
Begitu Rini teringat masih ada satu lukisan yang belum disertakan oleh Yudi dalam pengiriman paket, yaitu lukisan yang pernah dilihat oleh Silvy, bahkan sudah difoto dan fotonya sudah diperlihatkan oleh Silvy kepada ibunya, serta merta Rini ingin tahu kebenaran lukisan itu. Rini langsung mengangkat telepon dan menghubungi anaknya.
"Halo, Mah .... Ada apa, Mah?" tanya Silvy saat mengangkat panggilan dari ibunya.
"Halo, Silvy .... Silvy sibuk nggak, nich ...?" tanya ibunya.
"Ya, namanya kerja pasti sibuk lah, Mah .... Memangnya ada apa, Mah?" tanya Silvy.
"Begini, Silvy ..., Mamah mau tanya sebentar, itu ..., terkait lukisan yang pernah kamu lihat di tempatnya Papah Yudi ..., yang Silvy foto itu memang ada benaran?!" tanya Rini pada anaknya.
"Benar, Mah .... Silvy lihat sendiri di pojok pendopo. Kan Mamah udah Silvy tunjukin fotonya ...." jawab Silvy.
"Ya, udah ..., kalau memang benar-benar ada." sahut Rini, ibunya Silvy.
"Memangnya kenapa, Mah?" tanya Silvy yang jadi penasaran.
"Tidak apa-apa, Sayang ..., cuman mau memastikan saja." jawab Rini.
"Ih, Mamah .... Bikin penasaran saja ...." sahut Silvy.
"Maaf, Sayang .... Mamah cuman pengin memastikan saja, kok. Terima kasih ya, Sayang .... Silakan bekerja lagi." kata Rini, yang mengakhiri telepon dengan anaknya.
Dengan masih ada satu lukisan yang belum dikirim, tentu Rini merasa agak khawatir. Risau terhadap lukisanitu. Rini bertanya-tanya, apakah Yudi lupa dengan lukisan yang satu itu, ataukah Yudi sengaja menyimpannya untuk dirinya sendiri?
Rini jadi tidak nyaman, kalau nanti sampai dilihat oleh Yuna, pasti gadis Jepang itu akan cemburu dan marah-marah lagi. Setidaknya Yuna akan menjadi tidak senang dengan Rini, karena menganggap dirinya tetap akan mengejar Yudi.
"Ih, ngapain ngejar-ngejar Yudi! Suamiku lebih kaya, tahu!" begitu gumam Rini.
Walau begitu, tetap ada rasa tidak enak dalam hati Rini. Setidaknya, dahulu dirinya pernah menaruh hati kepada Yudi. Bahkan setiap pulang sekolah, selalu menyeret Yudi untuk mampir ke rumahnya, dengan alasan mengerjakan tugas-tugas ataupun PR. Padahal Rini ingin bisa bersama Yudi berlama-lamaan. Apalagi waktu itu rumah Rini sering kosong karena orang tuanya bekerja. Yah, minimal Yudi disuruh menemani Rini jaga rumah.
Namun waktu itu, meski Yudi tidak mengatakan cinta, ia mau saja Rini setiap hari main ke rumahnya. Ya, hanya mereka berdua yang ada di rumah itu. Seandainya Yudi nakal, tentu ia sudah melakukan hal-hal yang tidak baik. Demikian juga seandainya Rini yang nakal, pasti ia sudah menyeret Yudi ke kamarnya. Tetapi dua remaja SMA itu adalah anak yang baik-baik semua. Maka hal-hal buruk tidak pernah terjadi. Apalagi Yudi, remaja SMA yang pendiam dan tidak macam-macam, sangat polos dan lugu, tidak perlu dikhawatirkan lagi sikapnya saat itu. Kalau zaman sekarang, orang menyebut Yudi sebagai anak yang berkarakter.
Tentu Yudi akan menjaga kebaikannya, walau terkadang Rini yang sering nakal. Rini sering menggoda Yudi. Rini sering mencolek, bahkan pernah sekali dengan cara mencuri-curi Rini mencium Yudi. Seandainya Yudi membalas, entah apa yang terjadi saat itu. Tetapi Yudi rupanya justru takut, lantas mengajak teman biar Rini tidak mencuri cium lagi, atau melakukan hal yang macam-macam.
Makanya, jika suasana mulai berbahaya seperti itu, Yudi biasanya mengajak Handoyo dan Alex, teman baiknya yang sama-sama sering saling bantu dalam menyelesaikan soal-soal yang sulit. Terutama Handoyo, si anak jenius yang sekarang jadi dokter. Oleh sebab itulah, mereka berempat yang sangat akrab itu kemudian disebut Empat Sekawan HARY, yaitu kelompok empat anak yang runtang-runtung, selalu bersama yang terdiri dari Handoyo, Alex, Rini dan Yudi.
Jika ingat itu, Rini sering menyesal. Rini yang waktu itu naksir berat sama Yudi, tidak sempat berpacaran. Padahal ia ingin terlihat seperti teman-teman perempuannya yang lain, seperti Yayuk yang sering gonta-ganti pacar, atau Marlina yang berangkat dan pulang selalu bergandengan tangan dengan pacarnya, maupun Astutik yang kalau pulang sekolah dijemput oleh pacarnya. Tetapi bagi Rini, itu sangat mustahil, karena Yudi benar-benar anak baik yang tidak mau berpacaran seperti teman-temannya. Ya, sudahlah, Rini menerima kebaikan Yudi sebagai manusia super. Manusia yang bisa tahan terhadap godaan. Bahkan hingga ditinggal menikah, Yudi masih mempertahankan kesetiaannya. Uch ..., kecewa rasanya tidak bisa menikah dengan Yudi. Begitu yang dialami Rini.
Tetapi, tentu Rini tidak kecewa. Alasannya, Rini mendapat jodoh laki-laki kaya raya. Segala kebutuhan terpenuhi. Segala keinginan terkabulkan. Pokoknya tidak menyesal menikah dengan Hamdan yang sukses segala-galanya. Bahkan kini, Rini bisa menikmati kehidupannya yang penuh dengan kemewahan.
Rini mengambil HP, menelepon Yudi. Tentu ingin menanyakan lukisan yang belum dikirim. Setidaknya, Rini ingin tahu, di mana lukisan itu saat ini berada.
__ADS_1
"Halo, Rini .... Bagaimana kabarmu?" suara Yudi dalam telepon.
"Hai, Yudi .... Saya baik-baik saja dan sehat." jawab Rini.
"Syukurlah, semoga Rini senantiasa sehat dan bahagia." sahut Yudi.
"Alhamdulillah ..., Yudi .... Terima kasih doanya. Yudi sehat, kan?!" Rini balik bertanya.
"Alhamdulillah ..., sehat, Rin ...." sahut Yudi dalam telepon.
"Eh, Yud ..., ini paket yang Yudi kirim sudah sampai. Terima kasih ya, Yud ...." Rini memberitahukan jika paketnya sudah diterima.
"Iya, Rini ..., semoga bisa menjadi kenangan masa lalu untuk Rini." Yudi membalas ucapan Rini.
"Yudi, aku mau tanya ...." kata Rini.
"Tanya apa, Rin ...?!" sahut Yudi segera membalas.
"Ini, Yudi .... Lukisan yang Yudi kirim cuman ada tiga. Padahal cerita Silvy, ada lukisan diriku yang bersanding dengan Yudi .... Kok tidak dikirim sekalian?" tanya Rini.
"Rini .... Lukisan itu terlalu jelek. Tidak bagus. Tidak pantas dipajang di rumah besar seperti rumah Rini. Maka tidak perlu saya sertakan dalam pengiriman." jawab Yudi.
"Maaf, Rini .... Saya mohon Rini harus paham. Lukisan itu memajang wajahmu dan diriku. Saya tidak ingin Mas Hamdan melihat itu. Tidak nyaman bagi saya. Dan tentu, buat Rini juga kurang etis. Saya khawatir jika lukisan itu saya kirim serta, nanti akan mengganggu kenyamanan Mas Hamdan. Maka sebaiknya lukisan itu tidak perlu ada di rumahmu." kata Yudi yang memberi penjelasan pada Rini.
"Hem ..., terima kasih atas pengertianmu, Yudi. Berkali-kali aku terkagum dengan dirimu. Kamu memang orang baik, Yudi ...." kata Rini yang menerima penjelasan dari Yudi.
"Aah ..., jangan terlalu memuji, Rini. Nanti kepala saya menjadi besar ...." sahut Yudi.
"Beneran, kok .... Makanya, aku jatuh cinta padamu .... Hehehe ...." Rini mulai menggoda.
"Rini juga baik .... Bahkan terlalu baik untukku. Terima kasih atas perhatianmu selama ini." balas Yudi.
"Lhah, terus lukisan itu Yudi taruh di mana? Jangan sampai dilihat oleh Yuna lagi, lho .... Itu lebih bahaya, karena memampang diri kita berdua ...." tanya Rini lagi, sekaligus mengingatkan pada Yudi.
"Tidak apa-apa, Rini ..., jangan khawatir. Lukisan itu sudah saya bakar ...." jawab Yudi.
"Hah ...?! Dibakar ...?!" teriak Rini kaget.
"Iya, Rini .... Terus terang saya tidak mau terjadi masalah lagi dengan lukisan-lukisan kita. Saya berpikir, jika lukisan itu saya kirim ke rumah Rini, akan jadi masalah bagi Mas Hamdan. Jika saya tinggal di rumahku, pasti jadi masalah lagi bagi Yuna. Maka waktu saya mau kirim, langsung saya batalkan, saya ambil lagi dari kardus pembungkus. Ya, karena rasa tidak nyaman itu. Waktu itu sempat saya bawa ke galeri, waktu saya belanja bahan lukis, lukisan yang saya bawa itu mau dibeli orang. Bahkan pembeli itu berani membayar mahal. Tapi saya tidak melepasnya. Saya bawa pulang kembali. Namun saat sampai di rumah, aku bingung .... Pasti ini nanti akan menjadi masalah lagi. Dalam kebingungan menyimpan lukisan itulah, saya langsung mengambil keputusan untuk membakarnya .... Maafkan saya Rini ...." jelas Yudi pada Rini.
"Ya ampun, Yudi .... Sayang sekali lukisanmu dibakar. Apa tidak ada cara lain?" kata Rini yang merasa kecewa.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Rini, itu hanya sebuah lukisan. Kalau memang Rini mau, saya bisa membuatkannya lagi." sahut Yudi.
"Bukan begitu, Yudi .... tapi sangat disayangkan .... Itu lukisan cinta kita, Yudi ...." kata Rini.
"Lhah, habis mau bagai mana lagi? Saya bingung, Rini ...." jawab Yudi.
"Aku jadi sedih, Yudi ...." kata Rini yang mengiba.
"Memangnya kenapa ...?" tanya Yudi.
"Maslahnya lukisan itu kamu bakar, Yud Lukisan yang memuat diriku dan dirimu, lukisan kita berdua .... Firasatku kok tidak enak." kata Rini yang mulai berhalu.
"Ah, tidak usah berfikir seperti itu, Rini .... Ambil sisi positifnya saja. Yang penting lukisan itu sudah tidak menyakiti orang lain. Itu yang terbaik." sahut Yudi.
"Iya, Yudi .... Tapi keyakinan hatiku berbeda. Entah kenapa, saat Yudi bilang membakar lukisan itu, hatiku langsung merasa tidak nyaman, Yud ...." kata Rini lagi.
"Tidak nyaman bagaimana?" tanya Yudi.
"Yudi sudah membakar lukisan kita. Saya khawatir, cinta kita ikut hangus, Yudi ...." kata Rini yang terlalu khawatir dengan kesetiaan Yudi.
Ya, tentu Rini merasa khawatir jika dilupakan oleh Yudi setelah nanti Yudi bersama dengan Yuna. Tentu salah Rini juga yang meminta Yudi untuk mendekati Yuna, untuk menggaet Yuna, bahkan meminta untuk menikahi Yuna. Rini sudah ikut andil perjodohan Yudi dengan Yuna. Maka jika sekarang, Yudi sudah mengirim semua lukisan Rini ke rumahnya, jika Yudi sudah membakar lukisan tentang mereka berdua, itu pun karena demi amannya hubungan Yudi dengan Yuna serta hubungan Rini dengan Mas Hamdan. Tapi sekarang, setelah lukisan itu dibakar .... Rini sangat kecewa.
"Ya ampun, Rini .... Jangan percaya tahayul-tahayul seperti itu. Tidak baik. Yakinlah, dan berpikirlah yang positif-positif saja. Jangan memikirkan hal-hal yang tidak logis. Jangan memikirkan hal-hal irasional." sahut Yudi.
"Saya perempuan, Yudi .... Perasaan perempuan berbeda dengan perasaan laki-laki. Perasaan perempuan lebih peka, Yudi ...." sahut Rini lagi.
"Iya, saya paham itu .... Tetapi cobalah jangan hanya sekadar memakai perasaan, cobalah memakai pikiran, cobalah memakai nalar .... Pasti Rini akan memahami apa yang saya lakukan saat saya membakar lukisan itu. Terus terang saya juga kecewa, Rini ..., bukan hanya kamu. Lukisan itu sudah ditawar buyer puluhan juta. Saya justru memilih membakarnya. Itu bukan hanya alasan lukisan itu dihargai orang, tetapi ini demi rahasia cinta kita, Rini .... Mohon jika saya keliru, tolong dimaafkan." jelas Yudi lagi.
"Iya, Yudi .... Namun perlu Yudi tahu, perasaan hatiku tidak bisa melepas begitu saja. Saya terlalu khawatir. Sejak reuni itu, sejak saya tahu bagaimana teguhnya cintamu padaku, aku selalu memikirkan dirimu. Entah mengapa, saat itu tiba-tiba cintaku padamu kembali tumbuh dan berkembang, setelah tiga puluh tahun lebih aku lupa dengan dirimu. Tetapi hari ini, aku mendengar Yudi membakar lukisan itu, hatiku merasa tidak karuan, Yudi .... Aku terlalu khawatir. Mohon Yudi paham hati seorang wanita, seperti diriku ini." kata Rini yang tetap merasa khawatir dengan dibakarnya lukisan itu.
"Maafkan saya, Rini .... Saya tidak mengira dirimu kecewa. Semoga tidak terjadi apa-apa pada cinta kita. Sekali lagi, tolong maafkan saya." kata Yudi yang sudah mulai mengalah pada Rini.
"Iya, Yudi .... Semoga saja tidak terjadi apa-apa pada cinta kita." balas Rini.
"Jaga dirimu baik-baik ya, Sayang .... Aku tetap mencintaimu." kata Yudi pada Rini.
"Terima kasih, Yudi .... Aku menyayangimu juga." balas Rini yang mengakhiri teleponnya.
Rini menggenggam teleponnya. Kesedihan tergambar pada wajahnya. Rasa kecewa, karena lukisan yang belum sempat ia lihat, sudah dibakar oleh Yudi.
"Semoga saja cintaku tidak ikut kamu bakar, Yudi ...." Rini pasrah pada kenyataan.
__ADS_1