan.
__ADS_1
"Arigato, Yuna-san. Kami sungguh berterima kasih bisa bekerja sama dengan Nona. Kami tunggu undangannya menghadiri tradisi selamatan di Indonesia. Sekali lagi, terima kasih, Nona Yuna." dua orang pengurus yayasan itu kembali berdiri dan membungkukkan badan.
Yuna ikut berdiri, membungkukkan badannya, menghormati dua laki-laki tua yang kemudian meninggalkan ruangan itu. Yuna ikut meninggalkan ruangan, dan langsung pulang.
*******
Masuk kamar apartemen, Yuna meletakkan tas dan stofmap berkas kesepakatan di atas meja kerjanya. Melepas sepatu, melepas setelan jasnya. Lantas ia melemparkan tubuhnya di atas kasur tempat tidurnya. Bibirnya mengembang, tersenyum lebar. Ada kepuasan dengan hasil kerjanya selama ini. Proposalnya disetujui tanpa catatan. Bahkan yayasan yang akan mendanai merasa senang saat dirinya mengatakan, ia sendiri yang akan memimpin proyeknya. Senang rasanya. Ia akan kembali ke Indonesia, ia akan datang lagi di Jogja, dan ia akan bersama lagi dengan Yudi. Ach .... Sungguh menyenangkan.
Yuna langsung berkhayal, kelak saat ia berada di Kampung Nirwana. Kampung yang masyarakatnya sudah mengenal dirinya. Kampung yang masyarakatnya sudah menerima kehadirannya. Kampung yang bahkan masyarakatnya sudah menjodohkan dirinya dengan Yudi.
"Ah, Yudi .... Sebentar lagi cintamu akan kembali ke pangkuanmu ...." senyum Yuna membayangkan Yudi.
Lantas Yuna meraih HP. Menelepon Yudi, orang yang sudah satu bulan ini dirindukan.
"Hello, Yuna .... How are you?" Yudi yang menerima telepon dari Yuna, tentu langsung mengangkatnya.
"Hi Yudi, I'm fine. I miss you, Yudi ...." sahut Yuna dari apartemennya di Kyoto.
"Yuna, aku sangat merindukanmu .... Bisakah kita pakai video call?" tanya Yudi, yang tentu ingin melihat wajah orang yang dirindukan itu.
"Iya, Yudi ...." sahut Yuna, yang langsung mengganti panggilannya dengan video call.
"Hai, Yuna ...."
"Hai, Yudi ...."
Dua orang yang dilanda rindu itu saling melambaikan tangan. Senyumnya mengembang lebar. Saling tatap, saling pandang, saling melepas kerinduan.
Satu bulan mereka tidak berkomunikasi. Maka saat berpandangan melalui video call, mereka justru kehilangan kata-kata. Hanya mimik wajah dan tatapan mata yang saling mengoreksi kekasihnya. Mengamati seluruh bagian wajah maupun tubuh yang terlihat di layar HP. Mulai dari rambut, dahi, kening, mata, hidung, bibir dan seluruhnya ingin saling dilihat. Terutama Yuna, yang selama satu bulan pikirannya fokus pada proposal. Tidak bisa memikirkan Yudi. Maka saat ia bisa melihat laki-laki yang berkali-kali membopong tubuhnya itu, sangat gembira. Hatinya senang. Kerinduannya terobati.
__ADS_1
Begitu pula Yudi, yang diam-diam mulai kagum dengan gadis Jepang itu, bahkan Yuna mulai bisa mengusik hatinya untuk menggantikan Rini, ia memandangi jeli si gadis mulus yang cantik itu. Maka Yudi mengamati secara saksama gadis yang tampak di layar HP miliknya. Untuk mengobati rindunya. Seluruh bagian diamati. Mulai dari rambutnya yang lurus terurai tidak karuan, mata sipitnya, hidung serta bibir mungilnya. Dan setelah lama saling mengamati, Yudi baru sadar ....
"Ya ampun, Yuna ..., kamu tidak mengenakan pakaian, ya ...!" teriak Yudi.